Bab 5.

Wajah Luis sangat menyeramkan, saat Nigel menarik tangan Laura.

"Siapa kamu?!" tanya Luis marah.

"Aku pacar Laura," sahut Nigel.

Luis sedikit terkejut, lalu tatapannya beralih ke arah Laura.

Laura hanya menundukkan wajahnya.

Sementara semua anggota tim basket dan cheerleader SMA Bintang juga nampak terkejut, dengan ucapan Nigel yang mengaku sebagai pacar Laura.

Karena setahu mereka, Laura jarang sekali keluar rumah atau terlihat nongkrong di cafe dan mall.

Mengingat status Laura sebagai anak pelayan rumah Luis, darimana dia mengenal Nigel yang notabene juga tuan muda kelas atas dikota Utara?

Tanda tanya besar itu juga mengganjal di otak semua orang yang mengenal Laura.

Sementara para murid yang menjadi penonton di tribun, malah kegirangan melihat aksi Nigel yang terlihat begitu romantis.

Melihat Laura diam, Nigel segera membawa Laura meninggalkan lapangan basket dan membawanya menuju UKS.

Sementara Luis menatap punggung Nigel dengan tangan terkepal, "Laura sepertinya aku terlalu meremehkan mu! Jangan-jangan pria yang membuatmu hamil adalah Nigel!" Gumam Luis dalam hatinya, semakin membayangkannya hatinya malah semakin terasa sakit.

Emma bingung dengan reaksi Luis. Ia lalu berjalan mendekat dan mengambil botol air mineral yang jatuh.

"Luis, kamu nggak usah marah. Aku yang akan membawa botol ini!" ujar Emma dengan senyuman manis.

Saat ia hendak berjongkok, Luis menghentikannya. "Menjauhlah!" ucapnya dengan nada marah. Beberapa anggota tim basket saling berpandangan.

Walaupun Luis sering bersikap dingin pada Emma, tapi ia belum pernah membentaknya.

Sontak Emma pun terkejut, "Apa?"

Luis akhirnya tersadar, untuk apa ia marah dan melampiaskannya pada Emma.

"Lebih baik kamu kembali ke timmu. Aku yang akan membereskannya," kata Luis, yang langsung membuat Emma tersenyum.

Gadis itu salah paham, mengira Luis sangat perhatian dan tak mengizinkannya membawa botol-botol air mineral maupun handuk handuk miliknya, karena biasanya barang-barang itu sudah dibawakan oleh petugas lapangan.

Mengingat SMA Bintang termasuk salah satu sekolah elite.

Padahal Luis cuman tidak ingin slayer milik Laura yang terjatuh dipegang orang lain, tapi agar tidak membuat yang lain curiga.

Laki-laki itu pura-pura mengambil beberapa botol air mineral, agar teman-temannya yang lain tidak menaruh curiga.

Sementara itu di ruang UKS.

Nigel duduk dengan hati-hati di bangku UKS, tangannya yang hangat dan cekatan membersihkan luka lecet di siku Laura dengan kapas yang dibasahi antiseptik.

Wajahnya tampak tenang namun penuh perhatian, sorot matanya tak pernah lepas dari luka yang sedang ia rawat.

Laura menatapnya dengan mata yang masih sedikit bingung dan lelah, rasa sakit di tubuhnya mereda sedikit karena sentuhan lembut Nigel.

"Kenapa kamu baik dan sangat peduli padaku?" suara Laura lirih, diselingi napas pendek.

Matanya menatap dalam ke arah Nigel, mencari jawaban dari kebaikan yang tak biasa dia rasakan sejak kehilangan ingatannya.

Selama ini, hanya ayahnya yang selalu menyayanginya tanpa syarat, namun kini ada sosok lain yang membuat hatinya hangat.

Nigel tersenyum ringan, menatap Laura dengan penuh kehangatan. "Udah aku bilang, kita tumbuh bersama sejak kecil. Bukankah katanya kamu ingin jadi istriku?"

Ucapan Nigel sontak membuat pipi Laura memerah. "Apakah benar dulu aku bilang begitu? Soalnya aku hanya anak haram ..."

Laura benar-benar sulit mempercayai ucapan Nigel, mengingat dirinya hanya anak haram.

