Bab 2 ~ Kehidupan yang Tak Kuingat

Cukup lama ia ditinggal. Ailin yang kebosanan memutar pandangan ke segala arah. Bibirnya mengerucut, kesal karena merasa kesepian.

Setiap mendengar suara, ia akan menoleh ke arah pintu. Namun semuanya hanya perawat atau dokter yang sekedar lewat. Juan sama sekali tidak kembali, apalagi keluarganya yang bahkan batang hidungnya pun Ailin belum lihat sejak bangun.

Tanpa sadar kedua matanya mulai memanas, dalam ingatannya ia adalah putri bungsu yang begitu disayangi dan dimanjakan. Tergores sedikit saja, sang kakak akan panik dan membawanya ke rumah sakit. Tapi sekarang ia yang terluka parah hingga hilang ingatan ini, hanya ditinggal seorang diri seolah tidak ada yang peduli.

Ceklek.

Ailin yang mengira Juan kembali, menoleh dengan senyuman lebar. Namun yang datang ternyata dua orang perawat. Ia cepat-cepat menutup mata, malu sekali kalau ia ketahuan tengah menangis oleh orang lain.

"Pasien sedang tidur," bisik seorang perawat sembari mengganti air infus yang hampir habis.

Perawat satunya mengangguk, ia memeriksa kondisi luar Ailin. "Kasihan sekali dia, sejak sadar kemarin, tidak ada yang benar-benar menemaninya."

Juan yang hendak masuk bersama seorang pria lain meminta sang asisten untuk berhenti mendorong. Ia berdiam di depan pintu, berniat menunggu hingga pemeriksaan selesai.

Namun percakapan dua perawat itu selanjutnya justru membuatnya semakin tidak ingin masuk sekarang. Pria itu tidak ingin mempermalukan sang istri. Terlebih sebelumnya Ailin memang merasa ia memalukan.

"Aku malah kasihan sama tuan Juan." Perawat yang tengah mengatur air infus itu, membalas dengan asal.

"Kenapa?" tanya temannya penasaran.

Setelah selesai mengganti infus, ia berjalan menghampiri sang rekan dengan semangat. Mata melirik Ailin yang tampak tertidur, lalu dengan suara kecil ia mulai bergosip.

"Selama nyonya koma, hampir tiap hari dia datang."

"Serius?"

"Iya. Bahkan saat hujan deras kemarin dia tetap datang."

"Tuan sangat menyayangi istrinya, ya."

Perawat itu terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Tapi yang aku dengar, mereka sepertinya mau bercerai."

"Benarkah? Hm, mungkin saja mereka ada alasannya. Kita kan nggak tahu," balas temannya sambil melirik wajah Ailin.

"Sstt, yang aku dengar lagi. Nyonya Ailin ini punya orang lain di luar."

"Hah, serius?" Temannya menutup mulut dengan kaget. Ia kembali melirik Ailin, lalu memandang temannya. "Jangan keras-keras! Nanti nyonya dengar."

"Dia lagi tidur."

"Iya sih. Tapi takut aja, kan?"

"Aku juga nggak asal ngomong, kakak sepupuku kenal dekat sama dia. Jadi aku sering dengar ceritanya."

"Kalau cuma dengar cerita, jangan sembarangan! Gimana kalau nggak benar?"

"Aku juga nggak tahu sih. Tapi kalau aku yang ada di posisi dia, aku juga sepertinya nggak sanggup... kita sama-sama tahu bagaimana kondisi tuan Juan."

Temannya terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan. Merasa setuju dengan pernyataan sang rekan.

Sementara di dalam diamnya, Ailin yang sejak tadi mendengar akhirnya tidak bisa menahan lagi. Ia membuka mata perlahan, dadanya terasa sesak.

Ia sendiri bahkan belum mengenal baik Juan sebagai suami. Tapi orang asing ini bahkan sepertinya lebih tahu kehidupan rumah tangga mereka.

"Sudah selesai gosipnya?" Kedua perawat itu menoleh dengan kaget. Di sana Ailin tengah memandang dengan kedua mata merah.

"Nyo-nyonya, bukankah Anda sedang tidur?"

"Aku enggak tahu kalau pekerjaan perawat sesenggang ini. Aku bisa membuat keluhan untuk kalian, loh. Kira-kira sanksinya apa, ya?Kalau dikeluarkan, kalian pasti semakin punya banyak waktu untuk bergunjing." Ailin menopang tubuhnya, bergeser dan berusaha duduk dengan nyaman.

"Biar saya bantu!"

"Nggak perlu!" Ailin menepis tangan perawat yang lebih banyak bicara itu. Matanya menatap lencana yang terpasang di atas dada mereka.

"Siran Kong... Ziya Guan. Oke, aku sudah ingat nama kalian. Silakan keluar!" Ailin berbicara dengan acuh tak acuh. Wanita itu menatap dengan wajah sombongnya.

Sementara kedua perawat itu jelas ketakutan. Namun Siran masih ingin membela diri, seingatnya Ailin selalu membenci sang suami. "Tapi apa yang saya katakan benar. Bukankah Anda malu karena memiliki suami lumpuh? Anda bahkan tidak mau mengakui dia sebagai suami."

