Bab 3 ~ Aku Cuma Ingin Mengobrol

Ketika mendengar suara lagi, Ailin mengira kedua perawat itu kembali. Wanita itu sudah memasang wajah tidak bersahabat saat melihat siapa di balik pintu itu. Hingga yang muncul membuat wajah itu berubah kaget.

"Dia ... enggak dengar, kan?" gumam wanita itu tegang. Namun ekspresi tenang dan datar Juan membuat keresahan itu menghilang perlahan.

Sementara Juan bergerak lurus ke arah meja, berhenti di sana dan membuka laptop seperti biasa. Tangannya bergerak di atas keyboard dengan lincah, memeriksa berbagai pekerjaannya yang sempat tertunda karena kecelakaan sang istri.

"Hem, Kakak dari mana saja?" tanya Ailin setelah Juan tidak kunjung membuka suara. Padahal sudah beberapa menit sejak pria itu masuk, Ailin pun jadi tidak sabar menunggu lagi.

Sementara yang ditanya perlahan mendongak, menoleh ke arah Ailin dan menatap lurus. "Sarapan," balasnya singkat namun membuat Ailin merasa lebih tenang.

Juan masih seperti biasa, berbicara seperlunya dengan wajah datar. Pria itu pasti tidak mendengar perkataannya tadi.

"Kakak ... enggak pulang?"

"Enggak, jagain kamu."

Ailin sempat terpanah, namun akhirnya ia hanya mengejek pelan. "Jagain aku tapi fokus sama laptop. Lebih baik enggak perlu!"

"Kalau enggak perlu, aku akan pulang."

"Kakak dengar? Hehe, aku cuma bercanda, kok."

"Baiklah." Juan menatap sang istri sebentar, lalu kembali fokus pada laptop di pangkuannya.

Ailin yang lagi-lagi diabaikan memilih kembali tiduran. Mencoba terlelap namun tetap saja tidak ada kantuk yang melanda. Justru ia semakin merasa kebosanan, tubuhnya ia putar sana sini. Nanti ke kiri, nanti lurus, nanti ke kanan. Hingga beberapa kali ia memutuskan berhenti untuk menatap sang suami.

Ia terpaku, wajah itu masih tetap sama tampannya, walau sekarang terlihat lebih dewasa. Namun sayang sekali tubuh jangkung yang dulu lebih tinggi dari kakaknya, kini harus terjebak di atas kursi beroda itu.

"Sebenarnya kenapa dia bisa lumpuh?" batin Ailin penasaran. Ia ingin bertanya, namun mengingat penghinaan dua perawat tadi. Juan juga pasti sering mendengar dari orang lain. Ia tidak ingin pria itu kembali bersedih karena diingatkan olehnya.

Jadi ia buang jauh-jauh rasa penasaran itu untuk sekarang. Tapi tidak berarti ia tidak akan cari tahu di kemudian hari. Ia pasti akan menemukan jawabannya cepat atau lambat.

Cukup lama ia memperhatikan Juan, namun kegiatan monoton pria itu membuat rasa bosannya kembali melanda.

"Kak, aku punya ponsel, kan? Di mana?" tanya Ailin dengan wajah polosnya. Juan yang hendak mengambil ponsel wanita itu urung. Tangannya beralih mengambil ponselnya sendiri. Lalu bergerak menuju brankar wanita itu.

"Ponselmu rusak saat kecelakaan. Pakai punyaku dulu. Kalau sudah boleh pulang, akan aku belikan yang baru," ujarnya sembari menyodorkan benda persegi panjang berwarna hitam mengkilap.

Ailin mengangguk, menerima ponsel sang suami. "Yang tadi bukan punyaku?" tanyanya yang sempat melihat Juan hendak mengambil ponsel yang lain.

"... Itu punyaku juga. Untuk urusan pekerjaan." Setelahnya ia kembali ke depan meja, berkutat dengan laptopnya lagi.

Keduanya akhirnya terdiam beberapa saat, namun Ailin yang tengah menggeser-geser layar ponsel, mengerutkan kening dengan dalam. "Yang tadi untuk pekerjaan, jadi yang ini pribadi? Tapi ini enggak ada bedanya."

Ia bergerutu sendiri. Isi ponsel Juan benar-benar membosankan sama seperti orangnya. Bahkan gim pun tidak ada.

"Oh, ada ini." Ia berujar senang. Setidaknya ada satu aplikasi hiburan. Dengan semangat ia membukanya, namun wajah ceria itu berubah setelah beberapa kali geser layar.

"Membosankan." Hanya kata itu yang sanggup ia ucapkan. Aplikasi yang ia kira selalu berisi video-video lucu yang sering ia tonton ternyata juga bisa berisi tentang materi keuangan, bisnis, investasi dan sejenisnya.

Dengan kesal ia menaruh ponsel ke atas nakas. Lalu kembali menatap Juan yang masih sibuk di hadapan laptop. Ia mengerucutkan bibir.

"Kak, aku mau minum." Juan kembali mengalihkan atensinya pada sang istri. Namun tatapannya bergeser pada air minum di atas nakas. Menyadarinya, Ailin tersenyum malu.

Ia lalu mengangkat tangannya untuk menggapai gelas itu, namun baru setengah suara berdesis terdengar. "Sshh, tanganku masih diinfus. Sakit," ujarnya dengan wajah memelas.

Juan mengernyit, menekan tuas kontrolnya untuk kembali mendekati brankar.

"Ini, minumlah!" pintanya sembari mengulurkan gelas minumnya.

"Tambahin sedotan!" Juan menurut, menaruh sedotan ke dalam gelas dan kembali menyodorkannya.

"Lebih dekat lagi!" Lagi-lagi pria itu menurut, menyodor lebih dekat untuk sang istri.

"Haish." Ailin meraih gelas itu beserta tangan sang suami. Ia menggenggamnya, menarik hingga dekat ke bibirnya sendiri. Lalu menyedot beberapa tegukan.

"Terima kasih," ucapnya sembari tersenyum manis.

Sementara Juan cepat-cepat menarik tangannya. Ia menaruh gelas kembali ke atas nakas, lalu bergerak kembali ke depan meja.

Perasaannya semakin tidak karuan. Sikap sang istri yang seperti ini diam-diam mengusiknya. Di antara senang dan takut.

Sementara Ailin yang tidak menyadari, memutar kepala untuk melihat seisi ruangan. Siapa tahu ada hal menarik untuk menghindar dari kejenuhan. Namun berusaha pun tak membuahkan hasil, ia tetap kebosanan sekarang.

"Ck, membosankan." Wanita itu mengembungkan pipinya sebal. Ia kembali memutar tubuh ke sana sini, lalu berhenti untuk menatap sang suami lagi.

"Kak ... naikin brankar aku, dong!" pintanya lengkap dengan wajah memelas lagi. Juan mengangguk, bergerak kembali ke arahnya dan memutar tuas di bawah brankar.

"Sudah cukup?"

"Sedikit lebih tinggi!"

"Sudah?"

"Ketinggian."

"Begini sudah?"

"Hehe, sepertinya yang tadi lebih pas, Kak." Juan kali ini menatap wanita itu lama. Membuat Ailin jadi salah tingkah sendiri.

"Sedikit lagiii saja lebih tinggi!" pintanya dengan senyuman lebar namun wajah tidak enak hati. Juan mengangguk, memutar tuas sekali lagi dan mendongak pada sang istri.

"Sudah. Sudah pas." Kali ini ia tidak ingin mengerjai Juan lagi, karena tatapan pria itu tadi seperti bisa menembus ke jantungnya. Sangat tidak sehat untuk organ tubuhnya itu.

Juan pun kembali mengangguk, memutar kembali kursi rodanya lalu bekerja dengan serius lagi. Cukup tenang karena Ailin tak lagi berisik, namun ternyata itu hanya sesaat. Setelahnya terdengar lagi suara lembut yang sangat kontras dengan yang sering ia dengar dulu.

"Kak, aku mau baca koran itu." Juan mengambilkan.

Setelah beberapa saat. "Kak, aku mau minum lagi."

"Bukannya tadi kamu baru minum?"

"Kakak nggak tahu saja. Aku tadi baca korannya keras-keras dalam hati. Sekarang jadi haus lagi, deh."

Juan yang mendengar jadi terpaku. Bukan karena terpukau, tapi karena tidak habis pikir dengan sang istri yang bisa bicara seperti itu dengan wajah meyakinkan. Namun akhirnya ia tetap membantu wanita itu.

"Kak, punggungku gatal." Ailin membuka mulutnya lagi setelah beberapa saat diam.

"Lalu?"

"Garukin!"

Ketika ia ingin menekan tuas, pria itu seperti tersadar sesuatu. Perlahan ia menatap wajah sang istri yang tersenyum lebar. Pria itu lalu memasang raut datar yang cukup dingin. "Kamu sengaja, ya?"

"Sengaja apa?"

"Menyuruhku bolak-balik."

"Hah?"

"Ranjang kamu sudah pas dari awal."

"Koran ada di sampingmu."

"Minum juga sebenarnya kamu bisa sendiri."

"... Kamu mempermainkanku?"

"Aku nggak ngerti."

"Kamu jelas nggak memerlukan bantuan ku."

Ailin terdiam sejenak. Senyum lebarnya perlahan menghilang. "Aku bukan mau mempermainkan Kakak."

Ia menunduk, memainkan ujung selimut dengan jemarinya. "Aku... cuma pengen Kakak ngobrol sama aku."

Kali ini Juan yang terdiam, cukup lama hingga akhirnya ia menutup laptop di pangkuannya.

Bunyi klik kecil itu membuat Ailin mendongak.

"Mau ngobrol apa?" ujar Juan pelan.

"...."

"Aku nggak sibuk lagi."

.

.

.

Episodes
1 Bab 1 ~ Orang Asing Bernama Suami
2 Bab 2 ~ Kehidupan yang Tak Kuingat
3 Bab 3 ~ Aku Cuma Ingin Mengobrol
4 Bab 4 ~ Aku Tidak Sendirian
5 Bab 5 ~ Bekas Luka yang Tak Kuingat
6 Bab 6 ~ Bukan Orang Asing Lagi
7 Bab 7 ~ Lima Tahun yang Hilang
8 Bab 8 ~ Aku Sudah Punya Anak?!
9 Bab 9 ~ Mama Jahat
10 Bab 10 ~ Air Mata Mama
11 Bab 11 ~ Kakak Enggak Mau Peluk Aku?
12 Bab 12 ~ Ini Kamar Kita
13 Bab 13 ~ Kebohongan Pertama Juan
14 Bab 14 ~ Lulu Benar
15 Bab 15 ~ Kerasukan Cinta Kakakmu
16 Bab 16 ~ Wanita yang Berbeda
17 Bab 17 ~ Mimpi yang Menyakitkan
18 Bab 18 ~ Apa Kakak Malu Padaku?
19 Bab 19 ~ Takut Hanya Mimpi
20 Bab 20 ~ Bukan Hanya untuk Lian
21 Bab 21 ~ Aku Percaya Sama Dia
22 Bab 22 ~ Ziyu
23 Bab 23 ~ Ada Manis-Manisnya
24 Bab 24 ~ Mama
25 Bab 25 ~ Apakah Aku Seburuk Itu?
26 Bab 26 ~ Dirimu Yang Sekarang
27 Bab 27 ~ Tempat Untuk Bersandar
28 Bab 28 ~ Boleh Minta Pelukan?
29 Bab 29 ~ Bibi Kecil Juga Butuh Dilindungi
30 Bab 30 ~ Pantas Disebut Mama?
31 Bab 31 ~ Aku Membencimu!
32 Bab 32 ~ Semakin Gelisah
33 Bab 33 ~ Maaf, Aku Kurang Perhatian
34 Bab 34 ~ Tujuh Hari
35 Bab 35 ~ Kakak Datang
36 Bab 36 ~ Pantas Berbeda
37 Bab 37 ~ Liya
38 Bab 38 ~ Pilihan Ailin
39 Bab 39 ~ Selalu Cantik
40 Bab 40 ~ Sisi Lain Ailin
41 Bab 41 ~ Keinginan Ailin
42 Bab 42 ~ Luka Lulu
43 Bab 43 ~ Pelukan Kakak
44 Bab 44 ~ Baik
45 Bab 45 ~ Maaf yang Tak Kuingat
46 Bab 46 ~ Mama?
47 Bab 47 ~ Ingatan
48 Bab 48 ~ Kenapa Harus Ingat?
49 Bab 49 ~ Lega
50 Bab 50 ~ Bukan Salahku
51 Bab 51 ~ Penyesalan
52 Bab 52 ~ Tatapan Juan
53 Bab 53 ~ 5 Tahun Yang Ku Sia-siakan
54 Bab 54 ~ Aku Yang Lebih Takut
55 Bab 55 ~ Milik Keluarga Orang Lain
56 Bab 56 ~ Perasaan yang Berbeda
57 Bab 57 ~ Tidak Akan membuatnya Kecewa Lagi
58 Bab 58 ~ Dia Tahu
59 Bab 59 ~ Keributan Pagi Ini
60 Bab 60 ~ Mulai Curiga
61 Bab 61 ~ Gara-gara Ailin
62 Ba 62 ~ Tidak Ada Ailin di Antara Kita
Episodes

Updated 62 Episodes

1
Bab 1 ~ Orang Asing Bernama Suami
2
Bab 2 ~ Kehidupan yang Tak Kuingat
3
Bab 3 ~ Aku Cuma Ingin Mengobrol
4
Bab 4 ~ Aku Tidak Sendirian
5
Bab 5 ~ Bekas Luka yang Tak Kuingat
6
Bab 6 ~ Bukan Orang Asing Lagi
7
Bab 7 ~ Lima Tahun yang Hilang
8
Bab 8 ~ Aku Sudah Punya Anak?!
9
Bab 9 ~ Mama Jahat
10
Bab 10 ~ Air Mata Mama
11
Bab 11 ~ Kakak Enggak Mau Peluk Aku?
12
Bab 12 ~ Ini Kamar Kita
13
Bab 13 ~ Kebohongan Pertama Juan
14
Bab 14 ~ Lulu Benar
15
Bab 15 ~ Kerasukan Cinta Kakakmu
16
Bab 16 ~ Wanita yang Berbeda
17
Bab 17 ~ Mimpi yang Menyakitkan
18
Bab 18 ~ Apa Kakak Malu Padaku?
19
Bab 19 ~ Takut Hanya Mimpi
20
Bab 20 ~ Bukan Hanya untuk Lian
21
Bab 21 ~ Aku Percaya Sama Dia
22
Bab 22 ~ Ziyu
23
Bab 23 ~ Ada Manis-Manisnya
24
Bab 24 ~ Mama
25
Bab 25 ~ Apakah Aku Seburuk Itu?
26
Bab 26 ~ Dirimu Yang Sekarang
27
Bab 27 ~ Tempat Untuk Bersandar
28
Bab 28 ~ Boleh Minta Pelukan?
29
Bab 29 ~ Bibi Kecil Juga Butuh Dilindungi
30
Bab 30 ~ Pantas Disebut Mama?
31
Bab 31 ~ Aku Membencimu!
32
Bab 32 ~ Semakin Gelisah
33
Bab 33 ~ Maaf, Aku Kurang Perhatian
34
Bab 34 ~ Tujuh Hari
35
Bab 35 ~ Kakak Datang
36
Bab 36 ~ Pantas Berbeda
37
Bab 37 ~ Liya
38
Bab 38 ~ Pilihan Ailin
39
Bab 39 ~ Selalu Cantik
40
Bab 40 ~ Sisi Lain Ailin
41
Bab 41 ~ Keinginan Ailin
42
Bab 42 ~ Luka Lulu
43
Bab 43 ~ Pelukan Kakak
44
Bab 44 ~ Baik
45
Bab 45 ~ Maaf yang Tak Kuingat
46
Bab 46 ~ Mama?
47
Bab 47 ~ Ingatan
48
Bab 48 ~ Kenapa Harus Ingat?
49
Bab 49 ~ Lega
50
Bab 50 ~ Bukan Salahku
51
Bab 51 ~ Penyesalan
52
Bab 52 ~ Tatapan Juan
53
Bab 53 ~ 5 Tahun Yang Ku Sia-siakan
54
Bab 54 ~ Aku Yang Lebih Takut
55
Bab 55 ~ Milik Keluarga Orang Lain
56
Bab 56 ~ Perasaan yang Berbeda
57
Bab 57 ~ Tidak Akan membuatnya Kecewa Lagi
58
Bab 58 ~ Dia Tahu
59
Bab 59 ~ Keributan Pagi Ini
60
Bab 60 ~ Mulai Curiga
61
Bab 61 ~ Gara-gara Ailin
62
Ba 62 ~ Tidak Ada Ailin di Antara Kita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!