Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Bab 1.

Pagi ini suasana di ruang makan nampak sedikit berbeda, Laura terlihat murung dan terus menunduk.

"Laura, kenapa sekarang kamu terlihat murung?" Lucian Wilson, ayah angkat Laura.

Luis Lucian putra kandung Wilson nampak melirik ke arah Laura dengan tatapan mengintimidasi, tatapan itu juga terlihat di mata Laura.

Jantung Laura berdebar kencang tanpa bisa ia kendalikan, ia teringat peristiwa semalam saat Luis menyelinap di kamarnya dan melakukan hal diluar moral.

Wilson memegang tangan Laura perlahan, dengan penuh kelembutan ia berkata, "jujurlah pada ayah. Apakah ada seseorang yang mengganggumu?"

Saat Laura ingin menjawab, tangan Luis merayap ke paha Laura.

Hal itu semakin membuat tubuh Laura gemetaran, bahkan bulu kuduknya berdiri.

Ia teringat akan ancaman Luis semalam, "kalau kamu sampai mengadu pada ayah, akan aku buat kamu nggak bisa berjalan keesokan paginya. Bahkan aku akan mengirimkan video kita berdua ke grup sekolah. Agar kamu nggak bisa lulus!"

Ancaman itu masih terngiang-ngiang dan membuat Laura trauma dengan tindakan Luis semalam.

Apalagi Laura teringat jika saat Luis menghidupkan kamera, kamera itu hanya menyorot ke arah wajahnya.

Bukankah jika hal itu sampai tersebar, dialah yang akan rugi.

"Laura ... " Panggil Luis dengan nada lembut. "Ayah sangat mengkhawatirkan mu. Kenapa kamu hanya diam saja?"

Walaupun suara Luis terdengar sangat lembut, tapi Laura bisa merasakan ancaman yang tersembunyi dari setiap tutur kata yang diucapkan oleh luis.

Laura memaksakan diri untuk mendongakkan kepalanya, setelah mengambil napas. Ia tersenyum hangat ke arah Wilson, "ayah Wilson, aku nggak papa. Aku hanya sedang makan malas makan, efek datang bulan." Ujarnya bohong.

Wilson menghembuskan napas lega, "kalau nggak enak badan. Hari ini ijin saja, kan ujian sekolah sudah selesai bukan? Hanya ada jam kosong."

Sebelum Laura bisa menjawab ucapan Wilson, Luis sudah menyelanya. "Ayah, hari ini aku ada pertandingan basket dengan sekolah lain. Aku ingin Laura melihatku bertanding."

"Tapi Luis, Laura terlihat pucat," sela Wilson.

Laura menatap ayahnya dengan tatapan berbinar, berharap ayahnya dapat membantunya keluar dari kekejaman Luis.

Ia tahu, Luis membencinya karena mendiang ibunya.

Luis masih mengelak, "Dia cuma mengalami kram datang bulan saja. Tenang, Ayah, aku cuma ingin disemangati adikku. Dia di sana cuma duduk dan menonton pertandingan."

Laura sontak menatap Luis dengan tajam.

Biasanya, saat Luis bertanding basket, dia menjadi pesuruh yang berlari ke sana kemari, memberikan minum dan handuk—bukan hanya untuk Luis, tapi juga untuk semua teman satu timnya.

Namun, sebagai kapten basket, Luis sering bertindak seenaknya pada Laura, bahkan kerap memperlakukannya dengan kasar.

Tak heran jika anggota tim lain pun ikut memperlakukan Laura seperti Luis.

Bagi Laura, hari-hari saat Luis bertanding basket selalu terasa seperti hari tersial dalam hidupnya.

Bagaimana tidak? Di hari itu, dia harus siap menjadi pembantu gratis sekaligus sasaran bully dan cacian dari para anggota tim basket.

"Ayah, aku akan membawa makanan ini menjadi bekal saja!" ujar Laura, ia sudah tidak sanggup bersandiwara lagi.

Tidak mungkin ia mengadu, hal itu malah makan membuat Luis murka dan memperlakukan dirinya semakin buruk.

Sekarang ia dalam posisi yang sangat sulit, disatu sisi kalau ia jujur pada Wilson tentang apa yang dilakukan oleh Luis padanya.

Luis pasti tidak akan tinggal diam, bahkan akan menghukumnya.

Wilson menatap Laura penuh kasih dan kelembutan, hal itu sungguh membuat Luis marah bahkan tanpa sadar kedua tangannya terkepal.

Wilson memanggil pelayan, untuk membuatkan bekal yang baru untuk Laura.

Setelah itu Laura berdiri dan pamit, tapi saat akan meninggalkan meja makan. Wilson malah berjalan ke arahnya seraya menyerahkan kartu hitam.