Ailin mendelik, ia tidak mengakui Juan? Apa benar? Bahkan diingatan yang tersisa, selalu ada kekaguman pada pria itu. Namun teringat foto pernikahan itu, ia juga jadi ragu.

"Anda bahkan punya pacar di luar."

"Kamu mengenalku?"

"Kakak sepupuku yang bilang. Kalian teman baik."

"Jadi kamu bahkan nggak tahu sendiri?"

"Sa-saya...."

"Kalian keluar!... Sebelum aku benar-benar melaporkan kalian."

"Tapi ...."

"Baik, kami keluar." Ziya menarik tangan Siran. Jika benar akhirnya harus keluar dari rumah sakit ini. Itu lebih baik daripada tidak mendapat pekerjaan selamanya. Ia sudah bersusah payah mendapatkan gelar perawat ini.

"Udah, jangan buat dia marah lagi!" bisiknya sembari menarik Siran untuk pergi.

Juan yang melihat kedua perawat itu akan keluar, segera memberi kode pada sang asisten untuk mendorong. Namun suara sang istri membuatnya kembali urung.

"Tunggu!" panggil Ailin membuat Siran dan Ziya menoleh dan tersenyum senang. Mungkin saja Ailin berubah pikiran sekarang.

Wanita itu menatap lurus. "Tentang aku dan suamiku, itu bukan urusan kalian."

"Aku nggak peduli seperti apa hubungan kami sebelumnya. Tapi memangnya kenapa kalau dia duduk di kursi roda?"

"Asal kalian tahu, dia jauh lebih baik daripada orang-orang yang sibuk mengurusi kehidupan orang lain."

"Dan kalian bahkan nggak mengenalnya. Dia juga nggak pernah ganggu hidup kalian. Jadi siapa kalian sampai merasa berhak menilainya?" Ailin menatap dengan tajam. Membuat kedua perawat itu sedikit bergidik ngeri.

"Keluarlah!"

"Ah, iya. Baik." Keduanya berbalik dan berjalan dengan cepat. Kali ini berebutan keluar dan Juan tidak sempat kabur lagi. Saat membuka pintu, mereka melihat dua pria di sana yang berekspresi canggung.

"Tuan," sapa keduanya dan langsung beranjak pergi. Sementara Juan langsung berdehem pelan. Emosinya cukup terganggu dengan pembelaan sang istri.

Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia mendengar Ailin membelanya di depan orang lain.

Anehnya, hal itu justru membuat dadanya terasa sesak. Rasa takut tiba-tiba muncul dari lubuk hati terdalamnya. Ini semua, mungkin hanya bersifat sementara.

"Tuan, kita jadi masuk?" tanya sang asisten setelah cukup lama sang tuan terdiam.

"Kau pergi bereskan mereka!" titah Juan akhirnya dan langsung menekan tuas kursinya, masuk seorang diri.

.

.

.

Episodes
1 Bab 1 ~ Orang Asing Bernama Suami
2 Bab 2 ~ Kehidupan yang Tak Kuingat
3 Bab 3 ~ Aku Cuma Ingin Mengobrol
4 Bab 4 ~ Aku Tidak Sendirian
5 Bab 5 ~ Bekas Luka yang Tak Kuingat
6 Bab 6 ~ Bukan Orang Asing Lagi
7 Bab 7 ~ Lima Tahun yang Hilang
8 Bab 8 ~ Aku Sudah Punya Anak?!
9 Bab 9 ~ Mama Jahat
10 Bab 10 ~ Air Mata Mama
11 Bab 11 ~ Kakak Enggak Mau Peluk Aku?
12 Bab 12 ~ Ini Kamar Kita
13 Bab 13 ~ Kebohongan Pertama Juan
14 Bab 14 ~ Lulu Benar
15 Bab 15 ~ Kerasukan Cinta Kakakmu
16 Bab 16 ~ Wanita yang Berbeda
17 Bab 17 ~ Mimpi yang Menyakitkan
18 Bab 18 ~ Apa Kakak Malu Padaku?
19 Bab 19 ~ Takut Hanya Mimpi
20 Bab 20 ~ Bukan Hanya untuk Lian
21 Bab 21 ~ Aku Percaya Sama Dia
22 Bab 22 ~ Ziyu
23 Bab 23 ~ Ada Manis-Manisnya
24 Bab 24 ~ Mama
25 Bab 25 ~ Apakah Aku Seburuk Itu?
26 Bab 26 ~ Dirimu Yang Sekarang
27 Bab 27 ~ Tempat Untuk Bersandar
28 Bab 28 ~ Boleh Minta Pelukan?
29 Bab 29 ~ Bibi Kecil Juga Butuh Dilindungi
30 Bab 30 ~ Pantas Disebut Mama?
31 Bab 31 ~ Aku Membencimu!
32 Bab 32 ~ Semakin Gelisah
33 Bab 33 ~ Maaf, Aku Kurang Perhatian
34 Bab 34 ~ Tujuh Hari
35 Bab 35 ~ Kakak Datang
36 Bab 36 ~ Pantas Berbeda
37 Bab 37 ~ Liya
38 Bab 38 ~ Pilihan Ailin
39 Bab 39 ~ Selalu Cantik
40 Bab 40 ~ Sisi Lain Ailin
41 Bab 41 ~ Keinginan Ailin
42 Bab 42 ~ Luka Lulu
43 Bab 43 ~ Pelukan Kakak
44 Bab 44 ~ Baik
45 Bab 45 ~ Maaf yang Tak Kuingat
46 Bab 46 ~ Mama?
47 Bab 47 ~ Ingatan
48 Bab 48 ~ Kenapa Harus Ingat?
49 Bab 49 ~ Lega
50 Bab 50 ~ Bukan Salahku
51 Bab 51 ~ Penyesalan
52 Bab 52 ~ Tatapan Juan
53 Bab 53 ~ 5 Tahun Yang Ku Sia-siakan
54 Bab 54 ~ Aku Yang Lebih Takut
55 Bab 55 ~ Milik Keluarga Orang Lain
56 Bab 56 ~ Perasaan yang Berbeda
57 Bab 57 ~ Tidak Akan membuatnya Kecewa Lagi
58 Bab 58 ~ Dia Tahu
59 Bab 59 ~ Keributan Pagi Ini
60 Bab 60 ~ Mulai Curiga
61 Bab 61 ~ Gara-gara Ailin
62 Ba 62 ~ Tidak Ada Ailin di Antara Kita
Episodes

