Forget Hate, Remember Love

Forget Hate, Remember Love

Bab 1 ~ Orang Asing Bernama Suami

WARNING!

SLOW BURN ROMANCE.

.

.

.

Saat membuka mata, Ailin Shen seperti melihat dunia lain. Langit-langit berwarna putih, tirai putih, sprei putih. Semuanya serba putih hingga ia berpikir apakah ia telah mati.

"Sudah sadar?" Suara pelan nan dingin itu membuat Ailin menoleh. Ia menatap pria di sampingnya, namun tidak mengatakan apa-apa.

"Aku akan memanggil dokter." Pria itu menekan sesuatu, lalu berjalan sembari duduk. Apa? Berjalan sambil duduk? Ailin yang sempat menoleh ke tempat lain kembali mencari keberadaannya. Ternyata pria yang tampak tampan itu duduk di atas kursi roda. Hampir saja ia mengira dirinya telah gila, sampai bisa melihat orang berjalan sambil duduk.

Ia kembali memejam, merasakan tubuhnya yang begitu lemah. Juga kepalanya yang sakit luar biasa.

"Padahal dia bisa suruh suster saja," batinnya. Berpikir pria itu kenapa repot-repot sampai harus keluar sendiri.

Hingga beberapa saat kemudian akhirnya seorang dokter bersama dua perawat masuk. Memeriksa dirinya, tetapi pria itu tidak lagi terlihat. Ailin menoleh ke arah pintu, berharap dia datang lagi. Namun hingga pemeriksaan selesai, dia tidak juga muncul.

"Nyonya sedang menunggu tuan Juan, ya?" Seorang perawat mencoba bertanya padanya. Ia tersenyum ramah, namun Ailin belum bisa menjawab. Mulut dan lidahnya masih terasa kaku.

"Suami Anda sedang berbicara dengan seseorang di luar. Mungkin sebentar lagi akan kembali."

"Sua-mi?" Akhirnya ia bisa mengeluarkan suara walau dengan paksa. Suara yang terdengar serak.

"Iya, suami Nyonya, tuan Juan Xie."

"Aku? Su-dah ber-sua-mi?" tanya Ailin lagi. Kali ini kebingungan di wajahnya membuat sang perawat saling memandang dengan dokter dan perawat satunya. Lalu ketiganya kembali menatap Ailin yang wajahnya tampak penuh pertanyaan.

"Dia beneran suamiku?" tanya wanita itu dengan suara rendah yang lebih lancar.

"Benar, Nyonya."

Ailin terdiam, membuat ketiga orang di sana ikut hening. Hingga tiba-tiba wanita itu tertawa kecil.

"Sejak kapan? ... Tapi kalau memang benar, ternyata aku selera cowoknya bagus juga," ujarnya dengan senyum bangga. Kali ini perawat dan dokter di sana yang gantian mengerutkan kening bingung.

...

Saat Juan kembali, dokter dan perawat telah meninggalkan ruangan. Pria itu membawa sebuah dokumen di atas pangkuan, dokumen yang telah berbulan-bulan ia abaikan. Namun dengan enggan ia setujui pada akhirnya.

Sementara Ailin yang telah duduk sembari bersandar itu sedikit senang melihatnya. Setidaknya sejak sadar hanya pria ini yang ada di dekatnya. Sedangkan keluarganya sendiri tidak terlihat satu pun.

"Aku sudah tanda tangan," ujar pria itu rendah, dengan tangan sedikit bergetar ia mengulurkan dokumen yang sejak tadi ia bawa.

Ailin mengerutkan kening, mengambil dokumen dari tangan sang suami sembari bertanya, "Tanda tangan apa?"

"Permohonan cerai."

"Ce-rai?" Ailin menatap pria di sampingnya itu tidak percaya.

"Ya, kamu ... pasti senang."

"Senang? ... enggak, aku baru sadar. Masih bingung, masih syok sudah menikah. Sekarang ditambah ce-rai?"

Juan mengerutkan alis, istrinya ini tampak tidak senang? Pria itu akhirnya menarik napas berat. "Bukankah ini keinginanmu? Sekarang, aku sudah mengabulkannya."

"Haish, aku saja masih kurang percaya sudah menikah denganmu, apalagi mau cerai ... Kak Juan."

Juan mengernyit, membalas tatapan Ailin yang bingung dan polos namun asing itu. "Kamu panggil aku apa?"

"Kakak Juan. Aku sudah ingat, kamu sahabat kakakku yang pendiam tapi suka aku jahilin."

Untuk sesaat, Juan seperti lupa caranya bernapas. Pria itu menatap sang istri, melihat wajah yang selama bertahun-tahun ini menatapnya penuh kebencian. Dan sekarang ... sorot hangat dan panggilan itu?

"Kak Juan?" Panggilan itu menyadarkan lamunan sang pria. Ia berdehem pelan, menarik napas dengan sedikit tidak beraturan.

"Aku keluar sebentar." Juan cepat-cepat menekan tuas kontrol kursi rodanya, melaju meninggalkan Ailin yang bergerutu sendiri. "Heh, jangan pergi!"

...

Ceklek.

"Kau!" Dokter Zilan Ye yang tengah memeriksa rekap pasien itu memandang Juan kesal. Ia tidak menyambut, tetap duduk di depan meja kerjanya.

"Ada apa dengan dia?" tanya Juan tanpa basa-basi. Pria itu mendekat, berhenti di samping meja Zilan dan menatapnya dengan serius.

Sementara Zilan menghela napas berat dulu. "Istrimu sudah sadar dan secara fisik kondisinya stabil. Tapi hasil pemeriksaan kami menunjukkan adanya amnesia."

Juan mengerutkan alis. "Amnesia?"

"Iya, hilang ingatan sebagian. Dalam kasus Ailin, kami perkirakan dia kehilangan memori sekitar lima tahun terakhir.”

"…Lima tahun?"

Zilan mengangguk pelan. "Hem, dia masih ingat hal-hal sebelum itu, keluarga, rumah lama, sekolah lamanya. Tapi memori setelah periode itu… hilang. Untuknya, waktu seolah berhenti lima tahun lalu. Dia bahkan bilang masih berusia 17 tahun saat ditanya."

Juan bergeming sejenak, tanpa sadar jari-jarinya mencengkeram sandaran kursi roda sampai buku-buku jarinya memucat. "Jadi… dia nggak ingat apa yang terjadi di lima tahun terakhir?"

"Belum tentu hilang sepenuhnya. Tapi, kemungkinan besar, dia tidak mengenalimu dan anak-anakmu seperti dulu."

"Apa ... ingatannya bisa kembali?"

"Kemungkinan itu ada. Tapi aku harus jujur, tidak ada waktu pasti. Bisa beberapa minggu, bulan… bahkan tahun. Kadang sebagian ingatan kembali perlahan, kadang tidak sama sekali."

Juan kembali terdiam, kedua matanya tampak kosong dengan pikiran melayang jauh.

"Juan?"

"Hm?"

"Aku bukannya senang melihat istrimu mendapat musibah. Tapi dengan dia tidak mengingat sekarang ...."

"Aku mengerti maksudmu. Tapi ... kalau nanti saat dia ingat?"

"Aku tidak mau terlalu banyak berharap dulu."

...

Di dalam ruangannya, Ailin yang ditinggal menggerutu beberapa saat. Wanita itu lalu menyadari sesuatu yang ia pegang. Tangannya bergerak untuk membuka dokumen, hingga muncul sebuah kertas bertuliskan permohonan cerai.

Keningnya mengernyit, melihat dengan tajam tanda tangan yang telah ia sendiri bubuhkan. "Kak Juan sudah bagus, kenapa aku mau cerai? Dasar Ailin, jadi orang yang pas-pas saja! Jangan rakus-rakus!"

Ia lalu membolak-balikkan kertas, melihat sesuatu yang terselip. Dengan penasaran, wanita itu mengambilnya. "Wah, foto nikah. Jadi aku beneran istrinya?"

"Eh, tapi ini Kak Juan lagi senyum malu-malu." Ailin memiringkan kepala, mengerutkan kening tampak berpikir keras.

