Bab 5

Ada satu hal yang perlahan dipelajari Nandin selama suaminya berada di Korea.

Manusia bisa terbiasa dengan kesepian.

Awalnya terasa menyakitkan.

Lalu menjadi kebiasaan.

Dan pada akhirnya, menjadi bagian dari hidup.

Pukul tiga pagi, alarm ponsel berbunyi.

Nandin langsung membuka mata.

Tubuhnya terasa pegal luar biasa.

Perutnya sudah sangat besar.

Bahkan untuk bangun dari tempat tidur saja ia membutuhkan beberapa detik untuk mengumpulkan tenaga.

"Kita bangun ya, Nak."

Tangannya mengusap perutnya.

Dua tonjolan kecil bergerak dari dalam.

Membuat senyumnya mengembang.

Meski hidup sedang tidak baik-baik saja, bayi-bayinya selalu berhasil menjadi alasan untuk bertahan.

Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju dapur.

Hari itu ada pesanan tiga puluh nasi kotak dari kantor kelurahan.

Jumlah terbesar yang pernah ia terima sejak membuka katering rumahan.

Aroma bawang goreng segera memenuhi ruangan sempit itu.

Panci besar mulai mendidih.

Ayam-ayam yang sudah dimarinasi semalaman siap digoreng.

Nandin bekerja sambil sesekali memegangi pinggangnya yang nyeri.

Namun ada perasaan hangat yang mengisi dadanya.

Usahanya mulai berkembang.

Perlahan.

Sedikit demi sedikit.

Tetapi berkembang.

"Bu Nandin!"

Suara dari luar rumah membuatnya menoleh.

Ternyata Bu Rini.

Tetangganya yang selama ini banyak membantu mempromosikan kateringnya.

"Saya mau tambah pesanan."

Nandin langsung tersenyum.

"Tambah berapa, Bu?"

"Sepuluh kotak."

"Mau buat kapan?"

"Besok pagi."

Mata Nandin berbinar.

"Siap."

"Alhamdulillah."

Bu Rini tertawa.

"Masakanmu memang enak."

Nandin tersipu malu.

Pujian itu sederhana.

Namun bagi seseorang yang selama berbulan-bulan hanya menerima kritik dan pengabaian, pujian sekecil apa pun terasa begitu berarti.

Sebulan terakhir, nama katering Nandin mulai dikenal warga sekitar.

Awalnya hanya tetangga.

Lalu pengajian.

Kemudian acara kantor kelurahan.

Bahkan beberapa guru sekolah dasar dekat kompleks mulai menjadi pelanggan tetap.

Keuntungan yang didapat memang belum besar.

Tetapi cukup untuk membayar kebutuhan sehari-hari.

Cukup untuk membeli susu kehamilan.

Cukup untuk menyisihkan sedikit demi sedikit biaya persalinan.

Untuk pertama kalinya sejak Wisnu pergi, Nandin merasa memiliki kendali atas hidupnya sendiri.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Siang itu, saat sedang mengemas pesanan, tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang.

Tangannya gemetar.

Napasnya terasa pendek.

Perutnya mengeras.

Sangat keras.

"Ngh..."

Nandin memegangi meja.

Tubuhnya berkeringat dingin.

Rasa sakit menjalar dari pinggang hingga perut bawah.

"Ya Allah..."

Ia mencoba berdiri.

Namun kakinya justru melemas.

Bruk!

Tubuhnya terduduk di lantai.

Untung Bu Rini yang sedang datang mengambil pesanan langsung melihat kejadian itu.

"Astagfirullah!"

Wanita itu berlari menghampiri.

"Nandin!"

"Aku nggak apa-apa..."

"Nggak apa-apa dari mana?!"

Wajah Nandin pucat seperti kertas.

Bahkan bibirnya mulai kehilangan warna.

"Perutku sakit."

"Kita ke klinik sekarang."

"Nggak usah..."

"Nggak bisa!"

Bu Rini langsung memanggil suaminya.

Lima belas menit kemudian mereka sudah berada di klinik.

Dokter yang memeriksa langsung terlihat serius.

"Kamu terlalu banyak aktivitas."

Nandin menunduk.

"Saya harus kerja, Dok."

Dokter menghela napas.

"Saya mengerti."

