Kepergok Nina

"Nah gitu dong.. Bangun itu pagi, Jangan siang-siang.. Emangnya Bibi kamu ini pembantu apa..." Marwa menarik nafas panjang. Apa tidak bisa Bibinya diam sehari saja. Gadis itu berbalik badan menatap adik ipar ayah dan bundanya itu.

"Apa liat-liat?

"Bibi itu kenapa sih? Dimata Bibi itu aku selalu salah dan gak ada benarnya sama sekali.. Bisa gak sih Bi, Bibi perlakukan aku baik sama seperti kak Tania.." Marwa mencoba mengeluarkan unek-uneknya. Anggap saja dia merasa lelah dengan sikap Bibinya selama ini.

"Kamu! Beraninya kamu ya..." Setelah mengatakan itu, Marwa langsung pergi saja.Dia yang punya niat untuk membantu Bibinya memasak pagi ini tidak jadi.

Tanpa pamit Marwa berangkat ke kampus. Dia berjalan sambil memesan ojek pagi ini.

Baru dilawan seperti itu saja sudah kepanasan.. Apalagi kalau sampai Marwa ngereok.

Selama berada dikampus, Marwa kembali banyak diam. Rasa kesalnya terhadap Bibinya masih tersimpan sampai sekarang.

"Udahlah.. Gak usah dipikirin apa kata Bibi kamu yang gila itu. Tiap hari juga gitu..

"Tapi Nin.. Gak dilawan tambah jadi, Dilawan makin bikin sakit hati.. " Marwa memejamkan matanya, Jujur ia ingin segera bebas dari rumah itu.

"Kamu kerja hari ini?

Marwa mengangguk.

"Iya.. Lulusan tinggal satu minggu lagi Nin. Dan besok aku gajian, Lumayan kan uangnya buat tambah-tambah.. Meskipun aku kulian pakai beasiswa tapi sedikit banyak biaya pasti ada kan?

Nina mengangguk, Kasihan.. Batin Nina. Mulai dari sekolah sampai kuliah Marwa harus belajar tekun agar bisa meneruskan pendidikannya sampai lulus kuliah. Mau bagaimana lagi, Paman dan Bibinya mana mau membiayai Marwa. Untuk makan saja selalu di ungkit-ungkit ini dan itu.

"Aku kira kamu gak masuk hari ini Wa..

"Kenapa emangnya?

"Ya gak kenapa-napa sih.. Aku mau ajak kamu ke mall. Jalan-jalan gitu.." Marwa tersenyum tipis.

"Jangan sekarang ya Nin.. Bukannya aku mau nolak ajakan kamu. Seperti kata aku tadi, Aku harus rajin kerja karena hampir gajian..

"Iya iya gapapa kok.. Aku ngerti. Yaudah, Yuk aku antar kamu kecafe..

"Tapi kamu gak marah kan?

"Iya..

"Beneran?

"Ya Allah Mawa.. Beneran.. Ih! Nyebelin banget sih.. " Nina pun menggandeng tangan Marwa dengan sangat hati-hati sekali.

Seperti biasa, Nina yang selalu mengantarkan Marwa ke cafe tempat gadis itu bekerja. Sebenarnya Nina sudah banyak memberikan bantuan untuk Marwa. Hanya saja gadis itu menolak. Mungkin merasa tidak enak..

"Setelah lulus kamu masih mau kerja dicafe itu Wa?" Tanya Nina pada Marwa di atas motor.

"Untuk sementara waktu masih iya Nin.. Tapi aku akan ngelamar dulu disetiap perusahaan, Siapa tahu diterima..

"Ohya, Kakak aku kerja jadi asisten bos besar di ibu kota. Dan katanya cabang perusahaannya itu adalah perusahaan tempat kita magang kemaren itu loh. Aku baru tahu kemarin juga.. Gimana nanti aku minta bantuan Kak Haidar buat masukin kita ke perusahaan itu.. Kalau pakai orang dalam kan enak.."

"Iya deh iya.. Aku percaya sama kamu..."

Motor pun mulai berhenti. Seperti hari-hari biasanya Nina yang selalu mengantarkan Marwa ketempat kerjanya. Untuk pulangnya, Marwa selalu memakai jasa ojol.

"Ya udah ya.. Aku ke Mall dulu. Kamu gak mau nitip gak?

"Gak deh..

"Ok, Aku berangkat dulu ya..

"Hati-hati...

Marwa melanjutkan langkahnya masuk kedalam cafe. Disana, Dia disambut baik oleh para temannya. Meski kakinya pincang, Bukan berarti tidak ada yang baik dan mau berteman dengannya.

Semua temannya yang bekerja disini baik semua. Selama bekerja disini, Marwa tidak pernah merasa dibully oleh siapapun. Tak memandang Marwa yang katanya punya kekurangan itu. Adapula karyawan laki-laki yang naksir padanya, Namun Marwa tolak karena Marwa sadar kalau dia punya kekurangan. Terlebih saat ini dia telah punya seorang tunangan.

"Eh, Wawa.. Udah datang. Kok tumben awal datangnya..." Tanya salah satu temannya.. Marwa hanya tersenyum.

"Iya.. Dikampus mumpung lagi santai aja.. Seminggu lagi kan aku udah lulus.."

"Masha Allah.. Selamat ya Wa.. Akhirnya yang ditunggu-tunggu kesampaian juga. Kamu bisa lulus sarjana.."

"Alhamdulillah mbak...

"Ohya? Kalau kamu udah lulus, Kamu jadi pindah kerja?" Marwa tersenyum, Ia menggelengkan kepalanya.

"Masih belum tahu mbak.. Tapi ada rencana sih sebenarnya.. Tapi ya, Liat nanti ajalah.." Marwa tidak tahu harus beralasan apa. Dia bekerja disini untuk hidupnya karena selama ini dia hanya menumpang saja. Padahal sudah jelas rumah yang ditempati sekarang itu adalah rumah peninggalan orangtua Marwa sendiri.

Marwa yang saat itu masih usia sepuluh tahun tidak terlalu paham akan semua itu. Hanya karena makan pada Paman dan Bibinya, Marwa selalu dibilang numpang. Apalagi katanya rumah itu sebenarnya milik Pamannya yang telah diambil oleh Bundanya, Entah itu benar atau tidak Marwa tidak tahu.

Tapi tak apa. Dia sebentar lagi lulus, Tidak mungkin kan dia masih bekerja disini. Meskipun dia punya kaki yang pincang sama sekali tidak membuat Marwa patah semangat. Gadis itu akan giat dalam bekerja agar uang ia kumpulkan menjadi banyak. Setelah itu, Marwa akan pergi dari rumah itu.

...****************...

Nina telah sampai dipusat perbelanjaan. Disana ia hanya datang seorang diri karena Marwa enggan di ajak.

Maklum, Gadis itu pejuang keras. Dan Nina cukup mengerti sekali bagaimana kondisi kehidupan yang Marwa jalani selama ini.

Nina pergi untuk membeli sepatu. Dia juga pergi ke tempat tas karena Nina ingin membelikan sahabatnya sebuah Tas. Mumpung dia dapat transferan dari Kakaknya semalam. Kan lumayan lah..

"Kamu mau beli yang mana? Yang ini bagus sih?" Disela-sela dia memilih tas untuk Marwa, Sebuah suara yang tak asing masuk ke indra pendengarannya.

Dengan perlahan Nina menoleh, Dia cukup terkejut melihat siapa yang saat ini berada satu tempat dengannya.

"Dia kan? Kan itu kakaknya Marwa.. Sama..." Nina membuka tas ranselnya lalu meraih sebuah masker. Gadis itu memakai maskernya agar tidak ketahuan. Selain itu, Nina juga penasaran apa yang mereka lakukan berdua di Mall. Dan ini bukan yang pertama kalinya Nina melihat tunangan dan Kakak nya Nina itu pergi bersama..

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Rasa curiga Nina terhadap dua orang itu semakin mendalam. Nina yang berniat ingin membeli barang keperluannya harus terhalang oleh dua orang yang sangat Nina kenal.

Raski dan Tania..

Dua orang itu adalah orang terdekat Marwa. Mungkin Marwa tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu. Namun hal ini sangat penting sekali..

Kemanapun dua orang itu pergi Nina ikuti. Termasuk masuk kedalam food court yang berada dalam mall tersebut.

Nina duduk dibangku yang tak jauh dari Raski dan Nina. Jarak dua orang tersebut cukup dekat, Tidak seperti hubungan antara sesama teman yang dikatakan oleh Marwa kemarin. Lebih tepatnya seperti sepasang kekasih..

"Tania.." Raski meraih tangan Tania lalu menggenggamnya.

Nah kan? Benar kalau mereka punya hubungan.. Karena kalau hanya sekedar teman mana mungkin pegang-pegangan tangan begitu, Batin Nina.

Nina yang melihat itu segera meraih benda pipihnya hendak merekam apa yang mereka bicarakan. Namun...

"Sial! Pakek lowbat segala sih??" Gumam Nina yang merasa sial sekali. Ponselnya tiba-tiba mati dan itu karena kehabisan daya.

Benar kata Marwa, Jangan tunggu daya ponsel kita tinggal sedikit baru mengisinya. Takut ada keperluan yang penting seperti ini jadi tidak bisa digunakan kan?

Prak!

Benda pilih itu terjatuh dilantai membuat membuat orang-orang sekitar menoleh padanya. Sayangnya tidak dengan dua orang itu. Raski dan Tania seakan fokus dengan tatapan masing-masing.

"Sampai kapan kita harus seperti ini?" Tania menunduk, Ia menghela nafas panjang.

"Menurut kamu gimana? Jujur, Aku cemburu lihat kamu perhatian kayak tadi ke Wawa.. " Sebelah tangan Raski terangkat mengusap pipi Tania dengan lembut.

"Ya, Mau gimana? Semua ini kamu yang ingin kan? Kamu yang maksa aku buat ngelamar Marwa..

"Tapi kan aku udah bilang kalau itu semua kepaksa Raski.. Kamu tahu kan, Wawa itu pincang gara-gara menyelamatkan aku.. Mana mungkin aku tega lihat dia kagum sendirian ke kamu.. Tapi sekarang, Aku.." Tania menghentikan ucapannya. Hubungan antara Raski dan Marwa memang ada peran dari Tania.

Marwa merasa kagum pada pria itu. Sementara Tania dia merasa bersalah karena kondisi Marwa yang sekarang. Alhasil Tania meminta Raski untuk melamar Marwa agar adiknya itu senang..

Akan tetapi tak semudah itu, Melihat Raski perhatian pada Marwa jelas dia merasa cemburu dan bahkan kadang rasa marah itu ada.

"Kamu tenang aja.. Aku akan buat hubungan ini segera berakhir.." Ucap Raski yakin.

"Gimana caranya?

"Yang jelas aku gak bakalan ngelibatin kamu.. Tapi untuk saat ini kamu sabar dulu ya..." Tania mengangguk dan percaya akan ucapan pria itu.

"Sial! Kenapa disaat kayak gini Hp nya malah mati coba? Wawa mana percaya kalau gak ada bukti..

TBC

Terpopuler

Comments

Evi alvian

Evi alvian

owh jadi gtu ceritanya marwa pincang karena nolong Tania..tp jangan gtu jg kali masa iya mempermainkan perasaan marwa dengan Raski pura" jadi tunangannya

2026-06-24

1

Ariany Sudjana

Ariany Sudjana

kalau mau jadi detektif, yang cerdas dong Nina, supaya marwa bisa tahu kelakuan tunangannya dan Tania itu seperti apa, dan jangan mau dibodohi terus marwa

2026-06-24

1

Ani

Ani

😠😠😠😠😠😠 jadi kalian mempermainkan perasaan Wawa. minta disleding nih biar sama sama kakinya pincang.

