Bab 2

Jam menunjukkan pukul 20.00.

"Akhirnya... selesai juga," kata Aca sambil merenggangkan tangan dan tubuhnya yang kaku. Dia baru saja menyelesaikan dokumen yang tadi sudah disepakati antardua perusahaan.

Aca langsung membereskan meja kerjanya, lalu menuju ke parkir motor.

Sore tadi, hujan deras mengguyur kota. Air masih menggenang di jalan. Aca berhenti karena lampu merah. Saat lampu berubah menjadi hijau, tiba-tiba ada mobil melintas dengan cepat sehingga air yang menggenang menciprati Aca.

"Aduh... benar-benar orang itu. Enggak ada sopan santun dalam berkendara. Hei, woy, berhenti!!!" teriak Aca.

Mobil itu sudah melaju dan tidak mendengar teriakan Aca. Dengan kesal, Aca memacu motornya mengejar mobil tersebut.

"Haha, ternyata keadilan masih berada di tanganku," kata Aca sambil tersenyum.

Jalan itu sedikit macet, jadi mobil yang dikejar Aca ikut berhenti. Aca menepikan motornya dan langsung menghampiri mobil itu.

Tok... tok... tok...

Aca mengetuk kaca mobil itu. Pemilik mobil menurunkan kaca jendelanya.

"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya pemilik mobil.

"Maaf, bisakah Anda keluar sebentar?" pinta Aca dengan sopan.

Ternyata pemilik mobil itu seorang pria. Pria itu melirik jam di tangannya dan memutuskan untuk keluar.

"Oke, lima menit. Anda bisa memanfaatkan waktu lima menit itu," kata pria itu sambil memasukkan tangan ke dalam saku celananya.

"Apa Anda tadi tidak melihat di perempatan jalan sana ada genangan air?" tanya Aca.

"Saya lihat. Lalu kenapa?" jawab pria itu dengan tenang.

"Anda tanya kenapa? Lihat yang Anda perbuat!" kata Aca kesal sambil menunjukkan bajunya yang basah.

"Sebutkan nomor rekeningmu," kata pria itu sambil mengeluarkan ponsel dari jasnya.

"Maksud Anda apa?" Aca malah bertanya balik.

"Kau ingin aku bertanggung jawab, bukan?" kata pria itu agak kesal.

"Oh, jadi begini cara orang kaya bertanggung jawab?" kata Aca kesal.

Pria itu hanya menatap Aca sambil memicingkan matanya.

"Maaf, saya tidak butuh uang dari Anda," jawab Aca sambil melipat tangan di depan dada.

"Saya tidak punya banyak waktu hanya untuk meladeni hal seperti ini," kata pria itu sombong.

Aca menatap pria itu dari atas ke bawah. Wajahnya terasa tidak asing.

"Sombong sekali Anda. Apakah Anda tidak diajarkan etika? Setidaknya, kalau melakukan kesalahan, minta maaf. Anda bilang Anda melihat ada genangan air di sana. Dan Anda pasti melihat air itu mengenai saya. Seharusnya Anda menepi dan meminta maaf, bukan malah bersikap sombong seperti ini," kata Aca kesal.

Pria itu hanya diam menatap Aca.

"Kau tahu, Nona, kau sedang berurusan dengan siapa?" tanya pria itu sambil mendekatkan wajahnya ke Aca.

"Aku tidak takut dan tidak peduli siapa Anda. Kalau memang Anda salah, seharusnya Anda meminta maaf. Bukan malah menyombongkan kekuasaan Anda," tegas Aca, meski tangannya gemetar.

"Woy, minggir! Enggak ada tempat lain apa?" teriak pengemudi mobil di belakang.

Mereka berdua kaget dan menoleh ke arah sumber suara. Pria itu langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya, meninggalkan Aca sendirian di situ.

"Dasar orang sombong!" teriak Aca.

Aca langsung teringat dengan laki-laki yang dia tabrak tadi siang di bar. "Oh, ternyata dia orang yang sama. Pantas saja belagu sekali. Awas saja kalau bertemu lagi," gumam Aca kesal.

Akhirnya, Aca memutuskan untuk pulang.

 

Di kontrakan paviliun tempat Aca tinggal, suasana hatinya sedang tidak baik. Orang tuanya sudah lama bercerai. Aca ikut dengan ayahnya, sementara adiknya ikut ibunya.

Namun, setelah ayahnya menikah lagi, Aca memutuskan untuk tinggal sendiri di kontrakan. Ayahnya sudah berubah. Dia menjadi cuek dan lebih memperhatikan istri barunya.

Aca juga tidak pernah berhubungan baik dengan ibunya. Selama Aca bekerja, ibunya selalu meminta gajinya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Sementara adiknya juga tidak tahan dengan sikap ibunya, dan memilih pergi untuk memulai hidup yang layak.

Untungnya, Aca masih berhubungan baik dengan adiknya. Mereka saling menguatkan. Jika ada waktu, mereka memutuskan untuk bertemu, walau hanya sehari. Setidaknya itu bisa menghilangkan rasa rindu mereka.

Aca langsung membersihkan diri dan merebahkan tubuh di atas ranjang.

"Hah... lelah sekali," kata Aca sambil memijat pelipisnya. "Aku lapar. Enaknya makan apa, ya?" gumamnya sambil membuka aplikasi ojek daring. "Mie kuah pedas sepertinya enak."

Akhirnya, Aca memesan mie kuah pedas dan es jeruk.

Selama menunggu pesanan selama 20 menit, Aca membaca berita terkini. Tiba-tiba, ada pesan masuk di grup kantor.

"Besok, Pak Brata Wijaya, pemilik PT Wijaya Grup, akan memperkenalkan CEO baru. Untuk penyambutan besok, setiap divisi diwakili untuk memberikan penghormatan kepada CEO. Dan saya memutuskan yang mewakili divisi kita adalah Aca," pesan dari Pak Harun di grup.

"Kenapa harus saya, Pak?" balas Aca.

"Ini perintah, Aca. Tidak ada penolakan," balas Pak Harun.

"Siap, Pak," jawab Aca.

Yang lain hanya menyimak.

"Dan yang lain juga ikut hadir dalam penyambutan. Kalian bisa duduk di bangku aula yang sudah disediakan. Tolong berpakaian yang rapi. Karena CEO kita tidak suka melihat yang tidak rapi," pesan Pak Harun lagi.

"Siap, Pak," jawab teman-teman yang lain.

Pesanan datang. Padahal Aca sudah tidak nafsu makan, tetapi perutnya sangat lapar. Terpaksa dia menghabiskannya. Setelah makan, Aca pun tidur. Dia menyetel alarm lebih pagi dari biasanya agar bisa mempersiapkan diri untuk besok.

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!