Episode 5

# Bab 5

## Surat Gugatan yang Sudah Disiapkan

"Seseorang yang seharusnya dari dulu aku dengarkan."

Sekar tidak langsung bertanya lagi.

Mungkin karena ia tahu ada luka yang tidak bisa dipaksa terbuka hanya karena seseorang penasaran. Mungkin juga karena wajah Arunika masih terlalu pucat untuk diajak membedah masa lalu. Jadi Sekar melakukan hal yang paling bisa ia lakukan sejak mereka kecil: membuat teh manis panas, memaksa Arunika makan dua sendok bubur, lalu mengomel sambil mencuci handuk basah di ember kamar mandi.

Menjelang siang, tubuh Arunika mulai berhenti menggigil.

Ia sudah mandi air hangat. Rambutnya dikeringkan dengan handuk. Luka di punggung tangan kanannya dibalut ulang. Lututnya masih terasa seperti dipukul batu, tetapi setidaknya ia bisa duduk tanpa ingin roboh.

Sekar menyodorkan ponsel. "Damar nelepon lagi. Tujuh kali."

Arunika melirik layar, lalu mematikan notifikasi.

"Lo nggak mau angkat?"

"Tidak."

"Bagus." Sekar duduk bersila di lantai, masih memakai jaket yang sama. "Kalau dia telepon gue, gue angkat pakai suara layanan pelanggan. 'Terima kasih telah menghubungi layanan mantan suami tidak berguna, keluhan Anda tidak akan kami proses.'"

Arunika menatapnya.

Sekar mengangkat bahu. "Apa? Gue serius."

Untuk kedua kalinya hari itu, Arunika tertawa pelan.

Namun tawa itu cepat padam ketika ia menatap tas kecil di samping sofa. Tas yang ia bawa keluar dari rumah Notonegoro memang tidak banyak isinya: dompet, ponsel, obat tetes mata, lipstik yang jarang ia pakai, dan kunci koper kecil yang selama dua bulan terakhir ia titipkan di tempat Sekar.

Koper itu berdiri di sudut ruang tamu.

Sekar mengikuti arah pandangnya. "Nik?"

"Ambilkan koper itu."

"Yang lo titipin waktu bilang cuma buat jaga-jaga?"

"Iya."

Sekar bangkit. Roda koper berdecit kecil saat ia menariknya mendekat. Koper itu bukan koper besar untuk kabur dramatis, hanya koper kabin warna hitam, tampak biasa, bahkan sedikit lecet di sudutnya.

Arunika mengambil kunci dari tas.

Tangannya berhenti sebentar di atas gembok.

Dua bulan lalu, ketika ia menyiapkan koper ini, sebagian dirinya masih berharap tidak pernah perlu membukanya. Ia memasukkan beberapa pakaian, uang tunai, salinan dokumen pribadi, dan map cokelat dengan tangan gemetar. Waktu itu ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ini hanya rencana darurat.

Ternyata yang darurat bukan rencananya.

Yang darurat adalah harga dirinya yang nyaris habis.

Kunci berputar.

Sekar berjongkok di sampingnya. "Lo nyimpen apa?"

Arunika membuka koper.

Di bagian paling atas, tertata rapi satu map cokelat tebal. Tidak basah, tidak kusut, seolah menunggu hari ini dengan sabar.

Sekar mengambilnya, membaca tulisan di label depan, lalu wajahnya berubah.

"Surat gugatan cerai?"

Arunika mengangguk.

"Lo udah siapin ini?"

"Dua bulan lalu."

"Dua bulan lalu?" Sekar hampir berteriak. "Nika, dua bulan lalu lo masih bilang 'Damar mungkin cuma butuh waktu'."

"Waktu itu aku masih bodoh, tapi rupanya tidak sebodoh itu."

Sekar membuka map dengan hati-hati. Ada draf gugatan, fotokopi buku nikah, KTP, catatan harta yang dengan sengaja ia kosongkan dari tuntutan, dan daftar poin yang sudah ditandai stabilo. Di halaman terakhir, ada catatan tangan Arunika sendiri: tidak menuntut harta gono-gini, tidak menuntut nafkah, hanya cerai.

