Permaisuri Bengis Kembali

“Zi Xuan, pergi!”

Teriakan itu menggema, namun seketika terputus. Mo Yuuran tiba-tiba bangun dengan napas tersengal-sengal. Dadanya naik turun dengan cepat, seolah baru saja lolos dari kematian.

Keringat dingin membasahi dahinya. Air mata masih mengalir di pipinya. Ia menatap sekeliling dengan mata gemetar. Kamar itu begitu familiar.

Hanfu putih yang ia kenakan tampak kusut, napasnya belum stabil. Tangannya meremas selimut dengan kuat, mencoba memastikan bahwa ia benar-benar merasakan semuanya.

“Aku ... di mana?”

“Yang Mulia Permaisuri! Anda telah sadar!”

Suara itu membuatnya menoleh cepat. Di samping ranjang, seorang pelayan muda menunduk hormat dengan wajah penuh kelegaan. Gadis itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

Mo Yuuran membeku. “Xia Lu?” suaranya lirih.

Pelayan itu terkejut, lalu segera mengangguk. “Hamba di sini, Yang Mulia. Anda membuat hamba sangat khawatir.”

“Kau … masih hidup?” tanya Mo Yuuran pelan.

Xia Lu mengernyit bingung. “Tentu saja, Yang Mulia. Hamba tidak ke mana-mana.”

Mo Yuuran terdiam. Tangannya perlahan terangkat, menyentuh wajahnya sendiri, hangat dan nyata. Ia menunduk, menatap tubuhnya. Tidak transparan seperti roh. Lalu kembali menatap Xia Lu yang bersujud di samping peraduan miliknya.

Tentu Mo Yuuran sangat ingat, Xia Lu telah mati karena ia hukum cambuk karena Ning Ning.

“Apa ini ... kesempatan kedua?” batinnya bergetar.

Belum sempat ia mencerna semuanya, suara lain tiba-tiba menyela.

“Permaisuri telah sadar! Syukurlah!”

Mo Yuuran langsung menoleh. Seorang pelayan lain berdiri santai tak jauh dari sana. Di tangannya masih ada buah yang tadi ia makan, sikapnya sama sekali tidak mencerminkan rasa hormat yang bernama Ning Ning.

Mata Mo Yuuran langsung berubah menyala dingin. Ia tidak akan pernah melupakan wajah itu.

Pelayan yang selama ini ia percayai sepenuh hati yang diam-diam meracuninya sedikit demi sedikit hingga ia mati. Padahal mereka tumbuh bersama.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Mo Yuuran tajam.

Ning Ning tertegun sejenak, lalu tersenyum manis.

“Hamba tentu saja menjaga Yang Mulia,” jawabnya lembut. “Apa maksud pertanyaan itu? Hamba tidak pernah meninggalkan Anda.”

Ia melirik ke arah Xia Lu dengan sinis. “Berbeda dengan Xia Lu yang sering keluyuran,” tambahnya sambil tersenyum tipis.

Xia Lu menunduk, wajahnya pucat. Tubuhnya langsung gemetar hebat. Ia ketakutan akan dihukum lagi.

Mo Yuuran menyipitkan mata. Jika ini dulu, ia pasti sudah mempercayai Ning Ning tanpa ragu. Dan menghukum Xia Lu, namun sekarang emuanya berbeda.

Kilasan ingatan muncul di benaknya, kehidupan pertamanya, ia memang tidak sadarkan diri karena kecelakaan kereta kuda. Upaya melarikan diri dari istana karena sudah tidak tahan dengan obsesi sang kaisar.

Tapi Ning Ning yang mendorong semuanya terjadi tentu atas perintah dari Mo Weiwei dan Bao Wen yang tidak ingin dirinya pergi sebelum misi selesai.

“Jadi ini waktunya untuk membalas dan menebus kesalahanku?” gumamnya dalam hati.

Tangannya mengepal. Tatapannya menusuk Ning Ning hingga pelayan itu merasa tidak nyaman.

“Permaisuri, a–aku—”

“Beraninya kau berbicara dalam posisi berdiri.” Suara Mo Yuuran dingin dan tajam, terdengar mematikan.