Lalu jarinya mengetuk-ngetuk wajahnya sendiri di foto itu. "Aku kok malah pasang muka seperti mau ke medan perang, sih?"

Tatapannya turun ke surat cerai di pangkuannya. Kemudian kembali ke foto itu.

"Jangan-jangan..."

Senyumnya perlahan memudar.

"Aku memang dipaksa nikah?"

.

.

.

Hai semuanya!

Selamat datang di perjalanan Juan dan Ailin.

Kalau suka ceritanya, jangan lupa tinggalkan like dan komentar. ❤️

Oh ya, buat yang merasa pernah baca, kalian nggak salah kok. Ini versi revisi yang author tulis ulang dengan beberapa perubahan pada alur cerita.

Selamat membaca.

See you next chapter.

Terpopuler

Comments

falea sezi

falea sezi

baru nyimak klo bagus q ksih hadiah🤭

2026-06-13

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 ~ Orang Asing Bernama Suami
2 Bab 2 ~ Kehidupan yang Tak Kuingat
3 Bab 3 ~ Aku Cuma Ingin Mengobrol
4 Bab 4 ~ Aku Tidak Sendirian
5 Bab 5 ~ Bekas Luka yang Tak Kuingat
6 Bab 6 ~ Bukan Orang Asing Lagi
7 Bab 7 ~ Lima Tahun yang Hilang
8 Bab 8 ~ Aku Sudah Punya Anak?!
9 Bab 9 ~ Mama Jahat
10 Bab 10 ~ Air Mata Mama
11 Bab 11 ~ Kakak Enggak Mau Peluk Aku?
12 Bab 12 ~ Ini Kamar Kita
13 Bab 13 ~ Kebohongan Pertama Juan
14 Bab 14 ~ Lulu Benar
15 Bab 15 ~ Kerasukan Cinta Kakakmu
16 Bab 16 ~ Wanita yang Berbeda
17 Bab 17 ~ Mimpi yang Menyakitkan
18 Bab 18 ~ Apa Kakak Malu Padaku?
19 Bab 19 ~ Takut Hanya Mimpi
20 Bab 20 ~ Bukan Hanya untuk Lian
21 Bab 21 ~ Aku Percaya Sama Dia
22 Bab 22 ~ Ziyu
23 Bab 23 ~ Ada Manis-Manisnya
24 Bab 24 ~ Mama
25 Bab 25 ~ Apakah Aku Seburuk Itu?
26 Bab 26 ~ Dirimu Yang Sekarang
27 Bab 27 ~ Tempat Untuk Bersandar
28 Bab 28 ~ Boleh Minta Pelukan?
29 Bab 29 ~ Bibi Kecil Juga Butuh Dilindungi
30 Bab 30 ~ Pantas Disebut Mama?
31 Bab 31 ~ Aku Membencimu!
32 Bab 32 ~ Semakin Gelisah
33 Bab 33 ~ Maaf, Aku Kurang Perhatian
34 Bab 34 ~ Tujuh Hari
35 Bab 35 ~ Kakak Datang
36 Bab 36 ~ Pantas Berbeda
37 Bab 37 ~ Liya
38 Bab 38 ~ Pilihan Ailin
39 Bab 39 ~ Selalu Cantik
40 Bab 40 ~ Sisi Lain Ailin
41 Bab 41 ~ Keinginan Ailin
42 Bab 42 ~ Luka Lulu
43 Bab 43 ~ Pelukan Kakak
44 Bab 44 ~ Baik
45 Bab 45 ~ Maaf yang Tak Kuingat
46 Bab 46 ~ Mama?
47 Bab 47 ~ Ingatan
48 Bab 48 ~ Kenapa Harus Ingat?
49 Bab 49 ~ Lega
50 Bab 50 ~ Bukan Salahku
51 Bab 51 ~ Penyesalan
52 Bab 52 ~ Tatapan Juan
53 Bab 53 ~ 5 Tahun Yang Ku Sia-siakan
54 Bab 54 ~ Aku Yang Lebih Takut
55 Bab 55 ~ Milik Keluarga Orang Lain
56 Bab 56 ~ Perasaan yang Berbeda
57 Bab 57 ~ Tidak Akan membuatnya Kecewa Lagi
58 Bab 58 ~ Dia Tahu
59 Bab 59 ~ Keributan Pagi Ini
60 Bab 60 ~ Mulai Curiga
61 Bab 61 ~ Gara-gara Ailin
62 Ba 62 ~ Tidak Ada Ailin di Antara Kita
Episodes

Updated 62 Episodes

1
Bab 1 ~ Orang Asing Bernama Suami
2
Bab 2 ~ Kehidupan yang Tak Kuingat
3
Bab 3 ~ Aku Cuma Ingin Mengobrol
4
Bab 4 ~ Aku Tidak Sendirian
5
Bab 5 ~ Bekas Luka yang Tak Kuingat
6
Bab 6 ~ Bukan Orang Asing Lagi
7
Bab 7 ~ Lima Tahun yang Hilang
8
Bab 8 ~ Aku Sudah Punya Anak?!
9
Bab 9 ~ Mama Jahat
10
Bab 10 ~ Air Mata Mama
11
Bab 11 ~ Kakak Enggak Mau Peluk Aku?
12
Bab 12 ~ Ini Kamar Kita
13
Bab 13 ~ Kebohongan Pertama Juan
14
Bab 14 ~ Lulu Benar
15
Bab 15 ~ Kerasukan Cinta Kakakmu
16
Bab 16 ~ Wanita yang Berbeda
17
Bab 17 ~ Mimpi yang Menyakitkan
18
Bab 18 ~ Apa Kakak Malu Padaku?
19
Bab 19 ~ Takut Hanya Mimpi
20
Bab 20 ~ Bukan Hanya untuk Lian
21
Bab 21 ~ Aku Percaya Sama Dia
22
Bab 22 ~ Ziyu
23
Bab 23 ~ Ada Manis-Manisnya
24
Bab 24 ~ Mama
25
Bab 25 ~ Apakah Aku Seburuk Itu?
26
Bab 26 ~ Dirimu Yang Sekarang
27
Bab 27 ~ Tempat Untuk Bersandar
28
Bab 28 ~ Boleh Minta Pelukan?
29
Bab 29 ~ Bibi Kecil Juga Butuh Dilindungi
30
Bab 30 ~ Pantas Disebut Mama?
31
Bab 31 ~ Aku Membencimu!
32
Bab 32 ~ Semakin Gelisah
33
Bab 33 ~ Maaf, Aku Kurang Perhatian
34
Bab 34 ~ Tujuh Hari
35
Bab 35 ~ Kakak Datang
36
Bab 36 ~ Pantas Berbeda
37
Bab 37 ~ Liya
38
Bab 38 ~ Pilihan Ailin
39
Bab 39 ~ Selalu Cantik
40
Bab 40 ~ Sisi Lain Ailin
41
Bab 41 ~ Keinginan Ailin
42
Bab 42 ~ Luka Lulu
43
Bab 43 ~ Pelukan Kakak
44
Bab 44 ~ Baik
45
Bab 45 ~ Maaf yang Tak Kuingat
46
Bab 46 ~ Mama?
47
Bab 47 ~ Ingatan
48
Bab 48 ~ Kenapa Harus Ingat?
49
Bab 49 ~ Lega
50
Bab 50 ~ Bukan Salahku
51
Bab 51 ~ Penyesalan
52
Bab 52 ~ Tatapan Juan
53
Bab 53 ~ 5 Tahun Yang Ku Sia-siakan
54
Bab 54 ~ Aku Yang Lebih Takut
55
Bab 55 ~ Milik Keluarga Orang Lain
56
Bab 56 ~ Perasaan yang Berbeda
57
Bab 57 ~ Tidak Akan membuatnya Kecewa Lagi
58
Bab 58 ~ Dia Tahu
59
Bab 59 ~ Keributan Pagi Ini
60
Bab 60 ~ Mulai Curiga
61
Bab 61 ~ Gara-gara Ailin
62
Ba 62 ~ Tidak Ada Ailin di Antara Kita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!