Sekar membaca bagian itu dua kali.

"Lo beneran nggak mau ambil apa pun?"

"Tidak."

"Nik, gue bukan nyuruh lo matre, tapi setelah tiga tahun disiksa batin, masa lo keluar cuma bawa luka tangan?"

Arunika menyentuh perban putih di punggung tangannya. "Kalau aku mengambil uang mereka, mereka akan bilang aku dari awal cuma mengejar harta Notonegoro. Aku tidak mau memberi mereka satu kalimat pun untuk menahanku."

"Tapi secara hukum..."

"Aku tahu." Arunika mengambil map itu kembali. "Aku tahu aku punya hak. Justru karena aku tahu, aku memilih melepasnya. Yang aku butuhkan bukan uang mereka. Aku butuh putusan yang membuat aku bebas."

Sekar menutup mulutnya.

Ada kemarahan di matanya, tetapi kali ini bercampur hormat.

"Oke," katanya akhirnya. "Terus langkah berikutnya?"

Arunika mengambil ponsel, membuka folder tersembunyi yang terkunci sidik jari. Di dalamnya ada beberapa file suara, tangkapan layar pesan lama, dan foto-foto kecil yang disusun tanggal.

Sekar mendekat. "Itu apa?"

"Catatan."

"Catatan apa?"

"Hal-hal yang dulu aku simpan bukan untuk menyerang, tapi untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa aku tidak gila."

Sekar terdiam.

Arunika membuka satu rekaman suara berdurasi pendek. Suara Renata terdengar samar, manis dan pelan.

"Kalau kamu pintar, Nika, kamu akan tahu Damar selalu kembali ke orang yang paling dia percaya."

Lalu suara Arunika dalam rekaman, lebih muda, lebih lelah.

"Mbak Renata, aku tidak mau bertengkar."

Renata tertawa kecil. "Justru karena kamu tidak mau bertengkar, kamu selalu kalah."

Sekar menegang. "Kapan ini?"

"Tiga minggu lalu."

"Dan semalam?"

Arunika membuka file lain, tetapi tidak memutarnya. Nama file itu tertulis dengan tanggal pesta ulang tahun Eyang Hardjo.

"Sebelum Renata jatuh, dia minta bicara di dekat kolam. Aku menyalakan perekam karena aku sudah lelah setiap kata-katanya berubah setelah ada orang lain datang."

Sekar menatap ponsel itu seperti melihat bom kecil.

"Di situ ada apa?"

"Belum semua. Tapi cukup untuk membuat mereka panik kalau dipakai pada waktu yang tepat."

"Waktu yang tepat itu kapan?"

Arunika menutup folder.

"Setelah gugatan masuk. Setelah mereka tahu aku tidak bisa ditarik pulang dengan ancaman keluarga."

Sekar mengangguk pelan. "Lo mau perang."

"Tidak." Arunika memasukkan map gugatan ke dalam tas dokumen. "Aku mau cerai. Kalau mereka membiarkanku pergi baik-baik, aku juga bisa diam."

Sekar menatapnya curiga. "Dan kalau mereka nggak membiarkan?"

Arunika menatap layar ponsel yang masih menunjukkan panggilan tak terjawab dari Damar.

"Maka aku akan memberi mereka alasan untuk menyesal sudah membuatku berlutut."

Udara di ruang kecil itu berubah.

Tadi pagi, Arunika masih tampak seperti seseorang yang baru diselamatkan dari badai. Sekarang, meski wajahnya tetap pucat dan lututnya masih sulit digerakkan, ada garis lain di matanya. Garis dingin yang membuat Sekar untuk pertama kalinya tidak ingin memeluknya, melainkan duduk tegak dan ikut bersiap.

"Oke," kata Sekar. "Apa yang lo butuhin dari gue?"

"Hubungi Mas Bagas."

Sekar berkedip. "Sepupu gue?"

"Dia masih pegang Pradana Media?"

"Masih. Dan kalau dia tahu keluarga Notonegoro bikin lo begini, dia bakal senang punya alasan legal buat nyerang mereka."

"Jangan suruh dia menyerang dulu," kata Arunika. "Aku butuh dia menyiapkan kanal. Akun gosip, infotainment, editor yang bisa dipercaya, semua yang bisa bergerak cepat kalau Notonegoro mulai bermain kotor."

Sekar mengambil ponselnya. "Lo yakin mau bawa media?"

"Notonegoro hidup dari nama baik. Mereka menuduhku di depan keluarga, lalu mungkin akan menjual cerita bahwa aku istri tidak tahu diri. Kalau mereka memilih arena publik, aku tidak akan datang dengan tangan kosong."

"Gila," gumam Sekar. "Gue kangen lo yang kayak gini."

Arunika menoleh.

Sekar tersenyum miring. "Nika yang dulu waktu SMA bisa bikin guru killer minta maaf karena salah nuduh satu kelas nyontek. Lo lupa?"

"Aku sudah lama lupa banyak hal."

"Ya udah. Kita ingetin pelan-pelan."

Sekar mengetik pesan kepada Bagas. Jarinya bergerak cepat.

Mas Bagas, darurat. Butuh bantuan media, tapi jangan tanya di chat. Ini soal Nika.

Tidak sampai satu menit, balasan masuk.

Telepon sekarang.

Sekar mengangkat alis. "Dia panik."

"Bilang aku belum mau bicara langsung."

"Oke."

Sekar menelepon dari balkon kecil, suaranya sengaja diturunkan. Arunika tidak mendengar semua kalimat, hanya potongan-potongan: Notonegoro, bukti, jangan unggah dulu, siapin orang, iya Mas, gue serius.

Sementara itu, Arunika kembali membuka map gugatan.

Matanya jatuh pada bagian nama.

Arunika Dewanti Prawira.

Nama itu sudah lama tidak ia pakai dengan utuh. Di rumah Notonegoro, ia selalu menjadi Nika, istrinya Damar, menantu yang harus tahu tempat. Di dokumen ini, namanya berdiri sendiri. Tidak menempel pada Damar. Tidak meminta izin siapa pun.

Jari Arunika menyentuh baris itu pelan.

Ponselnya bergetar lagi.

Bukan Damar.

Nomor tidak dikenal.

Sekar keluar dari balkon tepat ketika Arunika mengangkat layar.

"Siapa?"

Pesan masuk sebelum Arunika menjawab.

Bu Arunika, saya kuasa hukum yang diminta Pak Bram menghubungi Ibu. Dokumen untuk Pengadilan Agama bisa kami ajukan hari ini jika Ibu siap.

Sekar membaca pesan itu dari samping.

Mulutnya terbuka.

"Nik," katanya lambat, "Bapak lo punya pengacara yang bisa gerak hari ini?"

Arunika menutup mata sebentar.

Kali ini, bukan karena takut.

Karena untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, ia ingat bagaimana rasanya punya orang di belakangnya.

Ia membuka mata dan mengetik satu jawaban.

Saya siap.

Lalu ia menatap Sekar.

"Kamu tadi tanya hadiah apa yang mau kusiapkan untuk Notonegoro?"

Sekar menelan ludah. "Iya."

Arunika menaruh ponsel di atas map gugatan.

"Kebebasanku dulu. Setelah itu, kebenaran."

Terpopuler

Comments

🥰PencintaDuniaHalu🤪

🥰PencintaDuniaHalu🤪

🤣🤣🤣🤣 bagus... boleh di copy ini kalau ngak mau jawab panggilan org

2026-07-11

0

awesome moment

awesome moment

nika pelampiasan nepsong damar g n,

2026-07-15

0

Fatma Iriana

Fatma Iriana

lanjut,,,,penasaran😍

2026-07-04

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
Episodes

Updated 135 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!