Ning Ning membeku. “A–apa maksud Yang Mulia?” tanyanya gugup.

“Apakah kau lupa siapa dirimu?” lanjut Mo Yuuran. “Atau selama ini aku terlalu memanjakanmu?”

Ning Ning panik, namun masih mencoba membela diri. “Tapi Permaisuri … bukankah hamba selalu seperti ini di hadapan Anda—”

Bugh!

Tubuhnya terhempas keras ke lantai. Sebuah tendangan langsung mengenai perutnya.

“Aaakhh!” Ning Ning menjerit kesakitan.

Xia Lu terkejut, matanya membesar tak percaya.

Mo Yuuran berdiri di sana, wajahnya pucat namun dingin. Tidak ada lagi kelembutan seperti dulu.

“Pelayan rendahan sepertimu berani bersikap kurang ajar di hadapanku?” ujarnya rendah. “Kau benar-benar lupa tempat.”

Ning Ning gemetar. Ia tidak mengerti. Kenapa Mo Yuuran berubah drastis?

“Am–ampuni hamba, Yang Mulia .…” katanya sambil menangis.

Mo Yuuran hanya menatapnya tanpa ekspresi. “Sepertinya kau perlu diajari tata krama dari awal.” Ia mengangkat suaranya. “Prajurit!”

Tak lama, dua prajurit masuk dan berlutut. “Yang Mulia.”

“Seret dia keluar,” perintah Mo Yuuran tanpa ragu menunjuk Ning Ning. “Cambuk sampai dia ingat siapa dirinya.”

Kedua prajurit terdiam. Mereka saling pandang. Ning Ning? Sepertinya mereka salah, biasanya yang dihukum adalah Xia Lu.

“Apa kalian tuli?” suara Mo Yuuran meninggi. “Kupikir perintahku sudah jelas.”

Kedua prajurit itu langsung menunduk. “Siap, Yang Mulia!”

Ning Ning panik. “Permaisuri! Ampuni hamba! Hamba tidak bersalah!” teriaknya histeris.

Ia mencoba meraih kaki Mo Yuuran, namun langsung ditarik oleh para prajurit.

“Yang Mulia! Tolong! Tolong hamba!”

Suara jeritannya menggema saat ia diseret keluar.

Xia Lu masih terpaku. Ia bahkan tidak berani bernapas keras.

Ruangan kembali menjadi sunyi.

Mo Yuuran perlahan duduk kembali di ranjang. Tangannya gemetar, kali ini bukan karena takut. Melainkan karena emosi yang terlalu besar. Ia menatap kedua tangannya.

Lalu tersenyum tipis. “Aku benar-benar hidup kembali.”

“Aku akan menebus semua kesalahanku pada mereka. Meski harus dibayar dengan nyawaku sendiri dan satu per satu pengkhianat itu akan kubalas,” desis Mo Yuuran dalam hati.

Ruangan itu semakin sunyi, hanya suara napas tertahan yang terdengar dari sudut lantai.

Mo Yuuran mengalihkan pandangannya, menatap sosok Xia Lu yang sejak tadi bersimpuh dengan kepala tertunduk dalam-dalam, tubuhnya gemetar menahan rasa sakit dan ketakutan.

“Xia Lu, kemarilah,” ujar Mo Yuuran pelan, suaranya terlalu lembut hingga terdengar asing bahkan di telinganya sendiri.

Xia Lu tersentak kaget. Perlahan ia mendongak, matanya membesar saat menatap wajah majikannya. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat kilatan amarah di sana. Hatinya berdegup tak menentu, bingung sekaligus takut jika ini hanya awal dari hukuman yang lebih kejam.

“Kemarilah,” ulang Mo Yuuran, kali ini sedikit lebih tegas, namun tetap tanpa nada dingin seperti biasanya.

Dengan tubuh gemetar, Xia Lu segera bangkit lalu berjalan tertatih sebelum kembali bersimpuh di depan Mo Yuuran. Wajahnya meringis, menahan rasa sakit dari luka-luka yang masih segar di tubuhnya.

Mo Yuuran terdiam sesaat. Tatapannya jatuh pada noda darah di lengan gadis itu, dan seketika ingatan masa lalunya menyeruak. Semua hukuman itu adalah perbuatannya sendiri.

Ia menutup mata perlahan, napasnya tercekat. “Aku yang melakukannya,” gumamnya.

Tanpa sadar, Mo Yuuran mengulurkan tangan dan memegang kedua tangan Xia Lu. Gadis itu refleks menegang, tubuhnya semakin gemetar, takut akan hukuman lanjutan yang mungkin datang.

“Tenanglah,” ucap Mo Yuuran cepat, menyadari reaksinya. “Aku tidak akan menghukummu lagi.”

Xia Lu tertegun. Ia menatap Mo Yuuran dengan ragu, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Napasnya yang semula tertahan kini perlahan terlepas, meski rasa takut masih tersisa.

Mo Yuuran berdiri tanpa berkata apa-apa, lalu berjalan menuju meja di dekat jendela. Ia mengambil sebuah kotak kecil berisi salep luka racikannya sendiri sesuatu yang dulu hanya ia gunakan untuk dirinya sendiri dan untuk keluarga pengkhianatnya.

Ia kembali dan mengulurkan salep itu pada Xia Lu. “Ini obat luka. Pakailah. Luka-lukamu akan lebih cepat sembuh,” katanya singkat, namun nadanya jelas tidak memerintah seperti biasanya.

Xia Lu menatap tangan itu lama. Tangannya menggantung di udara, ragu untuk menerima. Dalam pikirannya, semua ini terasa seperti mimpi yang aneh dan menakutkan.

“Apa yang kau tunggu?” tanya Mo Yuuran, sedikit mengernyit. “Ambillah. Dan setelah itu, istirahatlah. Jangan bekerja sampai lukamu benar-benar sembuh.”

Xia Lu akhirnya tersadar. Dengan gerakan cepat, ia menerima salep itu dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Terima kasih, Yang Mulia … hamba … hamba akan mengingat kebaikan ini,” ucapnya terbata, suaranya dipenuhi emosi yang sulit dijelaskan.

Mo Yuuran hanya menghela napas pelan. Dadanya terasa sesak, bukan karena amarah, melainkan penyesalan yang selama ini ia abaikan.

“Aku memang terlalu kejam,” gumamnya dalam hati, menatap punggung Xia Lu yang perlahan menjauh.

Tatapannya kemudian mengeras, bukan karena kebencian, tetapi karena tekad. “Namun semuanya akan berubah. Aku akan memperbaiki semuanya dimulai dari orang-orang yang benar-benar tulus padaku.”

.

Terpopuler

Comments

mama_im

mama_im

yo yo yo yuk lanjut. kak yul kenapa gak kayak natalia aja namanya, biar gampang 😅😅😅

2026-06-23

3

MataPanda?_

MataPanda?_

ini bakal d lanjut gk ka soalnya tiap hari nungguin 😅😅

2026-06-26

1

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

bagus kamu hrs berubah dan sayangi keluarga sendiri skrng lindungi mereka dr orang" yg sdh jahat pd mu dan keluarga mu 💪💪

