Bab 5. Malam yang aneh

Hening nya malam ini membuat siapa saja merasa tidak nyaman dan seolah ada sesuatu yang telah terjadi, namun para warga tidak mengetahui tentang hal itu Dan mereka menganggap bahwa mungkin saja hujan akan segera turun sehingga suasana desa begitu berbeda, bahkan para penjaga di pos ronda pun mengalami hal yang sama.

Mereka sudah membuat kopi yang panas namun itu tidak bisa menghangatkan suasana diantara mereka semua, ada perasaan ngeri yang tidak terkira namun mereka masih belum mengetahui itu semua berasal dari apa, terlebih lagi desa mereka selama ini sangat aman dan tidak pernah ada kejadian aneh sama sekali sehingga mereka tidak menyimpan rasa takut.

Namun entah kenapa malam ini terasa begitu berbeda sehingga mereka semua merasakan tubuh ini seolah menolak untuk diajak keluar, tapi untuk pulang ke rumah juga tidak mungkin karena mereka sedang kebagian untuk menjaga pos ronda agar tidak ada maling yang menyatroni rumah para warga di sekitar sini.

Angin malam terus bertiup ke sana kemari menerbangkan dedaunan kering dan bahkan beberapa juga sampai menjatuhkan daun yang masih segar, tidak ada gerimis atau rintik hujan sehingga mereka merasa heran kenapa malam ini terasa begitu dingin sekali, sarung sudah menyelimuti tubuh mereka semua dan kopi panas juga mengepul di depan mata.

Wuuusssh.

Sraaaaak.

Daun kering tertiup angin ke sana kemari membuat mereka yang menatap daun itu seolah merasakan sesuatu yang aneh, namun mereka semua tidak ada yang berani membicarakan tentang hal itu karena lidah ini seolah terkunci dan memutuskan untuk tidak membuka suara tentang keanehan malam ini yang ada di desa mereka.

Amir sejak tadi berusaha menutupi rasa takut tersebut karena dia tidak mau bila terus mendapat cap buruk sebagai pria yang tidak pernah memiliki nyali, dia terus berusaha untuk bermain gaple agar bisa melupakan rasa takut yang mulai timbul di dalam hati mereka, padahal tangan mereka semua sudah merinding karena seperti ada sesuatu yang akan datang.

"Ah malam ini terasa begitu sunyi sekali ya." Joko akhirnya membuka suara dan menatap sekitar dengan pasat.

"Itu karena kau belum memiliki istri sehingga terasa begitu sunyi." Amir menjawab sambil tersenyum.

"Eleh mentang-mentang sekarang kau sudah menikah jadi bisa mengejek aku seperti itu." Joko mencibir Amir.

"Kau kan sudah cukup usia jadi kenapa belum menikah juga?" Amir tertarik melanjutkan obrolan dari pada dia terus terbuai oleh rasa takut ini.

"Kan ya kemarin patah hati dari anak pak lurah desa sebelah, oleh sebab itu sampai sekarang belum ada niat menikah lagi kan." Tamrin tertawa menatap Joko.

"Eh apa aku mau demam ya kok tubuh ini terasa begitu dingin dan tidak nyaman." Ridwan mengusap tengkuk.

"Sebenarnya dari tadi aku juga merasakan hal itu Dan mungkin saja memang karena perubahan cuaca." Joko menjawab dengan cepat.

"Ini kalau siang panas bukan main dan kalau sudah malam begini teratas sangat dingin." sambung Amir.

Ridwan menatap ke sana kemari untuk memastikan terlebih dahulu, mereka adalah orang yang pernah selamat dari incaran para setan sehingga suasana seperti ini terasa begitu familiar dan Ridwan takut bila ternyata nanti ada sesuatu yang akan datang kembali untuk menghantui dia dengan berbagai macam cara.

"Ini tuh suasananya seperti ketika pohon pisang itu masih memiliki setan." Tamrin mendadak saja langsung membahas ke arah sana.

"Ah kau ini malah membahas masalah setan." Ridwan tidak ingin melanjutkan.

"Tapi emang benar sih, aku juga tadi sebenarnya nggak heran karena mendadak padahal suasana seperti ini." Joko sedikit tersenyum.

Ridwan semakin tidak nyaman karena dia memang mengakui tentang hal itu namun masih berusaha untuk menutupi rasa takut yang timbul di dalam hati ini, Amir tahu apa yang sedang di rasakan oleh Ridwan sehingga dia memutuskan untuk ganti topik saja agar tidak semakin larut dalam pembahasan yang menurut mereka akan begitu ngeri.

"Eh kau daripada lama jadi jomblo seperti itu maka aku memiliki pilihan untuk dirimu, Jok." Amir membahas masalah status Joko kembali.

"Siapa yang akan kau jodohkan dengan dia?" Tamrin penasaran juga sambil menyeruput kopi.

"Anak nya Pak Hardi kan ada dua itu yang masih gadis, kau bisa pilih salah satu diantara mereka." Amir tersenyum sambil menaikkan alis.

"Ah gila apa kalau aku harus memilih salah satu diantara mereka, Arumi jelas jauh lebih cantik dan bahkan Dia memiliki hati yang baik." Joko langsung menjawab dengan sewot.

"Tapi emang benar ya anak pak Hardi itu memiliki perbedaan yang sangat mencolok." Tamrin juga setuju dengan hal itu.

"Maksud ku tu, tidak masalah berwajah buruk karena nanti bisa melakukan perawatan atau segala macam. ini Anisa itu juga memiliki sifat yang buruk!" Joko kembali melanjutkan ucapan.

"Kesan nya jadi kita ingin menghujat saja." sambung Amir kembali.

"Iya, kadang aku menegur dia tapi tidak dia jawab dan langsung membuang muka seolah memiliki paras yang sangat cantik saja!" kesal Joko.

Wuuussssh.

Wuuussssh.

Joko agak kaget ketika dia baru selesai berbicara dan punggung dia terasa begitu dingin sekali tertiup oleh angin malam, tapi dia tidak peduli dengan hal itu karena menurut mereka pembahasan sedang serius tentang masalah Anisa, sebagai tetangga mereka memang sudah mengenal siapa gadis itu dan terkadang mereka juga agak kesal dengan tabiat buruk Anisa.

"Masih gadis tapi badan dia besar seperti itu dan seolah memang tidak melakukan perawatan." ujar Ridwan.

"Bahkan dengan janda keluaran sekarang saja dia pasti kalah saing." celetuk Joko.

"Oh kau jangan salah karena janda sekarang memang sangat menggoda! bumi gonjang ganjing, janda sekarang tiada tanding." gurau Amir.

Tamrin dan Joko langsung tertawa karena menurut mereka memang benar bahwa janda sekarang memang memiliki spek yang tidak biasa, namun itu hanya bagian luar saja dan mereka tidak mengenali pada bagian dalam sehingga tidak bisa mengenal juga bagaimana sifat atau bahkan tabiat buruk para manusia lain.

"Udah lah, nanti ke sana malah kita jadi membully anak orang." Ridwan menghentikan percakapan mereka.

"Tapi Anisa memang amit-amit sekali dia, sudah buruk muka tambah pula dengan buruk sikap." Joko geleng-geleng kepala dibuat nya.

"Jangan terlalu benci nanti malah kau jatuh cinta pula dengan dia." ejek Tamrin.

"Cuiih, demi Allah aku tidak akan Sudi." kesal Joko.

Joko terlihat begitu kesal karena dia memang tidak menyukai Anisa itu, bukan hanya karena paras saja tapi kelakuan buruk Anisa ketika bertemu dengan orang lain yang sama sekali tidak pernah membuat kesalahan kepada dirinya, coba pikiran Anisa selalu mengatakan bahwa orang-orang yang bertemu dia akan mengatai dirinya adalah gadis yang jelek, jadi pikiran buruk itu terus saja ada di dalam hati gadis itu.

Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.

Terpopuler

Comments

Dewi

Dewi

Nah kan kdg org tuh ksel sm tingkah laku org lain wlau dia mau cntik atau jlek.. sdg anisa sudh jelek mlah brtingkah mknya bnyk yg gk suka jdi nya..
klo anisa baik psti semua org gk mgkn ngatai hnya krn wjah jelek..

2026-06-22

1

V3

V3

apa mereka semuanya TDK ada yg tahu yaa kalau Anisa yg mereka perbincangkan itu sdh meninggal Krn BunDir ❓❓

takut nya mlh Joko nih yg akan JD korban nya Anisa ,,, secara Anisa kn psti JD arwah gentayangan 😱😱😱

