Episode 2

# Bab 2

## Malam Terpanjang

Hujan tidak berhenti.

Batu halaman Notonegoro berubah licin dan dingin. Air mengalir di sela lutut Arunika, menyusup ke balik kainnya, membuat tubuhnya menggigil tanpa bisa dikendalikan.

Di bawah deras hujan Menteng, dengan punggung tangan berdarah dan hati yang akhirnya berhenti memanggil, Arunika bersimpuh sendirian sampai malam terasa tidak punya ujung.

Pada awalnya, ia masih bisa merasakan marah.

Marah membuat dadanya panas. Marah membuat punggungnya tetap tegak meski lututnya mulai berdenyut. Marah membuat ia menatap pintu rumah besar itu, berharap Damar keluar, bukan untuk memaafkannya, tetapi setidaknya untuk bertanya satu kali saja.

Kamu benar-benar tidak mendorong Renata?

Satu pertanyaan itu cukup.

Tidak ada.

Pintu tetap tertutup. Cahaya dari dalam rumah makin redup satu per satu. Suara pesta mati pelan-pelan, berganti bunyi piring yang dibereskan, langkah pelayan, lalu sunyi yang panjang.

Arunika menelan napas. Tenggorokannya terasa pahit.

Hampir tengah malam, seorang pelayan perempuan keluar dari pintu samping membawa payung hitam. Langkahnya ragu-ragu, seperti setiap jengkal halaman bisa membuatnya dihukum.

"Non Arunika," bisiknya.

Arunika mengangkat wajah. Air hujan mengalir dari bulu matanya.

Perempuan itu berhenti dua langkah di depannya. Payung di tangannya tidak dibuka. Matanya merah, mungkin karena iba, mungkin karena takut.

"Maaf, Non. Saya tidak bisa bantu banyak." Ia menyelipkan sapu tangan kecil di atas pot batu dekat Arunika. "Kalau Eyang tahu..."

"Tidak apa-apa," jawab Arunika.

Suaranya serak.

Pelayan itu menatap punggung tangan Arunika yang berdarah. "Lukanya harus dibersihkan."

"Nanti."

"Non..."

"Masuklah, Bu. Nanti Anda ikut dimarahi."

Pelayan itu menggigit bibir. Ia ingin berkata sesuatu lagi, tetapi dari arah koridor terdengar suara pintu dibuka. Tubuhnya langsung menegang.

Arunika menurunkan pandangannya.

"Masuk," ulangnya pelan.

Perempuan itu buru-buru pergi. Sapu tangan tetap tertinggal di atas pot, basah sebelum sempat disentuh.

Arunika tidak mengambilnya.

Ia menatap kain putih kecil itu sampai bentuknya kabur oleh air hujan. Di rumah ini, bahkan belas kasihan pun harus disembunyikan seperti dosa.

Lucu, pikirnya. Tiga tahun lalu, ia pernah percaya rumah ini akan menjadi tempatnya pulang.

Tiga tahun lalu, ia berdiri di ruang kerja Bapak di Surabaya dengan tangan gemetar dan kepala keras. Bramantyo Prawira duduk di belakang meja jati, wajahnya tidak marah, hanya sangat lelah.

"Nika, Bapak tidak melarang kamu menikah karena Bapak tidak suka Damar," kata Bapak waktu itu. "Bapak melarang karena keluarga itu tidak melihatmu sebagai manusia. Mereka melihatmu sebagai jalan untuk mempermanis nama mereka."

Arunika masih ingat bau kopi di ruang itu. Masih ingat mata Mama yang sembap di sofa. Masih ingat koper kecil di samping pintu karena ia sudah bersiap pergi bahkan sebelum meminta izin.

"Damar berbeda, Pak," jawabnya.

Betapa yakinnya ia waktu itu.

Begitu yakin sampai ia tidak mendengar suara Mama yang pecah saat memanggilnya.

"Nika, nduk. Cinta tidak seharusnya membuat kamu kehilangan rumah."

Arunika menggigit bibir di tengah hujan.

Kalimat Mama datang terlambat, tetapi tepat. Cinta memang tidak seharusnya membuatnya kehilangan rumah. Cinta juga tidak seharusnya membuatnya bersimpuh di halaman, sementara suaminya menghangatkan perempuan lain di dalam.

Kilat menyambar di balik atap.

