Episode 2

Bab 2

Arga pulang pukul sebelas malam.

Nayla tahu karena ia masih duduk di ruang makan, di depan semangkuk sup ayam yang sudah dingin dan segelas teh tawar yang permukaannya tak lagi beruap. Rumah besar di Pondok Indah itu terlalu sunyi. Jam dinding berdetak, AC berdengung, dan dari halaman terdengar langkah satpam berkeliling.

Pintu utama terbuka.

Nayla tidak menoleh.

Ia mendengar suara sepatu Arga menyentuh lantai marmer, lalu berhenti sebentar di foyer. Seperti biasa, lelaki itu tidak memanggil namanya. Seperti biasa, ia melepas jas dan menyerahkannya pada asisten rumah tangga yang berjaga.

"Mbak Sari, tidak perlu. Aku yang urus," kata Nayla.

Mbak Sari menatapnya ragu dari dekat pintu dapur.

Arga juga menoleh.

Nayla berdiri, mengambil jas hitam dari tangan Mbak Sari, lalu menggantungnya di rak. Gerakannya tenang. Terlalu tenang sampai Mbak Sari makin gelisah.

"Mbak, saya ke belakang dulu, ya."

"Iya."

Setelah Mbak Sari pergi, rumah itu menyisakan dua orang yang seharusnya suami istri, tapi malam itu terasa seperti orang asing yang duduk di ruang mediasi.

Arga melonggarkan dasi. "Kamu belum tidur?"

"Aku menunggumu."

"Aku sudah bilang rapatku panjang."

"Aku tahu."

Arga duduk di ujung meja. Ia melirik makanan. "Kamu belum makan?"

Pertanyaan itu datang terlambat, tapi tetap membuat dada Nayla bergerak.

Ia tersenyum tipis. "Masih peduli?"

Alis Arga bergerak sedikit. "Apa maksudmu?"

Nayla mengambil ponsel dari meja. Ia membuka foto yang dikirim Chika, lalu mendorong ponsel itu ke depan Arga.

"Ini maksudku."

Arga melihat layar.

Wajahnya tidak banyak berubah. Itu bagian paling menyakitkan.

Kalau ia terkejut, Nayla mungkin masih bisa bernapas. Kalau ia marah, Nayla bisa percaya ada sesuatu yang salah. Tapi Arga hanya menatap foto itu, lalu mengangkat mata padanya.

"Dari mana kamu dapat ini?"

Nayla tertawa pelan. "Itu pertanyaan pertamamu?"

"Nayla."

"Chika yang kirim."

Arga mengambil ponsel itu, melihat lebih dekat. Rahangnya mengeras, tapi Nayla tidak tahu kemarahan itu untuk siapa.

"Dia juga bilang kamu sudah tahu," lanjut Nayla. "Dia bilang kamu ingin anak itu lahir."

"Kamu percaya?"

Nayla menatapnya lama.

Lucu. Arga bertanya seolah ia selama ini memberi alasan untuk dipercaya.

"Aku harus percaya apa, Mas?" tanya Nayla. "Berita kalian ada di akun gosip setiap minggu. Kamu jemput dia di bandara. Kamu antar dia ke rumah sakit. Kamu biarkan orang kantor bisik-bisik kalau dia calon Bu Arga yang sebenarnya. Aku tanya, kamu bilang aku tidak punya hak mencampuri urusanmu."

"Kamu memang tidak perlu mencampuri hal yang tidak kamu pahami."

Kalimat itu jatuh di meja seperti gelas pecah.

Nayla menggigit bagian dalam pipinya.

Ia ingin menunjukkan laporan kanker. Ia ingin berkata, aku sakit, Mas. Aku takut. Aku butuh kamu. Tapi kalimat Arga menutup semua pintu.

"Aku tidak paham karena kamu tidak pernah menjelaskan."

"Ada hal yang tidak bisa kuberitahu."

"Termasuk kalau mantan kekasihmu hamil?"

"Chika bukan mantan kekasihku."

"Bukan?" Nayla tersenyum, tapi matanya panas. "Seluruh Jakarta tahu dia cinta pertama Arga Pradipta."

"Jakarta juga percaya kamu hanya asistenku."

Nayla terdiam.

Arga tampak sadar kalimatnya terlalu tajam, tapi ia tidak menariknya kembali.

Itulah Arga. Selalu begitu. Kata-katanya seperti pintu besi. Sekali tertutup, ia berdiri di belakangnya dan menunggu orang lain yang terluka menenangkan diri sendiri.

"Jadi karena orang-orang tidak tahu aku istrimu, aku harus diam?"

"Aku tidak bilang begitu."

"Lalu apa?"

Arga berdiri. "Aku lelah. Kita bicarakan besok."

Nayla juga berdiri. Kursi bergerak mundur dan menimbulkan bunyi keras.

"Tidak. Malam ini."

Arga menatapnya. Ada kekesalan samar di wajahnya.

"Aku baru pulang dari rapat sebelas jam, Nayla."

"Aku baru pulang dari rumah sakit dengan hidup yang mungkin tinggal sebentar."

Kalimat itu hampir keluar.

Hampir.

Nayla menelannya kembali.

Ia tidak ingin mengemis belas kasihan. Tidak malam ini. Tidak setelah foto Chika. Tidak setelah Arga bertanya dari mana ia dapat laporan itu, bukan bertanya apakah hatinya hancur.

"Aku mau tanya satu hal," kata Nayla akhirnya. "Selama tiga tahun ini, aku ini apa buatmu?"

