Bab : 2 Perjodohan

Kuliah berakhir sekitar jam 4 sore. Rea berjalan pulang bersama Dera, di jalan dia bertemu Dante, Darius Aresta Dante-cowok playboy yang suka gonta-ganti pasangan, namun dia bukan mokondo.

"Dan!" Rea melambaikan tangan.

Dante berbeda fakultas dengan Rea. Rea sendiri berada di Fakultas bahasa dan seni bersama Dera, sedangkan Dante berada di fakultas teknik. Jarak fakultas mereka cukup jauh, harus melewati beberapa fakultas, dan jika berjalan kaki, dipastikan betisnya akan bengkak.

"Lo ngapain ke sini, Dan?" tanya Dera. Orang yang paling Ilfeel dengan kelakuan Dante.

"Sewot amat lo kalau ketemu gue."

"Emang, gue alergi sama cowok playboy."

"Gue juga alergi sama cewek pick me kek lo."

"Stop, udah deh. Lo ke sini mau ngapain, Dan? Nggak lagi ngincer anak bahasa, kan?"

Dante tersenyum seperti biasa, jiwa casanovannya memang sering meronta jika melihat cewek bening, kecuali Rea dan Dera.

Bagi Dante, Rea sudah seperti saudara. Di samping itu dandanan Rea yang mirip cewek cupu abad pertengahan, sama sekali bukan typenya Dante karena dia sendiri memang belum pernah melihat wajah asli Rea seperti Dera.

"Kalau ada yang glowing kenapa nggak."

"Tuh kan, mulai lagi." Dera sewot sendiri.

"Emang kenapa? Heran gue sama lo. Selalu aja sewot sama gue. Toh gue bukan pacar lo, kecuali lo mau gue pacarin."

"Najis."

"Stop, kembali ke topik awal, jadi mau ngapain lo ke sini?" tanya Rea karena tidak biasanya Dante pergi ke fakultasnya, jika tidak ada hal penting.

"Mau ngajakin lo ikut kencan buta. Atta nikahin Cleo, gue tau, lo pasti patah hati."

Rea terdiam, kencan buta?

Seperti dia tidak laku saja sampai harus mengikuti kencan buta.

"Nggak, gue nggak minat pacaran. Lagian gue nggak patah hati karena Atta ninggalin gue."

"Siapa yang nyuruh lo pacaran, njirr. Sepupu gue niat nyari istri, bukan nyari pacar. Dia wisuda tahun kemarin, sekarang dia bekerja di perusahaan bonafit. Dia cowok baik-baik, pengen nyari istri wanita baik, gue yakin dia cocok sama lo, sepupu gue rada introvert, lagian gue nggak bakal ngejerumusin lo kali."

Dera menyenggol bahu Rea yang diam mendengar ucapan Dante. "Coba aja dulu."

"Nggak minat."

"Halah dateng aja dulu, lihat-lihat kalau cocok jalanin. Kalau nggak, cukup temenan, apa salahnya."

"Oke, kapan?"

"Besok, di caffe summer, meja nomor 6. Udah reservasi karena banyak pasangan yang ikut kencan buta buat besok.

Mau, ya."

"Oke."

***

Sore itu Caffe summer sudah ramai, dan Rea memang datang ke sana.

Memang benar, banyak pemuda dan pemudi yang datang ke sini, sesuai informasi dari Dante. Mereka ingin melakukan kencan buta di tempat ini. Namun, tak sepenuhnya juga, masih ada beberapa pelanggan caffe umum yang datang, namun duduk di meja barisan kanan karena barisan kiri dikhususkan untuk peserta kencan buta.

"Theo, lo tunggu di sini. Perut gue tiba-tiba mules."

"Lama?"

"Nggak, cepet kok. Ntar kalau ada cewek nyariin gue. Lo bilang aja gue lagi ke kamar mandi."

Dimas Theo Danastra, hanya mengangguk tanpa ekspresi seperti biasanya. Dia duduk di meja nomor 9, menunggu temannya yang mengikuti kencan buta, yang memakai meja nomor 8.

Sembari menunggu temannya, dia membuka ponsel, hanya untuk sekedar membaca manhwa online yang menjadi favoritnya, sampai tiba-tiba seorang anak kecil terjatuh setelah menabrak mejanya, akibat berlari.

"Mama sakit!" serunya.

Theo berdiri, dia ingin menolong anak itu, namun ibunya sudah tiba, dan langsung meminta maaf. Nomor meja Theo sempat jatuh dan wanita itu mengembalikannya lagi ke atas meja, lalu meminta maaf.

Sialnya, wanita tersebut malah membalik nomornya, tanpa Theo ketahui.

Pemuda itu kembali duduk dan asyik membaca manhwa di layar ponselnya.

Sementara itu, Rea yang baru tiba, langsung merotasikan pandangannya, pada deretan meja.

"Kata si Dante, sepupunya ada di nomer 6."

