Bab 3. Anisa yang sensitif

"Kamu mana saja sampai baru pulang larut malam seperti ini?" pak Hardi bertanya kepada Anisa yang baru pulang.

"Hanya jalan-jalan saja menghibur pikiran, Pak." jawab Anisa dengan wajah yang begitu lesu sekali.

"Nak, Bapak tahu apa yang sedang kamu pikirkan saat ini. namun kita juga tidak bisa untuk mengerem mulut orang agar berbicara sesuai dengan apa yang kita mau!" pak Hardi mengajak sang anak untuk berbicara.

"Mungkin bila hanya dari orang lain saja maka aku tidak akan sesakit ini, Pak!" Anisa menjawab dengan mata yang mulai berembun.

"Ibu kamu ngomong begitu bukan karena dia tidak menyukai kamu, tapi karena dia ingin kamu berubah dan menjalani hidup yang lebih baik." pak Hardi berusaha untuk mendinginkan hati Anisa.

Anisa menghelai nafas panjang sambil membuang tatapan keluar rumah karena dia merasa terkadang bu Ningsih bukan menasehati tapi sama saja menghujat dia, omongan yang keluar dari mulut wanita itu seolah menjadi pisau yang begitu tajam untuk Anisa ini sendiri.

Padahal bu Ningsih adalah orang yang telah melahirkan Anisa ke dunia ini dan ternyata sekarang justru dia ikut menghujat juga, tunggu itu sangat menyakiti hati Anisa karena dia telah berusaha untuk berpikir positif namun tetap saja hasil yang dia terima sangat menyakitkan hati seperti saat ini.

Untuk orang lain terkadang dia masih bisa menerima dengan perasaan berkecamuk juga Karena bila mendapat hinaan tentu saja itu sangat menyakiti hati, tapi yang jauh lebih parah adalah ketika omongan itu keluar dari keluarga terdekat sehingga Anisa semakin tertekan dan dia rasa ingin kabur saja dari dunia yang kejam ini.

Melihat Arumi yang begitu cantik dan banyak dikagumi oleh semua orang sehingga pasti ada rasa iri di dalam hati Anisa, kesalahan Anisa hanyalah Dia tidak ingin berubah dan justru ingin memaksa semua orang untuk menerima keadaan dia apa adanya, tidak ada niat di dalam hati untuk berubah menjadi lebih baik dan memiliki tekad yang sangat kuat.

Arumi padahal juga sering mengajak dia untuk sering olahraga agar tubuh ini sedikit berbentuk, namun Anisa menerima itu semua sebagai hinaan dan dia akan langsung marah kepada sang adik karena menganggap itu adalah ucapan yang sangat pedas sehingga bisa dikatakan bahwa Anisa bermasalah pada hati dia sendiri.

"Aku mau istirahat dulu, Pak." Anisa masuk ke dalam kamar sambil mengusap air mata ini.

"Kamu seharusnya bisa menerima omongan dari kami, kami ini orang tua kamu Dan bukan ingin menjerumuskan kamu ke dalam lobang neraka." pak Hardi lama-lama emosi juga dengan Anisa.

"Bapak bisa bicara seperti itu saat ini, padahal aku memiliki paras yang buruk karena menurun dari kamu!" Anisa berteriak dan menunjuk wajah pak Hardi.

"Apa apaan kamu Anisa!" bu Ningsih keluar dari kamar karena dia mendengar keributan itu.

"Kalian yang salah karena telah membuat aku seperti ini, ini semua karena Bapak memiliki paras buruk sehingga menurun pada diriku!" Anisa menyalahkan pak Hardi.

PLAAAAAAK.

Satu tamparan keras mendarat di wajah Anisa ketika bu Ningsih sudah tidak sanggup menahan emosi yang ada di dalam diri, permasalahan tadi siang masih saja berlanjut Dan sekarang dia merasa Anisa semakin kurang ajar kepada orang tua dia sendiri.

"Dia adalah orang tua yang sudah membesarkan kamu!" geram Buk Ningsih.

"Ya tampar saja aku yang jelek ini, bila Arumi yang berkata demikian maka dia tidak akan mendapat tamparan karena Arumi berwajah cantik!" Anisa menjawab dengan suara gemetar.

"Mau sampai kapan kau akan terus menyiksa diri seperti ini Anisa? bila kau tidak ingin melakukan perubahan maka terima saja nasib yang buruk ini." bu Ningsih berkata dengan lantang.

"Kalian orang tua tidak berguna dan aku tidak akan pernah bisa menerima takdir buruk ini." Anisa segera masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.

Braaaaaak.

"Ya Allah." pak Hardi hanya bisa mengusap dada melihat kelakuan sang anak.

Anisa semakin tidak terkendali karena dia merasa rendah diri dan semua orang yang menatap Dia seolah menjadi hinaan, mungkin karena selama ini dia memang hidup tertekan dan selalu mendapat perbandingan dari Arumi sehingga orang melihat sedikit saja maka dia akan merasa bahwa tatapan itu adalah sebuah hinaan.

Selama ini dia juga sudah mencoba berbagai macam cara agar kulit sedikit bersih karena menurut dia walau gemuk tapi berkulit bersih masih sedikit lebih baik, namun ternyata itu tidak mudah karena Anisa justru banyak tertipu dengan barang abal-abal dan dia tidak mendapatkan hasil yang maksimal, Arumi sudah sering merekomendasikan yang bagus namun Anisa menolak karena dia tidak ingin berhubungan dengan Arumi.

"Kau membenci kami yang ada di dalam rumah ini, padahal kami semua tidak pernah membenci dirimu!" Arumi keluar juga dari dalam kamar Karena dia sudah tidak tahan.

"Sudah, Nak." pak Hardi tidak ingin bila sang anak banyak bertengkar.

Namun Arumi tidak bisa untuk diam saja karena selama ini dia juga sudah banyak mengalah dan walau terkadang ucapan Anisa jauh lebih pedas kepada dia, maka Arumi diam saja karena dia beranggapan bahwa itu semua adalah tekanan mental yang begitu berat karena Anisa mendapat banyak hinaan dari orang-orang.

"Aku sama sekali tidak bersalah karena aku tidak pernah menghina dirimu, kau marah padaku karena banyak orang yang memuji aku." Arumi masih berteriak di depan pintu kamar Anisa.

"Diam kau, binatang!" Anisa menjawab dari dalam kamar dia sendiri.

"Jangan keterlaluan seperti itu, Anisa!" Bu Ningsih juga ikut panas mendengar ucapan Anisa kepada sang adik.

"Binatang, kalian semua adalah binatang dan tidak pernah bisa peduli dengan perasaan aku!" ujar Anisa kembali.

Bu Ningsih berusaha keras untuk membuka pintu kamar Karena dia sudah tidak sanggup menahan emosi, terlebih orang tua mana yang akan menerima bila di katai binatang oleh anak sendiri seperti itu. namun pintu kamar Anisa terkunci rapat dari dalam sehingga tidak bisa untuk dibuka dari luar.

"Bu, sudahlah dan jangan dipikirkan lagi." Arumi segera menarik bu Ningsih menjauh karena dia tahu keadaan menjadi semakin tidak terkendali.

"Tolong berhenti karena sekarang kepala ku sudah sangat sakit." pak Hardi memegangi kepala dia sendiri.

Bu Ningsih berusaha untuk mengatur nafas karena dia tahu pak Hardi memiliki darah tinggi sehingga bila terus seperti itu maka bisa saja nanti tekanan tensi semakin tidak karuan, walau dia juga menyadari bahwa permasalahan antara jelek dan cantik ini tidak akan pernah bisa selesai di dalam rumah mereka sampai kapan saja.

selamat siang semuanya, jangan lupa like dan komentar kalian ya.

Terpopuler

Comments

Dewi

Dewi

Hadeh anisa pkiranmu trllu jelek pda semua org hatimu yg prlu di bersihkan itu.. jlas bgt kan adik ngjak olhraga biar bdan lbh baik gk trllu gemuk kmu gk trima,olahrga sendri kn jg bsa jka gk mau sm adik.. urusan pngen putih/bersih tuh memng gk mudah yg pntg bdan olahrga biar gk trllu gemuk dlu

2026-06-22

0

V3

V3

Astaghfirullah al'adzim ..... kekakuan nya si Anisa buruk bgt yaa.
novel ini spt kebalikan dr ceritanya si Nana Kembang Desa dan Adik nya dech 🤣

JK Nana sbgi KK yg sllu menghina Adik nya.
sdgkan di cerita ini mlh Kk nya yg sllu di Hina tp Adik nya mlh diam ja 🤣

2026-05-25

0

FiaNasa

FiaNasa

klau kek gini siapa gak akan membencimu Anisa,, walaupun fisik tak bagus setidaknya akhlakmu bagus Anisa.. salahmu sendiri yg bisa jaga pola makan asyik bermalas²an saja, terlanjur gembrot orang lain pula jadi sasaran

2026-05-27

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Perbandingan
2 Bab 2. Hinaan pedas
3 Bab 3. Anisa yang sensitif
4 Bab 4. Gantung diri
5 Bab 5. Malam yang aneh
6 Bab 6. Korban pertama
7 Bab 7. Menemukan joko
8 Bab 8. tangkal bunga melati
9 Bab 9. Korban kedua
10 Bab 10. Debat
11 Bab 11. Kematian Tamrin
12 Bab 12. memarahi Arka
13 Bab 13. tidak ada yang bisa membantu
14 Bab 14. ingin bercerita
15 Bab 15. Amir sedikit sadar
16 Bab 16. Pertanyaan tetangga
17 Bab 17. Ningsih cemas
18 Bab 18. Nana dan Samuel
19 Bab 19. mayat yang menghilang
20 Bab 20. energi yang menghilang
21 Bab 21. Di siram air
22 Bab 22. Mencari tau
23 Bab 23. berkata jujur
24 Bab 24. Gigi di bawah ranjang
25 Bab 25. gigi siapa
26 Bab 26. Emosi lagi
27 Bab 27. Mendatangi Purnama
28 Bab 28. Debat
29 Bab 29. Dunia mimpi
30 Bab 30. mengambil resiko
31 Bab 31. cerita Fathan
32 Bab 32. Ningsih curiga
33 Bab 33. Anisa pulang
34 Bab 34. Bukan Anisa
35 Bab 35. Teror Anisa
36 Bab 36. Berjaga
37 Bab 37. Digo mengejar pocong
38 Bab 38. Salah paham
39 Bab 39. Digo sadar diri
40 Bab 40. Zora
41 Bab 41. Arumi mengadu
42 Bab 42. Melihat Anisa
43 Bab 43. Purnama datang
44 Bab 44. Berusaha
45 Bab 45. Memakan angsa
46 Bab 46. Kepala ayam
47 Bab 47. Bau amis di gelas
48 Bab 48. selalu aroma mayat
49 Bab 49. Mata keluar kawat
50 Bab 50. Kematian
51 Bab 51. melayat
52 Bab 52. Santet
53 Bab 53. Memberikan santet kembali
54 Bab 54. Pak lurah datang
55 Bab 55. Mati lampu
56 Bab 56. Salah iblis
57 Bab 57. Korban lagi
58 Bab 58. Kekuatan besar
59 Bab 59. Siapa Naksu
60 Bab 60. pengorbanan Jalak
61 Bab 61. Kabur
62 Bab 62. Menemukan mayat Yurnita
63 Bab 63. Purnama buka suara
64 Bab 64. Pak Toha