2026-06-23

2

lihat semua
Episodes
1 Pengkhianatan
2 Permaisuri Bengis Kembali
3 Mulai Memperbaiki
4 Kedatangan
5 Peringatan
6 Dua Selir
7 Masa Lalu
8 Kaisar Zi Xuan
9 Malam yang Panjang
10 Berita
11 Ayo Sarapan!
12 Bidak Jatuh
13 Racun
14 Tinggal Bersama
15 Mengambil Haknya
16 Pencuri Tak Tahu Malu
17 Lebih Baik Terlambat
18 Aku Tidak Akan Pergi
19 Kepulangan Si Kembar
20 Kamu Bukan Ibu Kami
21 Menyelamatkan
22 Sakit
23 Tidurmu Terlalu Nyenyak
24 Bersiaplah Menjadi Mayat
25 Suamiku Butuh Aku
26 Panggilan Ibu Suri
27 Kembali ke Jalanmu
28 Aku akan datang
29 Milikmu?
30 Harus Berkaca
31 Satu-satunya Permaisuri
32 Keluar Istana
33 Anak Haram?
34 Terlalu Angkuh
35 Siapa yang Berani
36 Hukuman untuk Mo Jiung
37 Berita
38 Ikut Campur
39 Rahasia Ibu Suri
40 Rahasia Terkuak
41 Hubungan Gelap
42 Sesuai Rencana
43 Mengambil Alih Militer
44 Tunduk
45 Gelisah
46 Aku punya Ibu
47 Siapa yang Menyuruhmu?
48 Saling Melempar Kesalahan
49 Panggil Aku Ibu
50 Aku Rela
51 Ajari Kami
52 Tuntutan Para Pejabat
53 Balasan Mo Yuuran
54 Ditangkap
55 Mengikuti
56 Hubungan Gelap Ibu Suri
57 Rencana Mo Yuuran
58 Nyonya Mei
59 Kehancuran Dimulai
60 Rencana Lain
61 Kembali ke Akademi
62 Wajahnya Mirip
63 Dihadang
64 Masuk Perangkap
65 Permainan Mo Yuuran
66 Dua Musuh Jatuh
67 Bo Wen Terjebak
68 Kejatuhan Keluarga Mo
69 Kejutan Kedua
70 Menunggu Sidang
71 Sidang Hukuman
72 Hukuman Untuk Pengkhianat
73 Akhir Keluarga Mo
74 Hukuman Sebenarnya
75 Nasib Mo Weiwei
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Pengkhianatan
2
Permaisuri Bengis Kembali
3
Mulai Memperbaiki
4
Kedatangan
5
Peringatan
6
Dua Selir
7
Masa Lalu
8
Kaisar Zi Xuan
9
Malam yang Panjang
10
Berita
11
Ayo Sarapan!
12
Bidak Jatuh
13
Racun
14
Tinggal Bersama
15
Mengambil Haknya
16
Pencuri Tak Tahu Malu
17
Lebih Baik Terlambat
18
Aku Tidak Akan Pergi
19
Kepulangan Si Kembar
20
Kamu Bukan Ibu Kami
21
Menyelamatkan
22
Sakit
23
Tidurmu Terlalu Nyenyak
24
Bersiaplah Menjadi Mayat
25
Suamiku Butuh Aku
26
Panggilan Ibu Suri
27
Kembali ke Jalanmu
28
Aku akan datang
29
Milikmu?
30
Harus Berkaca
31
Satu-satunya Permaisuri
32
Keluar Istana
33
Anak Haram?
34
Terlalu Angkuh
35
Siapa yang Berani
36
Hukuman untuk Mo Jiung
37
Berita
38
Ikut Campur
39
Rahasia Ibu Suri
40
Rahasia Terkuak
41
Hubungan Gelap
42
Sesuai Rencana
43
Mengambil Alih Militer
44
Tunduk
45
Gelisah
46
Aku punya Ibu
47
Siapa yang Menyuruhmu?
48
Saling Melempar Kesalahan
49
Panggil Aku Ibu
50
Aku Rela
51
Ajari Kami
52
Tuntutan Para Pejabat
53
Balasan Mo Yuuran
54
Ditangkap
55
Mengikuti
56
Hubungan Gelap Ibu Suri
57
Rencana Mo Yuuran
58
Nyonya Mei
59
Kehancuran Dimulai
60
Rencana Lain
61
Kembali ke Akademi
62
Wajahnya Mirip
63
Dihadang
64
Masuk Perangkap
65
Permainan Mo Yuuran
66
Dua Musuh Jatuh
67
Bo Wen Terjebak
68
Kejatuhan Keluarga Mo
69
Kejutan Kedua
70
Menunggu Sidang
71
Sidang Hukuman
72
Hukuman Untuk Pengkhianat
73
Akhir Keluarga Mo
74
Hukuman Sebenarnya
75
Nasib Mo Weiwei

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!