Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Pengkhianatan

“Ha! Ha! Ha! Ha! Ha! Akhirnya si jalang ini mati!”

Tawa keras menggema di seluruh aula istana, terdengar begitu jelas dan menusuk. Suara itu memantul di dinding marmer yang dingin, menciptakan gema yang terasa seperti ejekan tanpa akhir.

Seorang wanita tiba-tiba membuka matanya.

Mo Yuuran terengah pelan, namun tidak ada napas yang keluar dari dadanya. Ia berdiri kaku, menatap ke depan dengan bingung.

“A–aku kenapa?”

Pandangannya perlahan turun ke lantai. Di sana, tubuhnya sendiri terbaring tak bernyawa. Wajahnya pucat, bibirnya membiru, dan gaun kebesaran permaisuri itu kini tampak kotor dan tak berharga. Jantungnya seakan berhenti lagi.

“Aku ... sudah mati?”

Tangannya terangkat gemetar, terasa ringan dan kosong. Saat ia mencoba menyentuh tubuhnya sendiri, tangannya hanya menembus begitu saja. Ia bukan lagi manusia tapi hanya arwah.

Tawa kembali terdengar, membuat Mo Yuuran mengangkat kepalanya. Matanya membelalak saat melihat siapa yang berdiri di sana. Keluarganya dan pria yang ia cintai.

“Lihatlah wajahnya,” ujar seorang wanita dengan nada mengejek. “Bahkan setelah mati, dia tetap terlihat menyedihkan.”

Mo Weiwei melangkah maju dengan anggun, senyum sinis terukir di wajah cantiknya. Tanpa ragu, ia mengangkat kakinya dan menginjak wajah kaku Mo Yuuran.

“Ckckck, dasar adik bodoh,” katanya sambil tertawa kecil. “Kami meracunimu begitu lama, tapi kau tetap tidak menyadarinya.”

Mata Mo Yuuran membesar.

“Racun?”

“Kau pikir kau bisa mendapatkan cinta Bao Wen?” lanjut Mo Weiwei, nadanya penuh ejekan. “Heh. Jangan bermimpi. Dia hanya milikku.”

Langkahnya mundur sedikit, lalu ia menatap Mo Yuuran dengan tatapan tajam.

“Dan satu hal lagi yang harus kau tahu,” ucapnya pelan, seolah menikmati momen itu. “Mo Jiung keponakan kesayanganmu itu adalah anaknya, Bao Wen.”

Deg!

Tubuh Mo Yuuran gemetar hebat. “Tidak … itu tidak mungkin,” bisiknya.

“Kau pasti sangat terkejut di neraka bukan?” Mo Weiwei tersenyum lebar. “Dia adalah buah cintaku dengan Bao Wen. Sejak awal, semuanya hanya sandiwara untuk mempermainkanmu.”

Dunia Mo Yuuran runtuh seketika. Ia selalu mengira Mo Long adalah anak dari kakak iparnya yang telah meninggal. Ia mencintai anak itu sepenuh hati, bahkan rela melakukan apa pun untuknya. Ternyata, ia hanya sedang dibodohi.

“Yuuran, Yuuran.” suara pria terdengar lembut dan penuh racun.

Bao Wen melangkah maju, menatap tubuh tak bernyawa itu dengan senyum puas. Wajah yang dulu ia anggap penuh cinta kini terasa begitu menjijikkan.

“Kau benar-benar sangat berjasa,” katanya santai. “Tanpamu, aku tidak akan bisa menjatuhkan Kaisar Zi Xuan. Tidak sia-sia aku bersandiwara menjadi pria yang mencintaimu.”

Mo Yuuran membeku di tempat.

“Bahkan, kau sendiri yang membunuh ketiga putranya. Kau membuka jalan untukku dan untuk putraku menjadi putra mahkota.”

“Diam!” teriak Mo Yuuran.

Tangan arwahnya mengepal kuat, tubuhnya bergetar hebat. “Kalian semua memanfaatkanku! Dasar b3debah sialan!”

“Kasihan sekali,” ujar Bao Wen mengejek. “Kau hanyalah alat.”

“Aku akan membunuh kalian!” teriak Mo Yuuran.

Mo Yuuran berlari ke arah Bao Wen dan mengayunkan pukulan dengan seluruh amarahnya. Tapi, tangannya menembus tubuh pria itu tanpa memberikan luka sedikit pun, ia terhuyung.

“Tidak tidak mungkin.”

Ia mencoba berkali-kali. Namun hasilnya tetap sama. Ia tidak bisa menyentuh mereka dan tidak bisa melakukan apa-apa.

“Sialan kalian semua!” desisnya penuh kebencian.

Tawa mereka semakin keras, seolah penderitaan Mo Yuuran adalah hiburan yang paling menyenangkan. Namun, luka itu belum berhenti.

Seorang wanita paruh baya melangkah maju dengan wajah dingin. Lihua, wanita yang selama ini ia panggil ibu.

Tanpa ragu, Lihua menendang tubuh kaku Mo Yuuran. “Benar-benar memalukan,” katanya datar.

Mo Yuuran menatapnya dengan mata bergetar. “Ibu … kenapa?”

Lihua tertawa kecil, tanpa sedikit pun kehangatan. Dada Mo Yuuran terasa sesak, ia pikir wanita paruh baya itu akan mennagis.

“Karena kau sudah mati, aku akan memberikanmu hadiah sebagai perpisahan. Aku bukan ibumu,” ujar Lihua dingin. “Ibu kandungmu sudah lama mati.”

Napas Mo Yuuran tercekat.

“Ayahmu, Mo Fang dan aku yang membunuhnya,” kata Lihua tanpa rasa bersalah. “Dia terlalu bodoh karena memergoki hubungan kami.”

Air mata tak terlihat mengalir dari mata Mo Yuuran.

“Awalnya kami juga ingin membunuhmu,” tambahnya. “Tapi seluruh harta ibumu diwariskan atas namamu. Cih, jalang sialan itu ternyata sudah merencanakan semua ini,” kata Lihua dengan wajah kesal.

Mo Fang tertawa dari belakang. “Jadi kami harus bersabar,” katanya. “Berpura-pura menjadi keluarga yang baik sampai semuanya menjadi milik kami.”

Tubuh Mo Yuuran gemetar hebat. Semua yang ia yakini selama ini hanyalah kebohongan. Ayah kandungnya ternyata ikut andil dengan semua ini.

“Kalian ... monster!” teriaknya parau.

Ia menatap tubuhnya sendiri, lalu bayangan tiga pangeran muncul di benaknya. Anak-anak yang memanggilnya ibu yang ia bunuh dengan tangannya sendiri. Demi kebohongan ini.

“Aku … membunuh mereka .…” Suaranya pecah.

Penyesalan menghantamnya seperti gelombang besar yang tak bisa dihentikan. Bahkan dengan tangannya sendiri meracuni dan menjatuhkan kaisar Zi Xuan dari tahtanya.

“Aku akan membalas kalian!”

Teriakan Mo Yuuran menggema, penuh kebencian dan luka yang mendalam. Namun tidak satu pun dari mereka menoleh. Mereka tidak bisa melihatnya. Tidak bisa mendengarnya. Ia hanyalah arwah yang tak berarti.

“Aku bersumpah jika aku diberi kesempatan lagi.”

Matanya dipenuhi tekad yang mengerikan. “Aku akan menghancurkan kalian semua.”

Tawa mereka masih menggema di aula, namun tiba-tiba suara langkah kaki berat memecah suasana. Dentingan baju zirah terdengar dari segala arah, membuat udara mendadak menegang.

Para prajurit elit mengepung aula dalam sekejap.

“Apa ini?” Mo Fang terbelalak, mundur satu langkah. “Siapa kalian?!”

Bao Wen langsung mencabut pedangnya, wajahnya berubah waspada. “Berani sekali kalian masuk di istanaku tanpa izin!”

Tapi sebelum ada jawaban, langkah kaki lain terdengar. Semua orang menoleh ke arah pintu utama.

Seorang pria berjalan masuk dengan jubah hitam yang berlumuran darah. Pedang di tangannya masih meneteskan cairan merah segar, dan aura membunuh yang mengelilinginya membuat siapa pun sulit bernapas.

Mo Yuuran membeku. “Zi … Xuan?” bisiknya tak percaya.

Kaisar Zi Xuan, pria yang telah ia jatuhkan kini berdiri kembali.

Tatapan dinginnya langsung jatuh pada tubuh Mo Yuuran yang tergeletak di lantai. Dalam sekejap, ekspresi wajahnya berubah. Mata itu memerah, amarahnya lamgsung meledak.

“Bunuh mereka. Gantung kepala mereka di alun-alun.”

Perintah itu jatuh seperti hukuman mati.

“Berani sekali kau kembali!” teriak Bao Wen, mencoba menutupi ketakutannya. “Kau pikir kau masih seorang kaisar?!”

Ia langsung melesat maju, pedangnya mengarah lurus ke leher Zi Xuan. Dalam sekejap, tubuh Zi Xuan menghilang dari tempatnya.

Crash!

Sebuah tebasan cepat melintas. Kepala Bao Wen terlepas dari tubuhnya sebelum ia sempat bereaksi. Darah menyembur, tubuhnya roboh tanpa suara.

“Akkhhhhh!” jerit Mo Weiwei histeris.

Lihua dan Mo Fang langsung mundur dengan wajah pucat pasi.

“Lari! Cepat lari!” teriak Mo Fang panik.

