Nama ku Arabella Anastasya, aku di lahirkan di jakarta pada tahun 2004. sekarang aku berusia 22 tahun. Papa ku bernama Zevano Hendra Mahesa dan ibuku bernama Isabella Rudolf. Setelan ibuku meninggal aku di asuh oleh mama sambung ku Safira. Mama Safira sangat sayang dan perhatian padaku, seperti anak kandungnya sendiri.
Tak lama kemudian Mama melahirkan dua adik kembar ku, bernama Jordan dan Jordy. Kami selalu hidup rukun dan harmonis, jarang ada pertengkaran atau keributan di tengah-tengah keluarga kami. Kami semua hidup rukun dan bahagia.
Seorang Papa yang bijaksana dan penyayang serta Mama yang baik dan pengertian, membuat ku sangat nyaman berada disini. Kini aku sudah beranjak dewasa dan mendapat mandat dari opah untuk mengurus perusahaannya di Jerman. Sebagai anak sulung, aku harus siap menerima amanah ini. Meskipun aku belum pernah mengurus perusahaan, tapi aku yakin bisa menjalani perusahaan besar ini dengan baik.
Aku juga di minta opah dan Papa untuk merahasiakan identitas asliku, sebab masih banyak kecurangan di perusahaan. Aku harus berpura-pura jadi karyawan biasa dan mengamati orang-orang yang telah bermain licik.
Didalam perusahaan aku dibantu oleh orang kepercayaan opah. Dan aku tidak menggunakan nama Arabella, sebab sudah banyak orang yang tahu nama itu, cucu pertama dari opah Reno Mahesa. Sekarang aku gunakan nama belakang ku Tasya, agar mereka tidak ada yang curiga.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Arra sudah landing dan berada di bandara Munich internasional airport. Lima belas menit kemudian, mobil yang menjemputnya sudah datang.
"Selamat datang di Germany nona Arra, perkenalkan saya Allan, supir pribadi nona."
"Allan? Apa kamu sudah tahu kedatangan ku kesini?"
"Sudah nona, saya salah satu orang kepercayaan tuan Reno."
"Tapi, usia mu masih terlihat muda." tanya Arra ragu.
"Ayah saya orang kepercayaan tuan Reno, seharusnya Ayah yang menjemput nona, tapi Ayah sedang sakit dan aku yang menggantikannya."
"Ohhh... Oke."
Allan membuka pintu mobil belakang, lalu Arra masuk kedalam sedan hitam. Mobil melaju dengan cepat melintasi jalanan raya yang indah.
"Allan, apa kamu juga berkerja di perusahaan opah ku?" tanya Arra yang begitu penasaran dengan sosok pria tampan, yang sedang menyetir.
"Tidak! Aku hanya menggantikan sementara ayah ku yang sedang sakit."
"Kamu... sudah bekerja atau masih kuliah." Arra terus bertanya, seperti ingin mengenal sosok pria di depannya.
Allan menyunggingkan senyuman tipis "Aku pria pengangguran."
"Ohya?! Sahut Arra terkejut
["Tapi, dari penampilannya dia tidak terlihat pria kere atau pengangguran. Wajahnya tampan, tubuhnya atletis, pakaianmu sangat rapih dan rambutnya di sisir rapih kebelakang." gumam Arra dalam hati]
"Kenapa nona diam? Apa ada lagi pertanyaan yang harus saya jawab."
[Cih! Pria ini sungguh menyebalkan!]
"Tidak ada lagi!" Ketusnya kesal
Satu jam kemudian mobil berhenti di sebuah rumah besar berlantai tiga. Rumah megah dengan pekarangan sangat luas dan pilar-pilar tinggi yang menjulang. Cat tembok bewarna putih dan pilar berwarna kuning emas, terlihat rumah classic bergaya eropa.
"Akhirnya aku kembali ke rumah ini lagi, saat aku kecil opah sering membawa ku kesini. Saat opah bekerja, aku main bersama nenek buyut Andini. Rumah ini tidak pernah berubah, masih mentereng seperti dulu."
Dari dalam rumah keluar wanita paruh baya berusia 50 tahunan bertubuh gempal, ia berjalan tergopoh-gopoh kearah mobil yang terparkir di halaman.
"Selamat datang nona Arra?" sapanya sopan.
