Dendam Anisa

Dendam Anisa

Bab 1. Perbandingan

"Kamu itu sudah gendut begini maka jangan banyak makan terus." bu Ningsih menatap anak pertama dia yang sedang mengunyah ayam goreng.

"Ya namanya juga lapar loh, Bu." Anisa menjawab dan dia tetap santai saja mengunyah ayam goreng tersebut.

"Selalu saja melawan kalau diberitahu soal kesehatan untuk diri kamu sendiri, Kamu makan terus dan jarang sekali olahraga." bu Ningsih terus mengoceh karena dia juga tidak ingin bila Anisa terus larut dalam makanan itu.

"Kakak coba setiap pagi jogging sehingga mengurangi berat badan, jangan terlalu banyak makan karbo seperti itu." Arumi juga ikut membuka suara.

"Iya iya si paling langsing, aku tidak sama seperti dirimu yang rajin olahraga dan memiliki tubuh bagus." Anisa langsung menjawab ketus.

"Adik kamu itu memberi nasihat agar tidak semakin gendut saja kamu ini, tapi kalau diberi nasihat terus aja seperti ini dan mudah sekali tersinggung." bu Ningsih menatap sang anak sulung.

"Sudah lah, nanti kalau Anisa memang sudah niat maka dia akan olahraga juga." pak Hardi membuka suara.

Bu Ningsih hanya bisa menarik nafas panjang karena sebenarnya dia bukan mau menghujat Anisa seperti itu, itu dia ingin memberi semangat agar Anisa bisa merubah pola hidup dia yang terkesan memang buruk, dia selalu banyak makan dan terkadang bila malam hari selalu saja memakan makanan berat.

Berat badan Anisa saat ini sudah mencapai sembilan puluh kilo, tentu saja itu menjadi sangat besar bila untuk ukuran para gadis, sementara para gadis lain memiliki tubuh yang langsing dan kulit sehat karena itu adalah daya tarik tersendiri dan tentu saja akan lebih enak dipandang.

Anisa tidak peduli dengan hal itu namun bila ada orang yang menghujat maka dia sakit hati juga, Bu Ningsih ingin sekali bila Anisa sedang sakit hati seperti itu maka dia memiliki motivasi untuk berubah dan menjalani hidup yang sehat agar bisa merubah pola hidup dia, namun Anisa larut pada makanan yang membuat diri dia semakin besar saja.

Nanti bila diberi nasihat maka dia akan tidak terima dan justru mengatakan bahwa orang tuanya pilih kasih, Anisa beranggapan bahwa selama ini hanya Arumi saja yang terus diperhatikan dan disanjung oleh semua orang, meski terkadang ucapan dari bu Ningsih menyakiti hati dia karena Anisa memang mudah sekali tersinggung.

"Kamu lihat ini Arumi yang memiliki....

Braaaaak.

Praaaaang.

"Ya Arumi memang memiliki segalanya dan dia cantik serta langsing!" Anisa membanting piring yang ada di atas meja.

"Kakak Kenapa bersikap seperti itu kepada, Ibu?!" Arumi juga ikut kaget dan dia tidak terima.

"Kalian hanya suka sekali menghujat aku dan membandingkan antara aku dan Arumi, tidak pernah sekali saja ada yang kalian banggakan dari diriku." Anisa menatap semua yang ada di sana dengan air mata berderai.

"Kak, kok kamu jadi sensitif begini dan malah marah sama kita semua." Arumi merasa aneh dengan tingkah Anisa.

"Kau tidak akan pernah paham bagaimana menjadi aku! karena selama ini kau yang terus saja unggul dan aku selalu di bawah." Anisa menunjuk wajah Arumi.

"Anisa! Ibu bukan mau membandingkan kamu dan Arumi, tapi Ibu hanya memberikan contoh yang bagus dan supaya kamu memiliki jalan hidup yang bagus juga." jelas bu Ningsih.

"Oh gitu, jadi jalan hidup yang bagus itu milik Arumi kan dan jalan hidup yang aku pilih ini sangat buruk sekali." Anisa berkata dengan sengit.

"Apa yang ada di dalam otak kamu saat ini, Anisa?!" bentak bu Ningsih karena lama-lama dia juga ikut emosi dengan tingkah sang anak.

"Ibu bela saja dia terus dan tidak usah pernah peduli dengan aku lagi." Anisa bergegas masuk ke dalam kamar.

Pak Hardi hanya bisa menarik nafas panjang bila sudah ada pertengkaran seperti ini karena dia juga tidak tahu harus bagaimana untuk menghentikan mereka, nanti salah ucap malah semakin panjang saja perdebatan itu dan dia akan kena amuk oleh mereka semua.

Kadang perasaan Anisa memang begitu sensitif karena mungkin saja dia mudah tersinggung setelah mendengar omongan dari banyak orang, belum lagi terkadang bu Ningsih salah memilih ucapan ketika akan menasehati sang anak dan malah membawa nama Arumi juga sehingga Anisa merasa di bandingkan dengan sang adik.