Namun langkah mereka terhenti. Pedang para prajurit sudah lebih dulu menembus tubuh mereka.

“Jangan!” Mo Weiwei menjerit, matanya penuh ketakutan.

Tiga tubuh itu jatuh bersamaan, darah mengalir di lantai aula yang megah. Sunyi yang mengerikan menyelimuti ruangan.

Mo Yuuran hanya bisa berdiri terpaku. Semua terjadi terlalu cepat. Sementara itu, Zi Xuan menjatuhkan pedangnya begitu saja.

Ia berlari, langkahnya terburu-buru, tidak lagi seperti seorang kaisar yang agung, melainkan pria yang kehilangan segalanya.

“Yuuran .…”

Suaranya bergetar. Ia berlutut di samping tubuh Mo Yuuran, tangannya gemetar saat mengangkat tubuh dingin itu ke dalam pelukannya.

“Tidak … tidak … ini tidak boleh terjadi .…”

Mo Yuuran membeku. Ia menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. Zi Xuan menangis.

“Aku terlambat .…” bisiknya parau. “Aku datang terlambat menyelamatkanmu.”

Air mata jatuh tanpa henti. “Maafkan aku … Yuuran … maafkan aku .…”

Hati Mo Yuuran terasa diremas. Selama ini, ia mengira pria ini hanya terobsesi padanya. Namun ternyata cinta pria itu, sedalam ini.

“Kau tahu. …” suara Zi Xuan bergetar di antara tangisnya. “Yang paling menyakitkan bukanlah luka di tubuh …”

Ia memeluk tubuh itu semakin erat. “Tapi ketika hatimu dipenuhi orang lain dan kita tidak pernah ditakdirkan bersama.”

“Aaaahhhhhh!” Teriakan Zi Xuan menggema, penuh keputusasaan yang menghancurkan.

Mo Yuuran menutup mulutnya, air matanya jatuh tanpa suara. Ia ingin menyentuhnya. Ia ingin menjawabnya. Tapi percuma saja, karena sekarang dirinya hanya roh.

Tak lama, seorang pria berseragam mendekat dan berlutut.

“Yang Mulia,” ucapnya hormat. “Keempat pengkhianat telah digantung di alun-alun. Apa perintah selanjutnya?”

Zi Xuan perlahan mengangkat kepalanya, tatapannya kosong.

“Semua orang keluar dari istana ini,” katanya dingin. “Bakar istana ini.”

Pria itu terkejut. “Yang Mulia … itu—”

“Lakukan.”

Satu kata itu cukup.

Pria itu lalu menunduk. “Baik, Yang Mulia.”

Mo Yuuran panik. “Tidak! Zi Xuan, jangan!” teriaknya.

Namun suaranya lenyap di udara. Tidak ada yang mendengar, tak lama setelah tangan kanan kaisar Zi Xuan keluar, asap mulai memenuhi aula.

Api merambat dari sudut-sudut bangunan, membakar tirai dan pilar kayu.

Zi Xuan tidak bergerak. Ia justru mengangkat tubuh Mo Yuuran dan berjalan menuju singgasana.Dengan perlahan, ia duduk dan memangku tubuh itu di pangkuannya. Seolah-olah wanita itu masih hidup.

“Jika kita tidak bisa bersama di dunia ini .…” bisiknya lembut.

Api semakin membesar.

“Maka biarlah kita bersama di kehidupan berikutnya.” Ia menunduk dan mencium kening Mo Yuuran dengan penuh cinta.

Mo Yuuran menjerit. “Pergi! Tolong pergi, Zi Xuan! Selamatkan hidupmu!”

Namun Zi Xuan hanya memejamkan matanya. Ia tidak berniat pergi. Ledakan besar mengguncang istana.

Duarr!

Api menelan segalanya. Dalam sekejap, cahaya terang menyilaukan pandangan Mo Yuuran. Tubuh arwahnya terhempas jauh. Kesadarannya memudar. Dan sebelum semuanya menjadi gelap

Air matanya jatuh.

“Zi Xuan .…”

Terpopuler

Comments

🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥

🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥

akhirnya ketemu juga setelah dilihat dari profil, klau nunggu notif dari apk kelamaan, karena udah gak sabar nunggu buat baca🥺

2026-06-22

3

💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩

💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩

Yeeeeyyyy akhirnya ada cerita baru bun💪💪💪

2026-06-23

2

🥰🥰m4r1n4.sg🙏🏻🙏🏻🙏🏻

🥰🥰m4r1n4.sg🙏🏻🙏🏻🙏🏻

suka dengan cerita mu Thor, aku gak bisa nulis tentang transmigrasi atau mengulang waktu, jadi tak pantau terus karyamu Thor.... kopi langsung mendarat, biasanya aku cuman ngintip, tapi sayang poinku udah terlalu banyak 😄😄😄..🥰🥰🥰☕☕☕

2026-06-23

2

lihat semua
Episodes
1 Pengkhianatan
2 Permaisuri Bengis Kembali
3 Mulai Memperbaiki
4 Kedatangan
5 Peringatan
6 Dua Selir
7 Masa Lalu
8 Kaisar Zi Xuan
9 Malam yang Panjang
10 Berita
11 Ayo Sarapan!
12 Bidak Jatuh
13 Racun
14 Tinggal Bersama
15 Mengambil Haknya
16 Pencuri Tak Tahu Malu
17 Lebih Baik Terlambat
18 Aku Tidak Akan Pergi
19 Kepulangan Si Kembar
20 Kamu Bukan Ibu Kami
21 Menyelamatkan
22 Sakit
23 Tidurmu Terlalu Nyenyak
24 Bersiaplah Menjadi Mayat
25 Suamiku Butuh Aku
26 Panggilan Ibu Suri
27 Kembali ke Jalanmu
28 Aku akan datang
29 Milikmu?
30 Harus Berkaca
31 Satu-satunya Permaisuri
32 Keluar Istana
33 Anak Haram?
34 Terlalu Angkuh
35 Siapa yang Berani
36 Hukuman untuk Mo Jiung
37 Berita
38 Ikut Campur
39 Rahasia Ibu Suri
40 Rahasia Terkuak
41 Hubungan Gelap
42 Sesuai Rencana
43 Mengambil Alih Militer
44 Tunduk
45 Gelisah
46 Aku punya Ibu
47 Siapa yang Menyuruhmu?
48 Saling Melempar Kesalahan
49 Panggil Aku Ibu
50 Aku Rela
51 Ajari Kami
52 Tuntutan Para Pejabat
53 Balasan Mo Yuuran
54 Ditangkap
55 Mengikuti
56 Hubungan Gelap Ibu Suri
57 Rencana Mo Yuuran
58 Nyonya Mei
59 Kehancuran Dimulai
60 Rencana Lain
61 Kembali ke Akademi
62 Wajahnya Mirip
63 Dihadang
64 Masuk Perangkap
65 Permainan Mo Yuuran
66 Dua Musuh Jatuh
67 Bo Wen Terjebak
68 Kejatuhan Keluarga Mo
69 Kejutan Kedua
70 Menunggu Sidang
71 Sidang Hukuman
72 Hukuman Untuk Pengkhianat
73 Akhir Keluarga Mo
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Pengkhianatan
2
Permaisuri Bengis Kembali
3
Mulai Memperbaiki
4
Kedatangan
5
Peringatan
6
Dua Selir
7
Masa Lalu
8
Kaisar Zi Xuan
9
Malam yang Panjang
10
Berita
11
Ayo Sarapan!
12
Bidak Jatuh
13
Racun
14
Tinggal Bersama
15
Mengambil Haknya
16
Pencuri Tak Tahu Malu
17
Lebih Baik Terlambat
18
Aku Tidak Akan Pergi
19
Kepulangan Si Kembar
20
Kamu Bukan Ibu Kami
21
Menyelamatkan
22
Sakit
23
Tidurmu Terlalu Nyenyak
24
Bersiaplah Menjadi Mayat
25
Suamiku Butuh Aku
26
Panggilan Ibu Suri
27
Kembali ke Jalanmu
28
Aku akan datang
29
Milikmu?
30
Harus Berkaca
31
Satu-satunya Permaisuri
32
Keluar Istana
33
Anak Haram?
34
Terlalu Angkuh
35
Siapa yang Berani
36
Hukuman untuk Mo Jiung
37
Berita
38
Ikut Campur
39
Rahasia Ibu Suri
40
Rahasia Terkuak
41
Hubungan Gelap
42
Sesuai Rencana
43
Mengambil Alih Militer
44
Tunduk
45
Gelisah
46
Aku punya Ibu
47
Siapa yang Menyuruhmu?
48
Saling Melempar Kesalahan
49
Panggil Aku Ibu
50
Aku Rela
51
Ajari Kami
52
Tuntutan Para Pejabat
53
Balasan Mo Yuuran
54
Ditangkap
55
Mengikuti
56
Hubungan Gelap Ibu Suri
57
Rencana Mo Yuuran
58
Nyonya Mei
59
Kehancuran Dimulai
60
Rencana Lain
61
Kembali ke Akademi
62
Wajahnya Mirip
63
Dihadang
64
Masuk Perangkap
65
Permainan Mo Yuuran
66
Dua Musuh Jatuh
67
Bo Wen Terjebak
68
Kejatuhan Keluarga Mo
69
Kejutan Kedua
70
Menunggu Sidang
71
Sidang Hukuman
72
Hukuman Untuk Pengkhianat
73
Akhir Keluarga Mo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!