Bab 2. Hinaan pedas

"Gila itu anak bu Ningsih naik motor seperti setan saja." Bu Ita agak kaget karena tadi dia hampir kena serempet.

"Anisa ya?" Mbak Nanda bertanya kepada Bu Ita yang baru saja duduk di warung dia.

"Iya, aku sedang jalan tadi di sini dan naik motor kok seperti itu." Bu Ita geleng-geleng kepala dibuat kelakuan Anisa.

"Kadang kalau melihat orang seperti itu aku rasa ingin mengumpat, sudah jelek wajah tambah pula jelek hati." Mbak Nanda berkata pelan.

"Heh tidak boleh berbicara seperti itu." Kinan menghentikan ucapan Nanda.

"Ya mana orang memang itu dari tabiat dia yang sangat buruk sekali, coba agak sopan dikit dengan orang." Nanda berkata pelan karena sebenarnya dia orangnya jarang julid.

Bu Kita sebenarnya juga setuju dengan ucapan dari Nanda kali ini karena dia juga merasa bahwa terkadang sifat Anisa begitu buruk sekali, membuat orang kesal dan bila orang lain sudah kesal maka akan keluar ucapan yang tidak pantas dari mulut mereka semua karena terkadang manusia juga membuat kesalahan seperti itu.

Terlebih sudah kumpul dan kebetulan ada yang lewat sambil membawa perangai buruk maka mau tidak mau mereka akan membicarakan hal tersebut, itu masih belum bertemu dengan biang kerok yang ada di desa ini, bila Kopsah sampai bertemu dengan Anisa maka sudah pasti dia akan julid dari ujung ke ujung karena sifat Anisa yang memang begitu buruk sekali.

Bisa di katakan bahwa terkadang Anisa tidak memiliki sopan santun terhadap orang yang lebih tua dari dia, bahkan sebenarnya Bu Ita atau mbak Nanda ini tidak pernah mengatai dia gemuk atau bahkan dengan ucapan lain, namun karena selama ini Anisa sudah sering mendengar ucapan itu maka pikiran buruk selalu saja muncul di dalam otak gadis ini.

Dia beranggapan bahwa semua orang pasti akan mengatai hal buruk tentang dia, sebab selama ini sudah banyak sekali orang yang membandingkan antara dia dan juga Arumi sehingga Anisa merasa begitu bosan dengan omongan tersebut. namun hal buruk itu justru membuat dia semakin tenggelam dalam prasangka yang semakin buruk juga, orang yang tidak pernah mengatai dia justru dia sangka mengatai dirinya juga dan bahkan terkadang mereka tidak pernah membicarakan antara dia dan Arumi sama sekali.

Sama seperti tadi ketika melihat Bu Ita yang berjalan sendirian dan memang mereka sempat bertatap mata, Anisa langsung beranggapan bahwa saat itu Bu Ita mengumpat di dalam hati karena dia memiliki tubuh yang begitu gemuk dan wajah buruk rupa seperti ini, bisa di katakan bahwa Anisa selalu overthinking dengan omongan orang lain.

"Untung kau tadi tidak aku tabrak." Anisa menggerutu sendirian dan dia duduk di pinggir jalan.

"Dasar kalian semua hanya bisa menghujat, tidak ada yang pernah bisa paham dengan perasaan aku." Anisa berkata dengan sangat sedih.

"Dia sangat berbeda sekali dengan Arumi ya, tidak seperti saudara kandung." suara itu kembali membayangi telinga Anisa.

Bila sudah seperti itu maka Anisa akan menangis dan terisak pilu di pinggir jalan seperti ini, sebab Dia sangat terluka sekali dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya adalah gadis yang jelek dan tidak pernah mendapat perhatian, beda dengan Arumi yang selalu mendapat limpahan kasih sayang serta pujian dari para tetangga.

"Aku juga sangat ingin seperti Arumi itu, hiks hiks." Anisa menangis dan menutup wajah dia dengan kedua tangan.

"Hei lihat lah itu babi gemuk sedang menangis." anak-anak yang lewat justru menunjuk Anisa.

"Hahaaaa pasti karena dia mendapat penolakan dari pria tampan." sambung yang lain.

"Pergi kalian!" teriak Anisa kepada para anak-anak itu.

"Hahahaaaa kasihan sekali dia bertubuh besar dan tidak ada orang yang menyukai dirinya, gemuk dan juga berwarna hitam." anak-anak itu masih terus saja mengejek Anisa.

"Pergi, pergi kalian semua!" Anisa kian histeris karena dia memang merasa tertekan dengan ejekan seperti itu.

"Lariiiii babi gemuk mau mengamuk." para anak-anak terus berlari meninggalkan Anisa sendirian.

"Ya tuhan kenapa aku harus diberi rupa yang buruk seperti ini? aku harus menanggung semua hinaan dari orang-orang." Anisa kian merasa sedih dengan ini semua.

"Aku ingin cantik seperti Arumi juga, aku ingin langsing." isak Anisa.

Siapa tidak ingin cantik dan juga langsung seperti para gadis lain Karena itu memang harapan semua wanita yang ada di dunia ini, tapi tentu saja itu kembali pada tempat kita masing-masing dan juga tergantung usaha yang akan kita lakukan bila ingin mendapatkan tubuh dan rupa seperti itu.

Selama ini Anisa sangat malas dan dia tidak pernah mau olahraga agar kesehatan tubuh dia terjaga dan memiliki tubuh yang menawan, bila Arumi mengajak dia untuk olahraga maka Anisa beranggapan bahwa sang Adik sedang mengejek dia dan hanya ingin pamer saja bahwa Arumi memiliki tubuh yang sangat menggoda di mata para pria.

Anisa selalu penuh dengan overthinking dan pikiran buruk terhadap orang lain sehingga sulit sekali untuk merubah cara pandang dia, padahal terkadang Arumi sudah memilah kata yang sangat halus agar Anisa tidak merasa tersinggung dan mau menerima tawaran dari dia untuk melakukan olahraga serta diet bersama sehingga memiliki tubuh yang bagus juga.

"Huhuhuuu kenapa hidup sangat tidak adil seperti ini." isak Anisa sambil mengusap ingus yang keluar dari hidung.

"Ih jorok sekali gadis gemuk itu." seorang pemuda berkata kepada teman dia karena jarak mereka yang sangat dekat.

"Coba tebak aroma dia saat ini, pasti sangat menusuk dan seperti air comberan." sambung teman yang lain.

"Hitam dan juga gemuk, entah apa yang dia pikirkan sehingga mau lahir dengan bentuk seperti itu." ujar pria pertama tadi.

"Aku kalau jadi dia pasti akan bunuh diri." Angga berkata sambil tertawa karena dia memang memiliki paras yang sangat menawan.

"Hahaaaaa tidak sanggup hidup di dunia ini seperti itu, tapi setidaknya walau kita memiliki paras buruk namun harus berusaha juga menjadi lebih bagus lagi." Pandu berkata dengan serius.

"Ah kalau bentuk seperti dia itu mana mungkin bisa berubah, kecuali Dia mau operasi plastik pergi ke Korea sana." ujar Angga kembali dan dia semakin kencang tertawa sambil menatap Anisa.

Anisa sangat terhina dengan ini semua, niat hati ingin mencari udara segar dan melupakan rasa sedih yang ada di dalam hati ini, namun ternyata ketika di luar justru mendapat penghinaan yang jauh lebih parah lagi sehingga Anisa harus merasa kian terpuruk dan tidak tahu harus bagaimana untuk menghadapi ini semua.

Selamat malam Besti, yok like dan komen kalian semua.

Terpopuler

Comments

FiaNasa

FiaNasa

klau kau ingin langsing ya harus berusaha lah Anisa, jaga pola makan mulailah olah raga teratur,, dulu aq juga gemuk banget malah bobotku pernah 125,, semenjak melahirkan badanku kek dikasih obat pengembang,, aq mulai hidup sehat olah raga ya walaupun cuma jalan pagi sih,, sampai akhirnya aq brhasil n bobotku kembali ke setan awal 60 an saja.. malah dulu aq sempat diolokin kuda Nil babi lah pokoknya sakit,, tp ejekan mereka kubuat penyemangat mencapai BB ideal Lo anisa

2026-05-27

0

☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔

☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔

jahat2 amat sih pada...gak cewek gak cowok gak anak2 julid semua ..gak punya perasaan sama sekali ke Anisa ...kasian nya

2026-05-24

1

Dewi

Dewi

mulut orgmemng gk bisa kita kendalikan.. tpi anisa kmu jgan mersa jdi korban trus klo sikpmu sja gk da sopan sm yg lbh tua jels semuapsti gk suka

2026-06-22

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Perbandingan
2 Bab 2. Hinaan pedas
3 Bab 3. Anisa yang sensitif
4 Bab 4. Gantung diri
5 Bab 5. Malam yang aneh
6 Bab 6. Korban pertama
7 Bab 7. Menemukan joko
8 Bab 8. tangkal bunga melati
9 Bab 9. Korban kedua
10 Bab 10. Debat
11 Bab 11. Kematian Tamrin
12 Bab 12. memarahi Arka
13 Bab 13. tidak ada yang bisa membantu
14 Bab 14. ingin bercerita
15 Bab 15. Amir sedikit sadar
16 Bab 16. Pertanyaan tetangga
17 Bab 17. Ningsih cemas
18 Bab 18. Nana dan Samuel
19 Bab 19. mayat yang menghilang
20 Bab 20. energi yang menghilang
21 Bab 21. Di siram air
22 Bab 22. Mencari tau
23 Bab 23. berkata jujur
24 Bab 24. Gigi di bawah ranjang
25 Bab 25. gigi siapa
26 Bab 26. Emosi lagi
27 Bab 27. Mendatangi Purnama
28 Bab 28. Debat
29 Bab 29. Dunia mimpi
30 Bab 30. mengambil resiko
31 Bab 31. cerita Fathan
32 Bab 32. Ningsih curiga
33 Bab 33. Anisa pulang
34 Bab 34. Bukan Anisa
35 Bab 35. Teror Anisa
36 Bab 36. Berjaga
37 Bab 37. Digo mengejar pocong
38 Bab 38. Salah paham
39 Bab 39. Digo sadar diri
40 Bab 40. Zora
41 Bab 41. Arumi mengadu
42 Bab 42. Melihat Anisa
43 Bab 43. Purnama datang
44 Bab 44. Berusaha
45 Bab 45. Memakan angsa
46 Bab 46. Kepala ayam
47 Bab 47. Bau amis di gelas
48 Bab 48. selalu aroma mayat
49 Bab 49. Mata keluar kawat
50 Bab 50. Kematian
51 Bab 51. melayat
52 Bab 52. Santet
53 Bab 53. Memberikan santet kembali
54 Bab 54. Pak lurah datang
55 Bab 55. Mati lampu
56 Bab 56. Salah iblis
57 Bab 57. Korban lagi
58 Bab 58. Kekuatan besar
59 Bab 59. Siapa Naksu
60 Bab 60. pengorbanan Jalak
61 Bab 61. Kabur
62 Bab 62. Menemukan mayat Yurnita
63 Bab 63. Purnama buka suara
64 Bab 64. Pak Toha
65 Bab 65. Korban lagi
66 Bab 66. Kesalahan hardi juga
67 Bab 67. Firasat Xiela
68 Bab 68. Suara lembut tapi pedas
69 Bab 69. Nefertari
70 Bab 70. Xueka
71 Bab 71. Ada di pihak mana?
72 Bab 72. Dewa iblis
73 Bab 73. Terluka parah
74 Bab 74. Keluar dari tubuh
75 Bab 75. Kepedihan Nefertari
76 Bab 76. Mengalahkan
77 Bab 77. Purnama bimbang
78 Bab 78. Bertengkar
79 Bab 79. menguburkan Anisa dan Ningsih
80 Bab 80. end
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1. Perbandingan
2
Bab 2. Hinaan pedas
3
Bab 3. Anisa yang sensitif
4
Bab 4. Gantung diri
5
Bab 5. Malam yang aneh
6
Bab 6. Korban pertama
7
Bab 7. Menemukan joko
8
Bab 8. tangkal bunga melati
9
Bab 9. Korban kedua
10
Bab 10. Debat
11
Bab 11. Kematian Tamrin
12
Bab 12. memarahi Arka
13
Bab 13. tidak ada yang bisa membantu
14
Bab 14. ingin bercerita
15
Bab 15. Amir sedikit sadar
16
Bab 16. Pertanyaan tetangga
17
Bab 17. Ningsih cemas
18
Bab 18. Nana dan Samuel
19
Bab 19. mayat yang menghilang
20
Bab 20. energi yang menghilang
21
Bab 21. Di siram air
22
Bab 22. Mencari tau
23
Bab 23. berkata jujur
24
Bab 24. Gigi di bawah ranjang
25
Bab 25. gigi siapa
26
Bab 26. Emosi lagi
27
Bab 27. Mendatangi Purnama
28
Bab 28. Debat
29
Bab 29. Dunia mimpi
30
Bab 30. mengambil resiko
31
Bab 31. cerita Fathan
32
Bab 32. Ningsih curiga
33
Bab 33. Anisa pulang
34
Bab 34. Bukan Anisa
35
Bab 35. Teror Anisa
36
Bab 36. Berjaga
37
Bab 37. Digo mengejar pocong
38
Bab 38. Salah paham
39
Bab 39. Digo sadar diri
40
Bab 40. Zora
41
Bab 41. Arumi mengadu
42
Bab 42. Melihat Anisa
43
Bab 43. Purnama datang
44
Bab 44. Berusaha
45
Bab 45. Memakan angsa
46
Bab 46. Kepala ayam
47
Bab 47. Bau amis di gelas
48
Bab 48. selalu aroma mayat
49
Bab 49. Mata keluar kawat
50
Bab 50. Kematian
51
Bab 51. melayat
52
Bab 52. Santet
53
Bab 53. Memberikan santet kembali
54
Bab 54. Pak lurah datang
55
Bab 55. Mati lampu
56
Bab 56. Salah iblis
57
Bab 57. Korban lagi
58
Bab 58. Kekuatan besar
59
Bab 59. Siapa Naksu
60
Bab 60. pengorbanan Jalak
61
Bab 61. Kabur
62
Bab 62. Menemukan mayat Yurnita
63
Bab 63. Purnama buka suara
64
Bab 64. Pak Toha
65
Bab 65. Korban lagi
66
Bab 66. Kesalahan hardi juga
67
Bab 67. Firasat Xiela
68
Bab 68. Suara lembut tapi pedas
69
Bab 69. Nefertari
70
Bab 70. Xueka
71
Bab 71. Ada di pihak mana?
72
Bab 72. Dewa iblis
73
Bab 73. Terluka parah
74
Bab 74. Keluar dari tubuh
75
Bab 75. Kepedihan Nefertari
76
Bab 76. Mengalahkan
77
Bab 77. Purnama bimbang
78
Bab 78. Bertengkar
79
Bab 79. menguburkan Anisa dan Ningsih
80
Bab 80. end

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!