Episode 4

Bab 4

Chika hanya membeku selama dua detik.

Setelah itu, wajahnya berubah menjadi bingung yang rapi. Mata membesar sedikit, bibir terbuka, alis turun. Kalau Arga tidak sedang sangat marah, mungkin ia akan mengakui bahwa Chika punya bakat akting yang layak.

"Kirim apa, Mas?"

Arga melempar ponselnya ke meja. Di layar, foto hasil kehamilan yang Nayla tunjukkan semalam sudah ia simpan.

"Ini."

Chika menatap foto itu. Wajahnya pucat, tapi bukan pucat orang tidak bersalah.

"Aku..." Ia menarik napas gemetar. "Aku tidak tahu Mbak Nayla langsung menunjukkannya padamu."

Arga berdiri. "Jadi kamu memang mengirimnya."

"Aku cuma merasa dia harus tahu."

"Tahu apa?"

Chika menggigit bibir bawah. "Mas, aku tidak ingin membuat masalah. Tapi kalau anak ini benar-benar ada, dia tidak boleh tumbuh tanpa ayah."

Arga tertawa pendek.

Suara itu membuat Chika mundur setengah langkah.

"Kalau anak ini benar-benar ada?" ulang Arga. "Kamu sendiri tidak yakin?"

"Aku gugup, Mas."

"Jawab."

Chika menunduk. "Aku hamil."

"Anakku?"

Chika mengangkat wajah. Ada air mata siap jatuh di sudut matanya. "Mas Arga, kenapa bertanya seperti itu?"

"Karena aku tidak pernah tidur denganmu."

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Chika tampak seperti ditampar.

"Mas..."

"Jangan panggil aku seperti itu."

Ia menelan ludah. "Tapi kedekatan kita selama ini—"

"Kedekatan kita adalah kontrak pengobatan ibuku. Kamu tahu itu."

"Aku membantu Tante Ratih karena aku peduli padamu."

"Dan aku membayar semua biaya, memberi akses proyek, mengenalkanmu ke production house, sesuai kesepakatan. Jangan ubah transaksi menjadi drama."

Air mata Chika akhirnya turun.

"Kamu kejam sekali."

"Kamu mengirim laporan palsu pada istriku."

"Palsu?" Chika tertawa lirih. "Mas bahkan belum memeriksa."

"Aku akan memeriksa."

Kalimat itu membuat mata Chika berubah.

Takut.

Sekejap saja, tapi cukup.

Arga melihatnya.

"Bagas," panggil Arga lewat interkom.

Pintu terbuka cepat. "Pak?"

"Hubungi Klinik Satria Medika. Minta rekam medis atas nama Chika Larasati. Sekarang."

Chika langsung berkata, "Mas, itu data pribadiku!"

Arga menatapnya dingin. "Kamu tidak memikirkan privasi saat mengirim hasil itu ke istriku."

"Aku tidak memalsukan apa pun!"

"Bagus. Kalau begitu kamu tidak perlu takut."

Chika menggenggam tasnya. "Aku punya jadwal lain."

"Duduk."

Satu kata itu menghentikannya.

Chika menatap Arga, baru benar-benar menyadari bahwa lelaki di depannya bukan pria yang bisa ia goyang dengan air mata.

Selama ini ia salah paham. Ia pikir Arga membiarkan gosip karena menikmatinya. Ia pikir diamnya Arga berarti ada ruang untuknya masuk. Ia pikir Nayla hanya istri kertas yang tidak pernah dicintai.

Namun pagi ini, untuk pertama kalinya, Arga menyebut Nayla sebagai istriku dengan nada yang membuat Chika merasa seperti pencuri.

"Mas Arga," katanya lebih pelan. "Aku tahu kamu marah. Tapi coba pikirkan. Kalau Mbak Nayla memang mencintaimu, kenapa dia langsung percaya? Kenapa dia tidak bertanya baik-baik? Mungkin dari awal dia memang mencari alasan untuk pergi."

Wajah Arga tidak berubah.

Tapi tangan di sisi tubuhnya mengepal.

Chika melihat itu dan nekat melanjutkan.

"Orang bilang dia menikah denganmu karena status. Aku tidak percaya dulu. Tapi kalau sekarang dia langsung pergi hanya karena satu foto, mungkin—"

"Cukup."

"Mas, aku hanya—"

"Kamu tidak punya hak menyebut Nayla."

Chika terdiam.

Bagas kembali masuk dengan wajah tegang. "Pak, pihak klinik bilang tidak bisa memberi data tanpa surat kuasa. Tapi ada hal aneh."

Arga menatapnya. "Apa?"

"Nomor registrasi di foto itu tidak cocok dengan format mereka."

Chika langsung berdiri. "Aku tidak mau mendengar fitnah seperti ini."

Arga mengambil ponselnya. "Kamu bisa pergi."

Chika menatapnya tidak percaya.

"Tapi mulai hari ini, semua jadwal proyekmu melalui tim legal. Kalau laporan itu terbukti palsu, kontrakmu dengan Pradipta Pictures selesai."

"Kamu tidak bisa begitu!"

"Aku bisa."

"Bagaimana dengan Tante Ratih?"

Nama ibunya dipakai sebagai tameng. Arga menatap Chika cukup lama sampai perempuan itu menyesal mengatakannya.

"Jangan pernah gunakan ibuku untuk mengancamku."

Chika menggigil. "Aku tidak mengancam."

"Keluar."

Chika pergi dengan langkah cepat. Begitu pintu tertutup, Arga mengambil ponsel. Ia membuka nomor Nayla.

Masih tidak aktif.

Ia menelepon rumah.

Mbak Sari mengangkat. "Selamat pagi, Pak."

"Bu Nayla kembali?"

"Belum, Pak."

"Ada yang dia bawa selain pakaian?"

Mbak Sari terdengar ragu. "Saya tidak tahu, Pak. Tapi tadi pagi saya cek kamar tamu dan ruang kerja kecil, beberapa buku Bu Nayla sudah tidak ada."

"Buku apa?"

"Buku-buku tebal bahasa Inggris itu, Pak. Yang biasanya Bu Nayla baca kalau malam. Sama laptop lamanya."

Laptop lama.

Arga baru ingat Nayla punya laptop pribadi yang tidak pernah ia lihat isinya. Selama tiga tahun, ia tidak pernah bertanya apa yang dikerjakan Nayla di luar kantor. Ia hanya tahu Nayla efisien, rapi, dan selalu ada.

Selalu ada.

Sampai hari ini.

Arga menutup panggilan.

Pintu kembali diketuk. Dimas masuk membawa tablet.

"Pak, Bu Nayla sudah menandatangani pernyataan persetujuan prinsip. Beliau meminta jadwal mediasi melalui pengacara minggu depan."

Arga menatapnya. "Secepat itu?"

Dimas tampak serba salah. "Beliau juga melampirkan daftar barang yang akan dikembalikan. Sangat detail, Pak."

Arga mengambil tablet itu.

Daftar itu membuat wajahnya makin gelap.

Mobil yang pernah ia berikan.

Perhiasan ulang tahun.

Kartu akses rumah.

Kartu keluarga internal.

Asuransi tambahan.

Semuanya.

Di bagian paling bawah, Nayla menulis:

Barang yang bersifat pribadi dari Mas Arga akan saya kirim melalui kurir kantor. Mohon tidak mengirim orang ke tempat tinggal saya.

Tempat tinggal saya.

Jadi ia sudah punya tempat tinggal.

Dalam semalam, Nayla membangun jarak yang tidak pernah Arga bayangkan.

"Cari dia," kata Arga.

Dimas mengangkat wajah. "Pak?"

"Cari tahu dia tinggal di mana."

Dimas ragu. "Dengan segala hormat, Pak, kalau Bu Nayla secara tertulis meminta tidak dicari, secara hukum—"

"Aku tidak minta pendapat hukum."

"Tapi ini bisa dipakai melawan Bapak dalam mediasi."

Arga menatap Dimas. Dimas menelan ludah, tapi kali ini tidak mundur.

"Pak, maaf. Kalau Bapak ingin beliau kembali, jangan mulai dengan melanggar batas yang beliau tulis."

Kalimat itu sederhana.

Tapi menampar.

Arga menutup mata sebentar.

Nayla bilang, jangan mencariku kalau hanya ingin marah.

Apa yang akan ia lakukan kalau menemukan Nayla sekarang? Menariknya pulang? Memaksanya mendengar penjelasan? Menyuruhnya percaya?

Ia bahkan belum tahu cara meminta maaf.

"Keluar," kata Arga akhirnya.

Dimas mengangguk dan pergi.

Arga duduk sendirian.

Di layar tablet, tanda tangan digital Nayla tampak kecil dan final.

Ia pernah melihat tanda tangan itu di banyak dokumen penting. Kontrak investasi, surat kuasa, agenda rapat. Nayla selalu menandatangani sebagai saksi, asisten, pengurus administratif.

Hari ini, tanda tangan itu berdiri sebagai perempuan yang pergi darinya.

Ponsel Arga bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal.

Kurir:

Pak, saya di lobi Pradipta Tower. Ada paket dari Ibu Nayla untuk Bapak.

Arga langsung berdiri.

Lima menit kemudian, ia menerima kotak kecil berwarna cokelat.

Di dalamnya ada jam tangan yang pernah ia berikan pada ulang tahun Nayla. Hadiah itu masih utuh, bahkan plastik pelindung belakangnya belum dilepas.

Ada catatan.

Mas,

Aku lupa mengembalikan ini.

Ternyata selama ini aku memang tidak pernah cocok memakai barang yang terlalu mahal.

N.

Arga menatap jam tangan itu.

Ia ingat membeli hadiah itu melalui Bagas, tanpa memilih sendiri. Saat memberikannya, Nayla tersenyum dan berkata terima kasih. Ia mengira semuanya baik-baik saja.

Ternyata Nayla tidak pernah memakainya.

Ternyata ada banyak hal yang tidak pernah ia lihat.

Di saat yang sama, di sebuah apartemen kecil di Jakarta Selatan, Nayla duduk di lantai, bersandar pada sofa, menatap laptop lamanya.

Mira, sahabatnya, duduk di sebelah sambil membuka mi instan cup.

"Kamu yakin mau tanda tangan semua?" tanya Mira.

Nayla mengangguk.

"Nay, ini bukan cuma pisah ranjang. Ini perang."

"Aku tahu."

"Kamu belum bilang soal hasil rumah sakit."

Nayla menatap layar laptop. Di sana, folder naskah dengan nama pena Aksara terbuka.

"Belum perlu."

"Kalau benar serius, Arga harus tahu."

Nayla tersenyum lelah. "Kalau aku harus sekarat dulu baru pantas didengar, berarti pernikahan itu memang sudah selesai."

Mira terdiam.

Nayla membuka dokumen baru.

Jari-jarinya berhenti di atas keyboard, lalu mulai mengetik.

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, ia menulis bukan sebagai istri Arga.

Ia menulis sebagai dirinya sendiri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!