"Aku lihat kamu semakin kurus dan tertekan, belanjalah dengan kartu ini, beli apapun yang kamu inginkan!" Titah Wilson, lalu tatapannya beralih ke arah leher Laura yang banyak sekali bekas-bekas merah.

Laura yang melihat arah tatapan Willson sontak menutup lehernya dengan tangannya.

Awalnya Wilson menatap leher merah Laura dengan alis mengkerut, tapi akhirnya ia teringat kalau selama ini Laura jarang pergi meninggalkan rumah.

Ia menduga, bisa saja leher Laura merah karena gigitan serangga. Lantas ia menyuruh pelayan yang lain untuk membersihkan kamar Laura.

"Ayah angkat, uang saku darimu masih banyak! Aku nggak membutuhkan ini." Celetuk Laura.

Wilson tersenyum hangat, dan tetap memaksa Laura untuk menerimanya.

Karena tidak enak, akhirnya Laura memutuskan untuk menerima kartu itu.

Saat tangannya akan terulur, tiba-tiba Luis berdiri dan mengambil kartu itu.

"Ayah, Laura nggak mau menerimanya? Kenapa masih memaksa?" tanya Luis.

Wilson menatap putranya dengan kesal dan tatapan melotot, "kembalikan padanya! Kartu itu memang untuk Laura dari ibunya ... "

Belum sempat Wilson menyelesaikan ucapannya, kartu ditangannya sudah dilempar oleh Luis.

"Kenapa kamu melemparnya?" Tanya Wilson marah.

Berani-beraninya ayahnya membahas selingkuhannya didepannya, amarah terpatri jelas didalam dada Luis.

Teringat saat ibunya pergi meninggalkan rumah, sebelum setahun kedatangan Laura.

Asumsi Luis mengatakan, jika ibunya pergi karena melihat ayahnya berselingkuh.

Wilson mengambil kartu itu, lalu ia menyerahkan kembali pada Laura. "Laura, terimalah ini dari ibumu!"

Laura mengangguk dan menerima kartu itu dengan ekspresi sedih. Walaupun ia hilang ingatan pasca kecelakaan, tapi setiap ada yang membahas ibunya, hal itu langsung membuatnya sedih.

Amarah membuncah dalam dada Luis saat menatap Laura dengan penuh dendam.

"Hari ini, Laura akan berangkat bersamaku," ujarnya, berusaha menahan amarah.

Wilson menatap wajah putranya yang datar, sambil menyembunyikan fakta tentang Laura, anak sahabat baiknya.

Dulu, ia dan istrinya, Arina—ibu kandung Luis—memiliki sahabat bernama Steven dan Grace, pasangan suami istri yang memiliki seorang anak, Laura, yang kini menjadi tanggung jawab Wilson.

Saat Laura dan Luis berumur 6 tahun, mereka berpisah karena keluarga Laura pindah keluar negeri urusan pekerjaan.

Saat Laura berumur 16 tahun, dia dan kedua orang tuanya mengalami kecelakaan mobil.

Wilson menerima telepon dari rumah sakit dan segera datang ke sana. Kedua sahabatnya meninggal dirumah sakit, setelah menitipkan wasiat padanya.

Melihat kondisi Laura yang syok berat, bahkan sampai mengalami amnesia dan melupakan masa lalunya yang menyakitkan itu, Wilson memutuskan untuk bersandiwara menjadi ayah kandung Laura, ia mengatur sandiwara memiliki anak berbeda ibu dengan Luis.

Keputusan saat itu diambil serentak tanpa pemikiran matang, mengingat Arina, istri Wilson kabur bersama selingkuhannya.

Namun, untuk sementara waktu, Wilson belum bisa jujur pada Laura dan Luis tentang kenyataan yang sebenarnya.

Ia merasa kehidupan seperti ini sudah cukup, dan ia senang melihat Laura dan Luis yang akur sebagai saudara seayah.

Baru saja Laura keluar dari pintu rumah mewah keluarga Wilson, tangannya sudah ditarik oleh Luis.

"Kamu mau kabur kemana, hah?" Tanya Luis, ekspresinya sangat buruk.

"Kak Luis, tolong lepasin aku." Jawab Laura panik. "Aku mau berangkat sekolah naik bis aja, aku janji nggak bakalan lupain tanggung jawab aku dilapangan basket."

Melihat wajah ketakutan Laura, Luis semakin menyunggingkan senyuman devil. "Aku mau berangkat sama kamu. Nggak perlu naik bis."

Laura buru-buru menolak, bahkan reflek ia berusaha melepaskan tangannya dari Luis.

"Kak Luis. Aku berangkat sekolah sendiri saja, nanti pacar kamu salah paham. Dia kemarin hampir labrak aku," ujar Laura ketakutan.

"Aku nggak peduli," sahut Luis acuh tak acuh, ia menyeret tangan Laura dengan kasar sampai ke garasi.

Lalu memasukkannya ke dalam mobil.

Saat Laura berusaha keluar dari mobil untuk kabur, Luis mengancamnya, "Berani keluar, videomu aku sebar ke grup sekolah!"

Laura tak punya pilihan lain. "Tapi tolong, Kak Luis, jangan ulangi hal seperti tadi malam..."

Luis menatapnya dengan suara yang mengguncang jiwa, sambil menghidupkan mesin mobil.

Suaranya lembut penuh hasrat Luis membuat bulu kuduk Laura meremang.

Matanya membulat sempurna saat Luis justru mengarahkan mobilnya ke proyek danau buatan milik keluarga Wilson.

Ditempat ini sangatlah sepi, karena proyek tertahan urusan ijin pemerintah. Rencananya disini akan dibangun perumahan, tapi sudah setahun, ijin danau belum keluar juga.

"Kak Luis, lebih baik kita segera berangkat ke sekolah. Kalau telat, gimana?" ujar Laura dengan suara terbata. Rasa takut menjalar ditubuhnya.

Luis hanya tersenyum nakal, amarah dan dendam membara karena salah paham pada ibu kandung Naura yang menjadi pelakor, masih terpancar jelas dari matanya.

"Sekarang jam bebas. Pemilik saham terbesar di SMA Bintang adalah ayahku. Nggak akan ada yang mempersulit kita masuk sekolah kalau telat."

Laura terdiam. Apapun alasannya, Luis selalu punya cara untuk menghancurkan alasan nya. "Laura, aku haus ... Ayo berikan air susumu itu padaku!"

Episodes
1 Bab 1.
2 Bab 2.
3 Bab 3.
4 Bab 4.
5 Bab 5.
6 Bab 6.
7 Bab 7.
8 Bab 8.
9 Bab 9.
10 Bab 10.
11 Bab 11.
12 Bab 12.
13 Bab 13.
14 Bab 14.
15 Bab 15.
16 Bab 16.
17 Bab 17.
18 Bab 18.
19 Bab 19.
20 Bab 20.
21 Bab 21.
22 Bab 22.
23 Bab 23.
24 Bab 24.
25 Bab 25.
26 Bab 26.
27 Bab 27.
28 Bab 28.
29 Bab 29.
30 Bab 30.
31 Bab 31.
32 Bab 32.
33 Bab 33.
34 Bab 34.
35 Bab 35.
36 Bab 36.
37 Bab 37.
38 Bab 38.
39 Bab 39.
40 Bab 40.
41 Bab 41.
42 Bab 42.
43 Bab 43.
44 Bab 44.
45 Bab 45.
46 Bab 46.
47 Bab 47.
48 Bab 48.
49 Bab 49.
50 Bab 50.
51 Bab 51.
52 Bab 52.
53 Bab 53.
54 Bab 54.
55 Bab 55.
56 Bab 56.
57 Bab 57.
58 Bab 58.
59 Bab 59.
60 Bab 60.
61 Bab 61.
62 Bab 62.
63 Bab 63.
64 Bab 64.
65 Bab 65.
66 Bab 66.
67 Bab 67.
68 Bab 68.
69 Bab 69.
70 Bab 70.
71 Bab 71.
72 Bab 72.
73 Bab 73.
74 Bab 74.
75 Bab 75.
76 Bab 76.
77 Bab 77.
78 Bab 78.
79 Bab 79.
80 Bab 80.
81 Bab 81.
82 Bab 82.
83 Bab 83.
84 Bab 84.
85 Bab 85.
86 Bab 86.
87 Bab 87.
88 Bab 88.
89 Bab 89.
90 Bab 90.
91 Bab 91.
92 Bab 92.
93 Bab 93.
94 bab 94
95 Bab 95.
96 Bab 96.
97 Bab 97.
98 Bab 98.
99 Bab 99.
100 Bab 100.
101 Bab 101.
102 Bab 102.
103 Bab 103.
104 Bab 104.
105 Bab 105.
106 Bab 106.
107 Bab 107.
108 Bab 108.
109 Bab 109.
110 Bab 110.
111 Bab 111.
112 Bab 112.
113 Bab 113.
114 Bab 114.
115 Bab 115.
116 Bab 116.
117 Bab 117.
118 Bab 118.
119 Bab 119.
120 Bab 120.
121 Bab 121.
122 Bab 122.
123 Bab 123.
124 Bab 124.
125 Bab 125.
126 Bab 126.
127 Bab 127.
128 Bab 128.
129 Bab 129.
130 Bab 130.
131 Bab 131.
132 Bab 132.
133 Bab 133.
134 Bab 134.
135 Bab 135.
136 Bab 136.
137 Bab 137.
138 Bab 138.
139 Bab 139.
140 Bab 140.
141 Bab 141.
142 Bab 142.
143 Bab 143.
144 Bab 144.
145 Bab 145.
146 Bab 146
147 Bab 147.
148 Bab 148.
149 Bab 149.
150 Bab 150.
151 Bab 151.
152 Bab 152.
153 Bab 153.
154 Bab 154.
155 Bab 155.
156 Bab 156.
157 Bab 157.
158 Bab 158.
159 Bab 159.
160 Bab 160.
161 Bab 161.
162 Bab 162.
163 Bab 163.
164 Bab 164. Ending.
Episodes

Updated 164 Episodes

1
Bab 1.
2
Bab 2.
3
Bab 3.
4
Bab 4.
5
Bab 5.
6
Bab 6.
7
Bab 7.
8
Bab 8.
9
Bab 9.
10
Bab 10.
11
Bab 11.
12
Bab 12.
13
Bab 13.
14
Bab 14.
15
Bab 15.
16
Bab 16.
17
Bab 17.
18
Bab 18.
19
Bab 19.
20
Bab 20.
21
Bab 21.
22
Bab 22.
23
Bab 23.
24
Bab 24.
25
Bab 25.
26
Bab 26.
27
Bab 27.
28
Bab 28.
29
Bab 29.
30
Bab 30.
31
Bab 31.
32
Bab 32.
33
Bab 33.
34
Bab 34.
35
Bab 35.
36
Bab 36.
37
Bab 37.
38
Bab 38.
39
Bab 39.
40
Bab 40.
41
Bab 41.
42
Bab 42.
43
Bab 43.
44
Bab 44.
45
Bab 45.
46
Bab 46.
47
Bab 47.
48
Bab 48.
49
Bab 49.
50
Bab 50.
51
Bab 51.
52
Bab 52.
53
Bab 53.
54
Bab 54.
55
Bab 55.
56
Bab 56.
57
Bab 57.
58
Bab 58.
59
Bab 59.
60
Bab 60.
61
Bab 61.
62
Bab 62.
63
Bab 63.
64
Bab 64.
65
Bab 65.
66
Bab 66.
67
Bab 67.
68
Bab 68.
69
Bab 69.
70
Bab 70.
71
Bab 71.
72
Bab 72.
73
Bab 73.
74
Bab 74.
75
Bab 75.
76
Bab 76.
77
Bab 77.
78
Bab 78.
79
Bab 79.
80
Bab 80.
81
Bab 81.
82
Bab 82.
83
Bab 83.
84
Bab 84.
85
Bab 85.
86
Bab 86.
87
Bab 87.
88
Bab 88.
89
Bab 89.
90
Bab 90.
91
Bab 91.
92
Bab 92.
93
Bab 93.
94
bab 94
95
Bab 95.
96
Bab 96.
97
Bab 97.
98
Bab 98.
99
Bab 99.
100
Bab 100.
101
Bab 101.
102
Bab 102.
103
Bab 103.
104
Bab 104.
105
Bab 105.
106
Bab 106.
107
Bab 107.
108
Bab 108.
109
Bab 109.
110
Bab 110.
111
Bab 111.
112
Bab 112.
113
Bab 113.
114
Bab 114.
115
Bab 115.
116
Bab 116.
117
Bab 117.
118
Bab 118.
119
Bab 119.
120
Bab 120.
121
Bab 121.
122
Bab 122.
123
Bab 123.
124
Bab 124.
125
Bab 125.
126
Bab 126.
127
Bab 127.
128
Bab 128.
129
Bab 129.
130
Bab 130.
131
Bab 131.
132
Bab 132.
133
Bab 133.
134
Bab 134.
135
Bab 135.
136
Bab 136.
137
Bab 137.
138
Bab 138.
139
Bab 139.
140
Bab 140.
141
Bab 141.
142
Bab 142.
143
Bab 143.
144
Bab 144.
145
Bab 145.
146
Bab 146
147
Bab 147.
148
Bab 148.
149
Bab 149.
150
Bab 150.
151
Bab 151.
152
Bab 152.
153
Bab 153.
154
Bab 154.
155
Bab 155.
156
Bab 156.
157
Bab 157.
158
Bab 158.
159
Bab 159.
160
Bab 160.
161
Bab 161.
162
Bab 162.
163
Bab 163.
164
Bab 164. Ending.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!