Mertua Pun Tidak Suka..

Seorang wanita paruh baya sedang menata beberapa menu diatas meja. Disalah satu kursi telah duduk seorang pria paruh baya yang merupakan suami wanita itu.

"Raski mana pa? Kok gak kesini.. Emang gak mau sarapan dia.." Ucap Wanita yang tak lain adalah Mama Raski atau lebih tepatnya calon ibu mertua Marwa.

"Kayaknya tadi Raski udah berangkat duluan deh Ma.. Mungkin aja dia lagi ada keperluan.." Mama Raski meletakkan gelas dengan sedikit kasar.

"Tumben banget dia gak sarapan? Mama udah bangun pagi malah dia berangkat dulu.. Mana gak pamit dulu lagi.. Bikin kesel aja. Jangan-jangan dia pergi kerumah gadis pincang itu. " Omel wanita paruh baya itu dengan marah.

"Udah lah Ma.. Lagian kenapa sih sama Marwa? Mama kayak gak suka banget sama dia.. Meski dia punya kekurangan, Tapi dia gadis baik. Dia juga rajin.. Buktinya pas diajak kesini Marwa mau aja Mama suruh-suruh.. Marwa gak pernah nolak apa yang perintah. Kurang apalagi coba?" Ucap Papa Raski yang selalu membela Marwa dalam segi apapun.

"Papa nih.. Bukannya buat rasa kesal Mama mendingan malah bikin mama naik darah.." Kata Wanita itu perlakuan pergi. Papa Raski hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat sikap istrinya yang entah kapan berubah.

...****************...

Kemiripan barang Tania dengan barang miliknya membuat Marwa tidak bisa tidur dengan nyenyak malam ini.

Karena bukan hanya satu barang, Tapi ada beberapa barang yang memang mirip dengan miliknya. Entah itu dari Tas, Jam tangan dan sekarang kalung.

Marwa bukannya protes, Semua orang berhak punya barang yang bahkan sama dengan miliknya. karena produksinya tidak dibuat satu model saja melainkan ada banyak.

Diantara wanita yang berada dikota ini mungkin banyak yang punya barang yang sama seperti miliknya, Tapi bagi Marwa ini aneh saja.

"Wawa.. Dek, Turun yuk kita sarapan dulu.." Suara Tania terdengar, Marwa meraih tasnya lalu berjalan kearah pintu kamarnya.

Ceklek..

"Kak..

"Ayo, Kita turun dulu.. Sarapan.."

"Kakak duluan saja dulu, Setelah ini aku menyusul.." Tania mengangguk. Wanita itu lebih dulu turun dari tangga menuju ke ruang makan.

Marwa menghela nafas panjang. Dulu dia selalu bangun pagi dan sering ikut membantu Bibinya memasak. Namun meski dia melakukan apapun yang terbaik rasanya juga percuma. Marwa tidak pernah ada hitungannya sama sekali. Seakan dia dirumah ini hanya menumpang saja. Padahal sebenarnya rumah itu milik kedua orangtua Marwa.

Paman dan Bibinya datang dan tinggal dirumah itu sejak kedua orangtuanya meninggal dunia. Alasannya karena merekalah yang akan merawat Marwa sebagai pengganti orangtuanya.

"Huuuffft..." Marwa menghela nafas panjang. Entahlah ingin sekali rasanya dia segera pergi dari rumah ini. Tapi belum waktunya saja..

Dengan terpaksa Marwa turun dengan hati-hati. Kakinya yang pincang itu memang kadang tidak bisa dikendalikan. Dibuat naik turun seperti ini kadang terasa sakit bahkan bisa nyeri yang berkepanjangan.

Langkah Marwa harus terhenti setelah mendengar ucapan pedas dari Dartik, Bibinya.

"Kamu kok belum makan? Masih nunggu anak itu.." Ucap wanita itu. Tania hanya menunduk seraya menghela nafas panjang.

"Kasihan Bu.. Kalau aku makan dulu nanti dia gak punya teman buat makan.." Jawab Tania membuat ibunya itu mendengus.

"Ya kalau dia gak mau makan yaudah biar dia gak usah makan.. " Tania terdiam, Sejak dulu ibunya memang keberatan merawat sepupunya itu.

"Tania.. Udah, Kamu makan dulu aja.. Biar aja si Wawa nyusul. Anak itu.. Udah pincang gak tahu diri lagi.." Tak hanya Dartik. Tapi Haris, Paman Marwa pun juga sama. Merawat Marwa adalah sebuah keterpaksaan.

Mendengar itu, Hati Marwa berdenyut nyeri. Ia menggenggam erat tali tasnya. Rasa lapar yang yang sejak tadi ia rasakan kini telah hilang begitu saja.

Apa sebegitu bencinya mereka terhadap dirinya. Sampai-sampai ia selalu dianggap tidak tahu diri.

"Kurang apa sih dia? Masih untung setelah orangtuanya meninggal kita yang rawat. Apalagi sekarang dia rebut punya mu saja kamu biarkan.. Kurang apalagi coba?" Tania cukup kaget dengan ucapan ibunya tadi. Wanita itu menoleh takut Marwa mendengarnya.

"Bu.. Bisa gak sih, Jangan bahas itu..." Dartik hanya memutar bola matanya malas.

Dibalik ruangan itu, Marwa terdiam. Ucapan Bibinya membuatnya seketika bertanya-tanya.

"Aku rebut milik Kak Tania? Apa?

Klek..

Marwa tak sengaja menyenggol barang membuat Tania langsung menyadari kehadirannya.

"Wawa..." Marwa tersenyum..

"Sini dek, Sarapan.. Gabung sini.." Marwa menggelengkan kepalanya.

"Gak usah kak.. Aku langsung pamit ke kampus aja.." Marwa langsung berbalik badan..

"Dek..

"Udah gak usah peduliin dia.. Biarin aja dia pergi. Masih untung diajak sarapan, Sok jual mahal pula.. Dih..." Marwa memejamkan matanya. Ucapan Bibinya memang selalu membuat hatinya sakit. Tak bisakah mereka bersikap lebih baik padanya. Marwa juga ingin merasakan seperti apa rasanya disayang setelah ayah dan bundanya tiada.

"Gapapa Kak.. Aku berangkat kuliah dulu.." Tak ada pilihan lagi, Marwa memilih untuk pergi saja. Kalau dia lebih lama berada disini yang ada telinganya semakin panas.

"Ya udah kamu hati-hati.." Kata Tania. Marwa mengangguk samar. Begitu sampai dipintu, Dia cukup kaget melihat Raski yang ternyata berdiri didepan pintu.

"Loh? Kak Raski.."

Pagi ini Raski datang kerumah Tania. Pria itu datang mungkin karena ingin menjemput Marwa. Disana Raski juga bertemu dengan Tania yang Marwa kenal adalah teman baik tunangannya.

"Wawa..

"Kak..

"Kakak kesini mau jemput kamu.. Yuk..." Kata Raski pada gadis yang menjadi tunangannya itu.

"Ohya, Udah ayo.." Sebelum berangkat, Marwa menoleh ke belakang melihat Tania yang terdiam.

"Kak Nia mau berangkat bareng gak? Lumayan kan kita satu arah..." Ajak Marwa, Tania yang mendapatkan tawaran semacam itu langsung menatap Raski. Pria tersebut mengangguk.

"Ya udah ayo.. Aku ikut kalian saja. Kalian tunggu saja diluar.." Kata Wanita itu. Tania tersenyum manis, Bukan pada Marwa melainkan pada Raski.

Marwa yang melihat itu hanya tersenyum tipis saja. Maklum lah.. Kan mereka adalah teman dekat, Satu kantor pula.

"Raski, Tunggu ya.. Aku ambil tas dulu.."

"Okey, Aku tunggu didepan.." Raski maju, Pria itu merangkul mesra Marwa membantu gadis itu. Tatapan Tania langsung berubah. Kedua tangan terkepal melihat perlakuan Raski yang begitu perhatian itu.

"Huuuffft.. Setidaknya aku masih bisa bersama dengannya.." Gumam Tania mencoba menguatkan diri sendiri. Wanita itu kembali keruang makan mengambil tas nya yang masih ada disana.

Tania langsung masuk kedalam mobil dimana Raski dan Marwa menunggunya. Wanita tersebut duduk dikursi bagian belakang karena dikursi depan sudah ada Marwa.

"Sudah siap?

"Udah Kak..

"Ya udah kita berangkat...

Raski mulai menyalakan mesin mobilnya, Namun suara dering ponsel itu mengurungkan niatnya untuk berangkat.

"Ya Halo, Ma...

"Kamu berangkat pagi banget. Gak sarapan dulu pula...

"Raski lagi terburu-buru Ma..

"Jangan bilang kamu jemput gadis pincang itu.. Berapa kali sih Mama bilang, Dia itu gak pantas buat kamu..

"Ma, Udah Ma..

Raski melirik ke arah Marwa yang menunduk, Sepertinya gadis itu mendengar apa yang dikatakan oleh calon ibu mertuanya.

"Udah-udah gimana? Mama itu kan udah bilang.. Tapi kamunya aja yang ngeyel. Mama butuh menantu yang bisa bantu-bantu Mama.. Yang bisa ngerjain pekerjaan rumah. Yang bisa masak, Yang bisa segalanya lah.. Kalo istri kamu pincang mana bisa kerjain semua itu..." Raski memejamkan matanya, Tidak bisakah Mamanya ini bicara pelan-pelan.

"Iya ya.. Raski mau berangkat dulu..

Dengan cepat Raski segera mematikan panggilan teleponnya dengan sang Mama. Pria itu langsung menatap Marwa yang sedih..

"Kamu jangan ambil hati yah dengan apa yang dikatakan Mama tadi.. Mungkin Mama Moodnya lagi gak baik hari ini.." Marwa mengangguk. Dibelakang, Tania hanya tersenyum tipis seakan merasa senang.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pelajaran dalam kuliah ini Marwa menjadi tidak fokus. Ucapan calon ibu mertuanya tadi masih terngiang ditelinganya. Meskipun Raski sudah menenangkannya, Tetap saja Marwa merasa sakit hati dengan ucapan itu.

Memang sebenarnya Mama Raski tidak setuju putranya bertunangan dengan Marwa. Mama pria itu lebih setuju Raski dengan Tania. Sayangnya Raski lebih memilih Marwa meski gadis itu punya kekurangan. Berbeda jauh dengan Papa Raski yang sangat setuju sekali dengannya..

Alasannya sudah pasti karena Marwa adalah seorang yatim piatu dan alasan lainnya karena wanita itu pincang. Lagipula siapa yang mau menerima wanita pincang ini.

"Kenapa? Dari tadi aku perhatiin kamu kayak banyak diem dikelas.. Ada yang mengganggu pikiran ya?" Marwa menoleh pada sahabatnya itu.

"Kenapa ya, Nin.. Orang-orang banyak yang benci aku. Apa karena aku ini anak yatim ya? Atau karena aku ini pincang.." Nina menggelengkan kepalanya. Gadis itu duduk disebelah Marwa lalu menggenggam tangan sahabatnya itu.

"Kalau orang punya niat gak suka kekita, Jangankan pincang Wa... Sesempurna apapun kita tidak akan mengubah sifat dan wataknya.. Kalau boleh tahu, Apa yang buat kamu cemas..

"Mama Kak Raski..

"Kenapa sama calon ibu mertuamu..

"Tadi dia itu telfon, Dia ngehubungi Kak Raski dan marah-marah.. Tapi yang aku denger Nin. Tante Ratna bilang kalau dia itu kurang setuju Kak Raski tunangan sama aku.. Tante Ratna lebih setuju sama Kak Tania katanya.. Katanya aku ini pincang, Nanti kalau aku nikah gak ada yang mau masak, Gak ada mau bersih-bersih..

"Apa!? Dia bilang gitu?

"Iya..

"Dia mau cari menantu apa pembantu?

"Entahlah..

"Gak bener tuh emang calon mertuamu.. Kamu kalo ditindas sama dia lawan Wa.. Jangan diem aja.." Marwa hanya terdiam, Kalau melawan mungkin ia bisa, Tapi apa daya dengan kekurangannya ini.

"Kalo soal melawan aku sih Bisa Nin.. Cuma kamu tahu sendiri kan? Kondisi aku aja udah kayak gini..

"Kurang bukan berarti kamu bisa ngalah atas segalanya Wa.. Fisik kamu boleh kurang, Tapi mental mu jangan.. Kalian sama-sama manusia, Sama-sama makan nasi, Kalian sama dimata Tuhan.. Kalian cuma beda usia aja.. " Marwa menghela nafas panjang. Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh Nina. Mereka hanya beda usia saja tapi tidak dengan kedudukannya dimata Tuhan. Dimata Tuhan semua hambanya sama. Baik yang atau miskin..

TBC

Terpopuler

Comments

Arin

Arin

Kalau calon mertua udah kayak gitu..... mending mundur. Dari awal sudah bikin sakit hati, kalau sampai jadi bagaimana tiap hari gak ngenes....

2026-06-23

1

Ayudya

Ayudya

marwa sebelum kamu benar benar mau nikah ma Reski kamu pikir lagi jangan sampai kamu di jadikan pembantu ma ibunya raski

2026-06-23

1

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

benar kata Nina mamanya Raski mau cari menantu apa pembantu 😏😏 kl menurut saya mending Marwa gak usah jd nikah sama Raski yg akan makan hati nantinya 😏😏

2026-08-16

0

lihat semua
Episodes
1 Marwa Si Gadis Pincang
2 Barang Yang Sama + Visual
3 Mertua Pun Tidak Suka..
4 Kepergok Nina
5 Cemburu
6 Sebuah Kenyataan
7 Fakta Yang Ku Dengar
8 Marwa Hanya Sendiri
9 Gelang Yang Tertinggal
10 Perubahan Sikap Raski
11 Ternyata Semua Milik Marwa
12 Bukan Pilihanku..
13 Buket Dari Sang Pengagum
14 Fitnahan Tania
15 Perlawanan Marwa
16 Tidak Ada Air Mata
17 Dukungan Sahabat
18 Berangkat Ke Ibu Kota
19 Mengganggu Pikiran
20 Tinggal Diapartemen
21 Mencari Marwa
22 Memulai Hidup Baru
23 Tawaran Rayyan
24 Dibalik Bingkai Foto
25 Setuju Menjadi Istri
26 Jodoh Itu Tidak Bersyarat
27 Melati Yang Galau
28 Tanggal Yang Sama
29 Dua Undangan
30 Dapat Ijazah Langsung Ijab Sah..
31 Tidak Mencapai Target
32 Janji Rayyan
33 Dipaksa Bangun Pagi
34 Bertolak Belakang
35 Pergi Berobat
36 Berobat Sampai Sembuh
37 Dua Tahun Kemudian
38 Bersiap Bertemu Kembali
39 Bukan Serangan Jantung
40 Dia Kembali..
41 Kebongkar
42 Melati Dan Haidar
43 Wanita Idaman Lain
44 Syok Terapi Paman & Bibi
45 Tak Mau Kalah
46 Wedding Anniversary
47 Pesta Yang Meriah
48 Kecurigaan Tania
49 Hadiah Paling Spesial
50 Ketahuan Selingkuh
51 Ibu Mertua Sudah Tahu
52 Jangan Bicara Tentang Karma
53 Pemilik Rumah Itu Kakekku
54 Kedatangan Rayyan & Marwa
55 Ada Dua Pilihan
56 Diusir
57 Semua Milik Marwa
58 Aku Cinta Terakhirnya...
59 Sambutan Untuk Marwa
60 Dua Bocil Tampan
61 Nasib Keluarga Tania
62 Bertemu Teman Sekolah
63 Istri Direktur
64 Marwa Yang Tegas
65 Perubahan Keluarga Tania
66 Insiden
67 Insiden 2
68 Karma Kah?
69 Lamaran Haidar
70 Melati Yang Garang
71 Melati Yang Garang 2
72 Video Dari Tania
73 Hamil & Cerai
74 Di Bucinin Istri
75 Dartik Pergi
76 Bukan Panjat Pinang (Melati)
77 Pernikahan Haidar Dan Melati
78 Kelahiran Sang Putri
79 Kehidupan Baru (Tania & Raski)
80 Harus Adil
81 Berkunjung
82 Yang Penting Mereka Sudah Bahagia
83 Pertemuan Tak Terduga
84 Marwa Dan Tania
85 Marwa (Istri Tangguh Tuan Rayyan) END
86 Promo Novel Baru : Mutiara Hati Ghazi
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Marwa Si Gadis Pincang
2
Barang Yang Sama + Visual
3
Mertua Pun Tidak Suka..
4
Kepergok Nina
5
Cemburu
6
Sebuah Kenyataan
7
Fakta Yang Ku Dengar
8
Marwa Hanya Sendiri
9
Gelang Yang Tertinggal
10
Perubahan Sikap Raski
11
Ternyata Semua Milik Marwa
12
Bukan Pilihanku..
13
Buket Dari Sang Pengagum
14
Fitnahan Tania
15
Perlawanan Marwa
16
Tidak Ada Air Mata
17
Dukungan Sahabat
18
Berangkat Ke Ibu Kota
19
Mengganggu Pikiran
20
Tinggal Diapartemen
21
Mencari Marwa
22
Memulai Hidup Baru
23
Tawaran Rayyan
24
Dibalik Bingkai Foto
25
Setuju Menjadi Istri
26
Jodoh Itu Tidak Bersyarat
27
Melati Yang Galau
28
Tanggal Yang Sama
29
Dua Undangan
30
Dapat Ijazah Langsung Ijab Sah..
31
Tidak Mencapai Target
32
Janji Rayyan
33
Dipaksa Bangun Pagi
34
Bertolak Belakang
35
Pergi Berobat
36
Berobat Sampai Sembuh
37
Dua Tahun Kemudian
38
Bersiap Bertemu Kembali
39
Bukan Serangan Jantung
40
Dia Kembali..
41
Kebongkar
42
Melati Dan Haidar
43
Wanita Idaman Lain
44
Syok Terapi Paman & Bibi
45
Tak Mau Kalah
46
Wedding Anniversary
47
Pesta Yang Meriah
48
Kecurigaan Tania
49
Hadiah Paling Spesial
50
Ketahuan Selingkuh
51
Ibu Mertua Sudah Tahu
52
Jangan Bicara Tentang Karma
53
Pemilik Rumah Itu Kakekku
54
Kedatangan Rayyan & Marwa
55
Ada Dua Pilihan
56
Diusir
57
Semua Milik Marwa
58
Aku Cinta Terakhirnya...
59
Sambutan Untuk Marwa
60
Dua Bocil Tampan
61
Nasib Keluarga Tania
62
Bertemu Teman Sekolah
63
Istri Direktur
64
Marwa Yang Tegas
65
Perubahan Keluarga Tania
66
Insiden
67
Insiden 2
68
Karma Kah?
69
Lamaran Haidar
70
Melati Yang Garang
71
Melati Yang Garang 2
72
Video Dari Tania
73
Hamil & Cerai
74
Di Bucinin Istri
75
Dartik Pergi
76
Bukan Panjat Pinang (Melati)
77
Pernikahan Haidar Dan Melati
78
Kelahiran Sang Putri
79
Kehidupan Baru (Tania & Raski)
80
Harus Adil
81
Berkunjung
82
Yang Penting Mereka Sudah Bahagia
83
Pertemuan Tak Terduga
84
Marwa Dan Tania
85
Marwa (Istri Tangguh Tuan Rayyan) END
86
Promo Novel Baru : Mutiara Hati Ghazi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!