Tak punya hati!

Di bawah siraman cahaya yang begitu benderang, Salsa berdiri tegak bagaikan seorang putri dari negeri dongeng yang baru saja memenangkan takhtanya.

Wajahnya yang luar biasa cantik dipoles dengan riasan sempurna tanpa cela, perona pipi berwarna merah muda lembut berpadu serasi dengan binar penuh kemenangan di matanya.

Setiap kali matanya menyapu barisan tamu undangan yang hadir, para pengusaha papan atas, pejabat, hingga kalangan sosialita, senyumnya mengembang lebar, memancarkan aura kepuasan yang begitu pekat.

Salsa tahu semua orang sedang menatapnya dengan berbagai macam emosi. Ada kekaguman yang tertahan, kecemburuan yang membakar, bahkan desas-desus miring tentang bagaimana ia menggunakan kekuasaan finansial keluarganya untuk mendapatkan pernikahan ini.

Namun, bagi Salsa yang sombong dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya, semua tatapan itu adalah pembuktian atas kekuasaannya. Dia tidak peduli dengan bisik-bisik miring itu.

Yang terpenting baginya adalah kenyataan bahwa malam ini, dia telah menang. Dia telah memiliki Arkan sepenuhnya, pria yang selama bertahun-tahun ini menjadi pusat semestanya.

Namun, tepat di sisi kirinya, berdiri sebuah kontras yang teramat nyata dan menyakitkan.

Arkan berdiri tegak dengan setelan tuksedo hitamnya yang elegan, namun tubuh tegap itu terasa seumpama patung es yang sengaja diletakkan di tengah kehangatan pesta.

Auranya begitu dingin, menguar pekat hingga mampu membekukan siapa saja yang mencoba mendekat. Wajahnya yang tampan tampak datar tanpa ekspresi, seolah-olah ia sedang menghadiri sebuah upacara pemakaman alih-alih pernikahannya sendiri.

Rahangnya mengatup begitu rapat hingga otot-otot di pipinya menegang kaku. Setiap kali ada kolega bisnis atau investor yang mendekat untuk menjabat tangan mereka dan memberikan ucapan selamat, Arkan hanya memberikan anggukan formal dan senyum tipis yang sangat terpaksa, senyum palsu yang langsung hilang seperseratus detik setelah sang tamu membalikkan badan.

Salsa, dengan segala kemanjaan dan egonya yang setinggi langit, perlahan mulai merasa tidak tahan dengan keheningan suaminya yang terus berlanjut.

Di tengah riuh rendah suara obrolan tamu dan denting gelas kaca, keheningan di antara mereka berdua justru terasa membekam. Saat jeda pergantian musik instrumen dan perhatian para tamu sedikit teralih ke panggung dansa, Salsa merapatkan tubuhnya pada Arkan.

Lengan mereka bersentuhan, dan Salsa bisa merasakan betapa dingin dan kakunya tubuh pria itu.

"Arkan" Bisik Salsa, suaranya terdengar lembut namun sarat akan penekanan di antara gemuruh suara aula. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap rahang tegas suaminya dari samping dengan tatapan menuntut.

"Aku mohon, hanya untuk hari ini saja. Tersenyum sedikit, lihatlah ke arah kamera, atau setidaknya berpura-puralah kau bahagia berada di sisiku. Ini hari pernikahan kita, hari sekali seumur hidup kita yang seharusnya paling membahagiakan"

Arkan tidak langsung menjawab. Ia bahkan tidak repot-repot menolehkan kepalanya untuk menatap wanita yang kini berstatus sebagai istrinya itu.

Matanya tetap lurus memandang kosong ke arah kerumunan manusia yang sedang tertawa di hadapan mereka.

Satu detik, dua detik. Keheningan itu terasa begitu mencekik bagi Salsa, membuat dadanya mulai berdenyut nyeri sebelum akhirnya bibir tipis Arkan bergerak.

Pria itu mengeluarkan suara yang begitu pelan, namun sanggup menyayat hati Salsa hingga ke bagian terdalam.

"Tersenyum untukmu?" Tanya Arkan dingin, nada suaranya nyaris menyerupai bisikan angin malam yang beku.

"Itu hanyalah mimpi yang tidak akan pernah terwujud di dunia nyata, Salsa. Jangan pernah menuntut sesuatu yang tidak tertulis di dalam kontrak pernikahan kita"

Kata-kata itu bagaikan tamparan tak kasat mata yang mendarat tepat di wajah cantik Salsa. Senyum kemenangan di bibirnya sempat goyah selama beberapa detik, dan kilat terluka sempat melintasi matanya.

Namun, dengan cepat ia menarik kembali topeng keangkuhannya. Salsa kembali menegakkan kepalanya dengan anggun, memandang para tamu dengan senyum manis yang dipaksakan sekuat tenaga.

Ia menolak memperlihatkan kerapuhannya di depan umum, meskipun di dalam dadanya, ada badai amarah dan rasa sakit yang perlahan-lahan mulai bergolak hebat.

Pikiran Arkan memang sama sekali tidak pernah berada di aula mewah yang bertabur bunga melati ini. Sejak kakinya melangkah mendekati altar tadi siang, benaknya telah terbang jauh, meninggalkan kebisingan pesta pernikahan yang terasa sangat memuakkan ini.

Pikiran Arkan melayang pada sebuah rumah kontrakan kecil yang sunyi di sudut kota yang jauh dari kemewahan. Di sana, di dalam kamar yang dingin, seorang wanita berambut panjang dengan mata teduh yang selalu menenangkannya pasti sedang menangis sendirian dalam keputusasaan.

Nabila....

Arkan bisa membayangkan betapa hancurnya hati Nabila malam ini. Wanita yang teramat dicintainya dengan tulus itu harus menanggung penderitaan dan rasa malu akibat keputusan sepihak yang terpaksa Arkan ambil.

Arkan terpaksa mengkhianati janji-janji suci mereka untuk hidup bersama, hanya karena keserakahan dan kelicikan keluarga Salsa yang sengaja memanfaatkan keterpurukan bisnis ayahnya.

Mereka menawarkan suntikan dana segar dengan syarat Arkan harus menikahi putri tunggal mereka yang egois ini. Bayangan Nabila yang menangis dalam diam, memeluk lututnya di sudut kamar yang sepi, terus berputar di kepala Arkan bak kaset rusak yang menyiksa batinnya.

Rasa bersalah yang teramat sangat berkolaborasi dengan kebencian yang mendalam terhadap wanita di sampingnya saat ini. Salsa, sang dalang egois yang telah merenggut kebahagiaannya.

Pesta pernikahan yang terasa bagai siksaan tanpa akhir itu akhirnya usai juga. Jarum jam di dinding suite kepresidenan hotel mewah itu telah menunjukkan pukul dua dini hari ketika pintu kayu jati yang besar itu akhirnya tertutup rapat, mengunci dunia luar yang bising dan menyisakan kesunyian yang mencekam di antara sepasang pengantin baru itu.

Bagi sebagian besar pasangan, malam pertama seharusnya menjadi malam yang paling membahagiakan, sebuah transisi indah yang penuh dengan kehangatan, bisikan cinta, dan penyatuan janji suci di balik pintu tertutup.

Salsa pun, jauh di dalam lubuk hatinya yang tertutup oleh ego kesombongan dan sifat manjanya, sangat mengharapkan hal yang sama. Dia ingin diakui sebagai seorang wanita.

Dia ingin disentuh dengan penuh kasih sayang oleh pria yang selama bertahun-tahun ini telah memenuhi seluruh isi kepalanya. Dia berharap, setelah semua formalitas pesta selesai, Arkan akan melihatnya sebagai istrinya yang sah.

Salsa melangkah menuju kamar mandi yang luas dengan langkah yang terasa sangat lelah. Gaun pengantinnya yang sangat berat, besar, dan bertabur ribuan kristal itu kini terasa seperti baju besi tebal yang menyiksa fisiknya.

Dengan bantuan pelayan hotel sebelum mereka pergi tadi, ia akhirnya berhasil melepaskan gaun itu dari tubuhnya. Rasanya seolah-olah beban seberat puluhan kilogram baru saja terangkat dari pundaknya, meninggalkan kulit bahu dan dadanya yang sedikit memerah akibat gesekan kain brokat yang terlalu ketat.

Setelah membersihkan riasannya yang tebal di depan wastafel marmer, Salsa memilih sebuah gaun tidur terbaik yang telah ia siapkan jauh-jauh hari.

Gaun malam itu terbuat dari bahan sutra murni berwarna krem lembut. Bahannya sangat tipis, jatuh dengan sangat indah membalut lekuk tubuhnya yang ramping dan seksi, mengekspos leher jenjang serta bahunya yang putih mulus tanpa cela.

Salsa menatap dirinya di cermin besar. Rambut hitamnya yang panjang kini dibiarkan terurai bebas, jatuh bergelombang dengan indah di punggungnya yang terbuka.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengulas senyum tipis di depan cermin untuk menyemangati dirinya sendiri, lalu dengan langkah anggun dan hati yang berdebar kencang, ia melangkah keluar menemui suaminya di area tempat tidur utama.

Arkan sedang berdiri membelakanginya di dekat jendela kaca besar yang langsung menghadap ke pemandangan lampu-lampu kota Jakarta di malam hari. Pria itu sudah melepas jas tuksedonya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka, memberikan kesan kasual namun tetap memancarkan pesona maskulin yang luar biasa.

Mendengar langkah kaki lembut Salsa yang mendekat di atas karpet tebal, Arkan membalikkan badannya secara perlahan.

Salsa berjalan mendekat, mencoba mengikis jarak fisik di antara mereka. Matanya menatap Arkan dengan binar penuh harap yang tidak lagi ia sembunyikan.

Ia berharap keindahan tubuhnya dan kelembutan sutra yang membalut kulitnya malam ini setidaknya bisa meruntuhkan sedikit saja dinding es yang membekukan hati suaminya, memicu ketertarikan fisik yang biasa dirasakan oleh pria normal.

Namun, alih-alih tatapan kagum, gairah, atau bahkan sekadar kehangatan yang ia dapatkan, mata Arkan justru meredup dingin.

Sudut bibir pria itu terangkat, membentuk sebuah seringai sinis yang dipenuhi dengan rasa muak yang teramat sangat nyata. Ia menatap Salsa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan yang sangat menyakitkan.

"Kau mengganti gaun megahmu dengan pakaian seperti ini?" Tanya Arkan, suaranya terdengar sangat sarkas dan tajam.

Ia melangkah satu kali ke depan, membuat Salsa menghentikan langkahnya secara refleks karena intimidasi yang ia rasakan.

"Salsa, kau tampak begitu putus asa demi mendapatkan perhatianku. Dengan gaun sutra tipis yang memamerkan tubuhmu ini, kau sama sekali tidak terlihat seperti seorang istri dari keluarga terpandang"

Arkan menjeda kalimatnya sejenak. Ia melangkah lebih dekat lagi, menatap tajam langsung ke dalam manik mata Salsa yang mulai bergetar karena rasa terkejut.

"Kau justru terlihat seperti wanita murahan yang biasa menjual diri di pinggir jalan demi mendapatkan perhatian dan belaian pria. Sangat memuakkan untuk dilihat"

Kata-kata itu meluncur dari bibir Arkan bagaikan belati tajam yang menembus tepat di tengah dada Salsa. Seluruh tubuh Salsa menegang seketika. Rongga dadanya terasa begitu sesak, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di dalam kamar mewah itu mendadak menguap habis dalam sekejap. Kata murahan dan menjual diri berdengung keras di telinganya, meremukkan harga dirinya sebagai seorang wanita terhormat yang selalu dipuja dan diagung-agungkan oleh semua orang sejak ia kecil.

Rasa sakit dari penghinaan itu begitu hebat hingga fisiknya nyaris goyah, namun Salsa mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya. Ia merasakan matanya mulai memanas, dan setitik air mata yang panas mendesak ingin keluar dari pelupuk matanya.

Namun, Salsa segera menahan napasnya, menelan bulat-bulat rasa perih yang luar biasa itu kembali ke dalam dadanya yang bergemuruh.

Tidak. Dia tidak akan menangis. Bagi Salsa, menangis di hadapan Arkan adalah hal yang haram hukumnya.

Menangis berarti menunjukkan kelemahan dan kekalahan, dan ia menolak untuk terlihat lemah di hadapan pria yang sangat ia cintai sekaligus ia benci karena penolakan kasarnya ini. Dia adalah Salsa, wanita angkuh yang tidak akan pernah membiarkan air matanya jatuh sebagai tanda bahwa suaminya telah berhasil menghancurkan mentalnya.

Salsa membasahi bibirnya yang mendadak terasa sangat kering, lalu dengan keberanian yang tersisa, ia membalas tatapan tajam Arkan dengan sorot mata yang tak kalah dingin dan menantang.

