Bab 3

Ada kabar yang membuat seseorang menangis karena bahagia.

Ada juga kabar yang membuat seseorang menangis karena takut.

Pagi itu, Nandin merasakan keduanya sekaligus.

Sejak subuh, perutnya terasa lebih berat dari biasanya. Pinggangnya pegal. Kakinya sedikit bengkak. Semalaman ia bahkan tidak bisa tidur nyenyak karena bayi dalam kandungannya terus bergerak.

Atau setidaknya, itulah yang ia pikir.

Satu bayi.

Selama tujuh bulan terakhir, Nandin selalu yakin hanya ada satu anak yang tumbuh di dalam rahimnya.

Hari itu ia harus kontrol kandungan lagi.

Untung masih ada uang yang ditinggalkan ayahnya minggu lalu.

Kalau tidak, mungkin ia sudah menunda pemeriksaan lagi seperti bulan lalu.

Nandin mengenakan gamis sederhana berwarna biru muda dan kerudung krem yang mulai pudar warnanya.

Sebelum berangkat, ia membuka dompet.

Uang yang tersisa tidak sampai satu juta rupiah.

Ia menatapnya cukup lama.

Lalu menarik napas pelan.

"Yang penting kita berdua sehat ya, Nak."

Tangannya mengusap perut yang besar.

Meski suaminya tidak pernah mengirim uang, meski hidup terasa semakin berat, setidaknya bayi dalam kandungannya harus tetap sehat.

Itu yang paling penting.

Klinik kandungan pagi itu cukup ramai.

Nandin duduk di antara beberapa ibu hamil lainnya.

Sebagian ditemani suami.

Ada yang sedang bercanda.

Ada yang dipijit pundaknya.

Ada yang bahkan disuapi camilan oleh suaminya.

Nandin hanya tersenyum kecil.

Lalu menundukkan kepala.

Kalau dipikir-pikir, sejak Wisnu pergi ke Korea, ia sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri.

Kontrol sendiri.

Belanja sendiri.

Masak sendiri.

Menangis sendiri.

Bahkan menghadapi ketakutannya sendiri.

"Bu Nandin."

Namanya dipanggil.

Ia segera berdiri.

Dokter yang menangani kehamilannya kali ini adalah dokter wanita berusia sekitar empat puluh tahun yang ramah.

"Silakan berbaring, Bu."

Nandin mengangguk.

Ia naik ke ranjang pemeriksaan.

Gel dingin dioleskan ke perutnya.

Lalu alat USG mulai bergerak.

Awalnya biasa saja.

Namun beberapa detik kemudian, dokter itu terlihat mengernyit.

Lalu tersenyum.

Kemudian mengernyit lagi.

Nandin langsung panik.

"Kenapa, Dok?"

Dokter malah tertawa kecil.

"Bu Nandin..."

"Iya, Dok?"

"Selama ini tidak pernah ada yang bilang kalau ibu hamil kembar?"

Nandin berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu tertawa canggung.

"Hamil kembar?"

"Iya."

Dokter menunjuk layar monitor.

"Nah ini bayi pertama."

Nandin menatap layar.

Jantungnya mulai berdebar.

Kemudian dokter menggeser alat sedikit.

"Dan ini bayi kedua."

Dunia seperti berhenti beberapa detik.

"Apa?"

Dokter tersenyum.

"Selamat ya, Bu. Bayinya dua."

Air mata langsung memenuhi mata Nandin.

Ia bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Bahagia?

Kaget?

Takut?

Semuanya bercampur menjadi satu.

"Dua?"

"Iya."

"Dua bayi?"

"Iya."

Nandin langsung menutup mulut.

Tangisnya pecah.

Entah kenapa.

Mungkin karena terlalu bahagia.

Atau mungkin karena terlalu takut.

Karena satu bayi saja ia sudah kesulitan.

Sekarang Tuhan memberinya dua sekaligus.

Dalam perjalanan pulang, Nandin terus memegang hasil USG.

Berkali-kali ia melihat gambar hitam putih itu.

Masih sulit dipercaya.

Dua bayi.

Dua anak.

Dua kehidupan kecil yang sedang tumbuh dalam tubuhnya.

Sesampainya di rumah, ia langsung mengambil ponsel.

Tanpa pikir panjang, ia mengirim foto hasil USG kepada Wisnu.

"Mas..."

Jarinya gemetar saat mengetik.

"Kita punya bayi kembar."

Pesan terkirim.

Nandin tersenyum sendiri.

Ia benar-benar bersemangat menunggu balasan suaminya.

Ia membayangkan Wisnu akan terkejut.

Mungkin bahagia.

Mungkin langsung menelepon.

Mungkin bertanya bagaimana kondisi mereka.

Satu jam berlalu.

Tidak ada balasan.

Dua jam.

Masih tidak ada.

Empat jam.

Tetap sepi.

Sampai malam tiba.

Pesan itu akhirnya dibaca.

Hanya dibaca.

Tidak dibalas.

Tidak ada ucapan selamat.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada apa-apa.

Nandin menatap layar ponselnya lama.

Sangat lama.

Sampai akhirnya air mata jatuh ke pipinya.

"Kenapa, Mas?"

bisiknya lirih.

"Apa aku dan anak-anak kita sudah nggak penting lagi?"

Dua hari kemudian.

Nandin pergi ke warung Bu Rini untuk membeli telur.

Warung kecil itu memang menjadi tempat berkumpul para ibu kompleks.

Biasanya mereka membahas harga cabai.

Harga minyak.

Atau gosip tetangga.

Namun hari itu, begitu Nandin datang, beberapa orang langsung saling melirik.

Aneh.

Seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

"Eh, Nandin."

Bu Rini tersenyum canggung.

"Sehat?"

"Alhamdulillah."

"Bayinya sehat?"

"Iya."

Nandin mengambil telur satu kilogram.

Namun sebelum ia sempat membayar, seorang ibu tiba-tiba bicara.

"Wisnu sering kirim uang ya sekarang?"

Nandin mengernyit.

"Maksudnya?"

"Ih, masa nggak tahu?"

"Tau apa?"

Beberapa ibu langsung saling pandang.

Bu Rini bahkan terlihat panik.

Seolah ingin menghentikan pembicaraan itu.

Namun terlambat.

"Soalnya Bu Sri sering cerita."

Deg.

Jantung Nandin langsung berdebar.

"Cerita apa?"

"Katanya Wisnu rajin kirim uang dari Korea."

Nandin membeku.

"Apa?"

"Iya."

"Bahkan bulan lalu katanya kirim hampir lima belas juta."

Tangannya langsung dingin.

Lima belas juta?

Mustahil.

Karena selama ini ia tidak pernah menerima apa pun.

"Beneran?"

"Iya."

"Bu Sri sampai beli kulkas baru."

"Iya, sama televisi baru."

"Nggak cuma itu. Katanya mau renovasi dapur."

Suara para ibu mulai terdengar jauh.

Seperti gema.

Karena kepala Nandin tiba-tiba berputar.

Lima belas juta.

Lima belas juta.

Lima belas juta.

Kalimat itu terus berulang di kepalanya.

Jika benar Wisnu mengirim uang sebanyak itu...

Kenapa ia membiarkan istrinya hidup pas-pasan?

Kenapa ia membiarkan anak-anaknya kekurangan?

Kenapa?

Sore itu Nandin langsung mendatangi rumah mertuanya.

Perut besarnya membuat langkahnya berat.

Namun kemarahan memberinya tenaga.

Begitu tiba, ia langsung melihat kulkas baru berdiri di ruang tamu.

Televisi besar menggantung di dinding.

Bahkan sofa baru juga sudah menggantikan yang lama.

Dadanya semakin sesak.

Karena semua itu dibeli saat dirinya kesulitan membeli susu kehamilan.

"Bu."

Ibu Sri yang sedang menonton televisi menoleh santai.

"Oh, Nandin."

"Ibu dapat uang dari Wisnu?"

Wajah Ibu Sri berubah sesaat.

Lalu kembali santai.

"Kenapa?"

"Jadi benar?"

"Ya memang."

Nandin mengepalkan tangan.

"Berapa?"

"Itu urusan saya."

"Bu!"

Nada suaranya meninggi.

"Ibu tahu nggak saya hampir nggak punya uang buat kontrol kandungan?"

Ibu Sri langsung berdiri.

"Lalu?"

Nandin tertegun.

"Lalu?"

"Iya lalu kenapa?"

"Itu anak Wisnu juga, Bu."

"Memangnya saya suruh kamu hamil?"

Kalimat itu menghantam tepat di dada.

Begitu keras.

