Episode 5

Bab 5: Nyonya Kei Muncul di Panggung

Hal pertama yang kulakukan setelah telepon Raymon berakhir adalah mencari namanya di internet.

Raymon Kei.

Hasil pencarian muncul dalam waktu kurang dari satu detik, seolah dunia digital sudah lama siap memamerkan pria itu.

Pendiri KeiTech Group. Menulis program pertamanya untuk sistem logistik saat berusia dua puluh tiga tahun. Mendapat modal awal dari beberapa investor Singapura. Dalam kurang dari sepuluh tahun, KeiTech tumbuh dari perusahaan IT kecil menjadi raksasa teknologi yang masuk Bursa Efek Indonesia.

Di usia tiga puluh dua, ia membawa KeiTech melantai di IDX.

Aku berhenti menggulir.

Tiga puluh dua.

Artikel lama menyebut angka itu dengan jelas. Lalu artikel terbaru, entah bagaimana, selalu menulis usia Raymon sebagai tiga puluh delapan.

Jadi bukan mataku yang bermasalah.

Ada sesuatu pada usia Raymon.

Aku menyimpan pertanyaan itu untuk nanti, lalu membuka tab lain. Kali ini bukan berita bisnis, melainkan gosip sosialita.

Judulnya membuatku ingin tertawa.

Nyonya Kei Jarang Tampil, Benarkah Hanya Wanita Biasa yang Beruntung?

Ada juga yang lebih kejam.

Istri Raymon Kei Disebut Gold Digger, Tubuh Gemuk dan Tidak Pantas Berdiri di Sisi CEO KeiTech?

Aku menatap layar, lalu menatap cermin.

Tubuh Melia Seng jelas tidak gemuk. Bahkan kalau dia gemuk pun, apa urusannya dengan mereka?

Tapi aku mengerti satu hal.

Melia asli selama ini jarang tampil, gaya pakaiannya lembut dan cenderung ingin terlihat seperti istri penurut. Dunia luar mengisi kekosongan itu dengan imajinasi mereka sendiri.

Baiklah.

Kalau mereka ingin imajinasi, aku beri gambar baru.

Dua hari kemudian, kamar utama berubah menjadi medan perang kecil. Penata rambut dan makeup artist yang dihubungi Pak Ahin datang dengan koper besar. Beberapa gaun dikirim dari butik langganan keluarga Kei. Aku memilih satu tanpa ragu.

Gaun merah tua.

Panjang, jatuh bersih mengikuti garis tubuh, dengan potongan bahu yang tegas namun tetap elegan. Bukan merah norak yang berteriak minta dilihat, melainkan merah matang seperti anggur mahal yang diminum orang kaya sambil membicarakan akuisisi.

Rambutku dibuat bergelombang, gaya Hong Kong klasik. Lipstik merah. Anting berlian kecil. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat siapa pun yang pernah membayangkan Nyonya Kei sebagai wanita biasa menelan ulang kata-katanya.

Pak Ahin berdiri di dekat pintu saat aku keluar.

Untuk pertama kalinya, wajah tenangnya retak.

"Bu..." Ia cepat menunduk. "Mobil sudah siap."

"Bagaimana?"

Pak Ahin tampak memilih jawaban yang paling aman. "Pak Ray akan puas."

Aku hampir tertawa.

"Yang penting para tukang gosip tidak puas."

Balai gala berada di hotel mewah kawasan Sudirman. Dari luar, lampu-lampu kristal dan karpet panjang membuat acara amal itu lebih mirip panggung pamer kekayaan yang diberi nama baik.

Bayu Pratama menungguku di lobi. Asisten khusus Raymon itu tampak rapi dalam setelan gelap. Wajahnya ramah, tapi matanya sangat waspada, seperti pria yang bisa tersenyum sambil mematahkan pergelangan tangan orang.

"Bu Melia," sapanya. "Pak Ray sudah di dalam."

"Dia tahu aku datang sekarang?"

"Beliau tahu, Bu."

"Tapi tidak menjemput ke pintu?"

Bayu berhenti setengah detik.

Aku tersenyum. "Tenang, Mas Bayu. Aku bercanda."

Ekspresinya kembali lembut. "Silakan, Bu."

Begitu pintu ballroom terbuka, suara percakapan dan musik live mengalir keluar.

Aku melangkah masuk.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu suara di sekitarku perlahan turun, seperti seseorang mengecilkan volume ruangan.

Tatapan orang-orang menempel di gaunku, wajahku, rambutku, lalu kembali ke wajahku. Beberapa wanita yang tadi berbisik langsung menutup mulut dengan gelas sampanye. Beberapa pria menatap sedikit terlalu lama sampai istri mereka menyenggol siku.

Aku tetap berjalan.

Di ujung ruangan, Raymon berdiri dikelilingi beberapa pengusaha. Setelan hitamnya membuatnya tampak seperti pusat gravitasi. Tidak banyak bicara, tapi semua orang di sekitarnya condong mendengar.

Lalu ia menoleh.

Matanya berhenti padaku.

Gerakannya kecil, hampir tidak terlihat. Tapi aku melihatnya.

Tatapan Raymon yang biasanya datar bergerak dari rambutku ke wajahku, turun sesaat ke gaun merah tua, lalu kembali ke mataku.

Ada jeda.

Satu detik saja.

Namun cukup untuk membuat jantungku lupa aturan kontrak.

Aku berjalan mendekat dengan senyum paling manis yang bisa kubuat.

Kalau harus berakting sebagai istri, lebih baik total.

"Sayang."

Suara itu keluar lembut.

Tangan kananku naik, melingkar di leher Raymon seolah kami pasangan yang sudah terbiasa disentuh. Dari sudut mata, kulihat beberapa orang hampir menumpahkan minuman.

Tubuh Raymon hanya kaku sepersekian detik.

Lalu lengannya bergerak.

Telapak tangannya berhenti di pinggangku, mantap, hangat, dan terlalu alami untuk seseorang yang seharusnya hanya berakting.

"Kamu datang," katanya.

"Tentu." Aku tersenyum ke arahnya, lalu ke orang-orang di sekeliling kami. "Istri yang baik tidak membuat suaminya berdiri sendirian terlalu lama."

Salah satu pria muda di dekat kami, mungkin belum mengenal lingkaran ini dengan baik, menatapku dengan mata berbinar.

"Selamat malam. Saya Adrian. Boleh tahu..."

Aku memotong dengan sopan, "Melia. Istri Raymon Kei."

Wajah pria itu berubah dalam satu kedipan.

"Ah. Maaf, Pak Kei. Saya tidak tahu."

Dia mundur begitu cepat sampai hampir menabrak pelayan.

Aku menahan tawa.

Menjadi istri Raymon ternyata bisa dipakai seperti kartu akses anti pria iseng.

Seorang nyonya berkalung mutiara tersenyum terlalu manis. "Pak Ray, istri Anda ternyata jauh lebih cantik dari foto-foto yang beredar. Tidak heran ada yang berani menyapa."

Kalimat itu terdengar seperti pujian, tapi ujungnya tajam.

Aku hendak menjawab, namun tangan di pinggangku mengerat sedikit.

Raymon tidak menatap nyonya itu. Ia hanya berkata, "Wajar."

Satu kata.

Ruangan di sekitar kami seperti ikut menahan napas.

Nyonya itu tertawa kaku. "Wajar?"

"Istri saya memang mudah menarik perhatian."

Aku menoleh ke arahnya.

Wajah Raymon tetap tenang, seolah baru saja menyebut cuaca. Tapi telapak tangannya tidak bergerak dari pinggangku.

Panas dari tangannya menembus kain gaun.

Aku tiba-tiba sadar jarak kami sangat dekat.

Aroma pinus dingin yang samar, suara rendahnya, bahunya yang lebar, dan tatapan orang-orang yang mengawasi membuat adegan ini terasa terlalu nyata untuk disebut akting.

Aku mengambil napas pelan.

Tidak boleh gugup.

Aku melihat meja hidangan kecil di sebelah, lalu mengambil dua potong kue cokelat untuk menyelamatkan diri dari suasana.

"Kamu mau?" tanyaku pada Raymon.

"Semua untukmu, makan saja."

Nada suaranya ringan. Tapi karena yang bicara Raymon, kalimat sesederhana itu terdengar seperti keputusan rapat pemegang saham.

Aku menggigit kue, manisnya langsung meleleh di lidah.

Di seberang ruangan, kilatan kamera ponsel menyala diam-diam.

Foto kami pasti akan beredar malam ini.

Raymon sedikit menunduk. "Tidak nyaman?"

"Tidak." Aku balas berbisik. "Aku hanya sedang menghitung berapa orang yang besok akan menghapus gosip lama mereka."

Sudut bibirnya bergerak tipis.

Sangat tipis.

Tapi kali ini aku yakin melihatnya.

Tangan Raymon tetap di pinggangku, hangat dan mantap, seolah posisi itu memang sudah menjadi tempatnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke dunia novel ini, aku merasa peran Nyonya Kei mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang tertulis di kontrak.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!