"Tapi kandungan kembarnya mulai memberi tekanan besar."

Jantung Nandin berdebar.

"Tekanan bagaimana?"

"Risiko lahir prematur meningkat."

Deg.

Kalimat itu langsung membuatnya panik.

"Terus gimana, Dok?"

"Kamu harus lebih banyak istirahat."

Nandin hampir tertawa getir.

Istirahat?

Bagaimana caranya?

Kalau ia berhenti bekerja, siapa yang akan membayar hidup mereka?

Siapa yang akan membeli kebutuhan bayi?

Siapa yang akan membayar biaya persalinan?

Dokter seolah mengerti isi kepalanya.

"Saya tahu keadaanmu sulit."

"Tapi kesehatan bayi lebih penting."

Nandin mengangguk pelan.

Meski di dalam hati ia tahu itu tidak akan mudah dilakukan.

Malam harinya, Nandin duduk di depan rumah sambil menikmati angin.

Tubuhnya masih lemas.

Namun pikirannya jauh lebih lelah.

Ia membuka WhatsApp.

Seperti biasa.

Tidak ada pesan dari Wisnu.

Tidak ada panggilan.

Tidak ada kabar.

Padahal hari ini dokter mengatakan kehamilannya mulai berisiko.

Padahal hari ini ia hampir pingsan.

Padahal hari ini ia sangat membutuhkan seseorang untuk bersandar.

Tapi tidak ada.

Wisnu seperti menghilang dari kehidupan mereka.

Yang tersisa hanya status "suami" di atas kertas.

Beberapa hari kemudian.

Sebuah kenyataan yang lebih menyakitkan akhirnya sampai ke telinga Nandin.

Saat itu ia sedang mengantar pesanan ke rumah Bu Ratna.

Tetangga yang kebetulan tinggal tidak jauh dari rumah Ibu Sri.

Mereka sedang mengobrol santai saat nama Wisnu tiba-tiba disebut.

"Oh iya."

Bu Ratna tertawa kecil.

"Anak Bu Sri memang perhatian ya."

Nandin mengangkat kepala.

"Perhatian?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Hampir tiap malam telepon ibunya."

Senyum di wajah Nandin langsung membeku.

"Apa?"

"Iya."

"Sering banget."

"Mungkin kangen."

Bu Ratna masih terus berbicara.

Namun telinga Nandin mulai berdenging.

Hampir tiap malam?

Telepon?

Jadi Wisnu punya waktu menelepon?

Punya waktu berbicara berjam-jam?

Tetapi tidak pernah punya waktu untuk menanyakan kondisi istrinya?

Kondisi anak-anaknya?

Malam itu Nandin tidak bisa tenang.

Ia mencoba menghubungi Ibu Sri.

Tidak diangkat.

Ia mencoba lagi.

Tetap tidak diangkat.

Akhirnya ia memutuskan datang langsung ke rumah mertuanya.

Begitu sampai, suara tawa langsung terdengar dari ruang tamu.

Ibu Sri sedang menelepon seseorang.

Dan suara itu...

Suara yang sangat dikenalnya.

Wisnu.

Jantung Nandin langsung mencelos.

Ia berdiri di depan pintu.

Mendengar percakapan mereka.

"Iya, Nu."

Ibu Sri tertawa.

"Uangnya sudah Ibu terima."

Suara Wisnu terdengar samar dari speaker.

"Nanti bulan depan saya kirim lagi."

"Jangan lupa buat renovasi dapur ya, Bu."

"Iya."

"Kalau kurang bilang saja."

Nandin membeku.

Kalau kurang bilang saja.

Kalimat itu terus bergema di kepalanya.

Sementara dirinya...

Bahkan untuk membeli vitamin kehamilan harus menghitung sisa uang di dompet.

Tangan Nandin mengepal.

Pintu langsung ia dorong.

Brak!

Ibu Sri terkejut.

"Nandin?"

Wisnu juga langsung diam di ujung sana.

"Mas."

Suara Nandin bergetar.

"Kamu ada waktu ternyata."

Hening.

Tak ada yang menjawab.

"Kamu bisa telepon Ibu setiap hari."

Masih hening.

"Tapi kamu nggak pernah sekalipun tanya anak-anakmu."

Ibu Sri langsung berdiri.

