# Bab 3
## Aku Mau Cerai
Pagi datang tanpa belas kasihan.
Langit Menteng berubah pucat, tetapi dingin di halaman rumah besar Notonegoro masih menggigit sampai tulang. Arunika tidak tahu sudah berapa kali tubuhnya hampir roboh. Ia hanya tahu cincin nikah di telapak tangannya semakin dingin, dan rasa sakit di lututnya sudah berubah dari nyeri tajam menjadi kebas yang menakutkan.
Ia menggenggam cincin itu bersama sisa tenaga yang ia punya.
Ketika cahaya pertama menyentuh halaman, ia tidak lagi menunggu Damar datang menyelamatkannya.
Ia hanya menunggu pagi, karena pagi ini ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan.
Pintu utama akhirnya terbuka.
Damar keluar dengan kemeja bersih dan wajah yang tampak kurang tidur. Namun ia tetap kering, tetap rapi, tetap seperti seseorang yang hanya terganggu oleh urusan keluarga, bukan seperti seorang suami yang baru membiarkan istrinya berlutut semalaman di bawah hujan.
Di belakangnya, seorang pelayan membawa nampan berisi kopi. Aroma kopi hitam menyentuh udara dingin. Arunika mencium wanginya samar-samar, lalu hampir tertawa. Bahkan pagi Damar masih punya kopi.
Ia hanya punya luka.
Damar berhenti tiga langkah darinya.
Matanya turun ke lutut Arunika, lalu ke punggung tangan kanannya. Luka itu tampak buruk di bawah cahaya pagi. Kulit di sekitarnya memutih, garis merahnya membengkak, dan darah kering melekat di sela jari.
Untuk satu detik, sesuatu bergerak di wajah Damar.
Tetapi suara yang keluar tetap dingin.
"Sudah sadar salahmu?"
Arunika menatapnya.
Pertanyaan itu seharusnya menyakitkan. Mungkin jika diucapkan tadi malam, ia masih akan merasakan dadanya hancur sekali lagi. Namun setelah satu malam penuh, kalimat itu hanya terdengar kosong.
Ia mencoba menggerakkan kaki.
Tubuhnya langsung limbung.
Damar refleks maju setengah langkah, tetapi Arunika lebih dulu menahan diri dengan telapak tangan kiri di batu halaman. Kerikil kecil menekan kulitnya. Ia menggigit bibir, menunggu gelombang nyeri lewat.
"Jangan keras kepala," kata Damar.
Arunika mengangkat wajah. "Aku tidak keras kepala."
"Kalau begitu minta maaf."
"Tidak."
Rahang Damar mengeras. "Nika."
"Damar."
Nama itu keluar tanpa Mas.
Hening.
Pelayan yang berdiri di belakang Damar menunduk lebih dalam. Bahkan udara pagi seperti ikut berhenti. Damar menatap Arunika seolah baru menyadari ada sesuatu yang hilang, tetapi ia belum tahu apa.
"Apa kamu bilang?" suaranya rendah.
Arunika membuka genggaman.
Cincin nikah itu terbaring di telapak tangannya, kecil dan basah. Damar memandangnya. Warna di wajahnya berubah tipis.
"Aku mau cerai," kata Arunika.
Tidak ada teriakan. Tidak ada air mata. Tidak ada suara pecah. Kalimat itu keluar datar, setenang air setelah badai.
Justru karena itu Damar terlihat terpukul.
"Kamu bicara apa?"
"Aku mau cerai."
"Jangan main-main."
"Aku tidak pernah seserius ini."
Damar tertawa pendek, tetapi tidak ada lucu di wajahnya. "Kamu pikir dengan mengatakan cerai pagi-pagi begini, semua orang akan takut? Kamu ingin aku merasa bersalah karena kejadian semalam?"
Arunika memandangnya tanpa berkedip.
Itu Damar. Selalu begitu. Bahkan ketika ia berkata ingin pergi, laki-laki itu masih mengira dunia berputar di sekitar harga dirinya. Ia pikir Arunika sedang menghukum. Sedang mencari perhatian. Sedang menguji seberapa jauh ia bisa menarik hati seorang suami yang tidak pernah benar-benar ia miliki.
"Aku tidak butuh kamu merasa bersalah," ucap Arunika. "Aku hanya butuh kamu menandatangani apa yang harus ditandatangani."
"Apa maksudmu?"
"Gugatan cerai."
Damar menegang.
"Surat gugatan cerai akan sampai padamu," lanjut Arunika. "Aku sudah menyiapkannya."
Pelayan di belakangnya hampir menjatuhkan cangkir. Suara porselen beradu dengan nampan terdengar kecil, tetapi cukup untuk membuat Damar melirik tajam. Pelayan itu buru-buru mundur dan masuk ke dalam.
Kini halaman hanya menyisakan mereka berdua.
Damar melangkah mendekat. "Kamu tahu apa konsekuensi ucapanmu?"
"Tahu."
"Kamu akan keluar dari rumah ini tanpa apa-apa."
"Baik."
"Harta gono-gini, nafkah, fasilitas, semua yang kamu pakai selama menjadi istriku..."
"Aku tidak mau."
Damar berhenti.
Kali ini kebingungan di wajahnya tidak bisa ia sembunyikan.
Arunika perlahan meletakkan cincin nikah di atas batu datar di depannya. Gerakan itu sederhana, tetapi membuat sesuatu di mata Damar berubah. Mungkin karena selama tiga tahun, ia terlalu terbiasa melihat Arunika menggenggam apa pun yang berhubungan dengannya dengan hati-hati, seolah semua benda pemberiannya adalah nyawa kedua.
Pagi ini, ia meletakkannya seperti benda asing.
"Aku tidak akan mengambil satu rupiah pun dari Notonegoro," kata Arunika. "Tidak rumah, tidak mobil, tidak saham, tidak perhiasan. Tidak juga nama kalian."
"Kamu tidak punya tempat untuk pergi."
Kalimat itu keluar cepat.
Terlalu cepat.
Arunika hampir tersenyum.
Jadi ini yang selalu Damar yakini. Bahwa ia bertahan karena tidak punya pilihan. Bahwa Arunika yang selama ini menunduk di rumah Notonegoro hanyalah perempuan biasa yang terlalu takut kehilangan status sebagai istri Damar Aditya Notonegoro.
Betapa sedikit ia mengenalnya.
"Itu bukan urusanmu lagi," jawab Arunika.
Damar menatapnya tajam. "Kamu masih istriku."
"Mulai hari ini, hanya di atas kertas."
Wajah Damar menggelap. "Nika, cukup. Kalau kamu marah karena semalam, kita bisa bicara setelah keadaan tenang."
"Aku sudah tenang."
"Tidak. Kamu sakit, kedinginan, emosimu kacau."
"Aku paling jernih pagi ini."
Arunika mencoba berdiri.
Lututnya menolak. Rasa sakit menusuk begitu keras sampai pandangannya menghitam sesaat. Ia hampir jatuh, tetapi kali ini Damar benar-benar menangkap lengannya.
Sentuhan itu dulu akan membuatnya luluh.
Sekarang hanya membuat kulitnya terasa asing.
Arunika menarik lengannya.
Damar tidak langsung melepaskan. Jari-jarinya mengunci lebih kuat, seolah baru sekarang ia menyadari bahwa jika ia melepas, perempuan itu mungkin benar-benar pergi.
"Jangan bertingkah seperti anak kecil," katanya, tetapi suaranya tidak setegas tadi.
Arunika menatap tangan Damar di lengannya.
"Lepaskan."
"Kamu mau pergi ke mana dengan kondisi seperti ini?"
"Ke mana pun yang tidak membuatku harus berlutut untuk kesalahan orang lain."
Kata-kata itu menghantam.
Untuk pertama kalinya, Damar tidak segera menjawab.
Arunika menarik lengannya lagi. Kali ini Damar melepas, mungkin karena kaget, mungkin karena genggamannya sendiri tiba-tiba terasa bersalah.
Ia berdiri dengan susah payah. Tubuhnya bergoyang. Rambutnya masih basah, bajunya berat oleh air, wajahnya pucat. Namun punggungnya tegak. Setiap tarikan napas terasa menyakitkan, tetapi rasa sakit itu membuatnya sadar bahwa ia masih hidup.
Dan karena ia masih hidup, ia bisa memilih pergi.
Damar menatapnya dari dekat. "Kamu akan menyesal."
Arunika mengambil cincin dari batu, bukan untuk memakainya kembali, melainkan untuk meletakkannya di telapak tangan Damar.
Jari mereka bersentuhan sebentar.
Damar kaku.
"Tidak," kata Arunika. "Yang aku sesali hanya bertahan selama ini."
Mata Damar berkedip.
Kalimat itu lebih tajam daripada tamparan.
Dari pintu dalam, suara langkah terdengar. Mungkin pelayan. Mungkin kerabat yang mulai bangun. Arunika tidak menoleh. Ia tidak ingin memberi rumah ini kesempatan melihatnya roboh sekali lagi.
Ia melangkah menuju sisi halaman.
Langkah pertama hampir membuatnya jatuh. Langkah kedua lebih sakit. Langkah ketiga membuat napasnya terputus. Namun ia terus berjalan, melewati pot batu tempat sapu tangan basah tadi masih tergeletak, melewati kolam tempat Renata jatuh semalam, melewati pendopo yang menyimpan semua tatapan hina.
"Nika."
Damar memanggilnya.
Ia berhenti, tetapi tidak berbalik.
"Kamu pikir hidup di luar Notonegoro akan mudah?"
Arunika menatap gerbang depan yang perlahan dibuka oleh penjaga. Di luar sana, jalan Menteng masih basah oleh hujan semalam. Dunia tidak tiba-tiba menjadi ramah. Tubuhnya sakit, uang tunai di tasnya tidak banyak, dan ia belum menghubungi siapa pun.
Tetapi udara di luar gerbang tampak lebih lega daripada rumah itu.
"Mudah atau tidak," jawabnya, "setidaknya aku tidak perlu memohon untuk dipercaya."
Ia melanjutkan langkah.
Damar tidak mengejarnya.
Mungkin karena gengsi. Mungkin karena yakin Arunika akan kembali setelah tenang. Mungkin karena ia masih percaya perempuan yang selama tiga tahun mencintainya tidak mungkin benar-benar pergi.
Arunika tidak peduli lagi.
Di depan gerbang, penjaga menatapnya bingung. "Non Arunika, perlu saya panggilkan sopir?"
"Tidak."
"Tapi Non..."
"Tolong buka saja."
Penjaga itu ragu, lalu menunduk dan membuka gerbang lebih lebar.
Arunika melangkah keluar dari rumah besar Notonegoro dengan lutut yang nyaris tidak sanggup menahan tubuhnya, punggung tangan yang masih berdenyut, dan hati yang anehnya terasa kosong sekaligus ringan.
Di belakangnya, Damar masih berdiri di halaman, menggenggam cincin nikah mereka.
Di depan, pagi Jakarta menunggu.
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, Arunika tidak membawa nama Notonegoro bersamanya.
Dan justru karena itu, langkahnya terasa seperti miliknya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Dewa Nara
semangat Nika, jangan bodoh lagi 💪💪💪
2026-07-02
0
Mimin Palu
semangat Nika.
2026-07-08
0