Tadi beberapa temannya banyak yang membicarakan Nigel, dia termasuk jajaran keluarga konglomerat dikota Utara. Tidak mungkin kedua orang tua Nigel membiarkan putra semata wayangnya bertumbuh bersama dengan anak haram seperti dirinya.

Laura malah merasa tidak mempercayai ucapan Nigel.

Nigel malah bingung dengan ucapan Laura, yang membahas anak haram. Tapi saat ingin menjelaskan.

Wajah Laura malah berubah murung dan pucat.

"Maaf tadi aku mengaku jadi pacarmu." Suaranya mengandung nada bercanda, namun ada kejujuran di balik candaan itu yang membuat suasana menjadi lebih akrab.

Laura menggeleng pelan, bibirnya membentuk senyum tipis yang tulus. "Terimakasih," ucapnya singkat, tapi penuh makna.

Tiba-tiba Laura merasa pusing, bahkan pandangannya menggelap.

Nigel pun memilih menelpon rumah sakit miliknya agar menyiapkan tempat, dan membawa Laura kesana dengan mobilnya.

Di lapangan basket, pertandingan akan segera dimulai.

Tapi salah ketua tim basket SMA Garuda mengumungkan jika ketua tim mereka tidak bisa ikut bertanding, karena ada urusan yang mendesak.

Hal itu membuat para penonton kecewa.

Bukan hanya para penonton saja, melainkan dengan Luis juga.

Luis berkata pada Aron, "kamu juga katakan pada panitia. Kalau aku juga nggak bisa ikut tanding, ayahku tiba-tiba menelponku."

Aron pun mengangguk. Tanpa menaruh curiga.

Hal itu sontak membuat semua penonton bertambah kecewa, tak kecuali Emma.

Ntah kenapa Emma merasakan ada yang janggal dengan kepergian pacarnya, tapi dia memilih mengabaikan perasaannya.

Mengingat ayah Luis sangat sibuk dengan bisnisnya yang banyak, semua bisnisnya diurus sendiri, mengingat Lucian Wilson putra tunggal dikeluarganya. Dan masuk ke dalam jajaran orang terkaya di kota Utara.

"Mungkin ada urusan mendesak," gumam Emma seraya memandang punggung pacarnya.

Luis dengan amarah berkobar berlari ke UKS, tapi sayang disana Laura tidak ada.

Ia ingin menelpon, tapi tidak punya nomor ponsel Laura.

Luis membuka daftar blokir, tapi nomor yang ia blokir banyak sekali. Ia bingung yang mana nomor Laura.

Ditengah kebingungannya, ia mendapatkan telepon dari ayahnya.

Lucian sangat marah pada Luis, karena tidak menjaga Laura dengan baik dan menyebabkan Laura sekarang ini berada dirumah sakit.

Luis mengemudikan mobilnya dengan kecepatan 200 km/jam guna meluapkan amarahnya yang sudah sampai ubun-ubun. "Kamu pura-pura sakit karena hari ini nggak mau jadi pesuruhku, dan pastinya agar kamu bisa berduaan dirumah sakit dengan pacar sialanmu itu-kan Laura?"

Mobil mewah Luis berkilauan di bawah sinar matahari pagi, terparkir rapi di area VVIP rumah sakit Utara.

Langkahnya yang jenjang dan mantap menghentak aspal, jersey basket SMA yang membungkus tubuh atletisnya membuatnya tampak seperti raja di lingkungan sekolah.

Wajahnya penuh amarah yang terkendali saat ia menapaki lorong menuju ruang perawatan Laura.

Di dalam ruangan yang berbau antiseptik itu, Laura masih mengenakan seragam SMA yang kusut, matanya yang semula kosong mulai terbuka perlahan.

Tubuhnya yang lemah seketika tegang ketika tangan Luis tiba-tiba melingkar erat di lehernya, cekikan yang tidak hanya menyakitkan secara fisik, tetapi juga melukai harga dirinya.

"Laura," suara Luis berat, penuh dendam dan kecurigaan yang membara, "sepertinya di balik kepolosanmu itu, kamu benar-benar sosok yang liar. Nigel adalah ayah dari bayi yang kamu gugurkan, bukan?"

Mata Laura membelalak, dadanya naik turun berusaha menarik napas dalam-dalam agar tidak pingsan lagi.

Ia menggeleng keras, suara seraknya nyaris tak terdengar, "Aku sudah bilang berkali-kali… ASI-ku keluar karena kelebihan hormon. Bukan karena itu."

Namun ketegangan di wajah Luis tidak surut.

Tatapannya yang dingin menusuk seperti pisau, seolah menuntut kebenaran yang belum ia terima.

Tubuh Laura gemetar, bukan hanya karena cekikan, tapi juga karena beban tuduhan yang menghancurkan hatinya perlahan.

Di balik rasa sakit itu, matanya menyimpan ketakutan dan keputusasaan yang dalam, terjebak dalam pusaran amarah dan kesalahpahaman yang belum menemukan titik terang.

"Aku mati kalau kamu nggak melepaskannya," ujar Naura di sisa-sisa tenaganya.

Tiba-tiba pintu dibuka, orang yang baru masuk terkejut melihat Luis mencekik leher Laura.

Episodes
1 Bab 1.
2 Bab 2.
3 Bab 3.
4 Bab 4.
5 Bab 5.
6 Bab 6.
7 Bab 7.
8 Bab 8.
9 Bab 9.
10 Bab 10.
11 Bab 11.
12 Bab 12.
13 Bab 13.
14 Bab 14.
15 Bab 15.
16 Bab 16.
17 Bab 17.
18 Bab 18.
19 Bab 19.
20 Bab 20.
21 Bab 21.
22 Bab 22.
23 Bab 23.
24 Bab 24.
25 Bab 25.
26 Bab 26.
27 Bab 27.
28 Bab 28.
29 Bab 29.
30 Bab 30.
31 Bab 31.
32 Bab 32.
33 Bab 33.
34 Bab 34.
35 Bab 35.
36 Bab 36.
37 Bab 37.
38 Bab 38.
39 Bab 39.
40 Bab 40.
41 Bab 41.
42 Bab 42.
43 Bab 43.
44 Bab 44.
45 Bab 45.
46 Bab 46.
47 Bab 47.
48 Bab 48.
49 Bab 49.
50 Bab 50.
51 Bab 51.
52 Bab 52.
53 Bab 53.
54 Bab 54.
55 Bab 55.
56 Bab 56.
57 Bab 57.
58 Bab 58.
59 Bab 59.
60 Bab 60.
61 Bab 61.
62 Bab 62.
63 Bab 63.
64 Bab 64.
65 Bab 65.
66 Bab 66.
67 Bab 67.
68 Bab 68.
69 Bab 69.
70 Bab 70.
71 Bab 71.
72 Bab 72.
73 Bab 73.
74 Bab 74.
75 Bab 75.
76 Bab 76.
77 Bab 77.
78 Bab 78.
79 Bab 79.
80 Bab 80.
81 Bab 81.
82 Bab 82.
83 Bab 83.
84 Bab 84.
85 Bab 85.
86 Bab 86.
87 Bab 87.
88 Bab 88.
89 Bab 89.
90 Bab 90.
91 Bab 91.
92 Bab 92.
93 Bab 93.
94 bab 94
95 Bab 95.
96 Bab 96.
97 Bab 97.
98 Bab 98.
99 Bab 99.
100 Bab 100.
101 Bab 101.
102 Bab 102.
103 Bab 103.
104 Bab 104.
105 Bab 105.
106 Bab 106.
107 Bab 107.
108 Bab 108.
109 Bab 109.
110 Bab 110.
111 Bab 111.
112 Bab 112.
113 Bab 113.
114 Bab 114.
115 Bab 115.
116 Bab 116.
117 Bab 117.
118 Bab 118.
119 Bab 119.
120 Bab 120.
121 Bab 121.
122 Bab 122.
123 Bab 123.
124 Bab 124.
125 Bab 125.
126 Bab 126.
127 Bab 127.
128 Bab 128.
129 Bab 129.
130 Bab 130.
131 Bab 131.
132 Bab 132.
133 Bab 133.
134 Bab 134.
135 Bab 135.
136 Bab 136.
137 Bab 137.
138 Bab 138.
139 Bab 139.
140 Bab 140.
141 Bab 141.
142 Bab 142.
143 Bab 143.
144 Bab 144.
145 Bab 145.
146 Bab 146
147 Bab 147.
148 Bab 148.
149 Bab 149.
150 Bab 150.
151 Bab 151.
152 Bab 152.
153 Bab 153.
154 Bab 154.
155 Bab 155.
156 Bab 156.
157 Bab 157.
158 Bab 158.
159 Bab 159.
160 Bab 160.
161 Bab 161.
162 Bab 162.
163 Bab 163.
164 Bab 164. Ending.
Episodes

Updated 164 Episodes

1
Bab 1.
2
Bab 2.
3
Bab 3.
4
Bab 4.
5
Bab 5.
6
Bab 6.
7
Bab 7.
8
Bab 8.
9
Bab 9.
10
Bab 10.
11
Bab 11.
12
Bab 12.
13
Bab 13.
14
Bab 14.
15
Bab 15.
16
Bab 16.
17
Bab 17.
18
Bab 18.
19
Bab 19.
20
Bab 20.
21
Bab 21.
22
Bab 22.
23
Bab 23.
24
Bab 24.
25
Bab 25.
26
Bab 26.
27
Bab 27.
28
Bab 28.
29
Bab 29.
30
Bab 30.
31
Bab 31.
32
Bab 32.
33
Bab 33.
34
Bab 34.
35
Bab 35.
36
Bab 36.
37
Bab 37.
38
Bab 38.
39
Bab 39.
40
Bab 40.
41
Bab 41.
42
Bab 42.
43
Bab 43.
44
Bab 44.
45
Bab 45.
46
Bab 46.
47
Bab 47.
48
Bab 48.
49
Bab 49.
50
Bab 50.
51
Bab 51.
52
Bab 52.
53
Bab 53.
54
Bab 54.
55
Bab 55.
56
Bab 56.
57
Bab 57.
58
Bab 58.
59
Bab 59.
60
Bab 60.
61
Bab 61.
62
Bab 62.
63
Bab 63.
64
Bab 64.
65
Bab 65.
66
Bab 66.
67
Bab 67.
68
Bab 68.
69
Bab 69.
70
Bab 70.
71
Bab 71.
72
Bab 72.
73
Bab 73.
74
Bab 74.
75
Bab 75.
76
Bab 76.
77
Bab 77.
78
Bab 78.
79
Bab 79.
80
Bab 80.
81
Bab 81.
82
Bab 82.
83
Bab 83.
84
Bab 84.
85
Bab 85.
86
Bab 86.
87
Bab 87.
88
Bab 88.
89
Bab 89.
90
Bab 90.
91
Bab 91.
92
Bab 92.
93
Bab 93.
94
bab 94
95
Bab 95.
96
Bab 96.
97
Bab 97.
98
Bab 98.
99
Bab 99.
100
Bab 100.
101
Bab 101.
102
Bab 102.
103
Bab 103.
104
Bab 104.
105
Bab 105.
106
Bab 106.
107
Bab 107.
108
Bab 108.
109
Bab 109.
110
Bab 110.
111
Bab 111.
112
Bab 112.
113
Bab 113.
114
Bab 114.
115
Bab 115.
116
Bab 116.
117
Bab 117.
118
Bab 118.
119
Bab 119.
120
Bab 120.
121
Bab 121.
122
Bab 122.
123
Bab 123.
124
Bab 124.
125
Bab 125.
126
Bab 126.
127
Bab 127.
128
Bab 128.
129
Bab 129.
130
Bab 130.
131
Bab 131.
132
Bab 132.
133
Bab 133.
134
Bab 134.
135
Bab 135.
136
Bab 136.
137
Bab 137.
138
Bab 138.
139
Bab 139.
140
Bab 140.
141
Bab 141.
142
Bab 142.
143
Bab 143.
144
Bab 144.
145
Bab 145.
146
Bab 146
147
Bab 147.
148
Bab 148.
149
Bab 149.
150
Bab 150.
151
Bab 151.
152
Bab 152.
153
Bab 153.
154
Bab 154.
155
Bab 155.
156
Bab 156.
157
Bab 157.
158
Bab 158.
159
Bab 159.
160
Bab 160.
161
Bab 161.
162
Bab 162.
163
Bab 163.
164
Bab 164. Ending.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!