Bab 2

Satu bulan kemudian...

Bandara selalu dipenuhi dua jenis manusia.

Mereka yang berangkat dengan harapan.

Dan mereka yang ditinggalkan dengan kesedihan.

Pagi itu, Nandin termasuk golongan yang kedua.

Tangannya tak henti-henti mengelus perut yang mulai membesar di balik gamis longgarnya. Meskipun kehamilannya belum terlalu besar, rasa pegal di pinggangnya mulai sering datang.

Di depannya, Wisnu sedang mengobrol dengan beberapa calon pekerja yang akan berangkat bersamanya ke Korea.

Mereka tampak bersemangat.

Tertawa.

Bercanda.

Membahas gaji yang katanya bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

Sementara Nandin berdiri sendirian di dekat kursi tunggu.

Entah kenapa, dadanya terasa sesak sejak tadi malam.

Seperti ada sesuatu yang tidak ingin melepaskan kepergian suaminya.

"Nanti kalau sudah sampai langsung kabarin aku ya, Mas."

Nandin akhirnya memberanikan diri bicara.

Wisnu mengangguk singkat.

"Iya."

"Jangan lupa makan." imbuhnya.

"Iya."

"Kalau ada waktu video call."

"Iya."

Jawaban itu terdengar datar.

Pendek.

Seolah ia sedang berbicara dengan teman biasa.

Bukan istrinya yang sedang mengandung anaknya.

Nandin memaksakan senyum.

Meski rasanya sulit.

Di belakang mereka, Ibu Sri justru tampak paling bahagia.

Perempuan itu sibuk memotret.

Berkali-kali.

Lalu mengirimnya ke grup WhatsApp.

Sesekali ia tertawa sendiri sambil membaca balasan para anggota grup arisan.

"Alhamdulillah, Bu Sri. Anak ibu hebat."

"Wah, calon orang kaya nih."

"Nanti jangan lupa traktir kalau sudah kirim uang dari Korea."

Mata Ibu Sri berbinar.

Seumur hidupnya mungkin belum pernah menerima pujian sebanyak itu.

"Makanya," katanya bangga kepada seorang tetangga yang ikut mengantar. "Anak saya memang pekerja keras."

Nandin hanya diam.

Ia tahu.

Jika memang benar ini demi masa depan keluarga mereka, tentu ia akan mendukung sepenuh hati.

Tapi jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang mengganjal.

Sejak awal keberangkatan ini lebih sering dibicarakan sebagai kebanggaan Ibu Sri daripada kebutuhan keluarga mereka.

Tepat sebelum panggilan keberangkatan diumumkan, Nandin menggenggam tangan Wisnu.

"Mas."

Wisnu menoleh.

"Hati-hati di sana."

Untuk sesaat, Nandin berharap lelaki itu akan memeluknya.

Atau setidaknya menyentuh perutnya.

Mengucapkan selamat tinggal kepada calon anak mereka.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Wisnu hanya menarik tangannya perlahan.

"Lagipula cuma kerja."

Cuma kerja.

Kalimat itu kembali menusuk.

Beberapa menit kemudian, sosok Wisnu menghilang di balik pintu keberangkatan.

Dan tanpa disadari Nandin...

Itulah awal dari penantian panjang yang akan mengubah hidupnya.

Hari pertama.

Hari kedua.

Hari ketiga.

Nandin masih menunggu kabar.

Ia selalu meletakkan ponsel di dekat bantal.

Berharap sewaktu-waktu layar itu menyala.

Berharap nama Wisnu muncul.

Namun tidak pernah terjadi.

Sampai satu minggu berlalu.

Barulah sebuah pesan masuk.

"Aku sudah sampai."

Hanya tiga kata.

Tidak ada pertanyaan tentang dirinya.

Tidak ada pertanyaan tentang bayi mereka.

Tidak ada kalimat rindu.

Tetapi Nandin tetap tersenyum.

Setidaknya Wisnu baik-baik saja.

Ia membalas cepat.

"Alhamdulillah. Jaga kesehatan ya, Mas. Aku sama bayi baik-baik saja."

Centang dua.

Dibaca.

Namun tak pernah dibalas lagi.

Waktu terus berjalan.

Perut Nandin semakin membesar.

Tabungan mereka semakin menipis.

Sementara kabar dari Wisnu semakin jarang.

Kadang seminggu sekali.

Kadang dua minggu sekali.

Bahkan lebih sering hanya berupa satu atau dua kalimat.

"Aku sibuk."

"Lagi kerja."

"Nanti saja."

Padahal setiap hari Nandin menunggu.

Setiap hari.

Tanpa pernah absen.

Suatu sore, ia membuka buku tabungannya.

Sisa saldo membuat jantungnya berdegup tidak nyaman.

Dua juta tiga ratus ribu rupiah.

Itu saja.

Padahal biaya kontrol kehamilan terus berjalan.

Belum kebutuhan sehari-hari.

Belum biaya persalinan nanti.

Nandin menghela napas panjang.

Ia membuka aplikasi mobile banking.

Berharap ada transfer masuk.

Namun nihil.

Tetap kosong.

Tidak ada kiriman dari Wisnu.

Tidak ada apa-apa.

Tak satu rupiah pun dikirim.

Awalnya Nandin masih mencoba berpikir positif.

Mungkin gaji pertama belum cair.

Mungkin masih ada potongan biaya penempatan.

Mungkin Wisnu sedang beradaptasi.

Namun semakin lama, alasan-alasan itu mulai terdengar rapuh.

Karena hidup tetap harus berjalan.

Dan uang tabungan terus berkurang.

Suatu siang, Nandin duduk di teras kontrakan sambil memegang buku rekening.

Matanya berkaca-kaca.

Saldo terakhir tersisa tujuh ratus ribu rupiah.

Itu pun belum termasuk biaya kontrol bulan depan.

"Nak..." bisiknya sambil mengusap perutnya.

"Kita harus hemat ya."

Air matanya jatuh.

Pelan.

Tanpa suara.

Ia tidak berani menangis keras.

Takut membuat bayinya ikut sedih.

Saat itulah sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Nandin langsung mengenalinya.

Mobil tua milik ayahnya.

"Pak!"

Ia segera berdiri.

Meski tubuhnya terasa berat.

Ayah dan ibunya turun dari mobil.

Membawa beberapa kardus.

Karung beras.

Minyak goreng.

Telur.

Mie instan.

Buah-buahan.

Dan berbagai kebutuhan lainnya.

"Nak..."

Begitu melihat wajah putrinya, sang ibu langsung memeluknya.

Tangis Nandin yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah.

"Bu..."

Ibunya mengusap punggungnya perlahan.

"Sudah. Jangan nangis."

"Bu... aku capek."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Dan membuat kedua orang tuanya ikut menahan air mata.

Mereka tahu.

Anak mereka sedang berusaha kuat.

Padahal usianya baru dua puluh tiga tahun.

Malam itu mereka makan bersama.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, rumah kontrakan terasa hangat.

Ayahnya menatap sekeliling rumah.

"Listrik aman?"

Nandin mengangguk.

"Masih, Pak."

"Kontrakan sudah dibayar?"

"Sudah sampai dua bulan lagi."

Ayahnya menghela napas.

Lalu menyelipkan sebuah amplop ke tangan Nandin.

"Apa ini, Pak?"

"Pegang saja."

Nandin membuka sedikit.

Lima juta rupiah.

Matanya langsung membesar.

"Pak, jangan."

"Sudah."

"Tapi Bapak sendiri..."

"Kami masih punya."

Nandin tahu itu bohong.

Ia tahu ayahnya hanya seorang pensiunan sopir travel.

Ia tahu uang itu pasti dikumpulkan dengan susah payah.

Tangisnya kembali pecah.

"Aku jadi merepotkan..."

Ayahnya langsung menggeleng.

"Anak tidak pernah merepotkan orang tua."

Kalimat sederhana itu justru membuat hati Nandin semakin sesak.

Karena orang yang seharusnya bertanggung jawab atas dirinya dan bayi yang dikandungnya justru tidak ada di sini.

Malam semakin larut.

Setelah kedua orang tuanya tidur, Nandin duduk sendirian di ruang tamu.

Ia kembali membuka ponselnya.

Mencari nama Wisnu.

Lalu mengetik pesan.

"Mas, aku kontrol kandungan besok."

Dibaca.

Tidak dibalas.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Satu jam.

Tetap tidak ada jawaban.

Nandin memejamkan mata.

Ia mulai merasa takut.

Bukan takut miskin.

Bukan takut melahirkan.

Melainkan takut bahwa dirinya dan bayi yang dikandungnya sudah tidak lagi menjadi prioritas dalam hidup suaminya.

Dan ketakutan itu perlahan tumbuh.

Diam-diam.

Seperti racun yang menetes sedikit demi sedikit.

Menggerogoti hatinya setiap hari.

Tanpa ia sadari...

Penantian yang selama ini ia pertahankan dengan penuh harapan, perlahan berubah menjadi luka.

Luka yang suatu hari nanti akan menghancurkan seluruh hidupnya.

[Bersambung...]

Terpopuler

Comments

Zanahhan226

Zanahhan226

halo, kak..
aku mampir dlu sblm tidur..

perkara sepele tiap rumah tangga yg kdg disepelekan lelaki,,
aku sehari gk dikasih kabar suami aja pen mencak", weh..
mana ada lelaki betah gk kasih kabar istrinya, sih..
🥲🥲🥲