2026-05-27

0

Ela Jutek

Ela Jutek

wah bangit di teror kalian

2026-05-27

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Perbandingan
2 Bab 2. Hinaan pedas
3 Bab 3. Anisa yang sensitif
4 Bab 4. Gantung diri
5 Bab 5. Malam yang aneh
6 Bab 6. Korban pertama
7 Bab 7. Menemukan joko
8 Bab 8. tangkal bunga melati
9 Bab 9. Korban kedua
10 Bab 10. Debat
11 Bab 11. Kematian Tamrin
12 Bab 12. memarahi Arka
13 Bab 13. tidak ada yang bisa membantu
14 Bab 14. ingin bercerita
15 Bab 15. Amir sedikit sadar
16 Bab 16. Pertanyaan tetangga
17 Bab 17. Ningsih cemas
18 Bab 18. Nana dan Samuel
19 Bab 19. mayat yang menghilang
20 Bab 20. energi yang menghilang
21 Bab 21. Di siram air
22 Bab 22. Mencari tau
23 Bab 23. berkata jujur
24 Bab 24. Gigi di bawah ranjang
25 Bab 25. gigi siapa
26 Bab 26. Emosi lagi
27 Bab 27. Mendatangi Purnama
28 Bab 28. Debat
29 Bab 29. Dunia mimpi
30 Bab 30. mengambil resiko
31 Bab 31. cerita Fathan
32 Bab 32. Ningsih curiga
33 Bab 33. Anisa pulang
34 Bab 34. Bukan Anisa
35 Bab 35. Teror Anisa
36 Bab 36. Berjaga
37 Bab 37. Digo mengejar pocong
38 Bab 38. Salah paham
39 Bab 39. Digo sadar diri
40 Bab 40. Zora
41 Bab 41. Arumi mengadu
42 Bab 42. Melihat Anisa
43 Bab 43. Purnama datang
44 Bab 44. Berusaha
45 Bab 45. Memakan angsa
46 Bab 46. Kepala ayam
47 Bab 47. Bau amis di gelas
48 Bab 48. selalu aroma mayat
49 Bab 49. Mata keluar kawat
50 Bab 50. Kematian
51 Bab 51. melayat
52 Bab 52. Santet
53 Bab 53. Memberikan santet kembali
54 Bab 54. Pak lurah datang
55 Bab 55. Mati lampu
56 Bab 56. Salah iblis
57 Bab 57. Korban lagi
58 Bab 58. Kekuatan besar
59 Bab 59. Siapa Naksu
60 Bab 60. pengorbanan Jalak
61 Bab 61. Kabur
62 Bab 62. Menemukan mayat Yurnita
63 Bab 63. Purnama buka suara
64 Bab 64. Pak Toha
65 Bab 65. Korban lagi
66 Bab 66. Kesalahan hardi juga
67 Bab 67. Firasat Xiela
68 Bab 68. Suara lembut tapi pedas
69 Bab 69. Nefertari
70 Bab 70. Xueka
71 Bab 71. Ada di pihak mana?
72 Bab 72. Dewa iblis
73 Bab 73. Terluka parah
74 Bab 74. Keluar dari tubuh
75 Bab 75. Kepedihan Nefertari
76 Bab 76. Mengalahkan
77 Bab 77. Purnama bimbang
78 Bab 78. Bertengkar
79 Bab 79. menguburkan Anisa dan Ningsih
80 Bab 80. end
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1. Perbandingan
2
Bab 2. Hinaan pedas
3
Bab 3. Anisa yang sensitif
4
Bab 4. Gantung diri
5
Bab 5. Malam yang aneh
6
Bab 6. Korban pertama
7
Bab 7. Menemukan joko
8
Bab 8. tangkal bunga melati
9
Bab 9. Korban kedua
10
Bab 10. Debat
11
Bab 11. Kematian Tamrin
12
Bab 12. memarahi Arka
13
Bab 13. tidak ada yang bisa membantu
14
Bab 14. ingin bercerita
15
Bab 15. Amir sedikit sadar
16
Bab 16. Pertanyaan tetangga
17
Bab 17. Ningsih cemas
18
Bab 18. Nana dan Samuel
19
Bab 19. mayat yang menghilang
20
Bab 20. energi yang menghilang
21
Bab 21. Di siram air
22
Bab 22. Mencari tau
23
Bab 23. berkata jujur
24
Bab 24. Gigi di bawah ranjang
25
Bab 25. gigi siapa
26
Bab 26. Emosi lagi
27
Bab 27. Mendatangi Purnama
28
Bab 28. Debat
29
Bab 29. Dunia mimpi
30
Bab 30. mengambil resiko
31
Bab 31. cerita Fathan
32
Bab 32. Ningsih curiga
33
Bab 33. Anisa pulang
34
Bab 34. Bukan Anisa
35
Bab 35. Teror Anisa
36
Bab 36. Berjaga
37
Bab 37. Digo mengejar pocong
38
Bab 38. Salah paham
39
Bab 39. Digo sadar diri
40
Bab 40. Zora
41
Bab 41. Arumi mengadu
42
Bab 42. Melihat Anisa
43
Bab 43. Purnama datang
44
Bab 44. Berusaha
45
Bab 45. Memakan angsa
46
Bab 46. Kepala ayam
47
Bab 47. Bau amis di gelas
48
Bab 48. selalu aroma mayat
49
Bab 49. Mata keluar kawat
50
Bab 50. Kematian
51
Bab 51. melayat
52
Bab 52. Santet
53
Bab 53. Memberikan santet kembali
54
Bab 54. Pak lurah datang
55
Bab 55. Mati lampu
56
Bab 56. Salah iblis
57
Bab 57. Korban lagi
58
Bab 58. Kekuatan besar
59
Bab 59. Siapa Naksu
60
Bab 60. pengorbanan Jalak
61
Bab 61. Kabur
62
Bab 62. Menemukan mayat Yurnita
63
Bab 63. Purnama buka suara
64
Bab 64. Pak Toha
65
Bab 65. Korban lagi
66
Bab 66. Kesalahan hardi juga
67
Bab 67. Firasat Xiela
68
Bab 68. Suara lembut tapi pedas
69
Bab 69. Nefertari
70
Bab 70. Xueka
71
Bab 71. Ada di pihak mana?
72
Bab 72. Dewa iblis
73
Bab 73. Terluka parah
74
Bab 74. Keluar dari tubuh
75
Bab 75. Kepedihan Nefertari
76
Bab 76. Mengalahkan
77
Bab 77. Purnama bimbang
78
Bab 78. Bertengkar
79
Bab 79. menguburkan Anisa dan Ningsih
80
Bab 80. end

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!