Sudah banyak sekali selama ini orang yang memuji Arumi karena gadis itu memang memiliki paras yang begitu menawan, bahkan selama ini juga banyak para pria yang datang untuk mengajak Arumi keluar sekedar jalan-jalan, sampai saat ini juga tidak ada pria yang tertarik kepada Anisa sehingga banyak orang mengatakan bahwa Anisa akan menjadi perawan tua.

"Anisa mau kemana? jangan keluar di saat pikiran sedang seperti itu, Nak." Pak Hardi menghadang langkah sang anak.

"Aku butuh keluar untuk mencari udara segar, Pak." Anisa segera menyambar kunci motor.

"Hati hati di jalan dan jangan terlalu ngebut." teriak pak Hardi.

Bu Ningsih hanya diam saja karena dia terkadang juga emosi dengan Anisa yang begitu keras kepala, dirinya sudah merasa benar karena memberi nasihat agar Anisa ada perubahan dan mau merubah gaya hidup dia itu, tidak pernah didengar oleh sang anak dan justru melawan Dengan cara demikian sehingga hati orang tua ini merasa sakit juga.

"Sudah, perdebatan berat badan ini cukup sampai di sini saja." pak Hardi menatap mereka semua.

"Aku bukan mau membandingkan antara Anisa dan Arumi, tapi aku juga kasihan karena selama ini dia terus menjadi omongan para warga." Bu Ningsih berusaha menjelaskan perasaan dia.

"Ya tapi tidak seperti itu cara yang kamu ambil, dengan cara kamu membandingkan maka itu menyakiti perasaan Anisa." Pak Hardi berusaha menasehati sang istri.

"Ah dasar Anisa saja yang mudah tersinggung." kesal Bu Ningsih dan dia juga sudah terbawa emosi.

"Kamu juga jangan terlalu lantang memberi nasehat kepada Kakak mu, nanti dia akan semakin merasa benci kepada kamu." Pak Ardi menatap Arumi.

"Iya, Pak." Arumi mengangguk kecil karena dia memang tidak pernah membantah.

"Sudah, mari hentikan perdebatan ini Dan tolong tidak usah dibahas kembali." pinta Pak Hardi dengan sangat serius.

"Ya kau terima saja anak mu yang gemuk dan tidak akan pernah bisa berubah itu." sewot Bu Ningsih sambil berlalu masuk ke dalam kamar.

Pak Ardi menarik nafas panjang Karena terkadang dia juga begitu pusing memikirkan tingkah sang istri, kalau sudah debat seperti ini maka tidak akan pernah ada ujung karena mereka tidak ada yang mau salah, dia ingin menengahi namun pada akhirnya dia juga yang akan terlibat masalah itu.

Hallo semua kembali lagi dengan cerita Novita Jungkook, jangan lupa like dan komentar kalian semua ya.

Terpopuler

Comments

Wega Luna

Wega Luna

sudah gendut, gampang tersinggung, mudah sakit hati keras kepala,,,😌😌😌 dia GK ada minat olahraga gitu ,punya otak dipakai dikit ,mentalnya kek anak TK ,aku juga gendut kalo ada yg membandingkan aku sama adekku yg kurus ,saya terima perkataan mereka,saya jadikan pelajaran,cintai diri sendiri😌😌😌😌

2026-07-09

0

☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔

☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔

yuhuu asek ada karya baru

2026-05-24

0

Dewi

Dewi

Pak hardi mgkn kmu yg hrus bilngi si anisa biar dia mau olahraga dn BB brkurg.. kdg emng omngn org nyakitin tpi ada bner nya klo sudh klewatn BB nya...kcuali mkan dkit BB ttep gk trun" itu memng mgkn susah ya