Arga diam.

Nayla menunggu.

Satu detik.

Dua detik.

Lima detik.

Jawaban tidak datang.

Ia tertawa kecil. "Sulit sekali?"

"Kamu istriku."

"Istri yang tidak boleh dikenal siapa pun."

"Itu demi keselamatanmu."

"Keselamatan dari apa?"

Arga menatapnya tajam. "Sudah kubilang, ada hal yang tidak bisa kuberitahu."

"Aku istrimu, Mas. Bukan tamu di rumah ini."

"Kalau kamu benar-benar merasa begitu, kenapa kamu selalu bertingkah seolah pernikahan ini beban?"

Nayla membeku.

"Beban?"

Arga menarik napas, seolah ia pun sudah menyimpan sesuatu terlalu lama.

"Aku mendengar ucapanmu di acara gala dua bulan lalu."

Nayla mengernyit. "Ucapan apa?"

"Kamu bilang pada beberapa perempuan bahwa kamu bertahan di dekatku karena posisiku. Karena Pradipta Group. Karena tidak semua orang bisa menjadi perempuan di sisi Arga Pradipta."

Nayla menatapnya tidak percaya.

Malam itu.

Ia ingat.

Beberapa sosialita mengejeknya sebagai asisten yang menjual diri demi naik jabatan. Mereka mengatakan perempuan seperti Nayla tidak pantas berdiri di samping Arga. Nayla, yang selama tiga tahun selalu diam demi menjaga nama Arga, akhirnya membalas dengan sarkasme.

Dan Arga mendengar bagian itu saja.

"Kamu percaya?" suara Nayla sangat pelan.

Arga tidak menjawab.

Nayla merasakan sesuatu di dadanya retak lebih dalam daripada tadi siang.

"Tiga tahun aku menunggu kamu pulang. Tiga tahun aku menahan semua pertanyaan orang. Tiga tahun aku sembunyikan nama keluargaku, pekerjaanku, semua hal tentang diriku, hanya karena kamu bilang belum aman. Lalu kamu mendengar satu kalimat yang kuucapkan untuk melawan hinaan orang, dan kamu percaya aku hanya mengincar uangmu?"

"Aku tidak bilang begitu."

"Tapi kamu memperlakukanku begitu."

Arga menunduk sebentar. "Aku marah."

"Jadi karena marah, kamu biarkan Chika berdiri di antara kita?"

"Chika tidak ada di antara kita."

"Dia mengirim laporan hamil ke istrinya Arga Pradipta, Mas. Kalau itu bukan berdiri di antara kita, lalu apa?"

Arga kembali diam.

Nayla mengangguk pelan. Jawaban sudah jelas.

Ia mengambil ponselnya dari meja.

"Besok pengacaramu akan mengirim berkas lagi?"

Mata Arga berubah. "Apa?"

"Jangan pura-pura. Aku sudah menerima tujuh draft permohonan cerai dari tim legalmu selama dua bulan ini. Mungkin besok yang kedelapan."

"Itu hanya—"

"Hanya apa? Cara menakutiku?"

Arga menggenggam tepi meja. "Aku tidak pernah memintamu menandatangani."

"Tapi kamu terus mengirimnya."

Nayla menatap lelaki yang pernah ia pilih melawan seluruh dunia.

Dulu ia mengira cinta cukup. Ia salah.

"Kirimkan yang terakhir besok," kata Nayla. "Aku akan tanda tangan."

Wajah Arga menegang.

"Nayla, jangan bicara saat emosi."

"Aku tidak emosi."

Justru itulah yang paling mengerikan.

Ia sangat tenang.

"Aku capek, Mas. Dan kali ini, aku tidak mau menunggu kamu menjelaskan hal-hal yang tidak pernah kamu anggap pantas kuketahui."

Nayla berbalik menuju tangga.

Arga memanggil, "Nayla."

Ia berhenti, tapi tidak menoleh.

"Kalau kamu pergi sekarang, jangan berharap semuanya bisa kembali seperti semula."

Nayla memejamkan mata.

Dulu ancaman seperti itu akan membuatnya berbalik. Malam ini tidak.

"Justru itu yang kuinginkan," jawabnya.

Lalu ia naik ke kamar, meninggalkan Arga di ruang makan bersama sup ayam yang dingin dan sebuah pernikahan yang akhirnya berhenti berpura-pura hidup.

Arga tidak segera menyusul.

Ia berdiri di tempat yang sama, menatap tangga tempat Nayla menghilang. Di kepalanya, masih ada kalimat terakhir Nayla. Justru itu yang kuinginkan.

Seharusnya ia marah.

Biasanya ia marah saat Nayla membantah. Biasanya ia merasa Nayla terlalu emosional, terlalu ingin masuk ke wilayah yang belum boleh ia sentuh. Namun malam itu ada sesuatu yang berbeda. Nayla tidak membanting pintu. Tidak menangis. Tidak memohon.

Ia pergi seperti orang yang sudah selesai menghitung kerugiannya.

Arga mengambil ponsel Nayla yang tadi sempat tertinggal di meja, lalu sadar benda itu bukan miliknya. Ia meletakkannya kembali.

Di layar yang masih menyala, foto laporan Chika terlihat sekali lagi.

Untuk pertama kalinya, Arga merasa kebisuan yang ia pilih mungkin sudah berubah menjadi senjata.

Dan senjata itu mengarah pada orang yang seharusnya ia lindungi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!