Pandangannya mengedar, sampai dia menemukan cowok bertopi hitam, tengah sibuk dengan ponselnya, dan dia duduk di meja nomor enam.

"Itu dia."

Rea berjalan cepat, sampai akhirnya berhenti tepat di depan seorang pria yang tampak asyik dengan dunianya sendiri.

"Permisi, boleh duduk. Kenalin, gue Rea. Daniella Adriana Rea, temennya Dante, dan gue pasangan kencan buta, lo."

Rea mengulurkan tangan dengan senyum cerahnya, bersamaan dengan Theo yang mendongak dengan wajah datar, dan tatapan dinginnya, plus bibir tanpa senyum.

Rea terpaku, bibirnya kelu.Sesaat dia sempat terpana akan sosok Theo. Namun, buru-buru dia menggeleng cepat.

Theo si cowok kulkas seribu pintu dari fakultas teknik, ketua ospek paling ditakuti semua Maba karena tidak pernah tersenyum, dan hobi memberi hukuman jika mereka melanggar aturan ospek.

"Lo, lo temen kencan buta gue?" tanya Rea, dan Theo hanya diam tak menjawab apa-apa.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pertemuan pertama itu tidak sengaja, pertemuan kedua mungkin kebetulan, tapi pertemuan ketiga, itu adalah jodoh.

Suara deru motor berhenti di depan rumah mewah, bak istana dengan halaman luas. Terlihat pohon cemara yang berjajar sepanjang jalan berpaving blok dari pintu gerbang setinggi dua meter, hingga ke pintu utama.

Ada kolam air mancur di tengah halaman, dan garasi dengan banyak mobil berjajar di sayap kiri bangunan.

Seorang gadis cantik membuka helmnya, lalu turun dari motor sport berwarna merah, yang dia parkirkan di halaman. Toh nanti ada sendiri yang menyimpan motor kesayangannya itu di garasi.

Gadis itu berjalan sembari mengikat rambutnya ke belakang yang tadi tergerai indah. Lalu masuk ke dalam rumah.

"Aku pulang!"

"Non Rea!" Seorang wanita paruh baya setengah berlari menghampiri gadis cantik berambut hitam yang ternyata adalah Rea. Di balik dandanan cupunya, Rea adalah putri sulung keluarga konglomerat Arisatya, seorang pebisnis yang memiliki anak cabang perusahan di mana-mana, juga sekolah menengah milik keluarganya yang begitu terkenal, dan berakreditasi A.

Ibunya adalah kepala rumah sakit, sekaligus dokter spesialis bedah di rumah sakit terkenal di kota ini.

Hidup Rea seperti tuan Puteri, namun dia selalu kesepian karena ayah dan ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Kisah asmaranya juga berantakan. Pernah menyukai seorang pria, tapi ternyata dia hanya memanfaatkannya saja karena status Rea yang berasal dari keluarga konglomerat.

Maka dari itu, Rea memilih menyamar menjadi orang biasa, untuk mendapatkan teman dan pasangan hidup yang menyukai dia apa adanya, tanpa memandang status siapa dia sebenarnya.

"Bi Arsi, ada apa? Kok buru-buru banget kayaknya."

"Oh, itu dicari Tuan besar.Beliau ada di ruangan kerjanya nungguin Non Rea."

Mengernyitkan dahinya, Rea sedikit kaget, tidak tahu jika ayahnya sudah kembali dari Jepang. Jika begini caranya, dia tidak akan bisa ke mana-mana, dan menjadi tahanan rumah.

Ayahnya itu sedikit overprotektif. Apalagi pergaulan jaman sekarang, selain itu Rea adalah pewaris kerjaan bisnis Arisatya. Tentu dia harus menjaga sikap, dan tidak bergaul sembarangan.

"Papi udah pulang, Bi?"

"Udah, Non. Dari sejam yang lalu, nanyain Non Rea terus. Emang Non Rea dari mana? Dari tempat Mbak Dera?"

Rea menggeleng, dia tidak bertemu Dera hari ini. Sejak dari caffe summer tempatnya kencan buta, Rea langsung kembali ke rumahnya karena tahu ayahnya akan kembali dari Jepang. Namun, dia pikir ayahnya akan kembali nanti tengah malam karena pria bernama Jeremy Arisatya itu mengatakan pesawatnya delay.

"Dari kencan buta, Bi." Dia menjawab dengan senyum manisnya, dan lesung pipi yang hanya sebelah-tepatnya di sebelah kanan.

"Kencan buta? Kenapa ikutan acara begituan sih, Non. Buat apa? Kaya Non Rea nggak laku aja."

Rea terkekeh. "Cuma iseng, eh tadi aku ketemu cowok ganteng banget kaya Gege China, tapi sayang dia orangnya kaku, nggak pernah senyum, ngomongnya irit, nyebelin. Tapi tau nggak, Bi. Pas aku ngajakin dia nikah, dia langsung marah,terus kabur, lucu sih." Rea menceritakan saat pertemuannya dengan Theo tadi saat di caffe.

"Terus gimana, Non?"

"Ya akhirnya kukejar orangnya, ku suruh bayar lah pesenan ku di caffe. Enak aja, aku kan nggak mau rugi, lagian Bi aku cuma mau ngetes tuh cowok mokondo atau nggak. " Rea tertawa.

Bi Arsi sudah hapal dengan kelakuan nona mudanya ini.

Mudah akrab dengan orang lain, bahkan di luar sana, dia tidak pernah menunjukkan siapa dirinya karena ingin berbaur dengan yang lain. Meskipun Rea dengan dandanan cucunya sering menjadi target bully anak-anak di kampus, tapi Rea tak kapok, bukan dia menangis, namun si pembully yang kena mental karena dihajar oleh Rea yang memiliki bekal banyak ilmu bela diri.

"Non Rea nggak pernah berubah."

"Lah gimana, Bi. Dia lucu sih, kaya takut banget pas ku ajak nikah, padahal kan cuma bercanda."

Rea mengakhiri tertawanya saat mendengar suara deheman dari arah depan ruang kerja ayahnya, yang memang berada di samping ruang utama rumah keluarga Arisatya.

"Papi!" serunya.

Pak Jeremy langsung merentangkan tangannya, dan Rea buru-buru memeluk sang ayah.

"Dari mana, hem. Papi denger kamu dari kencan buta?"

"Cuma iseng."

Pria itu menggelengkan kepalanya. "Ayo masuk, Papi mau bicara."

"Ada hal penting?"

"Tentang masa depanmu."

***

"Papi mau jodohin kamu sama anak temen Papi."

"Lah, kenapa dijodohin. Aku nggak mau ah." Rea mendesah, ini bukan jaman Siti Nurbaya, dia masih ingin menyelesaikan pendidikannya, dan bukannya memikirkan urusan rumah tangga.

"Kamu jangan ngebantah, ini perjodohan bisnis antar keluarga. Sudah menjadi hal lumrah, jika keluarga Arisatya dilarang memilih jodohnya sendiri, dan harus menurut aturan keluarga."

Rea mengepalkan tangannya. Bahkan dia tidak bisa menentukan takdirnya sendiri. Masa depan cerah yang selalu diimpikan semua orang karena menjadi pewaris tahta nyatanya hanya omong kosong.

Lihat saja sekarang, dia bahkan tidak bisa memilih siapa yang akan dia nikahi, dan harus taat dengan aturan keluarganya.

"Nggak bisakah aku milih pasangan hidupku sendiri, Pi?"

"No, Rea. Kamu harus mau

"Nggak bisakah aku milih pasangan hidupku sendiri, Pi?"

"No, Rea. Kamu harus mau ikut perjodohan. Nggak boleh nolak, apalagi kabur."

Rea berbaring di atas ranjang, matanya menatap langit-langit kamarnya.

Dijodohkan, tidak ada di dalam bayangannya dia harus menikah di usianya yang masih 21 tahun.

Mungkin, itu sudah cukup umur, tapi Rea masih ingin menikmati masa mudanya dengan kuliah, lalu membentangkan karirnya.

"Padahal gue belum pengen nikah, kenapa harus dijodohin. Apalagi ini aturan keluarga."

Meniup poninya, dia memutuskan bangun, dan berjalan ke arah balkon.

Sampai ponselnya tiba-tiba berbunyi, dan ada telepon masuk dari Dante.

"Si Dante, ngapain telepon."

Tidak ingin membuat Dante menunggu, Rea langsung mengangkat teleponnya.

"Ada apaan, Dan?"

"Lah, gimana sih. Kok lo nggak jadi nemuin sepupu gue."

Rea agaknya ikut bingung, terlihat dari dahinya yang berkerut. Bukannya dia sudah bertemu dengan pasangan kencan buta nya di meja nomor 6, dan dia agak kaget karena yang dia temui justru si Theo-si cowok kulkas seribu pintu.

"Loh, gue udah ketemu sama dia, Dan. Meja nomer 6, gue nggak salah."

Di ujung sana Dante berdecak. "Masa sih, tapi sepupu gue bilang, nggak ada tuh cewek yang dateng. Nah, lo pergi ke mana? Jangan-jangan lo nggak dateng ke caffe summer."

"Sumpah, gue ke sana, Dan. Nggak bohong. Bisa lo cek CCTV caffe kalau nggak percaya."

"Tapi sepupu gue bilang, dia nggak ketemu sama lo. Jangan bilang lo salah nomer."

Rea terdiam, mungkinkah ada yang salah di sini. Sudah jelas meja Theo itu nomor enam, lalu di mana letak kesalahannya.

Rea memutuskan memutus sambungan teleponnya. Dia bergegas masuk kembali ke dalam kamar, mengambil kunci motor lalu kembali pergi ke caffe summer.

...****************...

*Bersambung*

* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*

*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*

*Terimakasih🙏*

*Salam manis dari AUTHOR🥰*

*ig@putri_miceela.*

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!