Bab 3
Pagi berikutnya, Nayla tidak turun untuk menyiapkan sarapan.
Arga menyadarinya ketika ia masuk ke ruang makan dan hanya menemukan Mbak Sari berdiri gugup di samping meja. Biasanya, Nayla sudah ada di sana. Kadang ia membaca jadwal di tablet, kadang menandai dokumen dengan pena merah, kadang hanya duduk sambil minum teh hangat karena maagnya kambuh.
Hari itu kursinya kosong.
"Ibu Nayla belum turun, Pak," kata Mbak Sari hati-hati.
Arga melirik jam. "Dia sakit?"
"Saya tidak tahu, Pak. Saya ketuk pintu tadi, tidak dijawab."
Tangan Arga yang hendak mengambil kopi berhenti.
Tidak dijawab?
Nayla bukan tipe orang yang membuat orang rumah khawatir. Sekalipun demam, ia tetap membalas. Sekalipun marah, ia tetap tahu sopan santun pada orang yang tidak bersalah.
Arga berbalik menuju tangga.
Ia mengetuk pintu kamar utama.
"Nayla."
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi. "Nayla, buka pintunya."
Masih sunyi.
Arga memasukkan sandi pintu. Pintu terbuka.
Kamar itu rapi.
Terlalu rapi.
Tempat tidur sudah dibereskan. Meja rias bersih. Lemari di sisi kanan terbuka sedikit. Arga berjalan ke sana dan menarik pintu lemari.
Beberapa pakaian Nayla hilang.
Tidak banyak. Justru itu yang membuat perasaan Arga tak enak. Seolah ia tidak sedang pindah rumah, hanya mengambil yang benar-benar miliknya, lalu meninggalkan sisanya karena tidak lagi ingin membawa kenangan.
Di meja kecil dekat jendela, ada amplop cokelat.
Arga mengambilnya.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen: kartu akses rumah, kartu akses kantor, kartu kredit tambahan atas namanya, dan cincin tipis yang selama ini Nayla pakai hanya di rumah.
Arga menatap cincin itu.
Dadanya tiba-tiba terasa ditekan.
Di bawah cincin, ada secarik kertas.
Tulisan Nayla rapi.
Mas Arga,
Aku tidak membawa apa pun yang bukan milikku.
Untuk proses hukum, kirimkan berkas ke emailku.
Mulai hari ini, aku tidak akan datang ke kantor.
Jangan mencariku kalau hanya ingin marah.
Nayla.
Arga membaca surat itu dua kali.
Jangan mencariku kalau hanya ingin marah.
Ia meremas kertas itu, lalu segera merapikannya lagi, seolah bekas kusut bisa membuat kalimatnya berubah.
Ponselnya bergetar.
Nama yang muncul: Dimas, kepala legal Pradipta Group.
Arga mengangkat dengan suara rendah. "Apa?"
"Pak, maaf mengganggu pagi-pagi. Draft permohonan cerai yang Bapak minta revisi kemarin sudah selesai. Apakah perlu saya kirim ke Ibu Nayla hari ini?"
Arga diam.
Kemarin, sebelum pulang, ia memang meminta Dimas menyiapkan versi terakhir. Ia sedang marah. Marah karena Nayla mempertanyakan Chika, marah karena ucapan di gala itu masih mengganggunya, marah karena setiap kali melihat Nayla menatapnya dengan mata kecewa, ia merasa seperti orang yang kalah.
Ia tidak benar-benar ingin bercerai.
Setidaknya, itulah yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri.
Dokumen itu hanya tekanan.
Hanya cara untuk membuat Nayla berhenti menantangnya.
Namun sekarang Nayla pergi sebelum dokumen itu dikirim.
"Pak?" suara Dimas terdengar lagi.
Arga menutup mata sebentar. "Kirim."
Hening di seberang.
"Ke email pribadi Bu Nayla?"
"Ya."
"Baik, Pak."
Panggilan berakhir.
Arga berdiri di tengah kamar yang mendadak terasa asing. Ia ingin menelepon Nayla, tapi harga dirinya menghalangi. Ia ingin bertanya di mana dia, tapi surat itu seolah menampar lebih dulu.
Jangan mencariku kalau hanya ingin marah.
Apa dia hanya marah?
Arga menuruni tangga dengan wajah dingin. Mbak Sari menatapnya dari dapur, tapi tidak berani bicara.
"Kalau Bu Nayla kembali, hubungi saya," kata Arga.
Mbak Sari ragu. "Pak, Ibu pergi?"
Arga menatapnya.
Mbak Sari langsung menunduk. "Baik, Pak."
Arga pergi ke kantor tanpa sarapan.
Di mobil, sopir beberapa kali melirik lewat kaca spion. Biasanya Nayla yang mengatur rute, mengingatkan jadwal, bahkan menyiapkan obat maag di kotak kecil dalam tas kerja Arga. Hari ini, kursi di sebelahnya kosong.
Arga membuka ponsel.
Chat terakhir dengan Nayla terjadi tiga hari lalu.
Nayla:
Mas, nanti malam makan di rumah? Aku masak sup ayam.
Ia tidak membalas.
Di bawahnya, pesan kemarin.
Nayla:
Aku izin ke rumah sakit pagi ini. Maagku kambuh.
Ia juga tidak membalas.
Arga mengunci layar.
Beberapa menit kemudian, ia membukanya lagi.
Ia menekan nama Nayla.
Panggilan tidak tersambung.
Nomor tidak aktif.
Arga menatap layar. Rahangnya mengeras.
Ia mencoba lagi.
Hasilnya sama.
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang dingin merayap di belakang lehernya.
Nayla benar-benar memutus akses.
Setiba di kantor, suasana lantai direksi langsung berubah. Semua orang menyadari Bu Nayla tidak datang. Tidak ada yang berani bertanya pada Arga, tapi bisik-bisik bergerak lebih cepat daripada lift.
Dimas menunggu di depan ruang kerja.
"Pak Arga."
"Sudah dikirim?"
"Sudah, Pak. Bu Nayla juga sudah membalas."
Langkah Arga berhenti.
"Apa katanya?"
Dimas membuka tablet. "Beliau menyatakan menerima draft untuk dibaca. Beliau juga menanyakan apakah semua aset yang diberikan selama pernikahan bisa dikembalikan melalui kantor legal atau langsung ke rumah."
Arga menatap Dimas.
Dimas menelan ludah. "Beliau juga menulis bahwa beliau tidak akan menuntut nafkah, kompensasi, saham, rumah, kendaraan, atau apa pun dari Pradipta Group."
Tidak akan menuntut apa pun.
Kalimat itu seharusnya membuat proses mudah. Sangat mudah.
Namun Arga justru merasa seperti dihina.
"Dia pikir aku tidak mampu menafkahi mantan istri?"
Dimas bingung harus menjawab apa.
"Pak, secara hukum—"
"Aku tidak bertanya hukum."
Dimas menutup mulut.
Arga masuk ke ruang kerja. Di meja, folder-folder sudah menunggu. Biasanya Nayla menyusun semuanya berdasarkan prioritas. Hari ini, asistennya yang lain tampaknya mencoba meniru, tapi urutannya salah.
Arga membuka satu dokumen, lalu menutupnya lagi.
Tidak fokus.
Ia memanggil sekretaris pengganti sementara, Rani.
Rani masuk dengan gugup. "Pak?"
"Jadwal jam sepuluh?"
"Meeting dengan tim investasi, Pak."
"Materinya?"
Rani membuka tablet, agak panik. "Sebentar, Pak. Saya cek dulu."
Arga menatapnya tanpa ekspresi.
Nayla tidak pernah butuh "sebentar". Ia tahu semua. Ia bahkan tahu investor mana yang alergi kacang, komisaris mana yang harus disapa duluan, dan kapan Arga perlu kopi pahit tanpa gula.
"Keluar."
Rani membeku. "Pak?"
"Keluar."
Rani pergi hampir berlari.
Arga duduk di kursi kerjanya. Di sisi kanan meja, masih ada kotak kecil berisi obat maag yang disiapkan Nayla minggu lalu. Ia membuka kotak itu.
Ada catatan kecil.
Jangan minum kopi sebelum makan.
Arga menatap tulisan itu lama.
Pintu ruang kerja diketuk.
宋? No.
Di versi hidupnya yang sekarang, bukan Song Cheng. Namanya Bagas, asisten pribadi yang mengurus urusan luar.
"Masuk," kata Arga.
Bagas masuk membawa ponsel. "Pak, Mbak Chika ada di lobi. Katanya sudah janji dengan Bapak."
Arga mengangkat wajah.
Chika.
Nama itu datang di saat yang salah.
"Aku tidak punya janji."
"Beliau bilang soal jadwal rumah sakit Bu Ratih."
Bu Ratih.
Nama ibunya membuat Arga menahan napas. Itu alasan yang tidak bisa ia abaikan. Chika memang terhubung dengan pengobatan ibunya. Tapi hari ini, nama Chika juga berarti foto yang dikirim pada Nayla.
"Suruh naik," kata Arga akhirnya.
Bagas keluar.
Arga mengambil ponselnya dan membuka chat Nayla lagi. Ia ingin mengirim pesan. Ingin menulis bahwa laporan Chika tidak seperti yang ia pikirkan. Ingin menulis bahwa ia tidak pernah menyentuh Chika.
Tapi ia terhenti.
Kalau ia menjelaskan sekarang, terdengar seperti takut kehilangan.
Dan Arga Pradipta tidak pernah belajar mengatakan takut.
Pintu terbuka.
Chika masuk dengan gaun pastel dan senyum yang tampak terlalu lembut.
"Mas Arga."
Arga menatapnya tanpa membalas senyum.
"Kamu kirim apa ke Nayla?"
Senyum Chika membeku.
Di saat itu, Arga tahu.
Ada sesuatu yang busuk di balik wajah manis itu.
Namun Arga belum tahu seberapa jauh bau busuk itu sudah masuk ke rumahnya.
Chika menunduk di depannya, memainkan ujung tas, masih memakai wajah perempuan terluka. Dulu Arga akan mengakhiri percakapan seperti ini dengan keputusan bisnis: batalkan, pindahkan, selesaikan lewat legal. Tapi kali ini ada Nayla di tengahnya.
Dan setiap kali nama Nayla muncul, semua keputusan yang dulu mudah menjadi terlambat.
"Mas," kata Chika lirih, "aku tidak punya niat jahat."
Arga menatapnya.
Di masa lalu, ia mungkin membiarkan kalimat itu lewat.
Pagi itu tidak.
"Orang yang tidak punya niat jahat tidak mengirim foto seperti itu pada istri orang."
Chika mengangkat wajah. Matanya tampak basah, tapi Arga akhirnya melihat sesuatu yang selama ini tertutup: perhitungan.
Ia menekan interkom.
"Bagas, tunggu di luar. Jangan biarkan siapa pun masuk."
Untuk pertama kalinya, Chika tampak benar-benar takut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments