Kedatangan

Mo Yuuran menghela napas panjang, berdiri di depan jendela kamarnya yang luas. Tatapannya kosong sejenak sebelum ia mengingat sesuatu di kehidupan pertamanya, Kaisar Zi Xuan tidak berada di istana saat ini.

“Pasti dia ke perbatasan,” gumamnya pelan. Ada sesak aneh di dadanya, namun ia segera menekannya.

Tadinya ia i ingin ke paviliun Zi Xuan, tapj ia langsung teringat jika pria itu tidak berada di tempatnya karena sedang melakukan misi mata-mata di perbatasan sama seperti di kehidupan pertamanya.

Akhirnya Mo Yuuran ke kamar pelayan dan menyuruh Xia Lu pindah. Di atas meja, sebuah kertas terbentang. Berisi daftar nama dan rencana.

Mo Yuuran menghela napas lagi. “Satu per satu aku akan memperbaiki semuanya,” bisiknya pelan.

Tatapannya mengeras saat melihat beberapa nama yang begitu ia kenal. Bo Wen. Mo Weiwei. Dan keluarga mereka.

“Dan kalian .…” suaranya menurun dingin. “Akan kupotong akar kalian dari dalam istana.”

Bibirnya terangkat tipis. Ia teringat dengan jelas semua rahasia itu. Saat ia menjadi roh mereka sendiri yang mengungkapkannya. Betapa bodohnya mereka.

Mo Yuuran terdiam, tenggelam dalam pikirannya. Namun tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan kasar.

Brak!

“Mo Yuuran! Beraninya kau menghukum Ning Ning!”

Suara itu menggema tanpa sopan santun. Mo Yuuran tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu yaitu Mo Weiwei.

Mo Yuuran perlahan berdiri. Wajahnya dingin, matanya tanpa emosi saat menatap wanita yang baru saja masuk tanpa izin.

Ingatan lama berkelebat, wajahnya diinjak. Harga dirinya dihancurkan. Tapi kali ini, ia bukan Mo Yuuran yang dulu.

“Mo Yuuran! Apa kau dengar aku?!” bentak Mo Weiwei, melangkah mendekat tanpa rasa hormat. “Kenapa kau menghukum Ning Ning? Apa kau—”

“Lancang.”

Satu kata itu memotong ucapannya.

Mo Weiwei membeku. Matanya membesar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Apa?” ulangnya, bingung. “Apa yang kau katakan?”

Mo Yuuran melangkah maju perlahan. Tatapannya tajam, membuat udara di ruangan itu terasa menekan. Tanpa peringatan.

Plak!

Tamparan keras mendarat di wajah Mo Weiwei. Suara itu menggema di seluruh ruangan.

Kepala Mo Weiwei terlempar ke samping. Ia terhuyung, tangannya refleks memegang pipinya yang panas.

Ia menoleh kembali dengan cepat, matanya penuh keterkejutan. “Kau—”

Plak!

Tamparan kedua langsung menyusul, lebih keras dari yang pertama.

Tubuh Mo Weiwei oleng. Ia hampir jatuh jika tidak segera menyeimbangkan diri.

“Apa yang kau lakukan, Yuuran?!” teriaknya, suaranya bergetar antara marah dan tidak percaya.

Mo Yuuran mengepalkan tangannya. Kukunya hampir menembus telapak, menahan dorongan untuk melakukan lebih dari sekadar tamparan.

“Jangan memanggilku seperti itu,” ucapnya dingin. “Siapa yang mengizinkanmu menyebut namaku tanpa gelar?”

Mo Weiwei terdiam sesaat, lalu tertawa sinis. “Apa kau sudah gila? Aku kakakmu!”

“Dan aku Permaisuri,” potong Mo Yuuran tajam.

Langkahnya mendekat, membuat Mo Weiwei tanpa sadar mundur setengah langkah.

“Kau masuk tanpa izin,” lanjutnya, suaranya tenang namun menekan. “Tidak memberi hormat. Dan berani membentakku di dalam kediamanku sendiri.”

Setiap kata yang keluar terasa seperti pisau.

“Apakah kau sudah lupa etika dasar di istana?” tambahnya dingin.

Mo Weiwei menggertakkan giginya. “Sejak kapan kau mempermasalahkan hal seperti ini? Kau ini adikku!”

Mo Yuuran tersenyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak hangat.

“Mulai sekarang, ingat baik-baik,” katanya pelan namun jelas. “Di hadapanku, kau bukan kakakku.”

Ia berhenti tepat di depan Mo Weiwei. Tatapannya lurus, penuh tekanan.

“Kau hanyalah seorang putri jenderal rendahan yang harus memberi hormat pada Permaisuri.”

Wajah Mo Weiwei memucat. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan tekanan dari Mo Yuuran.

“Dan satu lagi,” lanjut Mo Yuuran. “Mulai hari ini, panggil aku dengan benar. Atau aku akan mengajarimu dengan cara yang lebih menyakitkan.”

Suasana menjadi sangat hening. Mo Weiwei benar-benar terkejut. Sampai tidak bisa berkata-kata melihat Mo Yuuran berbeda.

Mo Yuuran berdiri dengan anggun di tengah ruangan, tatapannya dingin dan tajam seperti bilah pisau.

“Ah, ya. Kau datang ke sini karena pelayanku, bukan?” ucapnya santai, namun sarat tekanan. Bibirnya melengkung tipis, senyum yang tak pernah mencapai mata.

Ia melangkah perlahan mendekat, suaranya merendah namun menusuk. “Aku jadi bingung, kenapa kau begitu memperhatikan dirinya, padahal dia hanya budakku.”

Mo Weiwei mengangkat dagu, menatap balik dengan ekspresi meremehkan. Meski ia sedikit takut dengan aura saudara tirinya itu.

“Jadi terserah aku ingin melakukan apa padanya,” lanjut Mo Yuuran, nadanya kini lebih dingin. “Bahkan aku bisa membunuhnya jika aku mau.”

Hening sejenak, lalu tawa kecil pecah dari bibir Mo Weiwei. Ia benar-benar menganggap ucapan itu hanya luapan emosi sesaat.

“Adik, kau masih marah ya soal itu,” ujarnya sambil menggeleng. “Hanya karena gagal keluar dari istana, kau jadi melampiaskan amarah pada pelayan?”

Ia melangkah mendekat, suaranya berubah seolah menasihati. “Lebih baik kau bersabar. Tak lama lagi, tahta itu akan jatuh ke tangan Bo Wen.”

Senyumnya melebar penuh keyakinan. “Dan saat itu terjadi, kau akan menjadi satu-satunya permaisuri di hatinya.”

Mo Yuuran tertawa pelan. Tawa yang terdengar ringan, tetapi menyimpan ejekan yang dalam.

Jika ini dirinya di masa lalu, mungkin ia sudah mempercayai semua omong kosong itu. Tapi sekarang setiap kata terasa seperti racun yang sudah ia kenali.

Baru saja ia hendak membuka mulut, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dengan keras. Suara benturan terdengar, diikuti tubuh seseorang yang terlempar masuk.

“Ah—”

Xia Lu terhempas ke lantai, tubuhnya berguling lemah. Wajahnya pucat, dan bekas luka cambukan masih terlihat jelas.

Di ambang pintu berdiri Ning Ning, napasnya memburu, matanya dipenuhi amarah. Di belakangnya, dua pelayan lain berdiri dengan wajah penuh kesombongan.

“Beraninya kau mengambil kamarku!” teriak Ning Ning lantang. “Benar-benar lancang!”

Ia melangkah masuk dengan kasar, meski tubuhnya masih terlihat lemah akibat luka kemarin. Namun amarahnya jauh lebih besar daripada rasa sakitnya.

Saat di klinik, beberapa pelayan menyampaikan informasi yang membuatnya mendidih. Yaitu, Xia Lu mengambil kamarnya bahkan barang berharga miliknya hilang. Hal itu semakin membuatnya murka.

“Barang-barang berhargaku juga hilang!” serunya. “Kau bahkan berani mencurinya?!”

Mo Yuuran menyipitkan mata, pandangannya jatuh pada Xia Lu yang tergeletak. Aura dingin langsung menyelimuti seluruh ruangan.

“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya pelan, namun penuh tekanan.

Ning Ning seketika berubah, wajahnya yang marah kini dipenuhi air mata. Ia berlutut setengah, suaranya terdengar penuh kepura-puraan.

“Permaisuri, hamba dijahati!” katanya sambil terisak. “Xia Lu merebut kamar hamba dan mencuri barang-barang hamba!”

“Benar-benar lancang!” sambung Mo Weiwei dengan cepat, menatap tajam ke arah Xia Lu. “Seorang pelayan berani bertindak semena-mena seperti ini!”

Xia Lu menggeleng panik meski tubuhnya gemetar kesakitan. Ia berusaha bangkit, namun gagal.

“Bukan … bukan begitu .…” suaranya lirih. “Hamba hanya melakukan perintah .…”

Ia menatap Mo Yuuran, matanya dipenuhi harapan dan ketakutan. “Hamba disuruh oleh Permaisuri .…”

Suasana langsung membeku.

“Lancang!” potong Ning Ning dengan keras. “Berani-beraninya kau menuduh Permaisuri!”

Ia menatap Xia Lu dengan kebencian yang tak disembunyikan. “Pelayan rendahan sepertimu, bahkan berani menyeret nama Permaisuri untuk membela diri?”

Xia Lu terdiam, namun tatapannya tetap pada Mo Yuuran. Ada kekecewaan yang perlahan muncul di sana.

“Jadi ini sebabnya Permaisuri menyuruhku pindah,” batinnya, tangannya mengepal kuat.

Sementara itu, Ning Ning sudah kehilangan kesabaran. Ia berdiri lagi lalu mengangkat tangannya, dan di genggamannya terlihat sebuah cambuk.

“Pelayan seperti ini harus diberi pelajaran!” serunya dingin.

Cambuk itu terangkat tinggi di udara, siap menghantam tubuh Xia Lu yang tak berdaya.

Grep!

Terpopuler

Comments

Dewiendahsetiowati

Dewiendahsetiowati

pelayan saja gayanya kayak Ratu🤦

2026-06-27

0

Ayudya

Ayudya

hadeh ning Ning kamu cari mati aja si🤣🤣🤣🤣🤣

2026-06-27

0

𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ

𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ

hayo.. siapa yg tamgkap iti

2026-07-02

0

lihat semua
Episodes
1 Pengkhianatan
2 Permaisuri Bengis Kembali
3 Mulai Memperbaiki
4 Kedatangan
5 Peringatan
6 Dua Selir
7 Masa Lalu
8 Kaisar Zi Xuan
9 Malam yang Panjang
10 Berita
11 Ayo Sarapan!
12 Bidak Jatuh
13 Racun
14 Tinggal Bersama
15 Mengambil Haknya
16 Pencuri Tak Tahu Malu
17 Lebih Baik Terlambat
18 Aku Tidak Akan Pergi
19 Kepulangan Si Kembar
20 Kamu Bukan Ibu Kami
21 Menyelamatkan
22 Sakit
23 Tidurmu Terlalu Nyenyak
24 Bersiaplah Menjadi Mayat
25 Suamiku Butuh Aku
26 Panggilan Ibu Suri
27 Kembali ke Jalanmu
28 Aku akan datang
29 Milikmu?
30 Harus Berkaca
31 Satu-satunya Permaisuri
32 Keluar Istana
33 Anak Haram?
34 Terlalu Angkuh
35 Siapa yang Berani
36 Hukuman untuk Mo Jiung
37 Berita
38 Ikut Campur
39 Rahasia Ibu Suri
40 Rahasia Terkuak
41 Hubungan Gelap
42 Sesuai Rencana
43 Mengambil Alih Militer
44 Tunduk
45 Gelisah
46 Aku punya Ibu
47 Siapa yang Menyuruhmu?
48 Saling Melempar Kesalahan
49 Panggil Aku Ibu
50 Aku Rela
51 Ajari Kami
52 Tuntutan Para Pejabat
53 Balasan Mo Yuuran
54 Ditangkap
55 Mengikuti
56 Hubungan Gelap Ibu Suri
57 Rencana Mo Yuuran
58 Nyonya Mei
59 Kehancuran Dimulai
60 Rencana Lain
61 Kembali ke Akademi
62 Wajahnya Mirip
63 Dihadang
64 Masuk Perangkap
65 Permainan Mo Yuuran
66 Dua Musuh Jatuh
67 Bo Wen Terjebak
68 Kejatuhan Keluarga Mo
69 Kejutan Kedua
70 Menunggu Sidang
71 Sidang Hukuman
72 Hukuman Untuk Pengkhianat
73 Akhir Keluarga Mo
74 Hukuman Sebenarnya
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Pengkhianatan
2
Permaisuri Bengis Kembali
3
Mulai Memperbaiki
4
Kedatangan
5
Peringatan
6
Dua Selir
7
Masa Lalu
8
Kaisar Zi Xuan
9
Malam yang Panjang
10
Berita
11
Ayo Sarapan!
12
Bidak Jatuh
13
Racun
14
Tinggal Bersama
15
Mengambil Haknya
16
Pencuri Tak Tahu Malu
17
Lebih Baik Terlambat
18
Aku Tidak Akan Pergi
19
Kepulangan Si Kembar
20
Kamu Bukan Ibu Kami
21
Menyelamatkan
22
Sakit
23
Tidurmu Terlalu Nyenyak
24
Bersiaplah Menjadi Mayat
25
Suamiku Butuh Aku
26
Panggilan Ibu Suri
27
Kembali ke Jalanmu
28
Aku akan datang
29
Milikmu?
30
Harus Berkaca
31
Satu-satunya Permaisuri
32
Keluar Istana
33
Anak Haram?
34
Terlalu Angkuh
35
Siapa yang Berani
36
Hukuman untuk Mo Jiung
37
Berita
38
Ikut Campur
39
Rahasia Ibu Suri
40
Rahasia Terkuak
41
Hubungan Gelap
42
Sesuai Rencana
43
Mengambil Alih Militer
44
Tunduk
45
Gelisah
46
Aku punya Ibu
47
Siapa yang Menyuruhmu?
48
Saling Melempar Kesalahan
49
Panggil Aku Ibu
50
Aku Rela
51
Ajari Kami
52
Tuntutan Para Pejabat
53
Balasan Mo Yuuran
54
Ditangkap
55
Mengikuti
56
Hubungan Gelap Ibu Suri
57
Rencana Mo Yuuran
58
Nyonya Mei
59
Kehancuran Dimulai
60
Rencana Lain
61
Kembali ke Akademi
62
Wajahnya Mirip
63
Dihadang
64
Masuk Perangkap
65
Permainan Mo Yuuran
66
Dua Musuh Jatuh
67
Bo Wen Terjebak
68
Kejatuhan Keluarga Mo
69
Kejutan Kedua
70
Menunggu Sidang
71
Sidang Hukuman
72
Hukuman Untuk Pengkhianat
73
Akhir Keluarga Mo
74
Hukuman Sebenarnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!