Bab : 3 Cinta Pertama yang Sulit untuk di Lepas Kan

"Mas Theo, dicariin Nyonya."Pemuda berkulit putih itu menoleh, ketika seorang wanita paruh baya memanggilnya.

Dia mengangguk dengan sopan, lalu mematikan laptop yang masih menyala.

Theo keluar dari perpustakaan pribadi di rumah besarnya. Tempat Theo mencari ketenangan ketika dia mengerjakan tugasnya, atau sekedar menulis novel online. Kegiatannya selama ini untuk mencari uang, meskipun dia berasal dari keluarga kaya raya. Namun, Theo bukan tipe orang yang suka sekali berpangku tangan, apalagi menghamburkan uang ayahnya yang tak akan habis hingga tujuh turunan.

"Mama," panggil Theo.

Ibunya yang fokus pada ponsel, lalu menoleh dan meletakkan benda pintar itu di atas meja, setelahnya dia melepaskan kacamata bacanya.

"Duduk sini, Mama mau bicara."

Theo mengangguk tanpa kata, bukan gayanya jika dia banyak bicara. Theo itu pendiam, sulit tersenyum. Bahkan bicara hanya seperlunya saja.

"Kalau kamu Mama kenalin sama anak temen bisnis Papa, kamu mau?"

Theo diam, selama ini dia belum memiliki pemikiran untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis.

"Dijodohkan?"

"Iya, Mama sama Papa sudah sepakat, Theo. Kamu akan kami jodohkan sama anak temen bisnis Papa. Mama denger, dia satu kampus sama kamu, cuma beda fakultas."

"Oh." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Theo.

"Kamu nolak?"

"Aku nggak mungkin nolak, dan nggak akan bisa nolak."

Wanita itu tersenyum. "Minggu depan, kita ketemu sama calon kamu. Bersiap, ya."

"Hn," jawabnya singkat. Dia akan berbalik, namun ibunya— Bu Wina- kembali memanggilnya. "Theo!"Theo berbalik tanpa bicara.

"Lupain mimpi kamu itu, itu hanya bunga tidur. Nggak ada yang namanya jodoh ketemu lewat mimpi."

Theo diam, hanya mengangguk lalu kembali berjalan ke arah perpustakaan.Dia duduk kembali di karpet, dan membuka laptopnya.

Ingatannya kembali pada pertemuannya dengan gadis cupu bar-bar bernama Rea.

Aneh, dia baru bertemu dengan seorang gadis dengan dandanan cupu, tapi cerewetnya over dosis di luar prediksi

"Nama gue Daniella Adriana Rea, nama lo siapa?"

Theo diam saja saat Rea mengulurkan tangan.

"Kita tidak akrab."

Alis Rea naik sebelah,

jawaban macam apa itu. Setidaknya meskipun mereka tidak akrab, Theo menyambutnya. Padahal Rea mengajaknya berkenalan baik-baik.

"Apaan sih, gue kan cuma nanya nama lo. Pelit banget nggak mau ngasih tau nama lo. Ah, gue inget nama lo Theo, anak fakultas teknik temennya si Atta, kan? Lo tau nggak, Atta itu mantan gue, dia brengseknya level dewa.

Untungnya gue nggak cinta-cinta banget sama dia."

"Saya nggak nanya."

Rea ngedumel kesal, namun detik selanjutnya senyum di bibirnya merekah.

Saat melihat wajah Theo dari dekat, dan Rea berani bersumpah, gantengnya si Theo ini sudah di level terakreditasi A plus. Namun, jika orangnya kaku, pasif, tidak pernah senyum, dan bicara irit, tentu Rea malas jika harus berjodoh dengan Theo.

"Padahal kita udah ketemu dua kali ini. Eh lo tau nggak salah satu istilah, pertemuan pertama itu tidak sengaja, pertemuan kedua mungkin kebetulan, tapi pertemuan ketiga, itu adalah jodoh. Kalau kita ketemu lagi untuk ketiga kalinya, gimana kalau kita nikah, Theo."

Mata sipit Theo sedikit melebar, lalu berdiri.

"Gila."

"Eh, lo mau ke mana?" tanya Rea ketika melihat Theo beranjak.

Theo tak menjawab, namun lengannya digenggam oleh Rea secara reflek. Akan tetapi, Theo langsung menghempaskannya begitu saja, seolah dia alergi dengan sentuhan orang lain.

"Apaan sih, gue nggak kena rabies."

"Kita nggak akrab, jangan sentuh."

Rea meraup kasar wajahnya."Oke, sorry. Tapi duduk dulu kenapa, gue tadi udah pesen minum, siapa yang bayar. Masa gue bayar sendiri, lo harus bayar lah. Lo kan cowok, masa nggak mau bayar. "

Theo memang bukan orang yang suka berbasa-basi, dia mengeluarkan uang seratus ribuan dua lembar, dan ditaruh di atas meja.

"Eh, lo beneran mau bayar?"

"Kamu yang minta."

Rea tersenyum, tipe cowok bertanggung jawab, dan nggak pelit. Oke, Theo bukan mokondo, itu masih dugaan.

"Theo."

"Hn."

"Boleh tau nama lengkap lo, nomer ponsel lo, akun IG lo, terus-"

"Kita tidak akrab." Selesai mengatakan itu, Theo langsung pergi, namun Rea dengan tidak tahu malunya justru berseru. "Semoga kita bertemu lagi, biar bisa naik pelaminan bersama!"

Tawa Rea mengalun, padahal dia hanya bercanda, namun Theo sepanik itu, dan langsung kabur.

Theo berdecak, dia menggelengkan kepalanya. Jelas Rea akan dia singkirkan dari tipe calon pasangan hidupnya.

"Tidak tahu malu," gumam Theo, yang kembali fokus dengan laptopnya. Dia masih mencari informasi tentang bocah SD yang dulu memberinya permen di taman sewaktu dia diganggu anak nakal, saat pulang dari taman kanak-kanak, menunggu ibunya di taman dekat sekolahnya.

Bocah perempuan cantik, dengan senyum manisnya, yang menjadi cinta pertama Dimas Theo Danastra.

***

Seminggu berlalu begitu cepat, dan sekarang keluarga Arisatya tengah menunggu kedatangan teman bisnisnya yang akan melakukan pertemuan guna membicarakan perjodohan anak mereka.

Rea masih ngedumel di sofa, lengkap dengan dandanan cupunya. Rea mau dijodohkan dengan syarat, dia tidak mau tampil cantik, dan ayahnya terpaksa mengiyakan saja asal anaknya itu tidak kabur dari acara perjodohan.

"Kak, udah deh. Siapa tau calonmu ganteng." Daren, adiknya berdiri di samping Rea.

"Gue nggak minat dijodohin, Ren."

"Masih cinta sama Kak Atta?"

"No, gue udah move on.

Hanya saja, gue belum pengen nikah. Meksipun tuh calon gue ganteng sekalipun. Yah, meskipun gitu semoga dia asyik sih, jangan kaya si dia, nggak pernah senyum kaya si Theo," gerutu Rea.

"Siapa Theo?" tanya Darren.

"Pasangan kencan buta gue, tapi sialnya gue salah nomer.

Yang gue datengin meja si Theo, ternyata nomer 9. Ah, sial bener gue kemarin. Aslinya dia cakep, tapi gue nggak tahan sama sifat es batunya itu. Bener-bener mirip kulkas seribu pintu tau nggak sih, Rren." Rea kesal, dan kebiasannya adalah meniup poni.

Darren baru saja ingin menjawab, namun bi Arsi sudah berjalan tergopoh menghampiri pak Jeremy, mengatakan jika tamu mereka sudah datang.

Pak Jeremy, dan bu Cindy mengajak kedua anaknya keluar untuk bertemu dengan tamu mereka.Pak Jeremy tersenyum ketika melihat tamunya yang merupakan teman bisnisnya.

"Jemmy, lama nggak ketemu. Makin sukses aja sekarang."

"Ah, sama saja, Hen. Anakmu yang mau dijodohin sama anakku mana?" tanya Pak Jeremy.

"Masih di luar, lagi nelpon tadi. Biasa banyak tugas di kampus dia. Lagi bicara sama temennya tadi, tungguin bentar.

Anakmu mana?"

Pak Jeremy langsung menyuruh Rea bersalaman dengan tamu ayahnya. Sedikit kaget dengan dandanan Rea.

"Ini-"

"Ini anakku, lagi main drama dia."

Pasangan suami istri itu paham, karena mereka memang sudah tahu wajah asli Rea saat dikirimi foto oleh pak Jeremy.

"Oh, biarin aja deh. Sekalian biar kejutan buat.... " Kalimat pria itu terputus, saat melihat anaknya masuk ke dalam rumah. "Nah ini anakku, kenalin Dimas Theo Danastra, anak bungsuku."

Rea diam, bibirnya kelu."Theo."

Theo sendiri sedikit terkejut saat melihat Rea berdiri di depannya. Namun tertutup apik dengan ekspresi wajahnya yang datar.

"Pi, dia-"

"Iya ini calon suami kamu,Rea."

Ingin rasanya Rea kabur saja karena dia termakan istilah yang dia ciptakan sendiri.

Pertemuan ketiga, berarti jodoh.

"Sialan."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Mi, bisa nggak nikahnya nggak jadi aja."

Bu Cindy menoleh, ketika mendengar ucapan anak sulungnya itu. Apalagi pak Jeremy sudah memberikan tatapan diskriminasi.

Tanggal sudah ditentukan, dan bagaimana bisa anaknya ini tiba-tiba membatalkan acara pernikahan yang sudah disusun rapi. Keluarga Danastra sudah setuju karena Theo tak banyak berkomentar ini itu.Pemuda pasif tersebut hanya diam, dan menurut apa kata orang tuanya.

"Nggak bisa." Pak Jeremy berkata tegas.

Yang Rea lakukan hanyalah ngedumel dengan meniup poni di dahinya dengan bibir dimajukan. Kebiasaannya jika sedang kesal.

"Kenapa harus ada acara perjodohan sih di keluarga kita? Kenapa kita nggak bisa bebas milih siapa calon pendamping hidup kita. Emang kalau dijodohin, bisa menjamin akan bahagia. Apalagi Papi nggak lihat si Theo itu. Ya ampun Pi, aku mana tahan sama sifat introvert nya itu. Udah ngomong irit, nggak pernah senyum, aku suruh jadi patung gitu kalau nikah sama dia."

"Stop Rea, jangan nilai orang dari sampulnya, bisa aja dia nggak gitu. Ini aturan keluarga kita, dan aturan tidak untuk dilanggar. Mau nggak mau, kamu harus terima Theo jadi suami kamu bulan depan, paham. Papi nggak terima penolakan, atau kamu milih Papi kirim ke luar negeri tanpa fasilitas, dan cari uang sendiri,paham!"

Ucapan ayahnya adalah mutlak, siapa pun di keluarga Arisatya tidak bisa membantah, apalagi aturan ini sudah dibuat sejak nenek buyutnya. Mereka sengaja membuat acara perjodohan, agar terhindar mendapat pasangan yang tidak jelas bibit bebet dan bobotnya.

Terkenal menganut aturan kuno memang, namun itulah aturan keluarga Arisatya. Perjodohan bisnis, yang memang sudah terjadi turun temurun, dan kini Rea tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa mengikuti aturan keluarganya, padahal dia masih penasaran dengan cowok di dalam mimpinya, dan kini dia harus menikah dengan si cowok kulkas seribu pintu, Dimas Theo Danastra.

***

"Ciee yang mau dijodohin, dia anak pertama keluarga Arisatya, kan?" Villia, kakak Theo menggoda adiknya yang sedang fokus menulis laporan kegiatan ospek, dan membuat jadwal untuk esok hari karena dia adalah ketuanya.

Theo tak bicara, hanya gumamam pelan, dan Villia sudah hapal dengan sifat adiknya yang satu ini.

"Papa bilang, dia cupu, kok bisa sih. Anak orang kaya dan dandanannya kek gitu, dan kamu mau?" Sesungguhnya, Villia sudah tahu wajah asli Rea. Toh mereka pernah satu SMA dulu karena Rea adalah adik satu tingkat Villia. Dia hanya ingin menggoda Theo saja.

Theo sendiri menghabiskan masa SMA nya di Tiongkok karena ikut dengan neneknya di sana, dan baru kembali saat dirinya masuk ke jenjang universitas.

"Tidak penting."

"Love first at sight, eoh?

"No, just following family tradition."

Villia mengangguk, memang di keluarga mereka tidak diperbolehkan memilih pasangan sendiri. Harus tunduk pada aturan karena sudah terjadi turun temurun mengikuti perjodohan bisnis kedua orang tuanya. Seperti Villia yang akhirnya bercerai, dengan status single parent dari anak berusia 2 tahun.

"Okay, huh semoga kamu bahagia dengan Rea. Nggak seperti aku yang berakhir berpisah karena perbedaan prinsip." Villia berdiri, dia hampir keluar dari kamar Theo, namun kakinya berhenti di depan pintu.

Sejenak dia diam, lalu berbalik. "Oh ya, terus gimana dengan gadis di masa lalu kamu itu, udah ketemu sama orangnya?"

Theo menggeleng. Itu sudah terjadi sejak 15 tahun yang lalu, untuk menemukannya pun sulit. Theo tidak tahu namanya, hanya tahu di mana dia bersekolah, anak itu lebih tua dari Theo karena saat bertemu Theo masih di taman kanak-kanak, sedangkan gadis itu sudah memakai seragam SD.

Theo tidak bisa mencarinya karena sejak masuk SD, ia dibawa oleh ayahnya ke China untuk menyelesaikan pendidikannya hingga SMA di negeri tirai bambu itu.

"Aku cuma takut, ketika kamu menikah dengan Rea, lalu kamu bertemu dengan dia. Gimana endingnya?"

Theo tak menjawab, dia diam.Namun, dia juga berpikir karena cinta pertama itu sulit sekali dilepaskan. Membuat Theo enggan menjalin hubungan dengan gadis mana pun karena masih menyukai gadis di masa lalunya.

*Bersambung*

* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*

*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*

*Terimakasih🙏*

*Salam manis dari AUTHOR🥰*

*ig@vera_miceela.*

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!