"Ngapain, Bang?" Tanya Aslan saat Ryu masuk ke dalam kamarnya.
"Astaga, Aslan! berantakan banget sih, kamarmu? Ini kamar apa kandang?" Omel Ryuga saat melihat kamar Aslan yang berantakan.
"Kandang singa." Jawab Aslan dengan santai.
"Abang gak kerja?" Tanya Aslan saat Ryu merebahkan diri di atas ranjangnya.
"Libur." Jawab Ryu sembaru menggulir ponselnya.
"Kamu, kenapa gak kerja?" Ryu balik bertanya.
"Capek. Kerja terus, nanti tambah kaya, Yanda." Jawab Aslan yang membuat Ryu terkekeh.
"Abang kenapa gak nerusin usaha Yanda, sih? Kan jadi aku yang di suruh nerusin." Cicit Aslan.
"Bukan passion Abang." Jawab Ryuga.
"Sama, bukan passionku juga. Tapi tetep aja di paksa Yanda." Sahut Aslan.
"Tapi kamu menikmati banget tuh." Sergah Ryu.
"Ya itu, awalnya terpaksa, lama - lama suka." Kekeh Aslan yang membuat Ryu mencebik.
"Tapi keren sih kamu, Lan. Bisa bikin omset naik drastis. Banyak barang baru yang bisa kamu masukin, padahal Yanda sama Opa gak bisa." Puji Ryu.
"Ya itu, Bang. Emang kita gak bisa selalu main lurus. Dunia bisnis ini kejam." Jawab Aslan.
"Bang..."
"Hm?"
"Dari pada tiduran di sini, mending keluar cari istri. Aku udah pingin punya ponakan, tau." Celetuk Aslan yang tak di tanggapi oleh Ryu.
"Bang, kayaknya aku gak pernah lihat Abang pacaran, deh." Kata Aslan.
"Gak penting, Lan. Yang ada, pacaran itu bikin pusing karena harus ngadepin tingkah cewek yang sering absurd." Jawab Ryu.
"Ck! Padahal, hal - hal kayak gitu tuh yang bisa jadi hiburan pelepas penat, Bang. Tingkahnya yang manja, yang bawel, yang lembut, ngangenin tau, Bang." Ujar Aslan yang kembali tak di tanggapi oleh Ryu.
"Abang gak kelainan, kan?" Tanya Aslan yang mulai memancing perhatian Ryuga.
"Maksudnya?" Tanya Ryu.
"Itu, Abang bukan kaum rainbow, kan?" Tanya Aslan yang langsung membuat Ryuga melotot. Gerakan tubuh Ryu yang secepat kilat, tak memberi kesempatan Aslan untuk menghindari kuncian dari Abangnya.
"Emang kurang ajar banget anak satu ini, mulutnya. Sembarangan banget ngomongin orang kaum sesama jenis. Abang masih normal, tau!" Kata Ryu sambil mengunci tubuh adiknya, hingga Aslan tak bisa bergerak.
"Kalo normal, kenapa gk pernah deket sama cewek?" Cicit Aslan sambil meronta - ronta, berusaha melepaskan diri.
"Emang Abang harus laporan sama kamu, kalau mau deket sama cewek?" Ryu balik bertanya.
"Jadi, ada cewek yang Abang deketin?" Tanya Aslan sembari menghentikan gerakan memberontaknya.
"Enggak!" Jawab Ryu.
"Ah kan! Abang ini mencurigan banget, awas ya, kalo tiba - tiba bawa pulang temen cowok kaum tulang lunak." Cerocos Aslan yang membuat Ryu makin mengencangkan kunciannya.
Tak berhenti sampai di sana, Ryu juga membekap wajah adiknya hingga adiknya itu berteriak - teriak karena kesulitan bernafas.
"Bundaaaa! Yandaaaa! Tolooong!" Teriak Aslan berulang - ulang hingga membuat rumah itu menjadi berisik dengan teriakan Aslan.
"Bundaaaa! Aku di siksa sama Abang!" Seru Aslan sambil terus meronta - ronta, saat Ryu mengunci lehernya.
"Astaga! Kalian berdua ini kenapa, sih? Udah pada besar juga." omel Fey yang berdiri di ambang pintu kamar Aslan.
"Tolong, aku mau di bunuh Abang, Bun." Keluh Aslan.
"Abang! Lepasin adeknya." Titah Fey.
"Biarin aja, Bun. Kurang ajar banget ini mulutnya. Masak aku di bilang kaum rainbow." Jawab Ryuga yang enggan melepaskan mangsanya.
"Kamu juga, Lan, sembarangan banget mulutnya kalo ngomong!" Omel Gian yang menyusul istrinya melihat kehebohan dua putranya.
"Abisnya, umur udah hampir menginjak kepala orang, tapi belum punya pacar juga." Sahut Aslan.
"Kepala kamu yang Abang injek!" Sahut Ryu.
"Udah, bersihin aja itu adeknya, Bang. Biar saingan Yanda dapetin perhatian Bunda, tinggal kamu aja." Kekeh Gian yang kemudian beranjak meninggalkan kamar Aslan.
"Bundaaa! Tolong Bun, sakit semua badanku." Keluh Aslan yang merengek seperti anak kecil.
"Minta maaf sama Abang." Perintah Fey.
"Lepasin dulu, baru aku minta maaf." Kata Aslan.
"Minta maaf dulu, baru Abang lepasin." Sergah Ryu.
Keduanya terus saling mengeyel enggan melepaskan dan enggan meminta maaf. Melihat tingkah dua putranya, tentu saja membuat Fey naik darah. Dengan cepat, Fey berjalan menuju ke kamarnya dan mengambil senjata kesayangannya.
"Berhenti sekarang!" Teriak Fey dengan suara melengking. Ia kemudian memanjangkan tongkat kematian yang sudah ia pegang.
"Satu... Dua..." Fey mulai menghitung sembari memukul - mukulkan pelan tongkat kematian di tangannya.
"Yes, Ma'am!" Seru Ryu dan Aslan.
Kedua pria yang berusia dua puluh sembilan dan dua puluh lima tahun itu langsung berdiri tegap layaknya seorang Prajurit yang hendak di beri perintah.
"Push up, lima puluh kali. Kalo sampe berhenti, Bunda pukul bokongnya." Ujar Fey sambil memukul bokong Ryu dan Aslan.
"Yes, Ma'am." Jawab mereka berdua yang langsung melaksanakan perintah Fey, sementara Fey menghitung gerakan dua putranya.
Melihat dua saingannya yang sedang di tertibkan, Gian pun tertawa dengan puas. Sudah lama ia tak melihat Fey menertibkan dua putranya dengan gaya militer.
...****************...
"Dering ponsel Ryu, membangunkannya dini hari itu. Ia buru - buru mengangkat panggilan telfon itu, ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Yes, Sir!" Ujar Ryuga dengan suara serak khas orang bangun tidur. Ryu mendengarkan arahan dari Elno, sebelum menyudahi panggilan telfon dari atasannya.
Ryu segera mencuci wajahnya, kemudian memakai jaket dan trening panjang. Tak lupa, ia mengirim pesan pada Fey yang pasti sudah terlelap sekarang.
Seperti sang Ibunda, dengan mudahnya Ryu menyelinap dari rumah besarnya. Ia kemudian berjalan cepat menghampiri mobil milik Markas yang sudah menjemputnya.
Di dalam mobil itu, sudah tersedia senapannya dan beberapa senapan lain milik rekannya yang di simpan di bawah jok. Jok tempat duduk itu, di sulap sedemikian rupa hingga membentuk seperti brankas yang hanya bisa di buka dengan chip yang tersembunyi di balik kulit tangan setiap Agen Rahasa.
Mobil itu melaju dengan cepat menuju ke sebuah rumah besar. Rumah besar yang tertutup itu adalah rumah milik Fey dan Gian yang sengaja di peruntukkan untuk tempat tinggal anggota Agen Rahasia atau tempat untuk mereka berkumpul.
Begitu mobil yang dikenali terkena sensor kamera di gerbang, secara otomatis, gerbang akan terbuka dengan sendirinya. Mobil milik Margas itu pun segera masuk untuk menjemput dua orang anggota yang tinggal di rumah besar itu.
"Kok kalian di Basecamp? Siapa yang jaga malam ini?" Tanya Ryu.
"Davi sama Brian, Yu." Jawab Adit, sahabat dekat Ryu yang juga satu angkatan dengannya.
"Jadi, kita berlima, Kak?" Tanya Wili yang di jawab anggukan oleh Ryu.
"Mereka berdua udah berangkat, Pak?" Tanya Adit pada supir mereka.
"Udah, Mas. Pake mobil satunya." Jawab Supir yang membawa mereka.
"Ada waktu satu jam, kalian berdua tidur dulu aja, biar gue yang jaga." Titah Ryu.
"Biar Wili aja yang tidur. Gue udah tidur lama." Kata Adit.
Sebagai anggota termuda di dalam mobil, tentu dengan senang hati Wili menuruti perintah dua Seniornya. Ia pun segera tidur, sementara Ryu dan Adit berjaga untuk menerima perintah lanjutan dari atasan mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
This Is Me
Makasih launchingnya novel ini.
Dah lama ditunggu novel secret agent ini.
Semangat terus kak author
2026-06-04
1
Ummu Dzaky
hadir kakak othooorrrr
semangaaaaaaaaattttt🔥🔥🔥
2026-06-04
1
Kasandra Kasandra
nulis novel nya knp ndak satu2 dulu kak biar ndak keteteran.. kisah si juna jg blom tamat.. yg kisah titisan jg blom tamat.. ini nulis yg baru lg.. si juna saja up nya jg ndak konsisten sm waktunya.. sebenarnya para outhor pd buru apa sih.. 😞
2026-06-04
2