2026-06-03

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Perbandingan
2 Bab 2. Hinaan pedas
3 Bab 3. Anisa yang sensitif
4 Bab 4. Gantung diri
5 Bab 5. Malam yang aneh
6 Bab 6. Korban pertama
7 Bab 7. Menemukan joko
8 Bab 8. tangkal bunga melati
9 Bab 9. Korban kedua
10 Bab 10. Debat
11 Bab 11. Kematian Tamrin
12 Bab 12. memarahi Arka
13 Bab 13. tidak ada yang bisa membantu
14 Bab 14. ingin bercerita
15 Bab 15. Amir sedikit sadar
16 Bab 16. Pertanyaan tetangga
17 Bab 17. Ningsih cemas
18 Bab 18. Nana dan Samuel
19 Bab 19. mayat yang menghilang
20 Bab 20. energi yang menghilang
21 Bab 21. Di siram air
22 Bab 22. Mencari tau
23 Bab 23. berkata jujur
24 Bab 24. Gigi di bawah ranjang
25 Bab 25. gigi siapa
26 Bab 26. Emosi lagi
27 Bab 27. Mendatangi Purnama
28 Bab 28. Debat
29 Bab 29. Dunia mimpi
30 Bab 30. mengambil resiko
31 Bab 31. cerita Fathan
32 Bab 32. Ningsih curiga
33 Bab 33. Anisa pulang
34 Bab 34. Bukan Anisa
35 Bab 35. Teror Anisa
36 Bab 36. Berjaga
37 Bab 37. Digo mengejar pocong
38 Bab 38. Salah paham
39 Bab 39. Digo sadar diri
40 Bab 40. Zora
41 Bab 41. Arumi mengadu
42 Bab 42. Melihat Anisa
43 Bab 43. Purnama datang
44 Bab 44. Berusaha
45 Bab 45. Memakan angsa
46 Bab 46. Kepala ayam
47 Bab 47. Bau amis di gelas
48 Bab 48. selalu aroma mayat
49 Bab 49. Mata keluar kawat
50 Bab 50. Kematian
51 Bab 51. melayat
52 Bab 52. Santet
53 Bab 53. Memberikan santet kembali
54 Bab 54. Pak lurah datang
55 Bab 55. Mati lampu
56 Bab 56. Salah iblis
57 Bab 57. Korban lagi
58 Bab 58. Kekuatan besar
59 Bab 59. Siapa Naksu
60 Bab 60. pengorbanan Jalak
61 Bab 61. Kabur
62 Bab 62. Menemukan mayat Yurnita
63 Bab 63. Purnama buka suara
64 Bab 64. Pak Toha
65 Bab 65. Korban lagi
66 Bab 66. Kesalahan hardi juga
67 Bab 67. Firasat Xiela
68 Bab 68. Suara lembut tapi pedas
69 Bab 69. Nefertari
70 Bab 70. Xueka
71 Bab 71. Ada di pihak mana?
72 Bab 72. Dewa iblis
73 Bab 73. Terluka parah
74 Bab 74. Keluar dari tubuh
75 Bab 75. Kepedihan Nefertari
76 Bab 76. Mengalahkan
77 Bab 77. Purnama bimbang
78 Bab 78. Bertengkar
79 Bab 79. menguburkan Anisa dan Ningsih
80 Bab 80. end
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1. Perbandingan
2
Bab 2. Hinaan pedas
3
Bab 3. Anisa yang sensitif
4
Bab 4. Gantung diri
5
Bab 5. Malam yang aneh
6
Bab 6. Korban pertama
7
Bab 7. Menemukan joko
8
Bab 8. tangkal bunga melati
9
Bab 9. Korban kedua
10
Bab 10. Debat
11
Bab 11. Kematian Tamrin
12
Bab 12. memarahi Arka
13
Bab 13. tidak ada yang bisa membantu
14
Bab 14. ingin bercerita
15
Bab 15. Amir sedikit sadar
16
Bab 16. Pertanyaan tetangga
17
Bab 17. Ningsih cemas
18
Bab 18. Nana dan Samuel
19
Bab 19. mayat yang menghilang
20
Bab 20. energi yang menghilang
21
Bab 21. Di siram air
22
Bab 22. Mencari tau
23
Bab 23. berkata jujur
24
Bab 24. Gigi di bawah ranjang
25
Bab 25. gigi siapa
26
Bab 26. Emosi lagi
27
Bab 27. Mendatangi Purnama
28
Bab 28. Debat
29
Bab 29. Dunia mimpi
30
Bab 30. mengambil resiko
31
Bab 31. cerita Fathan
32
Bab 32. Ningsih curiga
33
Bab 33. Anisa pulang
34
Bab 34. Bukan Anisa
35
Bab 35. Teror Anisa
36
Bab 36. Berjaga
37
Bab 37. Digo mengejar pocong
38
Bab 38. Salah paham
39
Bab 39. Digo sadar diri
40
Bab 40. Zora
41
Bab 41. Arumi mengadu
42
Bab 42. Melihat Anisa
43
Bab 43. Purnama datang
44
Bab 44. Berusaha
45
Bab 45. Memakan angsa
46
Bab 46. Kepala ayam
47
Bab 47. Bau amis di gelas
48
Bab 48. selalu aroma mayat
49
Bab 49. Mata keluar kawat
50
Bab 50. Kematian
51
Bab 51. melayat
52
Bab 52. Santet
53
Bab 53. Memberikan santet kembali
54
Bab 54. Pak lurah datang
55
Bab 55. Mati lampu
56
Bab 56. Salah iblis
57
Bab 57. Korban lagi
58
Bab 58. Kekuatan besar
59
Bab 59. Siapa Naksu
60
Bab 60. pengorbanan Jalak
61
Bab 61. Kabur
62
Bab 62. Menemukan mayat Yurnita
63
Bab 63. Purnama buka suara
64
Bab 64. Pak Toha
65
Bab 65. Korban lagi
66
Bab 66. Kesalahan hardi juga
67
Bab 67. Firasat Xiela
68
Bab 68. Suara lembut tapi pedas
69
Bab 69. Nefertari
70
Bab 70. Xueka
71
Bab 71. Ada di pihak mana?
72
Bab 72. Dewa iblis
73
Bab 73. Terluka parah
74
Bab 74. Keluar dari tubuh
75
Bab 75. Kepedihan Nefertari
76
Bab 76. Mengalahkan
77
Bab 77. Purnama bimbang
78
Bab 78. Bertengkar
79
Bab 79. menguburkan Anisa dan Ningsih
80
Bab 80. end

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!