# Bab 4
## Meninggalkan Rumah Itu
Dan justru karena itu, langkahnya terasa seperti miliknya sendiri.
Arunika tidak tahu berapa jauh ia berjalan dari gerbang rumah Notonegoro sebelum tubuhnya akhirnya menyerah.
Jalan Menteng pagi itu masih basah. Daun-daun trembesi meneteskan sisa hujan semalam. Mobil-mobil hitam keluar masuk dari rumah besar di kanan kiri jalan, semua rapi, semua mahal, semua seperti tidak pernah mengenal perempuan dengan lutut nyaris mati rasa yang berjalan pelan di trotoar sambil menggenggam tas kecil.
Punggung tangan kanannya berdenyut.
Ia berhenti di bawah pohon, menahan napas, lalu membuka ponsel dengan jari gemetar. Layar buram karena air. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor rumah Notonegoro, mungkin pelayan, mungkin Damar yang akhirnya sadar ia benar-benar pergi.
Arunika mengabaikannya.
Ia menekan kontak yang sudah ia hafal sejak kecil.
Sekar menjawab di dering kedua.
"Nik? Lo di mana? Gila, gue dari semalam ngerasa nggak enak. Kenapa suara lo begini?"
Mendengar suara itu, sesuatu yang keras di dalam dada Arunika mendadak retak lagi. Bukan karena sakit, melainkan karena untuk pertama kalinya sejak semalam, ada orang yang bertanya bukan untuk menghakimi.
"Kar," ucapnya.
Hanya satu suku kata.
Di seberang sana, Sekar langsung diam. "Share location. Sekarang."
"Aku..."
"Nggak usah sok kuat. Share location, Nika."
Arunika menutup mata. Kali ini ia menurut.
Kurang dari tiga puluh menit kemudian, mobil kecil warna abu-abu berhenti mendadak di pinggir jalan. Sekar keluar dengan sandal rumah, hoodie kusut, dan rambut yang diikat asal. Wajahnya pucat begitu melihat Arunika.
"Ya Allah, Nika."
Arunika ingin berkata ia baik-baik saja.
Kalimat itu tidak sempat keluar karena Sekar sudah memeluknya. Pelukan itu hangat, terburu-buru, dan kasar di bagian bahu karena Sekar menahan marah. Arunika berdiri kaku beberapa detik, lalu tubuhnya akhirnya melunak.
Ia tidak menangis keras.
Hanya air mata yang turun pelan, hilang di sisa basah rambutnya.
"Mereka ngapain ke lo?" suara Sekar bergetar. "Lutut lo kenapa? Tangan lo berdarah? Nika, jawab gue."
"Aku mau cerai."
Sekar membeku.
Lalu, anehnya, ia mengumpat.
"Alhamdulillah. Akhirnya otak lo balik juga." Ia melepas pelukan, lalu segera menyesal ketika melihat Arunika hampir limbung. "Eh, bukan gitu maksud gue. Ya Allah, masuk mobil dulu. Kita urus satu-satu. Kalau gue ketemu Damar sekarang, bisa gue lempar dia pakai dongkrak."
Di hari lain, Arunika mungkin akan tertawa.
Pagi itu, ia hanya mengangguk.
Sekar memasukkannya ke kursi penumpang, menyelipkan handuk kecil dari jok belakang ke bahunya, lalu mengambil kotak tisu. Tangannya bergerak cepat, tetapi matanya terus basah.
"Lo dari semalam di luar?"
Arunika menatap lurus ke depan. "Di halaman."
"Di halaman mana?"
"Rumah Notonegoro."
Sekar menutup pintu mobil terlalu keras.
Ia masuk ke kursi pengemudi, tetapi tidak langsung menyalakan mesin. Kedua tangannya mencengkeram setir.
"Mereka bikin lo berlutut di halaman semalaman?"
Arunika diam.
Jawaban itu cukup.
Sekar mengembuskan napas, panjang dan gemetar. "Nik, gue udah benci sama keluarga itu dari hari pertama. Tapi ini... ini udah gila."
"Jangan ke sana," kata Arunika pelan.
"Gue belum bilang mau ke sana."
"Mukamu bilang."
Sekar menoleh tajam, lalu bibirnya bergetar antara marah dan ingin menangis. "Lo masih bisa baca muka gue. Berarti masih hidup."
Arunika menatapnya.
Kali ini, senyum kecil benar-benar muncul. Tipis, lemah, tetapi ada.
Sekar menghapus matanya kasar. "Oke. Kita pulang dulu. Lukanya harus dibersihin. Habis itu baru gue maki-maki lo karena butuh tiga tahun buat sadar."
"Aku juga akan maki diriku sendiri."
"Nggak boleh. Itu jatah gue."
Mobil melaju meninggalkan Menteng.
Di kaca samping, rumah-rumah besar bergeser mundur, digantikan jalan utama Jakarta yang mulai ramai. Ojek online menyalip dari kanan. Penjual bubur ayam mendorong gerobak di dekat perempatan. Orang-orang berangkat kerja dengan mata mengantuk, memegang kopi sachet atau roti dari toko kecil. Dunia berjalan seperti biasa, padahal bagi Arunika, satu kehidupan baru saja runtuh.
Sekar tinggal di unit kecil di kawasan Tangsel, di kompleks apartemen sederhana yang menempel dengan perumahan padat. Parkirannya sempit. Lift-nya lambat. Di lorong, ada aroma minyak kayu putih, cucian basah, dan masakan tetangga.
Aneh, tempat itu membuat Arunika bisa bernapas.
Begitu pintu unit dibuka, Sekar langsung menendang tumpukan sepatu ke samping.
"Maaf berantakan. Gue nggak sempat pura-pura jadi manusia rapi."
Arunika masuk perlahan. Ruang tamu kecil itu penuh hal-hal hidup. Bantal sofa beda warna, kabel charger di meja, mug bekas kopi, tanaman sirih gading di dekat jendela, dan papan kecil bertuliskan jadwal cicilan yang ditempel magnet di kulkas.
Tidak ada marmer. Tidak ada pelayan. Tidak ada nama baik keluarga yang harus disembah.
Sekar menyuruhnya duduk di sofa, lalu berlari mengambil kotak P3K.
"Tangan."
Arunika menurut.
Begitu luka itu terlihat jelas di bawah lampu, Sekar mengumpat lagi, kali ini lebih pelan.
"Ini bukan lecet biasa, Nik. Kenapa lo nggak ke klinik?"
"Nanti."
"Nanti itu kapan? Pas lo jadi mumi?"
Arunika menatapnya lelah. "Kar."
"Iya, iya. Gue bersihin dulu. Kalau bengkaknya makin parah, kita ke dokter."
Kapas menyentuh luka.
Arunika mengerang kecil. Sekar langsung menghentikan tangan.
"Sakit?"
"Lanjutkan."
"Jangan sok jago."
"Kalau berhenti, makin sakit."
Sekar menatapnya beberapa detik. Lalu ia melanjutkan dengan lebih hati-hati. Setiap gerakan kecil membuat Arunika menahan napas. Air antiseptik terasa panas, tetapi panas itu nyata. Berbeda dengan dingin semalam yang membuatnya merasa seperti hilang dari dirinya sendiri.
Setelah luka dibalut, Sekar mengambil selimut dan menutup tubuh Arunika.
"Lo mandi air hangat dulu nanti. Gue bikin teh manis. Jangan bantah."
"Aku bau hujan?"
"Lo bau keluarga Notonegoro. Itu lebih parah."
Arunika akhirnya tertawa pelan.
Tawa itu serak dan singkat, tetapi cukup membuat Sekar menghela napas lega.
Ponsel Arunika bergetar di atas meja.
Keduanya menoleh.
Nama di layar membuat napas Arunika berhenti.
Bapak.
Sekar ikut melihat, lalu suaranya melembut. "Angkat, Nik."
Arunika tidak langsung bergerak.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun, ia jarang sekali menjawab panggilan itu. Bukan karena tidak rindu, melainkan karena setiap kali melihat kata Bapak, ia teringat wajah Bramantyo yang lelah ketika ia memilih Damar. Ia teringat Mama yang berdiri di depan pintu, memanggilnya nduk dengan suara pecah.
Ponsel terus bergetar.
Sekar menyentuh bahunya. "Mereka keluarga lo."
Arunika mengangkat panggilan.
Beberapa detik pertama hanya ada hening. Lalu suara laki-laki yang dalam dan tenang terdengar dari seberang.
"Nika."
Arunika memejamkan mata.
Satu panggilan itu nyaris menghancurkan semua pertahanan yang tersisa.
"Bapak," bisiknya.
Di seberang, Bramantyo menarik napas pelan. "Pulanglah."
Arunika menunduk. Perban putih di punggung tangannya tampak kabur oleh air mata.
"Bapak tahu?"
"Bapak tidak perlu tahu semuanya untuk tahu anak Bapak sedang terluka."
Sekar menoleh ke arah jendela, pura-pura tidak ikut menangis.
Arunika menggenggam selimut. "Nika sudah minta cerai."
Hening sebentar.
Lalu suara Bramantyo terdengar lebih lembut. "Bagus."
Satu kata itu membuat air mata Arunika jatuh.
Bukan ceramah. Bukan "Bapak sudah bilang". Bukan tuntutan agar ia menjelaskan kenapa baru sadar sekarang.
Hanya bagus.
Seperti ia tidak pulang sebagai anak gagal, melainkan sebagai anak yang akhirnya selamat.
"Pulang ke mana, Pak?" tanyanya, suara pecah. "Nika sudah lama tidak punya rumah."
"Kamu selalu punya rumah," jawab Bramantyo. "Kalau kamu belum siap ke Surabaya, istirahat dulu di tempat Sekar. Tapi ingat ini, Nika. Kamu bukan perempuan yang harus memohon tempat di keluarga siapa pun."
Arunika terdiam.
Sekar menatapnya tajam, seolah kalimat itu membuka pintu yang selama ini sengaja dikunci.
"Bapak akan kirim orang kalau kamu butuh," lanjut Bramantyo.
"Jangan dulu."
"Baik. Tapi jangan menghilang dari Bapak lagi."
Arunika menggigit bibir. "Maaf."
"Pulang dulu. Maaf nanti."
Panggilan berakhir beberapa saat kemudian.
Arunika masih memegang ponsel di pangkuannya. Ruang kecil Sekar terasa sunyi, hanya diisi bunyi dispenser dan kendaraan dari jalan bawah.
Sekar duduk di sampingnya.
"Nik," katanya hati-hati, "sebenarnya bapak lo siapa sampai ngomongnya kayak bisa ngirim pasukan kapan aja?"
Arunika menatap perban di tangannya.
Untuk pertama kalinya setelah keluar dari rumah Notonegoro, rasa kosong di dadanya tidak lagi menakutkan. Di tempat kosong itu, sesuatu yang lain mulai tumbuh. Kecil, dingin, tetapi tajam.
Ia mengangkat wajah.
"Seseorang yang seharusnya dari dulu aku dengarkan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Mayang Tomat
dari awal bab ini sampe ahir bab..air mata tak berhenti menetea
2026-06-23
0
Ade Chubi
beda cerita tapi tetep ada nama Sekar nya di tiap cerita
2026-06-14
0
Dewa Nara
bapaknya Nika bijaksana 👍
2026-07-02
0