Sampai Nandin kehilangan kata-kata.

"Saya ibunya Wisnu."

Ibu Sri melipat tangan.

"Wajar kalau dia kirim uang ke saya."

"Tapi saya istrinya."

"Nggak usah lebay."

Air mata Nandin mulai jatuh.

"Tujuh bulan, Bu."

Suaranya bergetar.

"Tujuh bulan saya sendirian."

Ibu Sri tidak terlihat bersalah sedikit pun.

Malah mendengus.

"Wisnu kerja capek-capek di sana."

"Terus?"

"Kalau uangnya dipakai buat ibunya sendiri memang kenapa?"

Nandin benar-benar tidak mengerti.

Bagaimana mungkin seorang ibu bisa berkata seperti itu?

Bagaimana mungkin seorang nenek tega membiarkan cucunya sendiri kekurangan?

Malam itu Nandin pulang sambil menangis.

Sepanjang jalan.

Sampai matanya bengkak.

Sampai dadanya terasa sakit.

Begitu sampai rumah, ia langsung menghubungi Wisnu.

Sekali.

Tidak diangkat.

Dua kali.

Tidak diangkat.

Tiga kali.

Tetap tidak diangkat.

Akhirnya ia mengirim pesan panjang.

"Mas, aku cuma mau tahu satu hal."

"Benarkah selama ini kamu kirim uang ke Ibu?"

"Kalau benar, kenapa kamu nggak pernah kirim untuk aku dan anak-anak?"

"Aku nggak minta banyak."

"Aku cuma ingin tahu."

Pesan terkirim.

Dan malam itu...

Nandin tidak lagi menangis karena rindu.

Ia menangis karena mulai menyadari kenyataan yang selama ini berusaha ia abaikan.

Bahwa mungkin...

Suaminya memang tidak pernah benar-benar pergi demi dirinya.

Dan kemungkinan yang lebih menyakitkan mulai muncul di benaknya.

Bagaimana jika sejak awal...

Ia dan anak-anaknya memang tidak pernah menjadi prioritas dalam hidup Wisnu?

Di kamar yang sunyi, Nandin mengusap perutnya perlahan.

Dua bayi kecil bergerak di dalam sana.

Seolah merasakan kegelisahan ibunya.

"Ibu janji..."

Air mata kembali jatuh.

"Apapun yang terjadi..."

"Ibu akan menjaga kalian."

Meskipun harus sendirian.

Meskipun harus berjuang tanpa ayah mereka.

Meskipun dunia terasa semakin tidak adil.

Nandin belum tahu.

Bahwa luka yang ia rasakan hari ini hanyalah awal.

Karena beberapa bulan ke depan, hidupnya akan berubah jauh lebih menyakitkan daripada yang pernah ia bayangkan.

\[Bersambung...\]

Terpopuler

Comments

차니 Chani🇰🇷

차니 Chani🇰🇷

Aku pingin ada jiwa pemberontak dalam jiwa Nandin kak 😂 "Pokoknya ga bisaaa ibuuu Sriii!!" 🤭

2026-06-28

1

차니 Chani🇰🇷

차니 Chani🇰🇷

Hmm harusnya diajak bicara lagi ibu mertuanya.. kalau ga nanti Nandin diperlakukan spt sampah.. semangat

2026-06-28

1

차니 Chani🇰🇷

차니 Chani🇰🇷

Mampir kak 😊

2026-06-28

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 Kabar dari Negeri Seberang
15 Perempuan di Balik Layar
16 Jejak yang Mulai Terbuka
17 Tangan yang Terlalu Dikenal
18 Fitnah di Depan Pintu Kontrakan
19 Panggilan yang Menghancurkan Dunia
20 Rumah yang Kehilangan Cahaya
21 Nama di Atas Pelaminan
22 Pengantin yang Masih Memiliki Istri
23 Perempuan yang Kehilangan Akal
24 Perempuan yang Perlahan Hilang
25 ARC 2: ASMARA DI PONDOK REHABILITASI.
26 HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS
27 HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 2
28 HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 3
29 BAYI YANG LAHIR DI TENGAH GOSIP
30 PULANGNYA WISNU, SUNYINYA NANDIN
31 NAMA YANG KEMBALI
32 PINTU YANG DIKUNCI
33 KARMA ITU BERNAMA CURIGA
34 WAJAH YANG PERNAH DILUPAKAN
35 ANAK YANG JATUH DARI LANGIT KEHORMATAN
36 IQBAL MAHARDIKA
37 AWAL MULA BENIH TUMBUH
38 RETAKAN YANG MULAI TERLIHAT
39 WAJAH ASLI YANG MULAI TERLIHAT
40 RINDU YANG MENEMUKAN JALANNYA
41 FOTO LAMA
42 PEREMPUAN YANG AKHIRNYA MENGERTI
43 HARGA SEBUAH PENGKHIANATAN
44 JANJI SEORANG IBU
45 HASIL YANG MENGUBAH SEGALANYA
46 HATI YANG PERLAHAN PULIH
47 AKU AKAN MENUNGGUMU PULANG
48 KARMA TIDAK PERNAH TERBURU-BURU
49 HARGA DARI SEBUAH KESOMBONGAN
50 PULANG KE RUMAH YANG PERNAH HILANG
51 MAAF YANG DATANG TERLAMBAT
52 RUMAH YANG KEMBALI HANGAT
53 AKHIRNYA KUPULANGKAN MEREKA
54 MEMULAI DARI NOL, BERSAMA ANAK-ANAKKU
55 AKHIRNYA KAMU INGAT JANJI ITU
56 Dua Tahun yang Mengubah Segalanya
57 BENIH ITU… AKHIRNYA TUMBUH
58 Kabar dari masa lalu.
59 Lamaran yang dinanti
60 Penyesalan di Ujung Waktu
61 Rumah yang Kembali Ditemukan
62 Malam Sebelum Ijab Kabul
63 Ketika Hati Kembali Menemukan Rumah
64 EPILOG
Episodes

Updated 64 Episodes

1
Prolog
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
9
10
10
11
11
12
12
13
13
14
Kabar dari Negeri Seberang
15
Perempuan di Balik Layar
16
Jejak yang Mulai Terbuka
17
Tangan yang Terlalu Dikenal
18
Fitnah di Depan Pintu Kontrakan
19
Panggilan yang Menghancurkan Dunia
20
Rumah yang Kehilangan Cahaya
21
Nama di Atas Pelaminan
22
Pengantin yang Masih Memiliki Istri
23
Perempuan yang Kehilangan Akal
24
Perempuan yang Perlahan Hilang
25
ARC 2: ASMARA DI PONDOK REHABILITASI.
26
HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS
27
HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 2
28
HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 3
29
BAYI YANG LAHIR DI TENGAH GOSIP
30
PULANGNYA WISNU, SUNYINYA NANDIN
31
NAMA YANG KEMBALI
32
PINTU YANG DIKUNCI
33
KARMA ITU BERNAMA CURIGA
34
WAJAH YANG PERNAH DILUPAKAN
35
ANAK YANG JATUH DARI LANGIT KEHORMATAN
36
IQBAL MAHARDIKA
37
AWAL MULA BENIH TUMBUH
38
RETAKAN YANG MULAI TERLIHAT
39
WAJAH ASLI YANG MULAI TERLIHAT
40
RINDU YANG MENEMUKAN JALANNYA
41
FOTO LAMA
42
PEREMPUAN YANG AKHIRNYA MENGERTI
43
HARGA SEBUAH PENGKHIANATAN
44
JANJI SEORANG IBU
45
HASIL YANG MENGUBAH SEGALANYA
46
HATI YANG PERLAHAN PULIH
47
AKU AKAN MENUNGGUMU PULANG
48
KARMA TIDAK PERNAH TERBURU-BURU
49
HARGA DARI SEBUAH KESOMBONGAN
50
PULANG KE RUMAH YANG PERNAH HILANG
51
MAAF YANG DATANG TERLAMBAT
52
RUMAH YANG KEMBALI HANGAT
53
AKHIRNYA KUPULANGKAN MEREKA
54
MEMULAI DARI NOL, BERSAMA ANAK-ANAKKU
55
AKHIRNYA KAMU INGAT JANJI ITU
56
Dua Tahun yang Mengubah Segalanya
57
BENIH ITU… AKHIRNYA TUMBUH
58
Kabar dari masa lalu.
59
Lamaran yang dinanti
60
Penyesalan di Ujung Waktu
61
Rumah yang Kembali Ditemukan
62
Malam Sebelum Ijab Kabul
63
Ketika Hati Kembali Menemukan Rumah
64
EPILOG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!