"Aku adalah istrimu yang sah secara hukum dan agama, Arkan! Apapun yang ku kenakan di dalam kamar ini, di depan suamiku sendiri, itu adalah hakku sepenuhnya. Dan kau tidak memiliki hak sedikit pun untuk menghinaku serendah itu!"

Arkan hanya mendengus meremehkan, sama sekali tidak tersentuh oleh pembelaan diri Salsa. Tanpa membalas perkataan istrinya, ia berbalik arah dengan acuh menuju meja rias, mengambil kunci mobil dan dompet kulitnya yang tergeletak di sana.

Pria itu kemudian menyambar jaket hitamnya yang tersampir di sandaran kursi kulit.

Melihat tindakan suaminya yang bersiap untuk pergi, kepanikan yang luar biasa mulai merayapi hati Salsa, meruntuhkan sebagian

keangkuhannya.

"Mau ke mana kamu, Arkan?"

"Keluar" Jawab Arkan singkat tanpa sudi menolehkan kepalanya.

"Berada di satu ruangan yang sama bersamamu membuatku muak setengah mati. Aku lebih baik tidur di dalam mobil di jalanan atau pergi ke tempat lain yang jauh, daripada harus bernapas di udara yang sama dengan wanita licik seperti dirimu!"

Arkan melangkah lebar-lebar menuju pintu keluar kamar suite kepresidenan itu. Namun, sebelum jemari pria itu sempat menyentuh gagang pintu kuningan yang dingin, suara Salsa yang melengking tajam dan penuh ancaman menghentikan gerakannya seketika.

Keangkuhan, sifat manja, dan keserakahan Salsa kembali mengambil alih kendali penuh atas dirinya karena rasa takut akan ditinggalkan di malam pertama mereka.

"Melangkahlah satu kali saja keluar dari pintu itu, Arkan" Ancam Salsa dengan nada suara yang bergetar menahan tangis namun sarat akan racun yang mematikan.

"Dan aku bersumpah, besok pagi-pagi sekali, aku akan memastikan Papa menarik seluruh investasi, saham, dan suntikan dana dari perusahaan ayahmu tanpa sisa. Aku akan memastikan bisnis keluargamu hancur berkeping-keping dalam sekejap hingga tidak ada satu pun bank di negara ini yang mau memberikan pinjaman pada kalian!"

Langkah kaki Arkan terhenti seketika di depan pintu. Tubuhnya menegang kaku, tangannya yang menggantung di udara perlahan mengepal sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Perlahan-lahan, ia membalikkan badannya untuk menghadap Salsa kembali.

Di bawah temaram lampu kamar tidur yang redup, wajah tampan Arkan tampak begitu mengerikan. Matanya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak di dalam kepalanya.

Urat-urat di lehernya menonjol sangat jelas, mencerminkan betapa besarnya usaha fisik yang ia lakukan agar tidak melayangkan kekerasan pada wanita di hadapannya saat ini.

Salsa tetap berdiri tegak di tengah ruangan dengan gaun sutra kremnya, menatap suaminya dengan dagu yang terangkat tinggi, memamerkan kekuasaan mutlak yang ia miliki lewat kekayaan keluarganya. Ia tahu ancaman ini sangat kotor dan rendah, namun ia sudah tidak peduli lagi.

Dia manja, dia egois, dan dia hanya ingin Arkan tetap berada di sini, bersamanya malam ini, apa pun cara menjijikkan yang harus ia tempuh.

Arkan berjalan mendekat ke arah Salsa dengan langkah yang terasa sangat lambat, berat, dan mengancam bagaikan predator yang siap menerkam mangsanya.

Jarak di antara mereka kini terkikis habis, hingga Salsa bisa merasakan hembusan napas Arkan yang terasa sangat panas di kulit wajahnya akibat amarah yang membakar dada pria itu.

"Kau mengancamku lagi dengan uang sialanmu itu Salsa?" Desis Arkan, suaranya bergetar hebat karena menahan murka yang teramat sangat.

Tatapan matanya dipenuhi dengan kebencian yang begitu mendalam, kebencian yang kini telah mencapai puncaknya hingga tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk rasa kasihan atau toleransi di masa depan.

Salsa tidak mundur selangkah pun. Ia tetap membalas tatapan mengerikan itu dengan berani, meskipun jauh di dalam dadanya, hatinya menjerit terluka luar biasa melihat seberapa besar kebencian yang terpancar dari mata pria yang dipujanya setengah mati itu.