"Jangan bikin keributan."

"Saya bicara sama suami saya, Bu."

"Kamu nggak sopan!"

Nandin tertawa miris.

Sopan?

Setelah semua yang mereka lakukan?

"Aku cuma mau tanya satu hal, Mas."

Suaranya mulai pecah.

"Apakah kamu masih menganggap kami keluarga?"

Hening.

Sangat lama.

Lalu suara Wisnu akhirnya terdengar.

"Kamu terlalu sensitif."

Kalimat itu menjadi tetes terakhir yang membuat gelas kesabaran Nandin meluap.

"Sensitive?"

Air matanya jatuh.

"Aku hampir pingsan minggu lalu."

Tidak ada jawaban.

"Dokter bilang kehamilanku berisiko."

Tidak ada jawaban.

"Aku mengandung anak kembar kita."

Tetap tidak ada jawaban.

Dan saat itulah Nandin sadar.

Tidak peduli berapa banyak ia bicara.

Tidak peduli seberapa keras ia menangis.

Lelaki itu sudah tidak lagi peduli.

Malam semakin larut ketika Nandin pulang.

Langkahnya terasa berat.

Namun bukan karena perutnya.

Melainkan karena hatinya.

Sesampainya di rumah, ia langsung masuk kamar.

Lalu duduk di pinggir tempat tidur.

Tangannya mengusap perutnya perlahan.

Dua bayi kecil itu kembali bergerak.

Seolah merasakan kesedihan ibunya.

"Maaf ya..."

Bisiknya.

"Ibu gagal memilih ayah yang baik buat kalian."

Air mata mengalir lagi.

Namun kali ini berbeda.

Tidak ada harapan yang tersisa.

Tidak ada penantian.

Tidak ada lagi alasan untuk membela Wisnu.

Karena kenyataannya sudah sangat jelas.

Lelaki itu tidak meninggalkan mereka karena sibuk.

Tidak meninggalkan mereka karena kesulitan.

Tidak juga karena tidak punya waktu.

Ia memilih untuk tidak peduli.

Dan itu jauh lebih menyakitkan.

Malam itu juga...

Nandin berhenti menunggu.

Ia berhenti berharap ponselnya berbunyi.

Berhenti berharap ada transfer masuk.

Berhenti berharap ada perhatian.

Karena ia sadar satu hal.

Mulai hari ini...

Ia hanya punya dirinya sendiri.

Dan dua bayi kecil yang sedang berjuang tumbuh di dalam rahimnya.

Sementara di luar sana, badai yang lebih besar sedang menunggu.

Badai yang akan datang bersamaan dengan hari kelahiran mereka.

\[Bersambung...\]

Terpopuler

Comments

Zanahhan226

Zanahhan226

huhu..
semangat pejuang rupiah..
semangat pejuang garis dua..
dan semangat untuk menulisnya, kak..
🥰🥰🥰