65 Bab 65. Korban lagi
66 Bab 66. Kesalahan hardi juga
67 Bab 67. Firasat Xiela
68 Bab 68. Suara lembut tapi pedas
69 Bab 69. Nefertari
70 Bab 70. Xueka
71 Bab 71. Ada di pihak mana?
72 Bab 72. Dewa iblis
73 Bab 73. Terluka parah
74 Bab 74. Keluar dari tubuh
75 Bab 75. Kepedihan Nefertari
76 Bab 76. Mengalahkan
77 Bab 77. Purnama bimbang
78 Bab 78. Bertengkar
79 Bab 79. menguburkan Anisa dan Ningsih
80 Bab 80. end
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1. Perbandingan
2
Bab 2. Hinaan pedas
3
Bab 3. Anisa yang sensitif
4
Bab 4. Gantung diri
5
Bab 5. Malam yang aneh
6
Bab 6. Korban pertama
7
Bab 7. Menemukan joko
8
Bab 8. tangkal bunga melati
9
Bab 9. Korban kedua
10
Bab 10. Debat
11
Bab 11. Kematian Tamrin
12
Bab 12. memarahi Arka
13
Bab 13. tidak ada yang bisa membantu
14
Bab 14. ingin bercerita
15
Bab 15. Amir sedikit sadar
16
Bab 16. Pertanyaan tetangga
17
Bab 17. Ningsih cemas
18
Bab 18. Nana dan Samuel
19
Bab 19. mayat yang menghilang
20
Bab 20. energi yang menghilang
21
Bab 21. Di siram air
22
Bab 22. Mencari tau
23
Bab 23. berkata jujur
24
Bab 24. Gigi di bawah ranjang
25
Bab 25. gigi siapa
26
Bab 26. Emosi lagi
27
Bab 27. Mendatangi Purnama
28
Bab 28. Debat
29
Bab 29. Dunia mimpi
30
Bab 30. mengambil resiko
31
Bab 31. cerita Fathan
32
Bab 32. Ningsih curiga
33
Bab 33. Anisa pulang
34
Bab 34. Bukan Anisa
35
Bab 35. Teror Anisa
36
Bab 36. Berjaga
37
Bab 37. Digo mengejar pocong
38
Bab 38. Salah paham
39
Bab 39. Digo sadar diri
40
Bab 40. Zora
41
Bab 41. Arumi mengadu
42
Bab 42. Melihat Anisa
43
Bab 43. Purnama datang
44
Bab 44. Berusaha
45
Bab 45. Memakan angsa
46
Bab 46. Kepala ayam
47
Bab 47. Bau amis di gelas
48
Bab 48. selalu aroma mayat
49
Bab 49. Mata keluar kawat
50
Bab 50. Kematian
51
Bab 51. melayat
52
Bab 52. Santet
53
Bab 53. Memberikan santet kembali
54
Bab 54. Pak lurah datang
55
Bab 55. Mati lampu
56
Bab 56. Salah iblis
57
Bab 57. Korban lagi
58
Bab 58. Kekuatan besar
59
Bab 59. Siapa Naksu
60
Bab 60. pengorbanan Jalak
61
Bab 61. Kabur
62
Bab 62. Menemukan mayat Yurnita
63
Bab 63. Purnama buka suara
64
Bab 64. Pak Toha
65
Bab 65. Korban lagi
66
Bab 66. Kesalahan hardi juga
67
Bab 67. Firasat Xiela
68
Bab 68. Suara lembut tapi pedas
69
Bab 69. Nefertari
70
Bab 70. Xueka
71
Bab 71. Ada di pihak mana?
72
Bab 72. Dewa iblis
73
Bab 73. Terluka parah
74
Bab 74. Keluar dari tubuh
75
Bab 75. Kepedihan Nefertari
76
Bab 76. Mengalahkan
77
Bab 77. Purnama bimbang
78
Bab 78. Bertengkar
79
Bab 79. menguburkan Anisa dan Ningsih
80
Bab 80. end

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!