Arkan menatap wajah cantik di hadapannya dengan rasa jijik yang tidak lagi disembunyikan. Baginya, kecantikan fisik Salsa yang luar biasa itu tidak lebih dari sekadar topeng yang menyembunyikan jiwa yang busuk, egois, dan haus akan pengakuan.

Pria itu menggelengkan kepalanya perlahan, melayangkan kalimat penutup yang begitu tajam dan dingin, meruntuhkan seluruh sisa pertahanan di dalam dada Salsa untuk selamanya.

"Kau memang bukan manusia Salsa! Sama sekali ak punya hati!"

Terpopuler

Comments

Teti Hayati

Teti Hayati

Jangan terlalu membenci, nanti saat plot twistnya terbongkar... nyesel kejer km... 😄😄

2026-06-03

0

SasSya

SasSya

benarkah Nabila menderita
benarkah setulus itu cinta Nabila?
benarkah sejahat ini seorang Salsa?
ini Baru permulaan
pastilah ada gebrakan2 yg menyertai perjalanan iniiii
masih ada kemungkinan kamu salah Ar

2026-06-03

1

melia Wijaya

melia Wijaya

masih menebak2 salahnya salsa dimana??? kan klgny membantu klg arka yg bangkrut klw g mau ya g usah bangkrut aja keles
salah salsa dimana ma Nabila kn keputusan arka juga jadi salahkanlah dirimu sendiri

2026-08-11

0

lihat semua
Episodes
1 Bahagia sendirian
2 Tak punya hati!
3 Bukan suami sebenarnya
4 Janji Arkan
5 Impian semu
6 Kedatangan Salsa
7 Binar yang palsu
8 Ditampar kenyataan
9 Kelicikan Salsa
10 Tak bisa membeli cinta
11 Rencana Arkan
12 Meyakinkan Nabila
13 Malam pertama atau terakhir?
14 Noda di gaun sutra
15 Membuang jejak Salsa
16 Arkan yang keras kepala
17 Penjara tanpa batas waktu
18 Identitas yang terenggut
19 Harapan di tengah kehancuran
20 Bahagia di atas puing kehancuran
21 Dua garis kehidupan
22 Puing penyesalan
23 Mantra penyiksa jiwa
24 Di bawah kolong jembatan
25 Masa lalu yang menghujam
26 Neraka
27 Labirin masa lalu
28 Tak sama seperti dulu
29 Dalang yang sebenarnya
30 Mengais makanan
31 Malaikat pelindung
32 Pembalasan Arkan
33 Tabir yang tersingkap
34 Sisa waras di ujung jalan
35 Sisa waras di ujung jalan
36 Jeritan luka
37 Pengakuan yang terlanbat
38 Berjuang untuk Ibu
39 Fatamorgana
40 Penebusan yang hambar
41 Panggilan yang mahal
42 5006
43 Permintaan Salsa
44 Langkah baru
45 Secercah harapan
46 Suara kecil di masa lalu
47 Riak cemburu
48 Kunci masa lalu
49 Jeritan di balik dinginnya malam
50 Yang hancur semakin hancur
51 Sesuatu di dalam kain lusuh
52 Luka di hati Ayu
53 Perasaan yang terlambat
54 Binar tanda cinta
55 Serpihan Memori
56 Keputusan berat
57 Perasaan yang tak penting lagi
58 Sedikit demi sedikit
59 Kepergian Arkan
60 Binar yang asing
61 Luka yang sama
62 Kebohongan demi kebohongan
63 Ayah....
64 Hanya orang asing
65 Kecurigaan Arkan
66 Pria dari masa lalu
67 Syarat dari Arkan
68 Kepergian Salsa
69 Perpisahan
70 Membuka hati
71 Menjadi jembatan kecil
72 Alam bawah sadar
73 Kecemburuan Julian
74 Perlawanan Arkan
75 Lelah berpura-pura
76 Dituntun rindu
77 Kilasan masa lalu
78 Ingatan masa lalu
79 Ajakan menikah
80 Kejutan
81 Memory
82 Telah usai
83 Kebenaran yang tersingkap
84 Tak ingin berhubungan lagi
85 Pelukan yang kosong
86 Benar-benar lepas
87 Dibalik pintu yang tertutup
88 Gamang
89 Bantuan tanpa Tuan
90 Menyesakkan dada
91 Bantuan tak kasat mata
92 Bayang-bayang tanpa suara
93 Permintaan Amara
94 Pengakuan di balik luka
95 Jimat penenang
96 Ego yang menampar
97 Jeruji balas dendam
98 Kerinduan
99 Arkan sakit
100 Perhatian Salsa
101 Amarah terselubung
102 Kebahagiaan Arkan
103 Kebahagiaan Fana
104 Rencana Julian
105 Keputusan sepihak
106 Ucapan diujung keputusasaan
107 Pengakuan
108 Rumah yang sebenarnya
109 Kebenaran
110 Kekalahan mutlak
111 Rumah baru
112 Tujuan bersama
113 Kejutan
114 Lamaran
115 Cincin penuh luka
116 Pernikahan kedua
117 Janji pengikat jiwa
118 TAMAT
Episodes

