Barang Yang Sama + Visual

"Loh? Itu kan??

Mata Nina menyipit memastikan bahwa yang dia lihat saat itu benar-benar bukan orang salah. Keduanya tampak keluar dari toko tas, Berjalan beriringan dengan posisi yang cukup dekat.

Bahkan si pria dengan senang hati membukakan pintu untuk si wanitanya.

"Itukan tunangannya Marwa sama kakaknya? Ngapain mereka berdua?

Nina menggelengkan kepalanya, Dia tidak salah lihat. Yang dia lihat benar-benar adalah Raski dan Tania, Kakak sepupu Marwa. Ngapain mereka keluar dari toko tas? Maba barengan lagi.

Bukan hanya barengan tapi satu mobil.

Tiiinn...

Tiiin....

"Nin.. Ayo jalan, Lampunya udah ijo.." Nina terperanjat kaget, Dan benar saja lampu lalu lintas sudah menunjukkan lampu hijau dimana kendaraan mulai melaju.

Nina pun segera melajukan kendaraan roda duanya menuju cafe tempat Marwa bekerja selama dua tahun ini.

Ya, Marwa memang mulai bekerja dicafe sebagai pelayan sudah dua tahun. Sayang gadis itu bekerja hanya dengan paruh waktu saja. Gaji yang dia dapat sebagian di tabung dan sebagian dia pegang sendiri. Karena Pamannya tidak mau memberikan uang sakunya meski pria itu punya penghasilan dari toko bangunan miliknya. Padahal perolehan tiap harinya lumayan cukup besar akan tetapi Marwa tetap saja merasa kekurangan. Dia jarang diperhatikan mungkin karena memang menyusahkan.

Tak terasa motor matic milik Nina telah sampai dicafe tempat Marwa mencari uang selama ini. Gadis itu turun dengan sangat hati-hati sekali..

"Nin, Ini helm nya.. Makasih ya, Udah antar aku. Nanti kalau aku gajian aku beliin bensin deh.." Nina tersenyum seraya mengusap lengan sahabatnya itu.

"Gak usah Wa.. Aku gak keberatan kok nganterin kamu. Gak minta imbalan apa-apa juga. Gaji kamu, Kamu tabung aja.. Kamu kumpulin buat pengobatan kaki kamu nanti... " Marwa mengangguk. Tidak apa-apa Paman dan Bibinya tidak sayang padanya yang penting dia masih punya sahabat yang baik yang mengerti dirinya dalam situasi dan kondisi apapun.

"Ya udah, Aku masuk dulu ya.." Marwa hendak berbalik badan namun tangannya di tahan oleh Nina.

"Wawa..

"Ada apalagi Nin..?" Nina terdiam seolah bingung ingin menyampaikan soal dia yang melihat Raski atau tidak. Tapi jika tidak disampaikan, Nina tidak bisa menyimpan semua ini terlalu lama.

"Nin..

"Hah iya..

"Kok kamu malah bengong sih? Ada apa?

"Eum.. Itu, Tadi aku kayak lihat tunangan kamu bareng Kak Tania.. " Dahi Marwa mengernyit..

"Kamu lihat Kak Raski sama Kak Tania jalan bareng?" Nina mengangguk. Marwa tersenyum..

"Ya, Ampun Nin.. Kak Raski dan Kak Tania itu kerja satu kantor. Mereka juga udah biasa keluar bareng di suruh bos gitu.. Mereka kan emang temenan dari lama.." Nina tersenyum getir seolah sangsi dengan apa yang dijelaskan oleh Marwa. Masak temenan kayak gitu, Pikir Nina..

"Oh, Gitu ya.. Enggak Wa.. Aku tuh cuma takut aja kalau mereka...

"Udah gapapa, Aku tahu apa yang kamu rasain. Pasti kamu takut aku disakiti kan? " Nina mengangguk. Dia memang sekhawatir itu pada sahabatnya ini. Marwa adalah gadis yang baik, Dia tidak pantas untuk sakiti.

Sejak kecil Marwa sudah banyak menderita, Nina hanya tidak ingin sahabatnya tersakiti lagi dan lagi. Meski katanya Raski adalah pria yang baik, Tetap saja Nina merasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan yang Marwa sendiri tidak tahu.

"Aku percaya kok sama mereka.. Aku yakin kalau Kak Raski itu gak mungkin macam-macam. Kak Tania juga baik banget ke aku.. Dia yang mak comblangin sama Kak Raski, Masa iya dia mau ngambil Kak Raski dari aku.. Gak mungkin kan?" Ucap Marwa dengan keyakinannya. Dia memang sangat percaya sekali dengan dua orang itu..

"Ya udah kalau gitu Wa.. Aku pamit pulang dulu ya?

"Ya udah, Kamu hati-hati..

"Iya..

Marwa pun berjalan dengan pelan masuk kedalam cafe. Nina menghela nafas panjang lalu kembali melajukan kendaraan roda duanya menuju ke arah jalan pulang.

Sementara itu, Sepasang pria dan wanita yang baru saja dilihat oleh Nina kini masuk kedalam kendaraan roda empatnya.

Wanita itu terlihat sangat bahagia sekali setelah dibelikan tas oleh sang pujaan hati.

"Gimana? Kamu suka sama tas nya?" Wanita itu mengangguk.

"Suka banget.. Udah dari lama aku kepingin tas ini.. Eh, Akhirnya kesampaian juga. Makasih ya, Sayangku.." Wanita itu bergelayut manja dilengan pria tersebut.

Pria itu hanya tersenyum, Sebelah tangannya terangkat mengusap rambut wanitanya.

"Asalkan kamu senang, Aku juga ikut senang.." Kata Pria itu. Wanita itu semakin bersikap manja bahkan dengan berani wanita tersebut mencium pipi pria tadi.

"Aku sayang kamu...

...****************...

 Nina pulang kerumahnya yang langsung disambut oleh sang Bunda. Nina pulang tidak seperti biasanya, Gadis itu terlihat lesu. Entahlah, Ikatannya dengan Marwa sudah seperti sodara kandung sendiri.

"Huuuffft .. Capek.." Nina langsung duduk bersandar diatas sofa ruang tamu rumahnya. Sang Bunda tersenyum melihat putrinya yang sepertinya tengah kecapean.

"Kamu kenapa? Kok tumben ngeluh..

Nina menghela nafas panjang. Gadis itu duduk menghadap sang bunda.

"Abis nganterin Wawa?" Nina mengangguk..

"Iya Bun.. Kasihan dia..

"Iya, Kalau bukan kamu siapa lagi yang bisa dia mintai pertolongan.. " Kata Bunda Nina yang mengerti dengan kondisi Marwa. Mau minta tolong pada Tania, Marwa merasa tidak enak dengan Paman dan Bibinya.

"Bun..

"Kenapa?

"Tadi pas dilampu merah, Aku gak sengaja ngeliat Tunangan Wawa bareng sama Kak Tania Bun.. Tapi kayaknya cuma aku aja yang tahu, Bun.. Wawa gak lihat.." Nina mencoba menceritakan semua yang dia lihat. Nina juga mengatakan pada Bundanya kalau dia punya rasa curiga pada Kakak dan Tunangan Marwa itu.

"Ya udah, Kalau kamu memang punya rasa curiga.. Kamu cukup diem aja. Kamu gak perlu ikut campur.. Takutnya kalau kamu ikut campur, Justru malah menghancurkan persahabatan kalian. Kita cuma bisa berdoa saja yang terbaik...

"Ya, Bun...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Ah, Akhirnya.. Selesai juga.." Marwa menarik nafas panjang. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30, Kini dia sudah siap untuk pulang.

Diluar sana, Seorang ojol telah menunggunya dan siap mengantarkan Marwa untuk pulang.

"Sudah Neng?

"Udah bang, Ayo..." Ojol pun mulai melaju. Seperti inilah setiap hari yang dilakukan oleh Marwa. Sepulang dari kuliah, Marwa langsung mampir untuk bekerja. Kalau dia tidak bekerja, Memangnya dia mau dapat uang dari mana.

Tania memang baik, Namun Marwa tentu saja merasa tidak enak dengan Paman dan Bibinya. Yang ada dia akan disindir terus, Dihina terus, Seperti itu seterusnya.

"Neng udah nyampe.." Marwa turun dengan hati-hati. Gadis itu memberikan sejumlah uang pada Bang Ojol kemudian masuk.

Begitu memasuki rumah, Disana sudah sepi. Mungkin semua penghuni yang ada disana sudah tidur. Marwa berjalan ke arah dapur dengan menyeret satu kakinya. Gadis itu merasa haus dan hendak minum..

"Kakak.." Tania menoleh, Wanita itu tersenyum melihat sang adik yang baru saja pulang.

"Baru pulang dek.." Marwa mengangguk.

"Iya, Kak.. Ini aku mau minum, Haus.." Marwa melanjutkan langkahnya membuka lemari es dan meraih air dingin dari dalam sana.

"Kakak belum tidur..

"Lagi pengen makan Mie.." Tania duduk dikursi dan siap menyantap mie instan berkuah itu lengkap dengan telurnya.

"Owh.. Yaudah, Kalau gitu aku ke kamar dulu ya.."

"Iya.." Marwa hendak pergi, Namun langkahnya kembali berhenti ketika matanya tak sengaja melihat sesuatu melingkar dileher Kakak sepupunya itu.

"Kak..

"Iya..

"Kalung Kakak.. Kok agak mirip sama Kalung punyaku yang dikasih sama Kak Raski ya..

"Uhuk! Uhuk.."

"Kak.. Hati-hati.." Marwa meraih air putih membantu Tania meminumnya.

"Kakak gapapa?" Tania menggelengkan kepalanya dengan tingkah yang sedikit gelagapan.

"Kalung ini?" Tania menyentuh Kalung miliknya. Ia menatap Marwa dengan senyum yang dipaksakan.

"Ini, Aku beli di online..

"Beli di online?

"Ya.. Barang ini hanya imitasi.." Marwa masih terdiam, Matanya tak lepas menatap kalung yang melingkar dileher Kakak sepupunya itu. Dibilang imitasi, Marwa sedikit tidak percaya karena berlian yang menempel dikalung tersebut sangat berkilau.

Memang tidak mirip seratus persen, Namun entah kenapa Marwa merasa ada kemiripan.

"Ya sudah kak.. Kalau begitu aku masuk kamar dulu ya.." Tania mengangguk dan kemudian melanjutkan memakan mie nya.

"Sekarang Kalung.. Waktu itu tas.. Jam tangan juga.. Tidak mungkin semua ini hanya kebetulan kan?" Batin Marwa yang merasa barang milik Tania mirip dengan beberapa barang miliknya. Dan semua itu tidak mungkin hanya kebetulan bukan?

"Heh!

Marwa cukup terkejut dengan kemunculan Bibi nya secara tiba-tiba. Mata wanita itu melotot kearah Marwa yang baru saja pulang dari bekerja.

"Baru pulang kamu? Udah jam berapa ini??"

"Maaf Bi.. Akhir-akhir ini cafe memang selalu ramai. Makanya aku pulang agak malem.." Jawab Marwa, Apa yang dia katakan memang benar, Cafe akhir-akhir ini memang ramai maka dari itu dia pulang agak malam.

"Alasan aja kamu.. Bilang aja kalau kamu itu malas bangun pagi.. Ujungnya juga aku yang masak dan ngerjain semuanya.. " Ucap Dartik seperti biasanya. Ucapan pria itu memang selalu pedas sekali. Tak memikirkan perasaan Marwa sama sekali..

"Udah masuk sana! Kamu itu bikin muak aja.."

Marwa menghela nafas panjang, Kapan semua ini akan berakhir. Dia sudah lelah dimarahi terus-terusan..

TBC

Visual.....

👇 Rayyan Al Ghafa Pangestu 👇

👇 Annisa Marwa 👇

👇 Araski Satria 👇

👇 Tania Alinda 👇

👇 Fanina Aprilia 👇

Ini adalah visual versi Othor ya.. Kalau kalian kurang sreg atau kurang mantap bisa bayangkan sendiri-sendiri saja..🍁

Terpopuler

Comments

Nice1808

Nice1808

semua barang2 tania sama dgn marwa gk mungkin bisa sama marwa klo gk org yg sama yg kasih, mulailah selidiki wa sebelum sakit trlalu lama😀

2026-06-23

1

mmh nengmuti

mmh nengmuti

gantengan raski dari pada rayan

2026-06-23

1

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

kenapa ya kl di cerita NT hampir semua authornya kl ngasih th visualnya selalu artis Korea apa gak ada yg lainnya kan msh bnyk yg lbh keren dr mereka 😅😅

2026-08-16

0

lihat semua
Episodes
1 Marwa Si Gadis Pincang
2 Barang Yang Sama + Visual
3 Mertua Pun Tidak Suka..
4 Kepergok Nina
5 Cemburu
6 Sebuah Kenyataan
7 Fakta Yang Ku Dengar
8 Marwa Hanya Sendiri
9 Gelang Yang Tertinggal
10 Perubahan Sikap Raski
11 Ternyata Semua Milik Marwa
12 Bukan Pilihanku..
13 Buket Dari Sang Pengagum
14 Fitnahan Tania
15 Perlawanan Marwa
16 Tidak Ada Air Mata
17 Dukungan Sahabat
18 Berangkat Ke Ibu Kota
19 Mengganggu Pikiran
20 Tinggal Diapartemen
21 Mencari Marwa
22 Memulai Hidup Baru
23 Tawaran Rayyan
24 Dibalik Bingkai Foto
25 Setuju Menjadi Istri
26 Jodoh Itu Tidak Bersyarat
27 Melati Yang Galau
28 Tanggal Yang Sama
29 Dua Undangan
30 Dapat Ijazah Langsung Ijab Sah..
31 Tidak Mencapai Target
32 Janji Rayyan
33 Dipaksa Bangun Pagi
34 Bertolak Belakang
35 Pergi Berobat
36 Berobat Sampai Sembuh
37 Dua Tahun Kemudian
38 Bersiap Bertemu Kembali
39 Bukan Serangan Jantung
40 Dia Kembali..
41 Kebongkar
42 Melati Dan Haidar
43 Wanita Idaman Lain
44 Syok Terapi Paman & Bibi
45 Tak Mau Kalah
46 Wedding Anniversary
47 Pesta Yang Meriah
48 Kecurigaan Tania
49 Hadiah Paling Spesial
50 Ketahuan Selingkuh
51 Ibu Mertua Sudah Tahu
52 Jangan Bicara Tentang Karma
53 Pemilik Rumah Itu Kakekku
54 Kedatangan Rayyan & Marwa
55 Ada Dua Pilihan
56 Diusir
57 Semua Milik Marwa
58 Aku Cinta Terakhirnya...
59 Sambutan Untuk Marwa
60 Dua Bocil Tampan
61 Nasib Keluarga Tania
62 Bertemu Teman Sekolah
63 Istri Direktur
64 Marwa Yang Tegas
65 Perubahan Keluarga Tania
66 Insiden
67 Insiden 2
68 Karma Kah?
69 Lamaran Haidar
70 Melati Yang Garang
71 Melati Yang Garang 2
72 Video Dari Tania
73 Hamil & Cerai
74 Di Bucinin Istri
75 Dartik Pergi
76 Bukan Panjat Pinang (Melati)
77 Pernikahan Haidar Dan Melati
78 Kelahiran Sang Putri
79 Kehidupan Baru (Tania & Raski)
80 Harus Adil
81 Berkunjung
82 Yang Penting Mereka Sudah Bahagia
83 Pertemuan Tak Terduga
84 Marwa Dan Tania
85 Marwa (Istri Tangguh Tuan Rayyan) END
86 Promo Novel Baru : Mutiara Hati Ghazi
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Marwa Si Gadis Pincang
2
Barang Yang Sama + Visual
3
Mertua Pun Tidak Suka..
4
Kepergok Nina
5
Cemburu
6
Sebuah Kenyataan
7
Fakta Yang Ku Dengar
8
Marwa Hanya Sendiri
9
Gelang Yang Tertinggal
10
Perubahan Sikap Raski
11
Ternyata Semua Milik Marwa
12
Bukan Pilihanku..
13
Buket Dari Sang Pengagum
14
Fitnahan Tania
15
Perlawanan Marwa
16
Tidak Ada Air Mata
17
Dukungan Sahabat
18
Berangkat Ke Ibu Kota
19
Mengganggu Pikiran
20
Tinggal Diapartemen
21
Mencari Marwa
22
Memulai Hidup Baru
23
Tawaran Rayyan
24
Dibalik Bingkai Foto
25
Setuju Menjadi Istri
26
Jodoh Itu Tidak Bersyarat
27
Melati Yang Galau
28
Tanggal Yang Sama
29
Dua Undangan
30
Dapat Ijazah Langsung Ijab Sah..
31
Tidak Mencapai Target
32
Janji Rayyan
33
Dipaksa Bangun Pagi
34
Bertolak Belakang
35
Pergi Berobat
36
Berobat Sampai Sembuh
37
Dua Tahun Kemudian
38
Bersiap Bertemu Kembali
39
Bukan Serangan Jantung
40
Dia Kembali..
41
Kebongkar
42
Melati Dan Haidar
43
Wanita Idaman Lain
44
Syok Terapi Paman & Bibi
45
Tak Mau Kalah
46
Wedding Anniversary
47
Pesta Yang Meriah
48
Kecurigaan Tania
49
Hadiah Paling Spesial
50
Ketahuan Selingkuh
51
Ibu Mertua Sudah Tahu
52
Jangan Bicara Tentang Karma
53
Pemilik Rumah Itu Kakekku
54
Kedatangan Rayyan & Marwa
55
Ada Dua Pilihan
56
Diusir
57
Semua Milik Marwa
58
Aku Cinta Terakhirnya...
59
Sambutan Untuk Marwa
60
Dua Bocil Tampan
61
Nasib Keluarga Tania
62
Bertemu Teman Sekolah
63
Istri Direktur
64
Marwa Yang Tegas
65
Perubahan Keluarga Tania
66
Insiden
67
Insiden 2
68
Karma Kah?
69
Lamaran Haidar
70
Melati Yang Garang
71
Melati Yang Garang 2
72
Video Dari Tania
73
Hamil & Cerai
74
Di Bucinin Istri
75
Dartik Pergi
76
Bukan Panjat Pinang (Melati)
77
Pernikahan Haidar Dan Melati
78
Kelahiran Sang Putri
79
Kehidupan Baru (Tania & Raski)
80
Harus Adil
81
Berkunjung
82
Yang Penting Mereka Sudah Bahagia
83
Pertemuan Tak Terduga
84
Marwa Dan Tania
85
Marwa (Istri Tangguh Tuan Rayyan) END
86
Promo Novel Baru : Mutiara Hati Ghazi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!