"Bibi Zelda?" seru Arra sambil menerima uluran tangan wanita paruh baya itu.
Bibi Zelda adalah salah satu asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumah Andini. Ia juga orang kepercayaan Reno untuk mengurus rumah Andini. Sang ibu sudah meninggal dunia dan di kuburkan di halaman belakang dekat dengan makam suaminya Ramon Mahesa.
"Akhirnya kamu pulang kembali kerumah ini." ucap Zelda sambil berjalan masuk kedalam rumah bersama Arra.
"Rumah besar ini sangat sepi sejak nenek buyut mu meninggal."
"Aku juga heran bi, kenapa opah tidak mau tinggal disini. Padahal rumah ini sangat besar dan nyaman."
"Setahu bibi, tuan Reno tidak ingin menjadikan rumah ini kenangan pahit. Ia sangat sedih bila pulang tanpa kehadiran ibu Andini. Seringkali bibi lihat tuan Reno menangis di makam ayah dan ibunya."
"Aku mengerti sekarang, kenapa Opah tidak mau menghabiskan masa tuanya disini, ternyata masih kehilangan nenek dan kakek buyut."
"Sekarang kamu mandi dan istrahat dulu. Bibi akan siapkan makan siang untuk mu."
"Baik bii..."
Zelda membawa Arra kelantai dua, lalu membuka handle pintu. "Ini dulu kamar tuan Reno, saat ia masih kecil dan tinggal bersama kakeknya tuan Mahesa."
"Kamar ini sangat luas bii, dulu opah selalu pakai kamar ini bila pulang ke Germany."
"Iya, sekarang kamar ini jadi milik nona."
"Kenapa harus dikamar ini? bukankah masih banyak kamar yang lain?"
"Tuan Reno yang meminta nona Arra tempati kamar ini."
"Hufh! Arra menghela nafas pelan "Baiklah, Opah terlalu sayang padaku, sampai-sampai kamar ini harus aku yang tempati."
Zelda berjalan kearah lemari dan membukanya "Didalam lemari ini, sudah tersedia berbagai merk pakaian dan tas untuk mu nona."
Arra tercengang "Wow... Siapa yang menyiapkan ini semua bii? Pakaian ini semuanya branded? Dan tas-tas ini juga harganya milyaran."
"Nyonya Fanny yang belikan ini semua."
"Ap-apa?! Omah Fanny yang siapkan ini semua?"
"Iya! Dulu, saat nyonya Andini sedang sakit. Nyonya Fanny yang menemani, ia tidur di kamar bawah samping kamar nyonya Andini. Setelah nyonya Andini meninggal, nyonya Fanny pulang ke jakarta bersama suaminya tuan Frans. Ia kembali kesini sebulan yang lalu, katany nona Arabella akan tinggal disini dan mengurus perusahaan, beliau yang belikan barang-barang branded ini."
"Omah Fanny sangat baik, aku sangat rindu padanya. Aku akan hubungin Papa untuk ucapkan terima kasih padanya."
"Ya sudah bibi ke dapur dulu, untuk siapkan makan siang."
"Iya bii.."
Arra melepaskan pakaiannya dan masuk kedalam kamar mandi untuk bersih-bersih. Setengah jam kemudian ia sudah selesai mandi dan pakai baju santai. Arra keluar kamar menuju ruangan makan.
Diatas meja sudah tersedia berbagai hidangan kesukaan Arra. Gadis cantik berambut panjang itu menarik kursi dan menikmati makan siang. Tiba-tiba ia teringat akan sosok pria yang menjemputnya di bandara.
"Allan... Kemana dia?"
Tolong berikan LIKE', VOTE/ GIFH, RATE BINTANG 5 DAN KOMENTAR KALIAN, agar Bunda semakin semangat menulis. (Bantu komentar di rate bintang lima All 🥰🥰)
💜💜💜💜
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
🌺 Tati 🐙
berarti ini kisah tahun 2046,pasti di tahun itu makin canggih,tapi kayanya juga makin bebas🤭
2026-06-21
2
Zainab Ddi
author ditunggu updatenya selalu untuk kelanjutannya 💪🏻😍 8
2026-06-21
2
Oma Gavin
pasti seru ini Reno sudah beranak Pinak jadi banyak cucunya
2026-06-21
2