Sore itu lapangan bola di Fakultas Teknik menjadi tempat ospek mahasiswa baru. Ratusan mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai kota berkumpul di sini mengenakan kaos khusus bergambar gerigi, lambang dari fakultas teknik dengan berkalung papan nama masing-masing.
Semua tampak antusias, terlebih para maba perempuan yang memang sejak awal mengidolakan Theo sebagai cowok dengan visualisasi yang wow.
"Pak, ada beberapa mahasiswa yang nggak ikut ospek sore ini." Seorang pemuda dengan jas almamater merah hati, berjalan menghampiri Theo yang berdiri di depan ratusan mahasiswa yang tengah melakukan ospek jurusan.
Theo sendiri adalah ketua ospek, mahasiswa tahun ketiga dari fakultas teknik, jurusan teknik industri.
"Catat namanya."
"Udah, nanti gue laporin sama lo."
Theo tak banyak bicara, hanya mengangguk seperti biasa. Wajahnya selalu tampak tanpa ekspresi. Namun, justru karena itu dia mendapatkan banyak penggemar, terutama dari mahasiswa baru perempuan, yang antusias mengikuti kegiatan ospek karena ketua ospeknya yang setampan aktor China.
Sementara itu di pinggir lapangan, Rea berdiri sendirian. Tujuannya sederhana, hanya ingin mengamati calon suaminya. Bukan karena alasan lain, dia hanya penasaran tentang Dimas Theo Danastra yang terasa begitu misterius bagi dirinya. Dia datang dengan dalih ingin bertemu Dante, sahabatnya.
"Lo naksir juga sama Ketua ospek dari fakultas teknik? Tuh namanya Dimas Theo Danastra, lebih akrab dipanggil Theo. Percintaannya misterius, punya akun IG tapi nggak ada postingannya, namun sialannya followersnya puluhan ribu, dan kebanyakan cewek-cewek kampus yang terTheo-Theo, tuh." Entah kapan datangnya, Dante tiba-tiba sudah berdiri di belakang Rea.
"Dia seterkenal itu, Dan?" tanyanya, dan jawaban Dante adalah anggukan kepala.
Dia menoleh pada Rea yang antusias dengan Theo, mungkinkah Rea suka pada tipe cowok misterius macam Theo?
Namun dilihat dari kepribadian Theo, dia yakin Rea akan langsung ditolak mentah-mentah. Perbedaan sifat mereka begitu drastis.
Rea ugal-ugalan, tidak tahu malu, cupu tapi nyebelin, dibully malah balas membully. Tidak rajin belajar seperti cupu pada umumnya, namun justru rajin membaca novel terutama novel genre thriller, dan psikopat.
"Iyalah, siapa yang nggak kenal Theo. Hampir seluruh kampus kenal dia. Lo aja yang nggak tau, karena akal sehat lo udah ketutup sama si Atta."
"Ngapain lo sebut nama dia lagi, nggak penting."
"Terus ngapain lo ke sini kalau nggak kangen sama mantan lo itu, udah ngaku aja.Lo kangen Atta, kan?"
"Najis gue kangen dia. Gue pengen main aja ke sini, kenapa? Nggak boleh, hari ini Dera nggak masuk dia la-"
"Dera kenapa?"
"Panik, berarti ada rasa," goda Rea.
Dante mendengus malas, mungkin iya tapi Dante gengsi untuk mengakuinya.
"Nggak, gila aja gue suka sama cewek pick me kek temen lo itu. Udah lah, kantin yuk, gue yang traktir."
Dante merangkul bahu Rea,dan gadis itu buru-buru menghempaskannya dengan wajah kesal. Tanpa mereka tahu, Theo sempat melirik ke arah pinggir lapangan, dan melihat jika calon istrinya ada di sana.
"Itu kan cewek cupu dari fakultas bahasa dan seni, mantannya si Kak Atta." Axel, teman Theo berkata. Dia hapal dengan Rea karena pernah melihat Atta pulang bersamanya.
"Oh."
"Cuma itu reaksi lo, Pak."
"Harus gimana?"
"Padahal semua orang heboh di sini. Kenapa Kak Atta yang notabene mantan ketua ospek mau sama tuh cupu, heran gue. Kena guna-guna kali. Masa cewek freak kek dia laku gitu." Axel menggelengkan kepala, dia melirik temannya. Lalu meninggalkan lapangan tanpa bicara.
"Theo, lo mau ke mana?"
"Ruangan senat."
"Huh, ngapain dia ke sana."
Axel menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu mengedipkan bahu.Percuma bertanya pada Theo, dia tidak akan menjawab dengan gamblang.
***
Theo berdiri di dekat kantin, menunggu Rea yang selesai makan dengan Dante. Wajahnya tak berekspresi, sama seperti biasanya.
Dia berdiri cukup lama, sekitar 30 menit. Untuk membunuh rasa bosannya dia membaca novel di ponsel mahal miliknya.
"Dan, gue duluan," ujar Rea. Hal itu menarik atensi Theo yang masih berdiri di sana. Dia melihat Rea yang berjalan ke arahnya, sedangkan Dante pergi berlawanan arah. Theo tahu senior ya itu pasti ingin pergi ke klub futsal karena Dante tergabung di sana.
Rea berjalan sembari bersiul ringan, sampai matanya menangkap sosok Theo yang berdiri dengan punggung bersandar pada tembok.
"Eh, calon suami gue. Ngapain lo di sini? Nungguin gue, ya. Cie, Mas Theo, lo pasti tau gue ke sini, makannya ko nungguin gue di sini. Buruan ngaku," ujar Rea dengan segala kepedean nya itu. Jika itu cewek lain, pasti akan malu setengah mati. Namun, karena itu Rea jadinya dia asal bicara saja.
Rea itu urat malunya sudah digadaikan. Makannya dia bicara los tanpa hambatan seperti jalan tol.
"Nggak tau malu."
"Lah, ngapain gue mesti malu. Nih gue pakai baju lengkap. Nggak usah gengsian napa. Bilang aja lo nungguin gue, ayo ngaku aja nggak usah malu-malu."
Theo yang kesal hanya bisa diam, dia bukan tipe orang yang akan bicara panjang lebar.
"Minggu depan."
"Huh, minggu depan ngapain?" Alis Rea berkerut, tidak tahu maksud ucapan Theo yang suka bicara singkat itu.
"Fitting baju."
"Ah, fitting baju pengantin." Rea mengangguk, lalu kembali menatap Theo. "Lo setuju, dengan perjodohan ini?"
"Iya, tidak bisa membantah."
"Gue juga, emang lo nggak punya pacar?" tanya Rea, dan jawaban Theo hanya gelengan kepala.
"Beneran lo jomblo, ya ampun. Muka ganteng lho mubazir, Bang. Gue juga jomblo, baru aja diselingkuhin. Lo kenal Atta, pasti. Tapi tenang aja, gue udah nggak cinta sama si Atta brengsek itu. Aslinya gue itu nggak mau dijodohin, apalagi gue masih nunggu pangeran berkuda putih gue yang suka hadir di alam mimpi. Tapi gue harus berakhir nikah sama, lo.Menurut lo gimana, Theo?"
Theo menatapnya datar, tidak ada kata, tidak ada ekspresi, apalagi tersenyum. Yang dia lakukan hanyalah menegakkan tubuh, lalu berjalan mendekati Rea.
Sumpah, dari jarak sedekat ini muka Theo terlihat tampan dengen level grade A. Sayangnya Theo ini bukan tipenya. Tetapi, tetap saja jantung Rea berkhianat dengan dag dig dug sejak tadi.
"Theo, jawab dong."
"Kita akan menikah, tapi saya terpaksa." Hanya itu yang dia ucapkan, sebelum pergi meninggalkan Rea seorang diri di sana.
Saat Theo berjalan, dia sempat melirik Rea sebentar, tanpa gadis itu sadari. Lalu dia menggenggam kotak kecil berisi permen pemberian gadis manis cinta pertamanya di masa lalu.
"Aku masih menunggumu," gumamnya pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bangun pagi, dan aktivitas Theo adalah membuka kotak kecil terbuat dari kayu, yang di dalamnya berisi permen expired. Namun, Theo tak mau membuangnya.
Permen itu memiliki kenangan tersendiri bagi Theo.Lima belas tahun yang lalu, seorang gadis menyelamatkannya dari anak-anak nakal yang mengganggunya, lalu memberikan permen itu yang selalu Theo simpan.
Aneh memang, namun Theo selalu menjaga benda itu, agar suatu hari bisa bertemu dengan gadis yang menjadi cinta pertamanya. Sedikit mustahil, tapi Theo adalah orang yang percaya dengan pertemuan kedua.
Theo dulu bertubuh gendut, tidak setampan sekarang. Bahkan alasan dia dibawa ke China oleh ayahnya karena dia kerap menjadi korban bully anak-anak nakal, dan sering pulang dengan mata sembab karena menangis. Sore itu, seorang gadis menyelamatkannya, lalu memberikannya permen.
"Kakak, makasih, ya."
Si gadis berseragam SD tersenyum lebar. Lalu mengusap lembut kepala Theo kecil.
"Lain kali harus berani, ya.
Kalau kamu takut, mereka akan ganggu kamu terus. Oh ya, kamu lucu. Pengen deh kalau udah besar nanti aku nikahin kamu."
"Masih disimpen aja tuh permen. Cie pemberian cinta pertama emang berkesan, ya." Villia berdiri di depan pintu kamar Theo yang terbuka.
Entah kapan datangnya,Villia sudah ada di sana sembari menggandeng tangan Xiolin- putrinya, yang masih menguap.
"Ada apa?"
Villia tersenyum lebar, terkadang adiknya ini terlalu peka dengan apa yang diinginkannya. Dia membawa Xiaolin yang masih menguap untuk naik ke atas ranjang Theo.
"Titip Xiaolin bentar, aku mau nyari bubur ayam deket gang, dia nggak mau sama susternya. Nggak buru-buru kuliah, kan?"
Theo menggeleng pelan seperti biasa tanpa kosakata.
"Mau nitip, nggak?"
"Satu."
"Oke, nggak pedes kan. Aku udah hapal, ya udah titip Xiaolin bentar, oh ya jangan lupa ntar anterin baju dari Mama buat calon istri kamu. Bajunya ada di ruang kerja Mama. Tadi Mama buru-buru, ada pasien gawat darurat."
Theo kembali mengangguk, selepas Villia pergi. Theo kembali berbaring. Dia meletakkan kotak berharga berisi permennya ke dalam laci, lalu ikut berbaring dengan Xiaolin yang kembali tertidur.
Dia membayangkan, seandainya dia bertemu dengan cinta pertamanya itu, dan posisi dia sudah menikah dengan Rea. Lantas dia harus bagaimana? Apakah dia akan tetap mempertahankan pernikahanya dengan Rea, atau memilih berpisah seperti apa yang dilakukan oleh Villia. Memilih berpisah dengan suaminya karena berbeda prinsip, dan tidak ada cinta di dalamnya.
Entahlah, Theo tidak tahu.
Seandainya saja, dia tidak terlahir di keluarga Danastra yang taat aturan, dan perjodohan yang sudah diatur turun temurun, mungkin akan lain ceritaNamun, bagaimana pun, Theo tak bisa melawan perintah ayahnya.
Menikah dengan Rea, si cupu bar-bar dari fakultas bahasa dan seni.Theo tidak bisa memilih, namun jika perasaan tak bisa tumbuh untuk Rea, lalu dia bertemu dengan cinta pertamanya, mungkin keduanya harus berpisah baik-baik, dan Theo akan membuat perjanjian pernikahan dengan Rea.
...****************...
*Bersambung*
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝 *
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR🥰*
*ig@putri_miceela.*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments