Chapter 2

Sinar matahari pagi telah menerobos masuk melalui jendela kamar hotel, menyinari kamar yang menjadi saksi bisu kehancuran hidup seorag gadis. Ananda perlahan terbangun. Tubuhnya terasa luar biasa remuk, menyisakan rasa kaku dan nyeri yang teramat sangat akibat gempuran bertubi-tubi yang diterimanya semalam. Di sampingnya, Tristan masih terlelap dengan tenang, mendengkur halus seolah tidak terjadi apa pun, masih berada di bawah kendali sisa-sisa obat dan alkohol.

Ananda menoleh, menatap wajah pria yang tertidur itu dengan tatapan yang dipenuhi rasa benci yang mendalam. Dada Ananda sesak. Air matanya kembali berlinang saat menyadari betapa kejamnya takdir mempermainkannya.

Pria di sampingnya ini... adalah pria yang sama yang sempat ia kagumi secara diam-diam sejak ia masih duduk di bangku SMU.

Memori masa lalunya mulai berputar kembali di benaknya. Pertemuan pertama mereka terjadi begitu singkat di sebuah minimarket, tak jauh dari tempat Ananda bekerja sebagai guru les privat anak SD. Kala itu, Ananda adalah siswi berprestasi yang ceria dan pantang menyerah. Meski hidup dalam himpitan ekonomi yang serba pas-pasan, ia rela menghabiskan waktu sepulang sekolah untuk bekerja demi membantu ibunya.

Siang itu, saat sedang mengantri untuk membeli sebotol air mineral, perhatian Ananda teralihkan oleh sosok remaja laki-laki yang gagah dan tampan di sampingnya. Pria itu memakai jas almamater Universitas Airlangga, salah satu universitas elit dan paling bergengsi di negeri ini. Sejak detik itu, Ananda menanam mimpi besar. Ia bertekad akan belajar mati-matian demi menembus kampus tersebut lewat jalur beasiswa, dengan harapan bisa kembali melihat "pangeran" yang dikaguminya.

Namun, kenyataan justru menamparnya dengan begitu kejam. Ketika mimpi itu berhasil ia raih dengan cucuran keringat dan air mata, kampus impiannya justru berubah menjadi neraka. Pria yang selama ini ia bayangkan seperti pangeran dalam dongeng, rupanya tak lebih dari seekor monster berwujud manusia.

"Aku menyesal... aku sangat menyesal," bisik Ananda lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Enggan berlama-lama di dalam ruangan yang mencekam itu, Ananda memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Dengan perlahan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, ia turun dari tempat tidur. Setiap pergerakan membuat area intinya terasa sangat perih dan sakit, namun ia menguatkan hatinya.

Ia memunguti selembar demi selembar pakaiannya yang robek dan berceceran di atas lantai dingin. Sambil menahan tangis yang siap pecah kembali, Ananda memakai pakaiannya dengan tangan yang gemetar hebat. Setelah memastikan penampilannya cukup tertutup, tanpa menoleh lagi ke belakang, ia melangkah cepat keluar dari kamar, meninggalkan Tristan yang masih tertidur, dan bersumpah dalam hati untuk mengubur malam jahanam ini dalam-dalam.

Sinar matahari yang semakin meninggi akhirnya memaksa Tristan membuka kedua matanya. Kepalanya terasa pusing luar biasa, berdenyut-denyut seperti dihantam benda keras. Sambil meringis, ia menepuk-nepuk dahinya dengan kasar, mencoba mengusir rasa pening yang mendera. Namun, seiring meredanya rasa pusing, kepingan ingatan malam tadi mendadak berputar kembali di kepalanya bagaikan sebuah kaset yang rusak.

Tristan terhenyak. Kesadarannya pulih seketika.

"Aaarrkkhhh... Dasar brengsek! Kenapa aku malah melakukan itu terhadapnya?!" umpat Tristan pada dirinya sendiri. Suaranya frustrasi. "Itik... Maafkan aku... Aku benar-benar di luar kendali!"

Tristan menoleh cepat ke samping tempat tidur. Namun, sosok gadis yang kerap ia juluki 'si itik buruk rupa' itu sudah menghilang, hanya menyisakan ruang kosong yang dingin. Dengan tangan gemetar, Tristan menyibakkan selimut tebalnya. Detik itu juga, dadanya seperti dihantam godam melihat noda darah merah yang mengering di atas seprei putih.

Rasa bersalah yang teramat sangat langsung menghujam jantungnya. Tristan mengepalkan tangannya dan memukul kasur berulang kali untuk meluapkan kekesalannya.

"Bedebah! Ini pasti ulah Andre dan Indra. Mereka benar-benar tidak takut mati di tanganku!" geramnya dengan rahang mengeras.