2026-06-24

1

lihat semua
Episodes
1 Marwa Si Gadis Pincang
2 Barang Yang Sama + Visual
3 Mertua Pun Tidak Suka..
4 Kepergok Nina
5 Cemburu
6 Sebuah Kenyataan
7 Fakta Yang Ku Dengar
8 Marwa Hanya Sendiri
9 Gelang Yang Tertinggal
10 Perubahan Sikap Raski
11 Ternyata Semua Milik Marwa
12 Bukan Pilihanku..
13 Buket Dari Sang Pengagum
14 Fitnahan Tania
15 Perlawanan Marwa
16 Tidak Ada Air Mata
17 Dukungan Sahabat
18 Berangkat Ke Ibu Kota
19 Mengganggu Pikiran
20 Tinggal Diapartemen
21 Mencari Marwa
22 Memulai Hidup Baru
23 Tawaran Rayyan
24 Dibalik Bingkai Foto
25 Setuju Menjadi Istri
26 Jodoh Itu Tidak Bersyarat
27 Melati Yang Galau
28 Tanggal Yang Sama
29 Dua Undangan
30 Dapat Ijazah Langsung Ijab Sah..
31 Tidak Mencapai Target
32 Janji Rayyan
33 Dipaksa Bangun Pagi
34 Bertolak Belakang
35 Pergi Berobat
36 Berobat Sampai Sembuh
37 Dua Tahun Kemudian
38 Bersiap Bertemu Kembali
39 Bukan Serangan Jantung
40 Dia Kembali..
41 Kebongkar
42 Melati Dan Haidar
43 Wanita Idaman Lain
44 Syok Terapi Paman & Bibi
45 Tak Mau Kalah
46 Wedding Anniversary
47 Pesta Yang Meriah
48 Kecurigaan Tania
49 Hadiah Paling Spesial
50 Ketahuan Selingkuh
51 Ibu Mertua Sudah Tahu
52 Jangan Bicara Tentang Karma
53 Pemilik Rumah Itu Kakekku
54 Kedatangan Rayyan & Marwa
55 Ada Dua Pilihan
56 Diusir
57 Semua Milik Marwa
58 Aku Cinta Terakhirnya...
59 Sambutan Untuk Marwa
60 Dua Bocil Tampan
61 Nasib Keluarga Tania
62 Bertemu Teman Sekolah
63 Istri Direktur
64 Marwa Yang Tegas
65 Perubahan Keluarga Tania
66 Insiden
67 Insiden 2
68 Karma Kah?
69 Lamaran Haidar
70 Melati Yang Garang
71 Melati Yang Garang 2
72 Video Dari Tania
73 Hamil & Cerai
74 Di Bucinin Istri
75 Dartik Pergi
76 Bukan Panjat Pinang (Melati)
77 Pernikahan Haidar Dan Melati
78 Kelahiran Sang Putri
79 Kehidupan Baru (Tania & Raski)
80 Harus Adil
81 Berkunjung
82 Yang Penting Mereka Sudah Bahagia
83 Pertemuan Tak Terduga
84 Marwa Dan Tania
85 Marwa (Istri Tangguh Tuan Rayyan) END
86 Promo Novel Baru : Mutiara Hati Ghazi
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Marwa Si Gadis Pincang
2
Barang Yang Sama + Visual
3
Mertua Pun Tidak Suka..
4
Kepergok Nina
5
Cemburu
6
Sebuah Kenyataan
7
Fakta Yang Ku Dengar
8
Marwa Hanya Sendiri
9
Gelang Yang Tertinggal
10
Perubahan Sikap Raski
11
Ternyata Semua Milik Marwa
12
Bukan Pilihanku..
13
Buket Dari Sang Pengagum
14
Fitnahan Tania
15
Perlawanan Marwa
16
Tidak Ada Air Mata
17
Dukungan Sahabat
18
Berangkat Ke Ibu Kota
19
Mengganggu Pikiran
20
Tinggal Diapartemen
21
Mencari Marwa
22
Memulai Hidup Baru
23
Tawaran Rayyan
24
Dibalik Bingkai Foto
25
Setuju Menjadi Istri
26
Jodoh Itu Tidak Bersyarat
27
Melati Yang Galau
28
Tanggal Yang Sama
29
Dua Undangan
30
Dapat Ijazah Langsung Ijab Sah..
31
Tidak Mencapai Target
32
Janji Rayyan
33
Dipaksa Bangun Pagi
34
Bertolak Belakang
35
Pergi Berobat
36
Berobat Sampai Sembuh
37
Dua Tahun Kemudian
38
Bersiap Bertemu Kembali
39
Bukan Serangan Jantung
40
Dia Kembali..
41
Kebongkar
42
Melati Dan Haidar
43
Wanita Idaman Lain
44
Syok Terapi Paman & Bibi
45
Tak Mau Kalah
46
Wedding Anniversary
47
Pesta Yang Meriah
48
Kecurigaan Tania
49
Hadiah Paling Spesial
50
Ketahuan Selingkuh
51
Ibu Mertua Sudah Tahu
52
Jangan Bicara Tentang Karma
53
Pemilik Rumah Itu Kakekku
54
Kedatangan Rayyan & Marwa
55
Ada Dua Pilihan
56
Diusir
57
Semua Milik Marwa
58
Aku Cinta Terakhirnya...
59
Sambutan Untuk Marwa
60
Dua Bocil Tampan
61
Nasib Keluarga Tania
62
Bertemu Teman Sekolah
63
Istri Direktur
64
Marwa Yang Tegas
65
Perubahan Keluarga Tania
66
Insiden
67
Insiden 2
68
Karma Kah?
69
Lamaran Haidar
70
Melati Yang Garang
71
Melati Yang Garang 2
72
Video Dari Tania
73
Hamil & Cerai
74
Di Bucinin Istri
75
Dartik Pergi
76
Bukan Panjat Pinang (Melati)
77
Pernikahan Haidar Dan Melati
78
Kelahiran Sang Putri
79
Kehidupan Baru (Tania & Raski)
80
Harus Adil
81
Berkunjung
82
Yang Penting Mereka Sudah Bahagia
83
Pertemuan Tak Terduga
84
Marwa Dan Tania
85
Marwa (Istri Tangguh Tuan Rayyan) END
86
Promo Novel Baru : Mutiara Hati Ghazi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!