Bab 4

Ada luka yang datang karena dibenci.

Tapi ada luka yang jauh lebih menyakitkan.

Yaitu saat kita sadar bahwa orang yang paling kita cintai ternyata tidak pernah benar-benar memihak kita.

Malam itu, Nandin tidak bisa tidur.

Pesan yang ia kirim kepada Wisnu sejak sore masih belum mendapat balasan.

Padahal status WhatsApp lelaki itu berkali-kali terlihat online.

Online.

Menghilang.

Online lagi.

Menghilang lagi.

Tapi tak satu kata pun dikirim untuk menjawab pertanyaan istrinya.

Pertanyaan yang sebenarnya sederhana.

Kenapa uang dikirim ke ibunya, sementara istri dan anak-anaknya dibiarkan bertahan hidup sendiri?

Jam menunjukkan pukul sebelas malam saat ponsel Nandin akhirnya berdering.

Nama Wisnu muncul di layar.

Jantung Nandin langsung berdegup keras.

Tangannya gemetar saat menerima panggilan itu.

"Halo, Mas."

Tak ada sapaan.

Tak ada pertanyaan kabar.

Yang terdengar justru helaan napas kasar dari ujung sana.

"Apa sih maumu?"

Kalimat pertama itu langsung membuat dada Nandin sesak.

"Aku cuma mau tanya."

"Tanya apa lagi?"

"Soal uang."

Hening.

Beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Lalu suara Wisnu terdengar dingin.

"Terus kenapa?"

Nandin memejamkan mata.

Jadi benar.

Semua kabar yang ia dengar memang benar.

"Kenapa kamu kirim uang ke Ibu terus?"

"Itu ibuku."

"Aku tahu."

"Kalau tahu kenapa dipermasalahkan?"

Nada suara Wisnu mulai meninggi.

Nandin merasa seperti sedang berbicara dengan orang asing.

"Mas..."

Suara Nandin bergetar.

"Aku nggak mempermasalahkan kamu membantu Ibu."

"Lalu?"

"Tapi aku juga istrimu."

Hening.

"Kandunganku tujuh bulan."

Hening lagi.

"Dan aku hamil kembar."

Masih hening.

Seolah kabar itu sama sekali tidak berarti apa-apa.

"Aku cuma ingin tahu kenapa selama ini kamu nggak pernah kirim nafkah."

Akhirnya pertanyaan itu keluar.

Pertanyaan yang selama berbulan-bulan ia tahan.

Dan jawaban Wisnu membuat hati Nandin runtuh.

"Kamu terlalu banyak menuntut."

Deg.

Nandin bahkan sampai lupa bernapas.

"Apa?"

"Kamu pikir hidup di Korea gampang?"

"Aku nggak bilang gampang."

"Biaya di sini besar."

"Tapi..."

"Kamu cuma bisa minta."

Air mata langsung mengalir.

"Aku nggak minta apa-apa, Mas."

"Bohong."

"Aku cuma minta nafkah."

"Itu sama saja."

Nandin menggigit bibirnya kuat-kuat.

Sampai terasa nyeri.

Karena kalau tidak begitu, ia mungkin akan menangis keras saat itu juga.

"Mas..."

"Apa lagi?"

"Kamu sadar nggak kalau aku sedang mengandung anak-anak kita?"

Wisnu tertawa kecil.

Tawa yang membuat Nandin semakin sakit.

"Memangnya aku suruh kamu hamil?"

Kalimat itu menghantam tepat di dadanya.

Persis seperti ucapan Ibu Sri tempo hari.

Dan saat itu Nandin sadar.

Wisnu memang anak kandung ibunya.

Sangat mirip.

Terlalu mirip.

Sama-sama tidak pernah memikirkan perasaannya.

Sama-sama menganggap dirinya tidak penting.

"Kalau begitu..." suara Nandin mulai bergetar. "Kenapa kamu menikah denganku?"

Wisnu terdiam.

Namun hanya sebentar.

"Sudahlah."

"Aku capek."

"Lagipula Ibu lebih membutuhkan uang itu."

Nandin tertawa.

Tawa kecil yang terdengar menyedihkan.

Lebih membutuhkan?

Dibandingkan dua bayi yang bahkan belum lahir?

Dibandingkan istri yang kesulitan membayar kontrol kandungan?

Dibandingkan rumah kontrakan yang sebentar lagi jatuh tempo?

"Aku ngerti sekarang."

"Apa?"

"Prioritasmu bukan aku."

Wisnu langsung mendengus.

"Kamu drama."

Sambungan telepon terputus.

Begitu saja.

Tanpa penjelasan.

Tanpa permintaan maaf.

Tanpa rasa bersalah.

Dan malam itu,

Nandin menangis sampai tertidur.

Hari-hari berikutnya terasa semakin berat.

Tubuhnya semakin sulit diajak bekerja.

Perutnya yang mengandung bayi kembar tumbuh lebih cepat dibanding kehamilan normal.

Punggungnya sering nyeri.

Kakinya mulai bengkak.

Napasnya lebih pendek.

Kadang hanya berjalan ke warung depan gang saja sudah membuatnya kelelahan.

Namun hidup tidak peduli apakah seseorang sedang lelah atau tidak.

Tagihan tetap datang.

Kebutuhan tetap harus dibayar.

Dan uang tetap harus dicari.

Suatu pagi, pemilik kontrakan datang.

Pak Darto.

Pria berusia lima puluh tahunan yang selama ini cukup baik kepadanya.

"Nak Nandin."

"Iya Pak."

Pak Darto terlihat canggung.

"Soal kontrakan..."

Jantung Nandin langsung berdebar.

"Kenapa ya, Pak?"

"Bulan depan jatuh tempo."

Nandin mengangguk pelan.

"Saya tahu."

"Kalau bisa segera disiapkan."

Nandin menelan ludah.

Biaya kontrakan satu tahun berikutnya hampir sepuluh juta rupiah.

Jumlah yang saat ini terasa seperti gunung baginya.

"Nanti saya usahakan."

Pak Darto mengangguk.

Namun raut wajahnya menunjukkan keraguan.

Dan itu membuat hati Nandin semakin tidak tenang.

Malam harinya Nandin duduk di ruang tamu kecil.

Rumah itu begitu sepi.

Terlalu sepi.

Ia menatap foto pernikahannya dengan Wisnu yang tergantung di dinding.

Dalam foto itu mereka tampak bahagia.

Tersenyum.

Penuh harapan.

Seolah masa depan akan selalu baik-baik saja.

Padahal kenyataannya jauh berbeda.

"Aku harus kerja."

Kalimat itu keluar pelan.

Tidak ada yang mendengar.

Selain dirinya sendiri.

Dan dua bayi kecil dalam kandungannya.

Ia tidak mungkin terus bergantung pada tabungan.

Tidak mungkin terus menunggu Wisnu.

Karena semakin hari semakin jelas bahwa lelaki itu tidak akan datang menyelamatkannya.

Kalau ia ingin bertahan...

Ia harus menyelamatkan dirinya sendiri.

Besok paginya sebuah ide muncul.

Sederhana.

Namun cukup masuk akal.

Memasak.

Nandin memang tidak punya banyak keahlian.

Tapi satu hal yang selalu dipuji orang sejak dulu adalah masakannya.

Rendang buatannya.

Ayam bakarnya.

Sambal terasinya.

Semuanya selalu laris saat ada acara keluarga.

Kalau begitu...

Kenapa tidak mencoba berjualan?

Awalnya ia ragu.

Tapi semakin dipikirkan, semakin masuk akal.

Modalnya memang kecil.

Namun setidaknya bisa menghasilkan sesuatu.

Hari itu juga ia mulai membuat status WhatsApp.

"Hari ini buka pesanan nasi kotak dan lauk rumahan. Siap antar sekitar area kecamatan."

Tidak banyak yang merespons.

Hanya tiga orang.

Namun Nandin tetap bersyukur.

Tiga pesanan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Pukul empat pagi ia sudah bangun.

Dapur kecil kontrakan langsung ramai.

Bawang merah.

Bawang putih.

Cabai.

Tomat.

Aroma tumisan memenuhi ruangan.

Meski tubuhnya cepat lelah, ada semangat yang berbeda pagi itu.

Nandin merasa memiliki tujuan.

Ia memasak sambil sesekali mengusap perutnya.

"Jangan rewel ya."

Senyumnya muncul.

"Kita lagi cari uang."

Seolah mengerti.

Salah satu bayinya menendang pelan dari dalam.

Membuat Nandin tertawa sendiri.

Hari pertama hanya menghasilkan keuntungan tujuh puluh ribu rupiah.

Hari kedua seratus ribu.

Hari ketiga delapan puluh ribu.

Jumlah yang mungkin kecil bagi sebagian orang.

Tapi bagi Nandin...

Itu adalah harapan.

Sedikit demi sedikit pelanggan mulai bertambah.

Tetangga mulai memesan.

Guru TK dekat kompleks mulai memesan.

Bahkan Bu Rini pemilik warung ikut menawarkan dagangannya kepada pelanggan.

"Nasi buatan Nandin enak lho."

"Serius?"

"Iya."

"Kalau gitu saya pesan buat pengajian minggu depan."

Nandin hampir menangis mendengarnya.

Bukan karena uang.

Melainkan karena akhirnya ada orang yang percaya padanya.

Namun kehamilan kembar tidak mudah.

Suatu siang, saat sedang mengangkat panci, kepalanya tiba-tiba berputar.

Pandangannya mengabur.

Tubuhnya limbung.

Bruk!

Panci jatuh.

Untung tidak mengenai dirinya.

"Nandin!"

Bu Rini yang kebetulan datang langsung panik.

"Astagfirullah!"

Nandin memegangi meja.

Wajahnya pucat.

"Nggak apa-apa, Bu."

"Nggak apa-apa gimana?"

Bu Rini hampir menangis melihat kondisi Nandin.

"Kamu hamil besar begitu masih maksa kerja."

Kalimat itu membuat Nandin terdiam.

Karena memang benar.

Tubuhnya sudah tidak kuat.

Tapi kalau ia berhenti...

Siapa yang akan membayar hidup mereka?

Malamnya Nandin menelepon orang tuanya di Jawa Barat.

Wajah ayah dan ibunya muncul di layar video call.

Keduanya tampak semakin tua.

Rambut ayahnya semakin putih.

Keriput di wajah ibunya semakin banyak.

Dan tiba-tiba Nandin merasa sangat bersalah.

Karena sebagai anak tunggal, ia justru membuat mereka terus mengkhawatirkannya.

"Sudah makan, Nak?" tanya ibunya.

"Sudah."

"Jangan bohong."

Nandin tertawa kecil.

Ibunya memang selalu tahu.

"Aku makan kok."

"Jaga kesehatan."

"Iya."

Ayahnya ikut mendekat ke kamera.

"Kalau butuh apa-apa bilang."

Air mata Nandin hampir jatuh.

Karena ia tahu.

Perjalanan dari Jawa Barat ke Jawa Timur bukan perjalanan dekat.

Usia kedua orang tuanya juga tidak muda lagi.

Mereka tidak bisa terus-menerus datang menolongnya.

Dan suatu hari nanti...

Ia harus benar-benar berdiri sendiri.

Setelah panggilan berakhir, Nandin memandang langit malam dari teras rumah.

Angin berembus pelan.

Perutnya bergerak lagi.

Dua bayi kecil itu kembali menendang.

Mengingatkannya bahwa ia tidak sendiri.

Ia memang ditinggalkan suami.

Ia memang tidak punya siapa-siapa di kota ini.

Namun ia masih memiliki alasan untuk terus bertahan.

Dua alasan kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.

"Ayo kita berjuang sama-sama."

Bisiknya sambil tersenyum.

"Ibu janji akan menjaga kalian."

Dan untuk pertama kalinya sejak Wisnu pergi ke Korea...

Nandin tidak lagi menunggu.

Ia mulai melangkah.

Pelan.

Tertatih.

Tapi pasti.

Karena ia akhirnya mengerti satu hal.

Kadang orang yang kita harapkan menjadi penyelamat justru meninggalkan kita.

Dan saat itu terjadi...

Kita harus belajar menyelamatkan diri sendiri.

[Bersambung...]

Terpopuler

Comments

차니 Chani🇰🇷

차니 Chani🇰🇷

Kalau lebih nafkah apa salahnya bagi ke istri yg sdh dihamili, kembar lagi. Memangnya uang jatuh dari langit? Bahkan di Korsel itu disebut 'pria sundel' lho 😑😆😂

2026-07-02

1

Zanahhan226

Zanahhan226

halo, kak..
aku mampir lagi..

cerita yg bikin aku sadar, jgn trlalu percaya ke siapapun meski itu suami sndiri..
🥲🥲🥲

2026-06-29

1

차니 Chani🇰🇷

차니 Chani🇰🇷

dicuekin sdh spt dikhianati rasanya ya.. wkt pacaran aja gitu apalagi kalau sdh menikah, hamil lg..🤧

2026-07-02

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 Kabar dari Negeri Seberang
15 Perempuan di Balik Layar
16 Jejak yang Mulai Terbuka
17 Tangan yang Terlalu Dikenal
18 Fitnah di Depan Pintu Kontrakan
19 Panggilan yang Menghancurkan Dunia
20 Rumah yang Kehilangan Cahaya
21 Nama di Atas Pelaminan
22 Pengantin yang Masih Memiliki Istri
23 Perempuan yang Kehilangan Akal
24 Perempuan yang Perlahan Hilang
25 ARC 2: ASMARA DI PONDOK REHABILITASI.
26 HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS
27 HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 2
28 HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 3
29 BAYI YANG LAHIR DI TENGAH GOSIP
30 PULANGNYA WISNU, SUNYINYA NANDIN
31 NAMA YANG KEMBALI
32 PINTU YANG DIKUNCI
33 KARMA ITU BERNAMA CURIGA
34 WAJAH YANG PERNAH DILUPAKAN
35 ANAK YANG JATUH DARI LANGIT KEHORMATAN
36 IQBAL MAHARDIKA
37 AWAL MULA BENIH TUMBUH
38 RETAKAN YANG MULAI TERLIHAT
39 WAJAH ASLI YANG MULAI TERLIHAT
40 RINDU YANG MENEMUKAN JALANNYA
41 FOTO LAMA
42 PEREMPUAN YANG AKHIRNYA MENGERTI
43 HARGA SEBUAH PENGKHIANATAN
44 JANJI SEORANG IBU
45 HASIL YANG MENGUBAH SEGALANYA
46 HATI YANG PERLAHAN PULIH
47 AKU AKAN MENUNGGUMU PULANG
48 KARMA TIDAK PERNAH TERBURU-BURU
49 HARGA DARI SEBUAH KESOMBONGAN
50 PULANG KE RUMAH YANG PERNAH HILANG
51 MAAF YANG DATANG TERLAMBAT
52 RUMAH YANG KEMBALI HANGAT
53 AKHIRNYA KUPULANGKAN MEREKA
54 MEMULAI DARI NOL, BERSAMA ANAK-ANAKKU
55 AKHIRNYA KAMU INGAT JANJI ITU
56 Dua Tahun yang Mengubah Segalanya
57 BENIH ITU… AKHIRNYA TUMBUH
58 Kabar dari masa lalu.
59 Lamaran yang dinanti
60 Penyesalan di Ujung Waktu
61 Rumah yang Kembali Ditemukan
62 Malam Sebelum Ijab Kabul
63 Ketika Hati Kembali Menemukan Rumah
64 EPILOG
Episodes

Updated 64 Episodes

1
Prolog
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
9
10
10
11
11
12
12
13
13
14
Kabar dari Negeri Seberang
15
Perempuan di Balik Layar
16
Jejak yang Mulai Terbuka
17
Tangan yang Terlalu Dikenal
18
Fitnah di Depan Pintu Kontrakan
19
Panggilan yang Menghancurkan Dunia
20
Rumah yang Kehilangan Cahaya
21
Nama di Atas Pelaminan
22
Pengantin yang Masih Memiliki Istri
23
Perempuan yang Kehilangan Akal
24
Perempuan yang Perlahan Hilang
25
ARC 2: ASMARA DI PONDOK REHABILITASI.
26
HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS
27
HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 2
28
HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 3
29
BAYI YANG LAHIR DI TENGAH GOSIP
30
PULANGNYA WISNU, SUNYINYA NANDIN
31
NAMA YANG KEMBALI
32
PINTU YANG DIKUNCI
33
KARMA ITU BERNAMA CURIGA
34
WAJAH YANG PERNAH DILUPAKAN
35
ANAK YANG JATUH DARI LANGIT KEHORMATAN
36
IQBAL MAHARDIKA
37
AWAL MULA BENIH TUMBUH
38
RETAKAN YANG MULAI TERLIHAT
39
WAJAH ASLI YANG MULAI TERLIHAT
40
RINDU YANG MENEMUKAN JALANNYA
41
FOTO LAMA
42
PEREMPUAN YANG AKHIRNYA MENGERTI
43
HARGA SEBUAH PENGKHIANATAN
44
JANJI SEORANG IBU
45
HASIL YANG MENGUBAH SEGALANYA
46
HATI YANG PERLAHAN PULIH
47
AKU AKAN MENUNGGUMU PULANG
48
KARMA TIDAK PERNAH TERBURU-BURU
49
HARGA DARI SEBUAH KESOMBONGAN
50
PULANG KE RUMAH YANG PERNAH HILANG
51
MAAF YANG DATANG TERLAMBAT
52
RUMAH YANG KEMBALI HANGAT
53
AKHIRNYA KUPULANGKAN MEREKA
54
MEMULAI DARI NOL, BERSAMA ANAK-ANAKKU
55
AKHIRNYA KAMU INGAT JANJI ITU
56
Dua Tahun yang Mengubah Segalanya
57
BENIH ITU… AKHIRNYA TUMBUH
58
Kabar dari masa lalu.
59
Lamaran yang dinanti
60
Penyesalan di Ujung Waktu
61
Rumah yang Kembali Ditemukan
62
Malam Sebelum Ijab Kabul
63
Ketika Hati Kembali Menemukan Rumah
64
EPILOG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!