Bab 3 - Serba Canggung

Ceklek...

Derit pintu salah satu kamar terbaik di Hotel Tugu-Malang itu pun perlahan terbuka. Prabu melangkah masuk ke dalam kamar pengantin miliknya.

Langkah kaki Prabu terhenti sejenak kala tatapan kedua matanya beradu pandang dengan sorot mata sayu melembutkan dari wanita berhijab putih yang beberapa jam lalu baru saja resmi menjadi istri barunya. Tatapan mata Alea sungguh menenangkan bagi Prabu, namun jelas menyimpan sebuah trauma masa lalu yang penuh misteri baginya.

Alea tak lama-lama memandang Prabu. Ia tetap berada di posisi semula, sama sekali tak beranjak sejengkal pun. Alea tetap duduk di tepian ranjang pengantin. Ia masih lengkap memakai baju pengantin dan hijabnya. Sungguh sejak tadi

"Ehem," Prabu berdehem bermaksud memecah keheningan yang ada.

Alea sedikit terkejut mendengar suara deheman Prabu yang begitu dingin, tegas tapi ada hal yang sedikit aneh. Seakan Alea familiar dengan suara Prabu di telinganya, tapi otaknya tengah buntu saat ini. Ia tak mampu berpikir atau mengingatnya dengan jelas. Berakhir melupakan pikirannya sepintas lalu.

Saat ini Alea benar-benar tengah dilanda canggung yang luar biasa. Di antara kepingan trauma masa lalunya, sekarang ia harus berada satu kamar bersama lawan jenis. Hal yang sudah tujuh tahun lebih dirinya hindari yakni berdekatan dengan lawan jenis selain keluarganya. Walaupun pria di hadapannya sekarang ini adalah suami sah nya. Pria yang berhak atas dirinya secara utuh.

"Kenapa belum ganti baju?"

"Eh..." refleks bibir Alea yang juga kepalanya ikut menongak menatap Prabu yang berdiri tak jauh darinya saat ini.

"Ehm, a_ku..." ucapan Alea menggantung dengan bola mata bergulir resah ke sana-kemari.

Pikirannya tengah kebingungan mencari jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan Prabu tersebut tanpa membuat dirinya malu sebagai istri. Hati Prabu memaklumi sikap Alea yang canggung di malam pengantin.

Namun, Prabu adalah sosok tentara yang terbiasa dengan tatapan dingin menusuk dan penuh ketegasan. Tak jarang apabila orang yang belum mengenal dirinya, pasti beranggapan bahwa Prabu adalah sosok manusia es alias kulkas dua belas pintu.

"Apa kamu lupa bawa baju ganti?" pancing Prabu.

"Ah, enggak Mas." Jawab Alea refleks cepat.

Sejujurnya Alea begitu merutuki bibirnya sendiri yang suka berucap tanpa bisa ia kendalikan. Alea semakin malu pada Prabu. Padahal dirinya bukan gadis pera_wan lagi, tapi tingkahnya mirip gadis yang masih suci yang seolah ingin kabur dari malam pertamanya

Melihat tingkah Alea yang terlihat gemetaran, Prabu semakin menabur bensin dalam kobaran api kecanggungan itu. Prabu memilih untuk mendaratkan bo_kong nya di samping Alea.

"Maaf, kalau di ruang ijab qobul tadi adalah pertemuan pertama kita. Seharusnya aku hadir saat lamaran di rumah orang tuamu beberapa waktu yang lalu. Tapi aku dapat panggilan tugas mendadak. Sekali lagi aku minta maaf," ucap Prabu.

Nyess...

Sungguh hati Alea begitu terharu karena kalimat pertama kali Prabu ucapkan di kamar pengantin mereka adalah sebuah permintaan maaf yang terlihat jelas begitu murni dan tanpa bumbu yang lain.

Alea tak banyak berharap jika malam pengantinnya diisi kata cinta dari Prabu. Toh mereka berdua baru saja menikah karena perjodohan singkat dari kedua orang tua. Tentu secara logika, kata cinta itu masih sangat jauh.

Bagi Alea, seorang pria hebat seperti Prabu menerima dirinya saja, ia sudah sangat bersyukur.

"Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti kesibukan Mas Prabu," balas Alea lirih dan apa adanya.

Sejak lahir, Alea juga hidup di keluarga militer sehingga ia begitu paham kesibukan seorang abdi negara terlebih Prabu baru saja menjabat sebagai komandan batalyon.

☘️☘️

Hening tercipta beberapa saat sebelum akhirnya Prabu kembali membuka suara.

"Apa kamu tau kalau aku seorang duda cerai hidup tanpa anak?" tanya Prabu seraya menatap sekilas wajah Alea dari samping.

"Tau," jawab Alea singkat seraya kepalanya mengangguk kecil.

Alea tetap memilih untuk menjatuhkan pandangannya ke lantai sembari jari-jemarinya saling bertautan untuk mengurangi rasa groginya.

"Apa yang kau tau?"

"Bunda Citra bilang Mas Prabu diceraikan Mbak Kinan setelah tiga tahun menikah. Mas Prabu dikatakan man_dul," jawab Alea apa adanya sesuai informasi dari ibu sambung Prabu.

Sebuah helaan nafas berat keluar jelas dari bibir Prabu.

"Kalau nanti kita tetap gak punya anak atau aku enggak bisa nyenengin kamu, gimana?"

"Hah, gimana apanya Mas?" tanya Alea terlihat polos 'ceng0'.

Gara-gara pertanyaan barusan, akhirnya Prabu bisa melihat cukup jelas wajah Alea dari dekat. Terlebih kali ini wanita yang duduk di sampingnya tersebut ikut mendongak dan menatapnya juga walau hanya beberapa detik saja. Sebelum akhirnya Alea tersadar dan kembali menjatuhkan pandangannya ke lantai kamar hotel.

"Apa kamu akan berbuat hal yang sama seperti Kinan?" tanya Prabu. "Meminta bercerai dariku," sambungnya memperjelas kalimatnya.

Sejenak Alea terdiam membisu. Namun, ia pun akhirnya menjawab pertanyaan penting Prabu tersebut.

"Buatku pribadi, sebuah pernikahan bukanlah permainan yang bisa selesai sesuai kehendak manusia. Berharap pernikahan ini bisa berjalan dengan baik hingga maut memisahkan. Aku hanya meminta satu hal pada Mas Prabu, apa boleh?"

"Apa?" sahut Prabu. "Katakan saja," desaknya seakan tak sabaran mendengarnya.

Sebab dari penuturan Bunda Citra, Alea adalah sosok wanita muda berpikiran dewasa, gak neko-neko, tapi irit bicara. Jadi mendengar Alea ingin sesuatu, Prabu tanpa sadar seolah ikut didera penasaran.

"Jangan ada perselingkuhan dalam pernikahan ini," pinta Alea terdengar begitu serius. "Kalau Mas Prabu memang ingin menikah lagi entah dengan seorang gadis atau wanita dewasa yang lain, aku rela mundur dengan baik tanpa banyak drama," sambungnya.

"Besok setelah makan siang aku akan langsung pergi ke Jakarta. Apa kamu mau tetap di sini dulu atau ikut bersamaku?" tanya Prabu. "Mungkin kamu masih berat ninggalin keluarga di sini. Aku enggak masalah kalau memang kamu mau menghabiskan waktu lebih lama sama keluargamu di sini," imbuhnya.

"Aku ikut ke mana Mas Prabu pergi. Itu sudah janji dan tugasku sebagai istri seorang tentara," jawab Alea penuh keyakinan.

"Apa kamu pernah ke Jakarta sebelumnya?" tanya Prabu.

"Pernah," jawab Alea singkat.

"Kapan terakhir kali kamu berkunjung ke Jakarta?" tanya Prabu.

Deg...

Seketika memori Alea kembali terngiang akan trauma masa lalunya yang pahit nan kelam di kota itu.

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Anonim

Anonim

Saling belajar melangkah bersama Orabu dan Akea saling meneruma masa lalu

2026-07-14

3

Elin Lina

Elin Lina

Ma ksh kakak othooorrr udh bikin karya baru ceritanya alea.. lanjut thoorr kurang nih 1 bab lg.. 😄😄

2026-06-25

2

Tuti Tyastuti

Tuti Tyastuti

𝘮𝘢𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘢 𝘧𝘪𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘢𝘫𝘫 𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘳𝘶💪