Seketika halaman terang. Pada saat yang sama, luka di punggung tangan kanannya terasa seperti dibakar. Ia membuka genggaman. Darah yang tadi merah pekat kini bercampur air, membuat kulitnya pucat dan keriput. Luka itu kecil, tetapi garisnya jelas, miring dari pangkal jari ke arah pergelangan.

Ia mengingat tangan yang sama pernah menggenggam tangan Damar di hari akad.

Saat itu Damar berdiri di sampingnya dengan wajah tenang. Terlalu tenang untuk seorang pengantin laki-laki. Tidak ada senyum. Tidak ada getar bahagia. Tetapi Arunika, bodoh seperti orang yang sedang jatuh cinta, menafsirkan dinginnya sebagai gugup.

Setelah akad, ia menunggu Damar menoleh.

Laki-laki itu hanya berkata, "Jangan berharap terlalu banyak dari pernikahan ini."

Arunika tetap bertahan.

Ia memasak sarapan yang tidak pernah dimakan. Ia belajar selera keluarga Notonegoro, belajar kapan harus diam di meja makan, belajar tersenyum saat para tante memuji Renata sebagai menantu yang lembut dan menyebut Arunika terlalu kaku. Ia menyiapkan jas Damar ketika laki-laki itu pulang lewat tengah malam. Ia duduk di samping ranjang saat Damar demam, hanya untuk mendengar laki-laki itu mengigau memanggil nama lain.

Renata.

Hujan menampar wajahnya lebih keras.

Arunika memejamkan mata.

Ia pernah bertanya pada Damar, satu kali, hanya satu kali, "Apa Damar masih mencintai Mbak Renata?"

Damar saat itu sedang mengancingkan jam tangannya. Ia tidak menatap Arunika.

"Renata adalah keluarga."

"Aku juga keluargamu."

Baru saat itu Damar menoleh. Tatapannya datar, hampir kasihan.

"Kamu istriku. Jangan membuat posisimu sendiri menjadi rendah dengan cemburu pada orang yang sedang berduka."

Sejak hari itu, Arunika berhenti bertanya.

Malam ini ia akhirnya mengerti. Bukan karena ia terlalu cemburu. Bukan karena ia kurang sabar. Bukan karena ia belum cukup baik.

Damar memang tidak pernah memberi ruang untuknya.

Ia hanya berdiri di ambang pintu hidup laki-laki itu selama tiga tahun, mengetuk dengan tangan sendiri, lalu menyalahkan dirinya ketika pintu tidak dibuka.

Menjelang dini hari, rasa marah mulai padam.

Yang tersisa adalah sakit.

Sakit itu tidak meledak. Tidak membuatnya menangis keras atau memukul apa pun. Sakit itu diam-diam merayap dari lutut ke tulang belakang, dari luka tangan ke dada, dari ingatan ke tempat paling dalam yang selama ini ia pakai untuk menyimpan harapan.

Arunika menatap langit gelap.

"Ya Allah," bisiknya, nyaris kalah oleh suara hujan, "kalau ini cara-Mu menyadarkanku, aku mengerti."

Bibirnya bergetar. Ia tidak tahu apakah karena dingin atau karena kalimat itu akhirnya keluar.

Ia mengerti.

Mengerti bahwa perempuan tidak harus mati perlahan demi membuktikan cinta. Mengerti bahwa sabar bukan berarti membiarkan diri diinjak. Mengerti bahwa meninggalkan orang yang tidak pernah memilihnya bukan kekalahan.

Di dalam rumah, langkah kaki terdengar mendekat. Arunika membuka mata.

Damar muncul di ambang pintu.

Untuk sesaat, jantungnya berkhianat. Ia berdetak lebih cepat, seperti masih menyimpan kebiasaan lama. Damar berdiri di bawah atap, sudah berganti pakaian kering. Rambutnya rapi kembali. Di tangannya ada ponsel, layarnya menyala sebentar sebelum ia memasukkannya ke saku.

Arunika menunggu.

Damar tidak membawa selimut. Tidak membawa obat luka. Tidak membawa payung.

Ia hanya menatapnya dari tempat kering.

"Renata sudah tidur," katanya.

Arunika hampir tertawa.

Renata sudah tidur.

Jadi untuk itukah dia keluar? Untuk memberi tahu bahwa perempuan yang menuduhnya sudah nyaman di dalam?

"Syukurlah," jawab Arunika.

Damar mengerutkan kening, mungkin mendengar sesuatu yang asing dalam suaranya.

"Kamu masih keras kepala?"

Arunika mengangkat wajah. Air hujan menetes dari dagunya. Ia menatap laki-laki itu, benar-benar menatapnya, dan untuk pertama kalinya Damar terlihat jauh. Bukan karena jarak halaman, melainkan karena sesuatu di antara mereka sudah selesai.

"Damar," ucapnya.

Panggilan itu terasa aneh di lidahnya.

Damar diam.

"Selama tiga tahun, pernah tidak sekali saja kamu percaya aku lebih dulu daripada orang lain?"

Wajah Damar berubah sedikit. "Ini bukan soal percaya atau tidak."

"Lalu soal apa?"

"Soal sikapmu malam ini. Renata hamil. Eyang marah. Kamu seharusnya meredakan keadaan, bukan mempermalukan keluarga."

Arunika menatapnya lama.

Ternyata bahkan setelah semua ini, jawabannya tetap sama. Nama baik. Keluarga. Renata. Eyang. Semua orang punya tempat dalam kalimat Damar.

Kecuali dirinya.

"Baik," katanya.

Damar tampak tidak puas. "Apa maksudmu baik?"

"Aku mengerti sekarang."

"Kalau kamu mengerti, minta maaf besok pagi."

Arunika tidak menjawab.

Damar menarik napas kasar. "Jangan paksa aku menjadi lebih keras, Nika."

Dulu, ancaman seperti itu akan membuatnya takut. Dulu, ia akan cepat-cepat melunak, meminta maaf meski tidak salah, asal Damar tidak semakin jauh.

Malam ini, kalimat itu jatuh ke tempat yang sudah kosong.

Damar menunggu sebentar. Ketika Arunika tetap diam, ia berbalik dan masuk lagi ke dalam rumah.

Pintu tertutup.

Tidak ada lagi yang retak di dada Arunika.

Yang retak sudah hancur semuanya.

Menjelang subuh, hujan mereda menjadi gerimis tipis. Langit di atas Menteng berubah abu-abu. Azan dari masjid kejauhan terdengar samar, melewati pagar tinggi rumah Notonegoro, menyentuh halaman yang dingin.

Arunika mencoba menggerakkan kaki.

Rasa nyeri langsung menusuk sampai pinggang. Lututnya kaku. Punggung tangan kanannya pucat, luka merahnya membengkak sedikit. Tubuhnya lemah, tetapi kepalanya justru paling jernih sejak tiga tahun terakhir.

Ia menatap pintu rumah itu.

Di balik pintu itu ada semua yang pernah ia pertahankan. Nama Notonegoro. Pernikahan yang kosong. Cinta yang hanya hidup karena ia sendiri yang meniupkan napas ke dalamnya.

Arunika menunduk dan perlahan menarik cincin nikah dari jari manisnya.

Cincin itu sulit lepas karena jarinya membengkak oleh dingin. Ia menarik sekali lagi. Kulitnya perih, tetapi cincin akhirnya terlepas dan jatuh di telapak tangannya.

Kecil. Dingin. Tidak seberat tiga tahun hidupnya.

Arunika menggenggam cincin itu bersama sisa tenaga yang ia punya.

Ketika cahaya pertama menyentuh halaman, ia tidak lagi menunggu Damar datang menyelamatkannya.

Ia hanya menunggu pagi, karena pagi ini ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan.

Terpopuler

Comments

Rai Gojess

Rai Gojess

walau sudah tamat tetap aku mau komen, renata itu siapa? ipar atau isteri kedua damar? kenapa arunika mau menikah dengan damar kalau damar gak ada cinta? wanita bodoh oleh cinta saja ya watak arunika...gak faham, tapi aku geram cerita ni dengan watak arunika yang kenyang oleh cinta bodohnya..dari keluarga kaya dan punya orang tua yang baik tapi gak ada otak.

2026-06-12

2

Yinyin Amih Narava

Yinyin Amih Narava

arunika wanita kuat semangat .walau tidak tau Renata itu siapanya damar

2026-06-22

0

retno murtiningsih

retno murtiningsih

bagus sekali ceritanya .... seneng baca kisah Arunika yang tangguh

2026-07-03

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
Episodes

Updated 135 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!