Tristan segera beranjak dari tempat tidur. Dengan amarah yang membakar dada, ia bergegas membersihkan diri dan keluar dari hotel. Fokusnya hanya satu, yakni menyeret dua teman laknatnya itu dan membuat mereka membayar apa yang telah terjadi malam ini.

*

*

Sementara itu, di sebuah kontrakan kecil yang sunyi, Ananda melangkah masuk dengan tubuh gemetar dan jiwa yang hampa. Di sudut ruangan, ibunya, Bu Sharmila, sedang sibuk menjahit baju pesanan Ibu RT. Mendengar pintu terbuka, Bu Mila langsung menoleh. Wajah cemasnya yang terjaga semalaman seketika berubah panik.

"Ya ampun, Nduk! Kamu ke mana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Bu Mila sambil tergesa-gesa beranjak dari tempat duduknya.

Pertanyaan itu menjadi pemantik runtuhnya pertahanan Ananda. Tanpa aba-aba, tangisnya pecah. Ia langsung berhamburan memeluk erat tubuh ibunya, menumpahkan segala ketakutan yang sejak tadi ia tahan.

"Bu... Ananda ingin pergi dari sini. Nanda tidak mau kuliah di sana lagi, Bu!" rintih Ananda di sela tangis histerisnya.

Bu Mila terkejut bukan main. Ia mematung, seolah tidak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut putri semata wayangnya yang terkenal berprestasi dan tangguh itu.

"Kamu yakin, Nduk, dengan keputusanmu itu?" tanya Bu Mila dengan suara bergetar.

Ananda mengangguk kuat dalam dekapannya. "Yakin, Bu. Apakah... apakah program transmigrasi dari pemerintah itu masih bisa kita ikuti?"

Mendengar permintaan yang begitu ekstrem, Bu Mila perlahan melepaskan pelukannya dan merangkul kedua bahu putrinya. Ia menatap lekat-lekat wajah Ananda yang pucat pasi. "Nduk, coba jelaskan sama Ibu. Apa sebenarnya yang terjadi padamu?"

Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, Ananda akhirnya menceritakan seluruh neraka yang dialaminya. Tentang perundungan, taruhan, hingga malam jebakan saat ia bekerja paruh waktu di salah satu kafe dekat kampus. Mendengar penuturan putrinya, Bu Mila seketika syok. Jantungnya serasa berhenti berdetak.

"Ya ampun, Nduk... Kenapa selama ini kamu diam saja? Jadi selama satu bulan ini kamu selalu dirundung oleh teman-temanmu?" Bu Mila menangis, hatinya tersayat. "Nduk, apa Ibu bilang tempo hari? Kamu tidak cocok kuliah di sana. Mending kamu kuliah di tempatnya Febi, Ibu masih punya tabungan untuk biaya masuk mu!"

"Tidak, Bu! Aku sudah tidak mau tinggal di kota ini lagi. Mereka semua jahat, dan semalam... semalam aku telah diperkosa, Bu!" jerit Ananda lirih, sebelum akhirnya menyembunyikan wajahnya yang basah ke dada ibunya.

Tangis Bu Mila semakin pecah menjerit kan kepedihan. Kakinya lemas, ia hampir saja pingsan mendengar kenyataan pahit bahwa kesucian putrinya telah direnggut paksa. Ingin rasanya ia melapor ke pihak berwajib, namun ia sadar akan tembok tebal kediktatoran yang menghadang. Tristan Bratadikara adalah putra dari pengusaha terkaya sekaligus pemilik yayasan kampus itu. Melaporkannya ke polisi sama saja dengan mengantar nyawa ke liang lahat. Mereka tidak akan pernah menang.

Dengan berat hati namun demi keselamatan mental putrinya, Bu Mila akhirnya menyetujui permintaan Ananda.

Hari itu juga, dengan sisa keberanian yang ada, Ananda resmi mengundurkan diri dari Universitas Airlangga, kampus megah yang ironisnya merupakan milik keluarga Tristan. Tanpa membuang waktu, Ananda dan ibunya segera mengemas barang-barang dan mengurus administrasi kepindahan mereka secepat mungkin. Mereka memilih lari sejauh mungkin, mengejar jadwal program transmigrasi ke pulau Sumatra, demi mengubur masa lalu dan memulai hidup yang baru.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

Baru awal Bab di buat nyesek sama Author.🫣✌️

2026-07-27

6

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

aku sampe ikut netesin air mata ini thor 😢😢😢😢😢😢

2026-06-03

1

Nar Sih

Nar Sih

bca bab awal udah nyeseekk😭😭

2026-06-06

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90 (End)
91 Pengumuman karya terbaruku di bulan Agustus
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90 (End)
91
Pengumuman karya terbaruku di bulan Agustus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!