2026-06-25

1

Zanahhan226

Zanahhan226

smoga suatu saat aku jg diberi kesempatan itu,,
aamiin..
🥰🥰🥰

2026-06-25

1

anakmafia

anakmafia

up tiap hari 10 episod bisa gasih thor hehehe

2026-06-11

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 Kabar dari Negeri Seberang
15 Perempuan di Balik Layar
16 Jejak yang Mulai Terbuka
17 Tangan yang Terlalu Dikenal
18 Fitnah di Depan Pintu Kontrakan
19 Panggilan yang Menghancurkan Dunia
20 Rumah yang Kehilangan Cahaya
21 Nama di Atas Pelaminan
22 Pengantin yang Masih Memiliki Istri
23 Perempuan yang Kehilangan Akal
24 Perempuan yang Perlahan Hilang
25 ARC 2: ASMARA DI PONDOK REHABILITASI.
26 HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS
27 HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 2
28 HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 3
29 BAYI YANG LAHIR DI TENGAH GOSIP
30 PULANGNYA WISNU, SUNYINYA NANDIN
31 NAMA YANG KEMBALI
32 PINTU YANG DIKUNCI
33 KARMA ITU BERNAMA CURIGA
34 WAJAH YANG PERNAH DILUPAKAN
35 ANAK YANG JATUH DARI LANGIT KEHORMATAN
36 IQBAL MAHARDIKA
37 AWAL MULA BENIH TUMBUH
38 RETAKAN YANG MULAI TERLIHAT
39 WAJAH ASLI YANG MULAI TERLIHAT
40 RINDU YANG MENEMUKAN JALANNYA
41 FOTO LAMA
42 PEREMPUAN YANG AKHIRNYA MENGERTI
43 HARGA SEBUAH PENGKHIANATAN
44 JANJI SEORANG IBU
45 HASIL YANG MENGUBAH SEGALANYA
46 HATI YANG PERLAHAN PULIH
47 AKU AKAN MENUNGGUMU PULANG
48 KARMA TIDAK PERNAH TERBURU-BURU
49 HARGA DARI SEBUAH KESOMBONGAN
50 PULANG KE RUMAH YANG PERNAH HILANG
51 MAAF YANG DATANG TERLAMBAT
52 RUMAH YANG KEMBALI HANGAT
53 AKHIRNYA KUPULANGKAN MEREKA
54 MEMULAI DARI NOL, BERSAMA ANAK-ANAKKU
55 AKHIRNYA KAMU INGAT JANJI ITU
56 Dua Tahun yang Mengubah Segalanya
57 BENIH ITU… AKHIRNYA TUMBUH
58 Kabar dari masa lalu.
59 Lamaran yang dinanti
60 Penyesalan di Ujung Waktu
61 Rumah yang Kembali Ditemukan
62 Malam Sebelum Ijab Kabul
63 Ketika Hati Kembali Menemukan Rumah
64 EPILOG
Episodes

Updated 64 Episodes

1
Prolog
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
9
10
10
11
11
12
12
13
13
14
Kabar dari Negeri Seberang
15
Perempuan di Balik Layar
16
Jejak yang Mulai Terbuka
17
Tangan yang Terlalu Dikenal
18
Fitnah di Depan Pintu Kontrakan
19
Panggilan yang Menghancurkan Dunia
20
Rumah yang Kehilangan Cahaya
21
Nama di Atas Pelaminan
22
Pengantin yang Masih Memiliki Istri
23
Perempuan yang Kehilangan Akal
24
Perempuan yang Perlahan Hilang
25
ARC 2: ASMARA DI PONDOK REHABILITASI.
26
HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS
27
HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 2
28
HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 3
29
BAYI YANG LAHIR DI TENGAH GOSIP
30
PULANGNYA WISNU, SUNYINYA NANDIN
31
NAMA YANG KEMBALI
32
PINTU YANG DIKUNCI
33
KARMA ITU BERNAMA CURIGA
34
WAJAH YANG PERNAH DILUPAKAN
35
ANAK YANG JATUH DARI LANGIT KEHORMATAN
36
IQBAL MAHARDIKA
37
AWAL MULA BENIH TUMBUH
38
RETAKAN YANG MULAI TERLIHAT
39
WAJAH ASLI YANG MULAI TERLIHAT
40
RINDU YANG MENEMUKAN JALANNYA
41
FOTO LAMA
42
PEREMPUAN YANG AKHIRNYA MENGERTI
43
HARGA SEBUAH PENGKHIANATAN
44
JANJI SEORANG IBU
45
HASIL YANG MENGUBAH SEGALANYA
46
HATI YANG PERLAHAN PULIH
47
AKU AKAN MENUNGGUMU PULANG
48
KARMA TIDAK PERNAH TERBURU-BURU
49
HARGA DARI SEBUAH KESOMBONGAN
50
PULANG KE RUMAH YANG PERNAH HILANG
51
MAAF YANG DATANG TERLAMBAT
52
RUMAH YANG KEMBALI HANGAT
53
AKHIRNYA KUPULANGKAN MEREKA
54
MEMULAI DARI NOL, BERSAMA ANAK-ANAKKU
55
AKHIRNYA KAMU INGAT JANJI ITU
56
Dua Tahun yang Mengubah Segalanya
57
BENIH ITU… AKHIRNYA TUMBUH
58
Kabar dari masa lalu.
59
Lamaran yang dinanti
60
Penyesalan di Ujung Waktu
61
Rumah yang Kembali Ditemukan
62
Malam Sebelum Ijab Kabul
63
Ketika Hati Kembali Menemukan Rumah
64
EPILOG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!