Updated 118 Episodes

1
Bahagia sendirian
2
Tak punya hati!
3
Bukan suami sebenarnya
4
Janji Arkan
5
Impian semu
6
Kedatangan Salsa
7
Binar yang palsu
8
Ditampar kenyataan
9
Kelicikan Salsa
10
Tak bisa membeli cinta
11
Rencana Arkan
12
Meyakinkan Nabila
13
Malam pertama atau terakhir?
14
Noda di gaun sutra
15
Membuang jejak Salsa
16
Arkan yang keras kepala
17
Penjara tanpa batas waktu
18
Identitas yang terenggut
19
Harapan di tengah kehancuran
20
Bahagia di atas puing kehancuran
21
Dua garis kehidupan
22
Puing penyesalan
23
Mantra penyiksa jiwa
24
Di bawah kolong jembatan
25
Masa lalu yang menghujam
26
Neraka
27
Labirin masa lalu
28
Tak sama seperti dulu
29
Dalang yang sebenarnya
30
Mengais makanan
31
Malaikat pelindung
32
Pembalasan Arkan
33
Tabir yang tersingkap
34
Sisa waras di ujung jalan
35
Sisa waras di ujung jalan
36
Jeritan luka
37
Pengakuan yang terlanbat
38
Berjuang untuk Ibu
39
Fatamorgana
40
Penebusan yang hambar
41
Panggilan yang mahal
42
5006
43
Permintaan Salsa
44
Langkah baru
45
Secercah harapan
46
Suara kecil di masa lalu
47
Riak cemburu
48
Kunci masa lalu
49
Jeritan di balik dinginnya malam
50
Yang hancur semakin hancur
51
Sesuatu di dalam kain lusuh
52
Luka di hati Ayu
53
Perasaan yang terlambat
54
Binar tanda cinta
55
Serpihan Memori
56
Keputusan berat
57
Perasaan yang tak penting lagi
58
Sedikit demi sedikit
59
Kepergian Arkan
60
Binar yang asing
61
Luka yang sama
62
Kebohongan demi kebohongan
63
Ayah....
64
Hanya orang asing
65
Kecurigaan Arkan
66
Pria dari masa lalu
67
Syarat dari Arkan
68
Kepergian Salsa
69
Perpisahan
70
Membuka hati
71
Menjadi jembatan kecil
72
Alam bawah sadar
73
Kecemburuan Julian
74
Perlawanan Arkan
75
Lelah berpura-pura
76
Dituntun rindu
77
Kilasan masa lalu
78
Ingatan masa lalu
79
Ajakan menikah
80
Kejutan
81
Memory
82
Telah usai
83
Kebenaran yang tersingkap
84
Tak ingin berhubungan lagi
85
Pelukan yang kosong
86
Benar-benar lepas
87
Dibalik pintu yang tertutup
88
Gamang
89
Bantuan tanpa Tuan
90
Menyesakkan dada
91
Bantuan tak kasat mata
92
Bayang-bayang tanpa suara
93
Permintaan Amara
94
Pengakuan di balik luka
95
Jimat penenang
96
Ego yang menampar
97
Jeruji balas dendam
98
Kerinduan
99
Arkan sakit
100
Perhatian Salsa
101
Amarah terselubung
102
Kebahagiaan Arkan
103
Kebahagiaan Fana
104
Rencana Julian
105
Keputusan sepihak
106
Ucapan diujung keputusasaan
107
Pengakuan
108
Rumah yang sebenarnya
109
Kebenaran
110
Kekalahan mutlak
111
Rumah baru
112
Tujuan bersama
113
Kejutan
114
Lamaran
115
Cincin penuh luka
116
Pernikahan kedua
117
Janji pengikat jiwa
118
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!