2026-06-29

1

차니 Chani🇰🇷

차니 Chani🇰🇷

Hai kak aku mampir lagi 😊

2026-07-11

1

차니 Chani🇰🇷

차니 Chani🇰🇷

wah bahsa inggrisnya keluar 😂

2026-07-11

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 Kabar dari Negeri Seberang
15 Perempuan di Balik Layar
16 Jejak yang Mulai Terbuka
17 Tangan yang Terlalu Dikenal
18 Fitnah di Depan Pintu Kontrakan
19 Panggilan yang Menghancurkan Dunia
20 Rumah yang Kehilangan Cahaya
21 Nama di Atas Pelaminan
22 Pengantin yang Masih Memiliki Istri
23 Perempuan yang Kehilangan Akal
24 Perempuan yang Perlahan Hilang
25 ARC 2: ASMARA DI PONDOK REHABILITASI.
26 HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS
27 HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 2
28 HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 3
29 BAYI YANG LAHIR DI TENGAH GOSIP
30 PULANGNYA WISNU, SUNYINYA NANDIN
31 NAMA YANG KEMBALI
32 PINTU YANG DIKUNCI
33 KARMA ITU BERNAMA CURIGA
34 WAJAH YANG PERNAH DILUPAKAN
35 ANAK YANG JATUH DARI LANGIT KEHORMATAN
36 IQBAL MAHARDIKA
37 AWAL MULA BENIH TUMBUH
38 RETAKAN YANG MULAI TERLIHAT
39 WAJAH ASLI YANG MULAI TERLIHAT
40 RINDU YANG MENEMUKAN JALANNYA
41 FOTO LAMA
42 PEREMPUAN YANG AKHIRNYA MENGERTI
43 HARGA SEBUAH PENGKHIANATAN
44 JANJI SEORANG IBU
45 HASIL YANG MENGUBAH SEGALANYA
46 HATI YANG PERLAHAN PULIH
47 AKU AKAN MENUNGGUMU PULANG
48 KARMA TIDAK PERNAH TERBURU-BURU
49 HARGA DARI SEBUAH KESOMBONGAN
50 PULANG KE RUMAH YANG PERNAH HILANG
51 MAAF YANG DATANG TERLAMBAT
52 RUMAH YANG KEMBALI HANGAT
53 AKHIRNYA KUPULANGKAN MEREKA
54 MEMULAI DARI NOL, BERSAMA ANAK-ANAKKU
55 AKHIRNYA KAMU INGAT JANJI ITU
56 Dua Tahun yang Mengubah Segalanya
57 BENIH ITU… AKHIRNYA TUMBUH
58 Kabar dari masa lalu.
59 Lamaran yang dinanti
60 Penyesalan di Ujung Waktu
61 Rumah yang Kembali Ditemukan
62 Malam Sebelum Ijab Kabul
63 Ketika Hati Kembali Menemukan Rumah
64 EPILOG
Episodes

Updated 64 Episodes

1
Prolog
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
9
10
10
11
11
12
12
13
13
14
Kabar dari Negeri Seberang
15
Perempuan di Balik Layar
16
Jejak yang Mulai Terbuka
17
Tangan yang Terlalu Dikenal
18
Fitnah di Depan Pintu Kontrakan
19
Panggilan yang Menghancurkan Dunia
20
Rumah yang Kehilangan Cahaya
21
Nama di Atas Pelaminan
22
Pengantin yang Masih Memiliki Istri
23
Perempuan yang Kehilangan Akal
24
Perempuan yang Perlahan Hilang
25
ARC 2: ASMARA DI PONDOK REHABILITASI.
26
HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS
27
HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 2
28
HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 3
29
BAYI YANG LAHIR DI TENGAH GOSIP
30
PULANGNYA WISNU, SUNYINYA NANDIN
31
NAMA YANG KEMBALI
32
PINTU YANG DIKUNCI
33
KARMA ITU BERNAMA CURIGA
34
WAJAH YANG PERNAH DILUPAKAN
35
ANAK YANG JATUH DARI LANGIT KEHORMATAN
36
IQBAL MAHARDIKA
37
AWAL MULA BENIH TUMBUH
38
RETAKAN YANG MULAI TERLIHAT
39
WAJAH ASLI YANG MULAI TERLIHAT
40
RINDU YANG MENEMUKAN JALANNYA
41
FOTO LAMA
42
PEREMPUAN YANG AKHIRNYA MENGERTI
43
HARGA SEBUAH PENGKHIANATAN
44
JANJI SEORANG IBU
45
HASIL YANG MENGUBAH SEGALANYA
46
HATI YANG PERLAHAN PULIH
47
AKU AKAN MENUNGGUMU PULANG
48
KARMA TIDAK PERNAH TERBURU-BURU
49
HARGA DARI SEBUAH KESOMBONGAN
50
PULANG KE RUMAH YANG PERNAH HILANG
51
MAAF YANG DATANG TERLAMBAT
52
RUMAH YANG KEMBALI HANGAT
53
AKHIRNYA KUPULANGKAN MEREKA
54
MEMULAI DARI NOL, BERSAMA ANAK-ANAKKU
55
AKHIRNYA KAMU INGAT JANJI ITU
56
Dua Tahun yang Mengubah Segalanya
57
BENIH ITU… AKHIRNYA TUMBUH
58
Kabar dari masa lalu.
59
Lamaran yang dinanti
60
Penyesalan di Ujung Waktu
61
Rumah yang Kembali Ditemukan
62
Malam Sebelum Ijab Kabul
63
Ketika Hati Kembali Menemukan Rumah
64
EPILOG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!