Bab 2: Saldo Nol Koma Lima dan Si Teh Hijau
Kecurigaan tentang usia Raymon kusimpan dulu di bagian otak yang bertuliskan: bahaya, tapi belum mendesak.
Saat ini ada hal lain yang lebih dekat dengan tenggorokanku.
Lapar.
Aku turun ke ruang makan dengan langkah yang kuusahakan anggun. Di bawah, Pak Ahin sudah berdiri menunggu. Pria paruh baya itu memakai kemeja putih rapi dan rompi gelap. Wajahnya tenang, tapi matanya bergerak cepat saat melihatku.
Mungkin karena Nyonya Kei yang biasa bangun dengan wajah tidak puas hari ini turun dengan rambut rapi, pakaian sopan, dan ekspresi tidak ingin menggigit siapa pun.
"Makan siang sudah disiapkan, Bu," katanya.
"Terima kasih, Pak Ahin."
Gerakan tangannya terhenti.
Aku pura-pura tidak melihat.
Di novel, Melia asli tidak pernah ramah pada staf saat Raymon tidak ada. Di depan suami, dia bisa tersenyum lembut. Begitu Raymon keluar rumah, semua orang berubah menjadi dekorasi hidup yang boleh diperintah seenaknya.
Aku berbeda.
Selain karena aku masih punya hati, aku juga belum cukup kaya untuk berani bersikap jahat pada orang yang mengatur makananku.
Meja makan panjang itu hampir membuatku merasa sedang menghadiri rapat keluarga kerajaan. Ada sup hangat, ikan kukus, tumis sayur, ayam panggang madu, dan semangkuk kecil sambal matah yang aromanya menggoda.
Aku duduk, lalu melihat Pak Ahin masih berdiri di dekat pintu.
"Pak Ahin sudah makan?"
Dia menatapku seolah aku baru bertanya apakah bulan bisa digoreng.
"Belum, Bu. Nanti setelah Nyonya selesai."
"Kalau begitu makan juga. Tidak harus di sini kalau tidak nyaman, tapi jangan tunggu aku sampai selesai. Nanti makanannya dingin."
Keheningan turun di ruang makan.
Pak Ahin menunduk sopan, namun aku melihat jelas kebingungan di wajahnya.
"Baik, Bu."
Dia mundur dua langkah, lalu seperti teringat sesuatu.
"Hari ini Jumat, Bu. Ko Shawn biasanya pulang lebih cepat dan membawa beberapa teman sekolah."
Sendokku berhenti di udara.
Shawn.
Protagonis muda novel ini.
Anak tiri Melia.
Remaja tujuh belas tahun yang membenci ibu tirinya karena Melia asli selalu mencoba mengontrol hidupnya, berusaha memisahkannya dari Raymon, dan memandangnya seperti penghalang dalam pernikahan.
"Jam berapa biasanya dia pulang?"
"Sore, Bu. Sekitar jam empat. Kadang lebih cepat kalau tidak ada kegiatan tambahan."
Aku menghitung cepat.
Masih ada waktu.
"Baik. Kalau dia membawa teman, siapkan camilan saja. Jangan terlalu formal."
Pak Ahin berkedip.
"Camilan, Bu?"
"Anak SMA tidak butuh jamuan makan seperti direksi. Gorengan kecil, buah, minuman dingin. Kalau bisa bubble tea juga."
Wajah Pak Ahin tetap sopan, tapi jiwanya mungkin sedang mencatat: Nyonya berubah total, harap lapor diam-diam.
Setelah makan siang, aku kembali ke kamar utama. Aku harus menyusun strategi sebelum bertemu Shawn. Tapi begitu masuk kamar mandi, strategi itu langsung hancur diganti rasa ingin menjerit.
Di meja marmer dekat bathtub, ada nampan kecil.
Di atasnya tersusun botol minyak esensial, beberapa kapsul yang labelnya membuat keningku berkerut, dan satu kotak obat kesuburan.
Aku berdiri mematung.
Ingatan pemilik tubuh asli muncul seperti iklan yang tidak bisa dilewati. Tadi malam, Melia asli memang menyiapkan semua ini. Rencananya sederhana dan sangat memalukan: membuat suasana romantis, memakai gaun tidur renda, lalu berusaha membuat Raymon melanggar perjanjian.
Aku mengambil kotak obat itu dengan dua jari.
"Maaf, ya," gumamku pada benda tidak bersalah itu. "Kariermu di rumah ini selesai."
Semua obat dan minyak yang mencurigakan kupisahkan. Yang perlu dibuang kubuang. Yang mungkin masih harus dicek labelnya kumasukkan ke kantong terpisah untuk nanti diserahkan ke Pak Ahin tanpa drama.
Aku tidak mau tubuh ini menyentuh apa pun yang bisa membuat Raymon salah paham.
Perjanjian pranikah adalah tali pengamanku.
Melia asli dulu bisa masuk keluarga Kei karena menyelamatkan Taima Lilian dalam sebuah insiden kecil di luar gereja. Lilian menyukai gadis cantik yang tampak penurut itu, lalu mendorong Raymon menikah. Melia asli, yang melihat kesempatan emas, mengajukan syarat sendiri: status istri, uang bulanan Rp 50 juta, tapi tanpa kewajiban menjadi istri sungguhan sampai waktunya mereka berpisah.
Raymon menerima.
Mungkin karena dia butuh membuat Lilian tenang. Mungkin juga karena dia tidak peduli siapa yang tidur di sisi ranjangnya selama batasnya jelas.
