Bab 4.

Luis hanya diam wajahnya murka, ia terus menarik tangan Laura menuju ke arah gedung sekolah kosong yang baru dibangun.

Lalu keduanya masuk ke dalam sebuah ruangan, Luis melemparkan tubuh Laura ke lantai lalu mengunci pintu.

"Tuan muda Luis ... Apa yang akan kamu lakukan?"

Luis tidak menanggapi ucapan Laura, ia membuka kancing baju gadis itu dengan kasar.

Sebelum melakukan hal lebih lanjut, Luis memilih memfoto bagian dada Laura.

Laura merasa direndahkan, air mata pun luruh dari kedua pelupuk matanya. Tiba-tiba Luis menghisap dadanya dengan takut, lalu menggigitnya.

"Tuan Muda Luis, tolong jangan mengigitnya ini sangat sakit!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan.

"Tuan muda ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis melepaskan dadanya dan beralih mencium bibirnya.

"Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... "

Laura hanya menggelengkan wajahnya, ia merasa tidak melakukan hal yang menyinggung Luis.

Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat tangan Luis mengarah ke arah sela pahanya.

"Tuan muda, ini nggak benar kita masih sekolah!!" Teriakan Laura akhirnya membuat Luis tersadar.

Luis pun langsung bangkit berdiri. "Aku nggak ingin orang-orang melihat dadamu secara gratis. Mulai sekarang, kalau disekolah aku ingin kamu memakai jaket."

Setelah itu, tiba-tiba Luis pergi meninggalkan Laura meninggalkan ruangan digedung kosong itu sendirian.

Melihat Luis yang pergi ngacir, Laura mengerutkan alisnya. Ia bingung dengan sikap aneh Luis, "sebenarnya apa sih yang membuat dia marah?"

Laura merapikan bajunya, lalu ia berjalan meninggalkan tempat itu menuju ke taman.

Perutnya sangat lapar, dan ia tidak memiliki uang sepeserpun. Semua uang sakunya sudah diambil oleh Luis.

Harapannya hanya ada pada bekal makanannya.

Namun sayang, saat sampai taman. Ada petugas kebersihan yang membuang makanannya.

Dalam hatinya, sekarang ini Laura mengutuk Luis. Dia yang terbiasa makan porsi banyak, semalam sudah melewatkan makan malam karena tingkah Luis yang menggila, ditambah tadi pagi tidak sarapan, dan bekalnya.

Saat sedang meratapi nasib tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya, Laura menoleh.

Laki-laki dengan jersey basket berwarna hitam menyala itu berdiri di depan Laura, menatapnya dengan mata penuh kepastian.

Suaranya tegas ketika menyebut namanya, "Laura, ternyata kamu sekolah di sini!"

Namun sorot matanya bukan sekadar pengenalan biasa, melainkan ada kehangatan yang tersembunyi di balik raut wajahnya yang agak asing bagi Laura.

Alis Laura mengerut, ntah kenapa hatinya berdebar kencang.

Wajah laki-laki itu benar-benar asing, tak ada satu pun kenangan yang tersisa di benaknya. "Kamu Laura Ana, kan?" tanya Nigel dengan nada yakin, seolah dia tahu segalanya tentang masa lalu Laura.

Laura menggeleng pelan, bibirnya bergetar kecil, "Kok bisa kenal aku?" Suaranya terdengar ragu, diselimuti kebingungan yang mendalam.

Nigel melangkah mendekat, ekspresinya berubah menjadi lembut, tapi tetap ada beban berat di matanya.

"Namaku Nigel Ronan, teman masa kecilmu. Sepertinya setelah kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuamu, kamu hilang ingatan."

Perkataan itu bagai petir di siang bolong bagi Laura.

Jantungnya berdegup lebih cepat, kepala terasa berat seolah ingin pecah. Sebuah kilasan ingatannya saat kecelakaan melintas.

"Kecelakaan? Kedua orang tuaku? Bukankah yang meninggal hanya ibuku?" gumamnya dalam hati, tatapannya kosong, berusaha menangkap kebenaran dari setiap kata yang keluar dari mulut Nigel.

Sementara itu, Nigel menatap Laura dengan penuh simpati, seolah memahami betapa hancurnya dunia kecil itu ketika ingatan mulai menghilang dan kenyataan pun terasa asing.

Laura berdiri terpaku, wajahnya berubah menjadi campuran antara ketakutan, kebingungan, dan kesedihan yang tak terucapkan.

Nigel yang melihat wajah Laura berubah sedih, sontak buru-buru mengubah topik pembicaraan. "Maafkan aku, aku nggak bakalan bahas kecelakaan paman Steven dan bibi Grace lagi."

Ntah kenapa, air mata keluar dari pelupuk mata Laura, setelah Nigel menyebut nama 'Steven' walaupun terdengar asing. Tapi Laura merasa begitu dekat dengan nama itu.

Tiba-tiba lamunan Laura buyar saat Nigel menunjukkan beberapa foto keduanya diponselnya.

"Laura, sejak umur enam tahun kita jadi tetangga. Kamu selalu mengikuti ku, katanya aku tampan dan saat dewasa nanti mau jadi istriku. Tapi sejak kecelakaan tiga tahun lalu, kamu pindah dan menghilang. Dan akhirnya sekarang aku menemukanmu," ujar Nigel seraya memeluk Laura.

Laura yang dipeluk tiba-tiba oleh orang yang tidak dikenalnya hanya membeku. Tapi ia merasa pelukan itu sangatlah nyaman dan familiar.

Sementara itu, Luis yang berdiri di lantai tiga gedung SMA Bintang, kedua tangannya mengepal erat hingga urat-urat di punggung tangan tampak menonjol.

Matanya membara, menatap tajam sosok Laura, yang sedang dipeluk oleh seorang laki-laki dari tim basket SMA Garuda yang akan menjadi musuhnya.

Amarah dan cemburu berbaur menjadi satu, seperti bara api yang siap meledak kapan saja.

Napasnya memburu, dada terasa sesak seolah ingin meledakkan kemarahan yang menggerogoti hatinya.

Di sampingnya, Aron meledek dengan suara santai, "Bukankah itu Laura, anak pelayan rumahmu? Lihat, dia malah peluk-peluk sama pemain musuh kita. Konyol sekali." Senyum sinis Aron makin menambah panas suasana di hati Luis.

Dean, yang berada tak jauh dari situ, terlihat membeku. Tatapannya kosong, tapi jelas ada pergolakan batin yang dalam. Dia menyukai Laura, namun bingung harus berbuat apa.

Wajahnya menegang, bibirnya tercekat, tak berani mengeluarkan sepatah kata pun.

Luis menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. "Langsung ke lapangan basket saja!" katanya ketus, suaranya penuh dendam.

Ia berjalan lebih dulu, meninggalkan Aron dan Dean. Tak berselang lama Aron dan Dean pun menyusul.

Di lapangan basket pertandingan antar sekolah belum dimulai, Luis berdiri di pinggir lapangan dengan wajah dingin yang hampir tak berubah.

Matanya yang tajam memancarkan ketegangan, bibirnya terkatup rapat tanpa senyum sedikit pun.

Anggota tim yang lain, termasuk Emma, pacarnya, hanya berani menunduk dan menghindari tatapannya, takut memancing amarah yang tiba-tiba bisa meledak.

Sebelumnya Emma sempat bertanya pada ketiga sahabat dekat Luis, alasan kenapa pacarnya bisa marah seperti ini. Tapi tidak ada yang tahu jawabannya.

Suasana makin tegang saat Laura datang, langkahnya ragu tapi tetap berani maju ke arah Luis.

Luis langsung menyambutnya dengan nada dingin dan penuh penghinaan, "Kamu ini anak pelayan, jangan pikir kamu pantas ada di sini." Suaranya menusuk, membuat beberapa anggota tim menahan napas.

Tanpa memberi ruang bicara, Luis memerintahkan Laura mengambil handuk dan air minum, lalu mengutusnya pergi ke sana kemari tanpa jeda. "Cepat! Jangan bikin aku tunggu lama," katanya sambil menatap tajam, seolah Laura hanyalah beban yang mengganggu.

Kadua alis Naura mengerut, merasa bingung dengan sikap Luis yang berubah-ubah. Sebelumnya saat bertemu laki-laki itu nampak perhatian, sekarang tiba- tiba berubah marah dan menghinanya.

Lapangan basket yang beleumnya sepi, semakin lama semakin ramai.

Laura berusaha menahan malu dan lelah, melangkah dengan tangan gemetar membawa barang-barang yang diminta.

Namun saat Laura kembali membawa air, mata Luis menangkap sosok laki-laki lain yang tadi memeluk Laura hal itu membuat dadanya sesak, wajahnya berubah menjadi lebih kelam, bibirnya mengepal menahan amarah dan cemburu yang membara.

Tanpa pikir panjang, Luis menuntut Laura mengulangi tugasnya dengan lebih cepat.

Langkahnya yang terburu-buru membuatnya terpeleset dan jatuh terjerembab di aspal kasar.

Suara benturan itu membuat semua mata tertuju padanya.

Luis malah tertawa dingin, tanpa menolong, "Dasar payah, nggak becus!" katanya sambil memandang rendah.

Dean hanya bisa mengepalkan tangannya, ia juga merasa sakit Laura diperlakukan begini.

Tapi ia tidak bisa melawan Luis.

Laura menahan air mata, tubuhnya bergetar bukan hanya karena sakit, tapi juga karena luka hati yang semakin dalam.

Saat kesulitan berdiri, tiba-tiba sebuah tangan terulur ke arahnya.

"Nigel ... "

Episodes
1 Bab 1.
2 Bab 2.
3 Bab 3.
4 Bab 4.
5 Bab 5.
6 Bab 6.
7 Bab 7.
8 Bab 8.
9 Bab 9.
10 Bab 10.
11 Bab 11.
12 Bab 12.
13 Bab 13.
14 Bab 14.
15 Bab 15.
16 Bab 16.
17 Bab 17.
18 Bab 18.
19 Bab 19.
20 Bab 20.
21 Bab 21.
22 Bab 22.
23 Bab 23.
24 Bab 24.
25 Bab 25.
26 Bab 26.
27 Bab 27.
28 Bab 28.
29 Bab 29.
30 Bab 30.
31 Bab 31.
32 Bab 32.
33 Bab 33.
34 Bab 34.
35 Bab 35.
36 Bab 36.
37 Bab 37.
38 Bab 38.
39 Bab 39.
40 Bab 40.
41 Bab 41.
42 Bab 42.
43 Bab 43.
44 Bab 44.
45 Bab 45.
46 Bab 46.
47 Bab 47.
48 Bab 48.
49 Bab 49.
50 Bab 50.
51 Bab 51.
52 Bab 52.
53 Bab 53.
54 Bab 54.
55 Bab 55.
56 Bab 56.
57 Bab 57.
58 Bab 58.
59 Bab 59.
60 Bab 60.
61 Bab 61.
62 Bab 62.
63 Bab 63.
64 Bab 64.
65 Bab 65.
66 Bab 66.
67 Bab 67.
68 Bab 68.
69 Bab 69.
70 Bab 70.
71 Bab 71.
72 Bab 72.
73 Bab 73.
74 Bab 74.
75 Bab 75.
76 Bab 76.
77 Bab 77.
78 Bab 78.
79 Bab 79.
80 Bab 80.
81 Bab 81.
82 Bab 82.
83 Bab 83.
84 Bab 84.
85 Bab 85.
86 Bab 86.
87 Bab 87.
88 Bab 88.
89 Bab 89.
90 Bab 90.
91 Bab 91.
92 Bab 92.
93 Bab 93.
94 bab 94
95 Bab 95.
96 Bab 96.
97 Bab 97.
98 Bab 98.
99 Bab 99.
100 Bab 100.
101 Bab 101.
102 Bab 102.
103 Bab 103.
104 Bab 104.
105 Bab 105.
106 Bab 106.
107 Bab 107.
108 Bab 108.
109 Bab 109.
110 Bab 110.
111 Bab 111.
112 Bab 112.
113 Bab 113.
114 Bab 114.
115 Bab 115.
116 Bab 116.
117 Bab 117.
118 Bab 118.
119 Bab 119.
120 Bab 120.
121 Bab 121.
122 Bab 122.
123 Bab 123.
124 Bab 124.
125 Bab 125.
126 Bab 126.
127 Bab 127.
128 Bab 128.
129 Bab 129.
130 Bab 130.
131 Bab 131.
132 Bab 132.
133 Bab 133.
134 Bab 134.
135 Bab 135.
136 Bab 136.
137 Bab 137.
138 Bab 138.
139 Bab 139.
140 Bab 140.
141 Bab 141.
142 Bab 142.
143 Bab 143.
144 Bab 144.
145 Bab 145.
146 Bab 146
147 Bab 147.
148 Bab 148.
149 Bab 149.
150 Bab 150.
151 Bab 151.
152 Bab 152.
153 Bab 153.
154 Bab 154.
155 Bab 155.
156 Bab 156.
157 Bab 157.
158 Bab 158.
159 Bab 159.
160 Bab 160.
161 Bab 161.
162 Bab 162.
163 Bab 163.
164 Bab 164. Ending.
Episodes

Updated 164 Episodes

1
Bab 1.
2
Bab 2.
3
Bab 3.
4
Bab 4.
5
Bab 5.
6
Bab 6.
7
Bab 7.
8
Bab 8.
9
Bab 9.
10
Bab 10.
11
Bab 11.
12
Bab 12.
13
Bab 13.
14
Bab 14.
15
Bab 15.
16
Bab 16.
17
Bab 17.
18
Bab 18.
19
Bab 19.
20
Bab 20.
21
Bab 21.
22
Bab 22.
23
Bab 23.
24
Bab 24.
25
Bab 25.
26
Bab 26.
27
Bab 27.
28
Bab 28.
29
Bab 29.
30
Bab 30.
31
Bab 31.
32
Bab 32.
33
Bab 33.
34
Bab 34.
35
Bab 35.
36
Bab 36.
37
Bab 37.
38
Bab 38.
39
Bab 39.
40
Bab 40.
41
Bab 41.
42
Bab 42.
43
Bab 43.
44
Bab 44.
45
Bab 45.
46
Bab 46.
47
Bab 47.
48
Bab 48.
49
Bab 49.
50
Bab 50.
51
Bab 51.
52
Bab 52.
53
Bab 53.
54
Bab 54.
55
Bab 55.
56
Bab 56.
57
Bab 57.
58
Bab 58.
59
Bab 59.
60
Bab 60.
61
Bab 61.
62
Bab 62.
63
Bab 63.
64
Bab 64.
65
Bab 65.
66
Bab 66.
67
Bab 67.
68
Bab 68.
69
Bab 69.
70
Bab 70.
71
Bab 71.
72
Bab 72.
73
Bab 73.
74
Bab 74.
75
Bab 75.
76
Bab 76.
77
Bab 77.
78
Bab 78.
79
Bab 79.
80
Bab 80.
81
Bab 81.
82
Bab 82.
83
Bab 83.
84
Bab 84.
85
Bab 85.
86
Bab 86.
87
Bab 87.
88
Bab 88.
89
Bab 89.
90
Bab 90.
91
Bab 91.
92
Bab 92.
93
Bab 93.
94
bab 94
95
Bab 95.
96
Bab 96.
97
Bab 97.
98
Bab 98.
99
Bab 99.
100
Bab 100.
101
Bab 101.
102
Bab 102.
103
Bab 103.
104
Bab 104.
105
Bab 105.
106
Bab 106.
107
Bab 107.
108
Bab 108.
109
Bab 109.
110
Bab 110.
111
Bab 111.
112
Bab 112.
113
Bab 113.
114
Bab 114.
115
Bab 115.
116
Bab 116.
117
Bab 117.
118
Bab 118.
119
Bab 119.
120
Bab 120.
121
Bab 121.
122
Bab 122.
123
Bab 123.
124
Bab 124.
125
Bab 125.
126
Bab 126.
127
Bab 127.
128
Bab 128.
129
Bab 129.
130
Bab 130.
131
Bab 131.
132
Bab 132.
133
Bab 133.
134
Bab 134.
135
Bab 135.
136
Bab 136.
137
Bab 137.
138
Bab 138.
139
Bab 139.
140
Bab 140.
141
Bab 141.
142
Bab 142.
143
Bab 143.
144
Bab 144.
145
Bab 145.
146
Bab 146
147
Bab 147.
148
Bab 148.
149
Bab 149.
150
Bab 150.
151
Bab 151.
152
Bab 152.
153
Bab 153.
154
Bab 154.
155
Bab 155.
156
Bab 156.
157
Bab 157.
158
Bab 158.
159
Bab 159.
160
Bab 160.
161
Bab 161.
162
Bab 162.
163
Bab 163.
164
Bab 164. Ending.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!