Updated 62 Episodes

1
Bab 1 ~ Orang Asing Bernama Suami
2
Bab 2 ~ Kehidupan yang Tak Kuingat
3
Bab 3 ~ Aku Cuma Ingin Mengobrol
4
Bab 4 ~ Aku Tidak Sendirian
5
Bab 5 ~ Bekas Luka yang Tak Kuingat
6
Bab 6 ~ Bukan Orang Asing Lagi
7
Bab 7 ~ Lima Tahun yang Hilang
8
Bab 8 ~ Aku Sudah Punya Anak?!
9
Bab 9 ~ Mama Jahat
10
Bab 10 ~ Air Mata Mama
11
Bab 11 ~ Kakak Enggak Mau Peluk Aku?
12
Bab 12 ~ Ini Kamar Kita
13
Bab 13 ~ Kebohongan Pertama Juan
14
Bab 14 ~ Lulu Benar
15
Bab 15 ~ Kerasukan Cinta Kakakmu
16
Bab 16 ~ Wanita yang Berbeda
17
Bab 17 ~ Mimpi yang Menyakitkan
18
Bab 18 ~ Apa Kakak Malu Padaku?
19
Bab 19 ~ Takut Hanya Mimpi
20
Bab 20 ~ Bukan Hanya untuk Lian
21
Bab 21 ~ Aku Percaya Sama Dia
22
Bab 22 ~ Ziyu
23
Bab 23 ~ Ada Manis-Manisnya
24
Bab 24 ~ Mama
25
Bab 25 ~ Apakah Aku Seburuk Itu?
26
Bab 26 ~ Dirimu Yang Sekarang
27
Bab 27 ~ Tempat Untuk Bersandar
28
Bab 28 ~ Boleh Minta Pelukan?
29
Bab 29 ~ Bibi Kecil Juga Butuh Dilindungi
30
Bab 30 ~ Pantas Disebut Mama?
31
Bab 31 ~ Aku Membencimu!
32
Bab 32 ~ Semakin Gelisah
33
Bab 33 ~ Maaf, Aku Kurang Perhatian
34
Bab 34 ~ Tujuh Hari
35
Bab 35 ~ Kakak Datang
36
Bab 36 ~ Pantas Berbeda
37
Bab 37 ~ Liya
38
Bab 38 ~ Pilihan Ailin
39
Bab 39 ~ Selalu Cantik
40
Bab 40 ~ Sisi Lain Ailin
41
Bab 41 ~ Keinginan Ailin
42
Bab 42 ~ Luka Lulu
43
Bab 43 ~ Pelukan Kakak
44
Bab 44 ~ Baik
45
Bab 45 ~ Maaf yang Tak Kuingat
46
Bab 46 ~ Mama?
47
Bab 47 ~ Ingatan
48
Bab 48 ~ Kenapa Harus Ingat?
49
Bab 49 ~ Lega
50
Bab 50 ~ Bukan Salahku
51
Bab 51 ~ Penyesalan
52
Bab 52 ~ Tatapan Juan
53
Bab 53 ~ 5 Tahun Yang Ku Sia-siakan
54
Bab 54 ~ Aku Yang Lebih Takut
55
Bab 55 ~ Milik Keluarga Orang Lain
56
Bab 56 ~ Perasaan yang Berbeda
57
Bab 57 ~ Tidak Akan membuatnya Kecewa Lagi
58
Bab 58 ~ Dia Tahu
59
Bab 59 ~ Keributan Pagi Ini
60
Bab 60 ~ Mulai Curiga
61
Bab 61 ~ Gara-gara Ailin
62
Ba 62 ~ Tidak Ada Ailin di Antara Kita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!