Bab 5
Mediasi pertama berlangsung di ruang rapat kecil milik kantor hukum Dimas.
Nayla datang lima belas menit lebih awal.
Ia mengenakan kemeja putih longgar, celana bahan hitam, dan rambutnya diikat rendah. Wajahnya pucat, tapi matanya jernih. Mira duduk di sampingnya sebagai pendamping, sesekali melirik pintu dengan ekspresi siap bertengkar.
"Kalau dia ngomong macam-macam, aku yang jawab," bisik Mira.
"Kamu jangan bikin pengacaranya trauma."
"Aku justru berharap mereka trauma."
Nayla tersenyum tipis. Senyum itu tidak sampai ke mata.
Di atas meja, ada berkas permohonan cerai, daftar aset, dan surat pernyataan Nayla bahwa ia tidak menuntut apa pun. Semuanya tersusun rapi. Terlalu rapi untuk sebuah perpisahan.
Pintu terbuka.
Arga masuk bersama Dimas dan Bagas.
Nayla tidak berdiri.
Dulu, setiap Arga masuk ruang rapat, ia selalu berdiri. Bukan karena takut, tapi karena terbiasa menjaga wibawa Arga di depan orang lain. Ia akan menarik kursi, memberi berkas, mengingatkan agenda dengan suara pelan.
Hari ini, ia hanya mengangkat mata.
Arga berhenti sebentar saat melihatnya.
Dalam seminggu, Nayla tampak lebih kurus. Atau mungkin Arga baru benar-benar memperhatikan. Tulang pipinya lebih jelas, bibirnya sedikit pucat, dan di bawah matanya ada bayangan lelah.
"Kamu sakit?" tanya Arga sebelum sempat menahan diri.
Mira langsung menyahut, "Baru sadar?"
Nayla menyentuh lengan Mira. "Mir."
Mira mendengus, tapi diam.
Arga menatap Nayla. "Jawab."
Nayla menatapnya balik. "Aku baik-baik saja."
Kalimat yang sama pernah ia ucapkan berkali-kali selama menikah. Bedanya, dulu ia berharap Arga tidak percaya. Sekarang ia berharap Arga berhenti bertanya.
Dimas berdeham. "Baik. Karena semua pihak sudah hadir, kita mulai."
Mereka duduk berhadapan.
Dimas menjelaskan prosedur. Karena pernikahan tercatat secara agama dan negara, proses resmi harus melalui pengadilan agama. Mediasi keluarga bisa dilakukan sebelum sidang, tapi jika Nayla tetap pada keputusan, berkas akan diajukan.
Nayla mendengarkan dengan tenang.
Arga tidak melepaskan pandangan darinya.
"Pihak Ibu Nayla," kata Dimas, "menyatakan tidak menuntut pembagian harta, nafkah iddah, mut'ah, atau kompensasi lain. Namun kami perlu memastikan keputusan ini diambil tanpa tekanan."
"Tanpa tekanan," jawab Nayla.
"Kamu yakin?" Arga akhirnya bicara.
Nayla menoleh padanya. "Sangat yakin."
"Kamu bisa meminta apa pun yang menjadi hakmu."
"Aku tidak mau apa pun dari kamu."
Ruang itu mendadak kaku.
Dimas pura-pura mengecek dokumen. Bagas menunduk. Mira menatap Arga seperti ingin melempar botol air mineral.
Arga menahan napas.
"Jangan bicara seolah aku tidak pernah memberimu apa pun."
Nayla tersenyum. "Aku tidak bilang begitu."
"Tapi nadamu begitu."
"Kalau kamu merasa tersindir, mungkin karena kamu tahu yang kamu beri tidak pernah benar-benar menjawab yang kubutuhkan."
Arga diam.
Mira nyaris bertepuk tangan, tapi Nayla meliriknya cepat.
Dimas mencoba membawa kembali pembicaraan. "Untuk tempat tinggal, Ibu Nayla menyatakan sudah keluar dari rumah Pondok Indah dan tidak akan kembali selama proses berjalan."
"Aku tidak setuju," kata Arga.
Nayla menatapnya. "Itu bukan hal yang perlu persetujuanmu."
"Kamu istriku."
"Di dokumen, iya."
Arga tersentak halus.
Nayla melanjutkan, "Dalam hidup sehari-hari, aku sudah lama seperti pegawai rumah yang punya akses kamar utama."
"Jangan rendahkan pernikahan kita."
"Aku tidak merendahkan. Aku sedang menyebut bentuknya."
"Nayla."
"Mas Arga." Untuk pertama kalinya hari itu, suaranya sedikit bergetar. "Aku tidak ingin bertengkar. Aku datang untuk menyelesaikan."
"Aku belum ingin selesai."
Kalimat itu membuat Nayla menatapnya lebih lama.
Mira juga terkejut. Dimas bahkan berhenti mengetik.
Arga sendiri tampak seperti baru sadar apa yang ia katakan.
Nayla pelan-pelan bertanya, "Kenapa?"
Arga membuka mulut.
Karena aku tidak bisa tidur di rumah itu.
Karena semua jadwalku berantakan tanpamu.
Karena aku terus menatap kursimu.
Karena saat Chika berdiri di depanku, aku hanya marah karena dia menyakitimu.
Karena aku takut kamu benar-benar pergi.
Semua kalimat itu berputar di kepalanya.
Yang keluar hanya, "Kita bisa bicara."
Nayla tertawa kecil.
Ia tidak bermaksud tertawa, tapi suara itu keluar sendiri.
"Tiga tahun aku minta bicara, Mas."
Arga kehilangan kata.
"Tiga tahun," ulang Nayla. "Setiap kali aku tanya, kamu bilang belum waktunya. Setiap kali aku terluka, kamu bilang aku tidak paham. Setiap kali aku ingin masuk ke hidupmu, kamu menutup pintu. Sekarang aku sudah di luar, kamu baru bilang kita bisa bicara?"
Mira menunduk, matanya merah.
Nayla mengambil pena.
"Aku tanda tangan di sini?"
Dimas ragu menatap Arga.
Arga berkata, "Jangan."
Nayla tetap menandatangani.
Goresan pena itu terdengar kecil, tapi bagi Arga seperti pintu besi yang terkunci.
Setelah selesai, Nayla mendorong dokumen ke tengah meja.
"Aku setuju proses dilanjutkan."
Dimas menerima berkas dengan hati-hati.
Arga berdiri tiba-tiba.
Kursinya terdorong ke belakang.
"Aku minta waktu bicara berdua."
Mira langsung berdiri juga. "Tidak."
Nayla menyentuh tangannya. "Tidak apa-apa."
"Nay."
"Lima menit saja."
Mira jelas tidak setuju, tapi akhirnya keluar bersama Dimas dan Bagas. Pintu tertutup, menyisakan Arga dan Nayla di ruang rapat.
Arga berjalan mendekat, tapi Nayla mengangkat tangan.
"Di situ saja."
Langkah Arga berhenti.
Nayla menatapnya. "Apa yang mau kamu katakan?"
"Laporan Chika palsu."
Nayla tidak bereaksi banyak.
Arga melanjutkan cepat, "Aku sedang memeriksanya. Nomor registrasinya tidak cocok. Aku tidak pernah menyentuh dia. Semua kedekatan kami karena urusan ibuku."
"Ibumu?"
Arga terdiam.
Ia belum siap membongkar itu. Tapi jika ia berhenti sekarang, semuanya akan kembali menjadi rahasia yang sama.
"Ibuku belum meninggal," katanya akhirnya.
Untuk pertama kalinya, ekspresi Nayla berubah jelas.
"Apa?"
"Dia hidup. Tinggal di tempat aman. Ada alasan keluarga kenapa aku menyembunyikannya."
Nayla menatapnya seperti menatap orang asing.
"Tiga tahun," katanya pelan. "Istrimu bahkan tidak tahu ibumu masih hidup."
"Aku ingin memberitahumu."
"Kapan?"
Arga tidak menjawab.
Nayla mengangguk, seolah jawaban itu sudah cukup.
"Terima kasih sudah menjelaskan soal Chika."
"Nayla—"
"Tapi itu tidak mengubah keputusanku."
Arga mendekat satu langkah. "Kenapa?"
Mata Nayla memerah, tapi ia tidak menangis.
"Karena masalah kita bukan cuma Chika. Masalah kita adalah kamu baru jujur ketika aku sudah pergi."
Arga seperti kehabisan udara.
Nayla mengambil tasnya.
"Aku doakan ibumu sehat."
Ia berjalan ke pintu.
Arga memanggil lagi, kali ini suaranya lebih rendah.
"Aku akan mencarimu."
Nayla berhenti.
"Kalau kamu datang untuk memaksaku pulang, aku akan lapor pengacaraku."
"Kalau aku datang untuk meminta maaf?"
Nayla menoleh sedikit.
Arga berdiri di tempatnya. Wajahnya kaku, tapi matanya tidak setenang biasanya.
Untuk sesaat, Nayla melihat lelaki yang dulu ia cintai. Bukan CEO, bukan pewaris, bukan pria dingin yang selalu benar. Hanya laki-laki yang terlambat mengerti sesuatu.
Sayangnya, terlambat tetap terlambat.
"Belajarlah dulu caranya," kata Nayla.
Lalu ia keluar.
Di koridor, Mira langsung menghampirinya. "Dia ngapain? Kamu baik-baik saja?"
Nayla mengangguk.
"Ayo pulang."
"Ke apartemen?"
Nayla menggeleng.
"Ke bandara."
Mira terkejut. "Sekarang?"
"Aku butuh pergi sebentar."
"Ke mana?"
Nayla menatap pintu lift yang mulai terbuka.
"Ke tempat di mana aku ingat siapa diriku sebelum menjadi istrinya."
Mira tidak bertanya lagi.
Sementara itu, di dalam ruang rapat, Arga masih berdiri sendirian.
Di meja, berkas yang sudah ditandatangani Nayla menunggu untuk diajukan.
Arga menatap tanda tangan itu.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arga Pradipta ingin mengejar seseorang.
Tapi orang itu sudah berjalan terlalu jauh.
Di lift, Nayla menekan tombol lantai dasar dengan ujung jari yang dingin.
Mira berdiri di sampingnya, tidak bicara lagi. Kadang diam Mira lebih berguna daripada seribu nasihat. Nayla menatap pantulan mereka di dinding lift: satu perempuan dengan wajah pucat dan mata kosong, satu sahabat yang siap menggigit siapa pun yang mendekat terlalu kasar.
"Aku terlihat menyedihkan?" tanya Nayla tiba-tiba.
Mira menoleh. "Kamu terlihat seperti orang yang baru mengambil keputusan mahal."
"Mahal?"
"Iya. Bayarnya pakai hati."
Nayla tersenyum kecil.
Saat pintu lift terbuka, ia melangkah keluar tanpa menoleh ke ruang rapat. Di belakang sana, Arga mungkin masih berdiri. Mungkin menyesal. Mungkin marah.
Untuk pertama kalinya, Nayla memutuskan itu bukan pusat dunianya.
Di luar gedung, udara Jakarta terasa panas dan berisik.
Anehnya, Nayla merasa bisa bernapas sedikit lebih lega.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Yusria Mumba
semangat nayla
2026-06-13
0