Kontrak ini terdengar absurd.
Tapi untukku, kontrak ini lebih berguna daripada tiket lotre.
Setelah membersihkan meja kamar mandi, aku duduk di sofa kamar dan membuka ponsel Melia.
Saatnya menghadapi kenyataan finansial.
Ada aplikasi bank, dompet digital, tagihan kartu, dan puluhan pesan WhatsApp dari Hendra.
Nama itu membuat perutku tidak nyaman.
Hendra Seng, kakak angkat Melia. Di novel, dia seperti lubang hitam berkaki dua. Setiap bulan, uang Rp 50 juta dari Raymon mengalir ke rekening Melia, lalu hampir seluruhnya berpindah ke Hendra dengan alasan bisnis, utang, biaya hidup, dan kalimat sakti: keluarga harus saling bantu.
Aku membuka rekening pribadi.
Layar memuat beberapa detik.
Lalu angka itu muncul.
Saldo: Rp 0,5.
Aku menatap layar.
Kedua mataku pelan-pelan menyipit.
Nol koma lima.
Bukan Rp 500 ribu.
Bukan Rp 50 ribu.
Lima puluh sen.
Di dunia lamaku, aku memang bukan konglomerat. Tapi bahkan dompet koin di laci mejaku tidak pernah semenyedihkan ini.
Aku membuka mutasi rekening.
Transfer masuk dari Raymon Kei: Rp 50.000.000.
Transfer keluar ke Hendra Seng: Rp 49.999.999,5.
Aku hampir tertawa.
Hendra ini bukan parasit biasa. Dia parasit yang punya kemampuan pembulatan sadis.
Pesan WhatsApp darinya masih masuk.
Hendra: Mel, bulan ini jangan lupa transfer lebih cepat.
Hendra: Abang ada kebutuhan mendesak.
Hendra: Kamu sekarang sudah enak jadi Nyonya Kei, jangan pelit sama keluarga sendiri.
Aku menaruh ponsel di meja dengan pelan.
Tenang.
Jangan langsung balas.
Balasan terbaik untuk parasit bukan debat panjang, tapi memutus sumber makanannya.
Sebelum sempat memblokir nomor itu, suara mobil terdengar dari halaman depan. Tak lama kemudian, rumah yang sejak tadi tenang mulai hidup. Ada suara tawa remaja, langkah sepatu, dan seseorang berseru terlalu keras dari bawah.
"Bro, rumah lo tetap gila sih. Ini mansion atau mall pribadi?"
Aku berdiri.
Shawn pulang.
Aku berjalan ke balkon koridor lantai dua dan melihat ke bawah.
Remaja itu masuk lebih dulu dengan tas disampirkan di satu bahu. Tingginya sudah hampir seperti orang dewasa, wajahnya tampan dengan aura dingin yang sangat familiar. Tapi semakin lama aku melihat, semakin jelas pula satu hal.
Shawn dan Raymon tidak terlalu mirip.
Raymon punya ketenangan tajam seperti pisau yang disimpan di laci mahal. Shawn lebih seperti badai yang pura-pura tidur. Rambutnya agak berantakan, seragam JIS-nya dipakai asal, dan wajahnya menulis jelas: jangan ganggu gue.
Di belakangnya, beberapa teman masuk sambil melihat-lihat. Salah satunya, anak laki-laki berwajah cerah, hampir tidak bisa menutup mulut.
Itu pasti Bima.
"Jadi ini ibu tiri lo?" bisik seorang anak perempuan, tapi suaranya cukup keras untuk kudengar dari lantai dua.
"Katanya cantik banget."
"Cantik sih, tapi kata orang semakin cantik semakin bahaya."
"Ibu tiri di sinetron juga biasanya begitu."
Aku bersandar di pagar balkon.
Bagus. Reputasiku bahkan sudah punya paket lengkap sebelum aku turun.
Shawn melepas sepatu tanpa ekspresi.
"Berisik," katanya pendek.
Teman-temannya langsung tertawa.
Lalu seorang gadis berambut hitam panjang melangkah masuk. Wajahnya manis, matanya besar, dan senyumnya lembut seperti anak baik-baik yang selalu tahu kamera ada di mana.
Dia membawa kotak kecil di tangan.
"Kak Shawn," panggilnya dengan suara halus. "Aku bawakan cookies. Tadi Mama bikin banyak."
Aku nyaris tersedak udara.
Kak Shawn?
Nada itu.
Senyum itu.
Cara dia sedikit menunduk, lalu melirik untuk memastikan Shawn melihatnya.
Radar teh hijau di kepalaku langsung menyala merah.
Fiona Liem.
Aku ingat plot malam ini.
Gadis manis itu akan memasukkan sesuatu ke minuman Shawn. Bukan trik dewasa yang rapi, melainkan kenekatan remaja yang bodoh, berbahaya, dan tetap bisa menghancurkan hidup orang kalau dibiarkan.
Di bawah, Fiona masih tersenyum.
Shawn bahkan tidak menatapnya lama.
"Taruh aja," katanya.
Fiona menggigit bibir kecil, tampak kecewa tapi tetap lembut.
Aku menatap mereka dari lantai dua, tangan perlahan mencengkeram pagar.
Baiklah.
Hari kedua di dunia novel, saldo pribadiku tinggal Rp 0,5, anak tiriku membenciku, dan seekor teh hijau muda sudah membawa kotak cookies ke ruang tamu.
Hidup baruku benar-benar tidak memberi masa percobaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments