Chapter 5

Kevin berlari setengah tersungkur keluar dari ruangan utama. Dengan napas yang ngos-ngosan dan wajah pucat pasi seperti habis melihat hantu, ia langsung menghampiri meja kerjanya Ananda.

Ananda yang sedang mengetik sesuatu di komputernya seketika menghentikan gerakannya. Ia mengernyitkan dahi, terkejut melihat ekspresi wajah Kevin yang tampak begitu mengenaskan.

"Na... Ananda... Gawat! Kau sebenarnya kasih laporan apa sama Tuan Tristan?" tanya Kevin dengan suara bergetar, kedua tangannya bertumpu pada meja Ananda untuk menopang tubuhnya yang lemas.

Ananda menatap Kevin dengan tenang.

"Itu laporan dari Mbak Riska di bagian Divisi Keuangan. Memangnya kenapa, Pak?"

"Kacau! Kau sempat koreksi dulu tidak sebelumnya?!" cecar Kevin panik.

Ananda menggelengkan kepalanya dengan santai. "Tidak. Saya pikir laporan itu bersifat rahasia dan harus langsung diserahkan kepada atasan, lagipula saya kan masih karyawan baru di perusahaan ini."

Mendengar jawaban datar itu, Kevin semakin geram atas apa yang dianggapnya sebagai ketololan fatal dari sekretaris baru ini. Ia menepuk jidatnya sendiri. "Kau ini benar-benar teledor! Sekarang ikut dengan ku. Tuan Tristan marah besar! Laporan yang kau bawa tadi sudah dilempar dan semuanya berserakan di lantai!"

Kevin mengira Ananda akan langsung menangis atau memohon ampun seperti karyawan-karyawan lainnya. Namun, ia salah besar. Mendengar Tristan mengamuk, Ananda sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau gentar sedikit pun. Baginya, pria arogan seperti Tristan Bratadikara tidak bisa dibiarkan bertindak semena-mena begitu saja. Ia sudah kenyang diinjak-injak di masa lalu, dan sekarang ia tidak akan sudi lagi merunduk di hadapan pria itu, meskipun ia harus menanggung risiko terburuk, yaitu dipecat di hari pertamanya bekerja.

Dengan dagu terangkat dan langkah yang penuh percaya diri, Ananda berjalan melewati Kevin menuju pintu ruangan Tristan yang seolah telah memancarkan asap kegelapan yang pekat.

Brak!

Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Ananda menerobos masuk ke dalam ruangan mewah itu. Pintu yang terbuka kasar itu membuat Tristan yang sedang menahan amarah sedikit tersentak atas sikap berani, bahkan cenderung lancang, dari sekretaris barunya.

Ananda berdiri tegak di tengah ruangan, menatap lurus ke dalam manik mata tajam milik Tristan tanpa ada keraguan.

"Kenapa Tuan memanggil saya? Apakah saya telah membuat kesalahan?" tanya Ananda dengan suara yang lantang dan tegas.

Mendengar nada bicara yang menantang dan tidak ada ketakutan sama sekali dari wanita di hadapannya, darah Tristan seketika mendidih. Kecongakan nya sebagai pimpinan tertinggi diusik. Dengan rahang mengeras penuh amarah, ia beranjak dari tempat duduknya, melangkah maju, lalu memukul meja kerjanya dengan keras.

Brak!

"Kau... berani sekali padaku, hah?!" bentak Tristan dengan suara yang menggelegar, menatap tajam wanita cantik yang kini berani menantang kekuasaannya.

Ananda sama sekali tidak bergeming. Gertakan keras dan pukulan meja dari Tristan yang biasanya sanggup membuat nyali karyawan lain menciut, tidak mempan baginya. Ia justru melangkah maju, menatap lurus ke dalam manik mata tajam pria itu dengan binar keberanian yang menyala-nyala.

Ananda mengalihkan pandangannya sejenak ke arah lantai, menatap nanar lembaran-lembaran dokumen yang berserakan di sekitar sepatunya, lalu kembali menatap Tristan.

"Jadi, seperti ini sikap Tuan Tristan yang terhormat terhadap karyawan barunya?" ucap Ananda, menekankan setiap kata dengan intonasi yang tenang namun menusuk.

Deg!

Tristan tertegun. Jantungnya berdesir aneh. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, ada seorang wanita terlebih lagi seorang karyawan baru yang berani menantang kekuasaannya dengan begitu lantang.

Tristan menyipitkan matanya, berusaha mengembalikan keangkuhannya.

"Kau... sudah bosan hidup, hah? Kau tidak takut aku pecat?!"

Mendengar ancaman itu, sudut bibir Ananda terangkat. Ia menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sarat akan ejekan, seolah menganggap remeh gertakan sang CEO.

"Saya tidak akan pernah takut jika saya tidak melakukan kesalahan apa pun, Tuan," sahut Ananda tegas. "Saya karyawan baru di sini, dan saya mengantarkan laporan itu ke ruangan ini atas perintah dari senior. Jadi, letak kesalahan saya di mana, Tuan Tristan yang terhormat?"

Deg!

Dada Tristan bergemuruh hebat saat mendengar untaian kalimat itu. Entah mengapa, penekanan pada frasa "Tuan Tristan yang terhormat" dan sorot mata berapi-api itu mendadak memicu kilasan memori masa lalu. Sosok gadis cupu yang dulu sering ia tindas mendadak membayangi benaknya. Rasa familiar yang kuat itu membuat Tristan seketika terdiam.

Kehilangan kata-kata, Tristan perlahan kembali ke kursi kebesarannya. Ia memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut, lalu memutar kursinya membelakangi Ananda, menghadap ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta. Dari pantulan kaca tersebut, ia bisa melihat bayangan sekretaris barunya yang masih berdiri tegap tanpa rasa takut.

"Apakah sebelumnya kau sudah mengecek dokumen itu?" tanya Tristan, anehnya nada suaranya kini terdengar sedikit melunak.

"Maaf, Tuan. Karena saya pikir laporan dari divisi keuangan bersifat rahasia, sebagai karyawan baru saya tidak berani untuk mengeceknya tanpa izin," jawab Ananda logis.

Tristan menghela napas pendek. "Lain kali, kau cek semua dokumen itu sebelum aku tandatangani. Aku tidak mau kejadian bodoh ini sampai terulang kembali. Kali ini kau ku maafkan..." Tristan menjeda kalimatnya, lalu membalikkan kursinya kembali untuk menatap Ananda. "Tapi, sekali lagi kau melakukan kesalahan, jangan harap kau bisa bekerja di tempat ini lagi. Bahkan, aku bisa memastikan namamu di blacklist dari perusahaan mana pun di negara ini."

Mendengar ancaman yang begitu mutlak, Ananda lagi-lagi hanya tersenyum tipis. Tristan yang menangkap ekspresi itu lewat tatapannya langsung yang kini dirundung rasa heran.

‘Wanita ini... kenapa sama sekali tidak takut dengan ancaman ku? Rupanya dia tangguh juga,’ batin Tristan, diam-diam mengagumi mental baja sekretaris barunya.

"Baik, Tuan. Terima kasih atas pengertiannya," ucap Ananda formal.

"Ya sudah. Kau keluar dan panggil Kevin ke sini!" perintah Tristan kembali ke mode dinginnya.

Ananda mengangguk patuh, lalu berbalik dan melangkah anggun keluar dari ruangan. Namun, begitu pintu jati itu terbuka, ia tersentak kecil. Ia mendapati Kevin tengah berdiri membungkuk, rupanya sedang menguping dari balik pintu sejak tadi.

"Nanda! Kau... kau..." Kevin menatap Ananda dengan mata membelalak tak percaya. "A... astaga, kok bisa Tuan Tristan bersikap melunak seperti itu padamu? Biasanya siapa pun yang masuk saat dia mengamuk langsung keluar sambil menangis!"

Ananda hanya menaikkan bahu dan kedua alisnya secara bersamaan, enggan memberikan jawaban atas rasa penasaran Kevin. "Tuan Tristan memanggil Anda di dalam, Pak," ucapnya mengingatkan.

Kevin langsung tersadar dari keterkejutannya. Dengan tubuh yang kembali tegang, ia buru-buru masuk ke dalam ruangan.

"T... Tuan... Tristan...?" Panggil Kevin gugup.

Tristan memutar kursinya, menatap Kevin dengan dingin. "Tolong sampaikan kepada pihak Divisi Keuangan agar lebih teliti lagi dalam membuat laporan. Kembalikan berkas ini dan suruh mereka memperbaikinya sekarang juga. Cepat!"

"B... baik, Tuan! Segera saya laksanakan!" Kevin dengan gerakan kilat berlutut di lantai, merapikan kertas-kertas dokumen yang berserakan dengan tangan gemetar, lalu bergegas membawanya keluar menuju divisi keuangan sebelum sang bos kembali mengamuk.

Setelah ruangan kembali sunyi, Tristan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kulitnya yang empuk. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Pertemuannya dengan sekretaris baru bermental baja itu entah mengapa justru kembali membuka luka lama yang selama enam tahun ini menyiksanya. Bayangan si 'itik buruk rupa' kembali memenuhi benaknya.

‘Itik... kau ada di mana sekarang?’ batin Tristan merajuk penuh penyesalan. ‘Aku benar-benar merasa tersiksa dan dihantui oleh dosa-dosaku setiap malam. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kau baik-baik saja di luar sana?’

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

kapok mmg enak, makanya jadi org jgn sok ngenye, pd hal itik di depan matamu mu tapi kamu ngk bisa ngerasa in, maksny nyimak jd org jg hanya doyan nya aja brani nambah pula😎

2026-08-22

1

Lilis Ilham

Lilis Ilham

aku ada disini tuan Tristan😄

2026-06-18

1

Nar Sih

Nar Sih

siitik buruk rupa sdh berubah jdi bidadari maka nya kmu gk kenal ya tristan

2026-06-06

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90 (End)
91 Pengumuman karya terbaruku di bulan Agustus
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90 (End)
91
Pengumuman karya terbaruku di bulan Agustus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!