2026-06-25

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Perjodohan
2 Bab 2 - Sah
3 Bab 3 - Serba Canggung
4 Bab 4 - Deep Talk
5 Bab 5 - Rumah Dinas
6 Bab 6 - Perihal Bulan Madu
7 Bab 7 - Grup WA
8 Bab 8 - Fakta Tersembunyi
9 Bab 9 - Satya Nugroho
10 Bab 10 - Bisik-Bisik
11 Bab 11 - Istri Komandan
12 Bab 12 - Ma_ti Lampu
13 Bab 13 - Trauma Masa Lalu Alea
14 Bab 14 - Kepergok
15 Bab 15 - Menemui Bunda Citra
16 Bab 16 - Apa Kinan Menghubungimu ?
17 Bab 17 - Sore Itu
18 Bab 18 - Minta Hadiah
19 Bab 19 - Langkah Awal Malam Ini
20 Bab 20 - Hidup Kembali
21 Bab 21 - Kedatangan Kinan
22 Bab 22 - Kinan vs Alea
23 Bab 23 - Perkara 'Makan'
24 Bab 24 - Bik Sari Memang TOP
25 Bab 25 - Apa Boleh Malam Ini ?
26 Bab 26 - Tak Bisa Tidur Nyenyak
27 Bab 27 - Pulau Macan Eco Lodge
28 Bab 28 - Jembatan Cinta Pulau Tidung
29 Bab 29 - Ikat Rambut
30 Bab 30 - Giat Ibu-Ibu Persit
31 Bab 31 - Enak atau Capek ?
32 Bab 32 - Undangan Kawan Lama
33 Bab 33 - Jadi Konten Kreator
34 Bab 34 - Terlambat Datang
35 Bab 35 - Memberantas Mantan
36 Bab 36 - Lagi Sensi
37 Bab 37 - Menyewa Detektif
38 Bab 38 - Hasil Tes DNA
39 Bab 39 - Beri Aku Petunjuk
40 Bab 40 - Bu Ratu
41 Bab 41 - Berbohong
42 Bab 42 - Jasad Amelia ??
43 Bab 43 - Tujuh Tahun yang Lalu
44 Bab 44 - Mencari Fakta
45 Bab 45 - Perubahan Sikap Alea
46 Bab 46 - Firasat Seorang Ibu
47 Bab 47 - Sadar dari Koma
48 Bab 48 - Alea Mendengar
49 Bab 49 - Kalang Kabut
50 Bab 50 - Kabar Kehamilan
51 Bab 51 - Syarat dari Alea
52 Bab 52 - Badai Rumah Tangga
53 Bab 53 - Perhatian dari Bunda Citra
54 Bab 54 - Pulang Kampung ke Malang
55 Bab 55 - Joging Bersama Ayah Mertua
56 Bab 56 - Siapa yang Meneror?
57 Bab 57 - 100 Miliar
58 Bab 58 - Kenapa Mas Bentak Aku ?
59 Bab 59 - Prabu Pamit
60 Bab 60 - Ayah Hendra dan Bunda Citra
61 Bab 61 - Hubungan Ayah dan Anak
62 Bab 62 - Manuver Mantan Istri
63 Bab 63 - Pergi ke Klinik Hewan
64 Bab 64 - Hubungan Dokter Gunawan dan Kinan (Masa Lalu)
65 Bab 65 - Dugaan Satya
66 Bab 66 - Empat Bulanan
67 Bab 67 - Alea Bertemu Kinan
68 Bab 68 - Ancaman Kinan
69 Bab 69 - Misi Papa Bayu
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Bab 1 - Perjodohan
2
Bab 2 - Sah
3
Bab 3 - Serba Canggung
4
Bab 4 - Deep Talk
5
Bab 5 - Rumah Dinas
6
Bab 6 - Perihal Bulan Madu
7
Bab 7 - Grup WA
8
Bab 8 - Fakta Tersembunyi
9
Bab 9 - Satya Nugroho
10
Bab 10 - Bisik-Bisik
11
Bab 11 - Istri Komandan
12
Bab 12 - Ma_ti Lampu
13
Bab 13 - Trauma Masa Lalu Alea
14
Bab 14 - Kepergok
15
Bab 15 - Menemui Bunda Citra
16
Bab 16 - Apa Kinan Menghubungimu ?
17
Bab 17 - Sore Itu
18
Bab 18 - Minta Hadiah
19
Bab 19 - Langkah Awal Malam Ini
20
Bab 20 - Hidup Kembali
21
Bab 21 - Kedatangan Kinan
22
Bab 22 - Kinan vs Alea
23
Bab 23 - Perkara 'Makan'
24
Bab 24 - Bik Sari Memang TOP
25
Bab 25 - Apa Boleh Malam Ini ?
26
Bab 26 - Tak Bisa Tidur Nyenyak
27
Bab 27 - Pulau Macan Eco Lodge
28
Bab 28 - Jembatan Cinta Pulau Tidung
29
Bab 29 - Ikat Rambut
30
Bab 30 - Giat Ibu-Ibu Persit
31
Bab 31 - Enak atau Capek ?
32
Bab 32 - Undangan Kawan Lama
33
Bab 33 - Jadi Konten Kreator
34
Bab 34 - Terlambat Datang
35
Bab 35 - Memberantas Mantan
36
Bab 36 - Lagi Sensi
37
Bab 37 - Menyewa Detektif
38
Bab 38 - Hasil Tes DNA
39
Bab 39 - Beri Aku Petunjuk
40
Bab 40 - Bu Ratu
41
Bab 41 - Berbohong
42
Bab 42 - Jasad Amelia ??
43
Bab 43 - Tujuh Tahun yang Lalu
44
Bab 44 - Mencari Fakta
45
Bab 45 - Perubahan Sikap Alea
46
Bab 46 - Firasat Seorang Ibu
47
Bab 47 - Sadar dari Koma
48
Bab 48 - Alea Mendengar
49
Bab 49 - Kalang Kabut
50
Bab 50 - Kabar Kehamilan
51
Bab 51 - Syarat dari Alea
52
Bab 52 - Badai Rumah Tangga
53
Bab 53 - Perhatian dari Bunda Citra
54
Bab 54 - Pulang Kampung ke Malang
55
Bab 55 - Joging Bersama Ayah Mertua
56
Bab 56 - Siapa yang Meneror?
57
Bab 57 - 100 Miliar
58
Bab 58 - Kenapa Mas Bentak Aku ?
59
Bab 59 - Prabu Pamit
60
Bab 60 - Ayah Hendra dan Bunda Citra
61
Bab 61 - Hubungan Ayah dan Anak
62
Bab 62 - Manuver Mantan Istri
63
Bab 63 - Pergi ke Klinik Hewan
64
Bab 64 - Hubungan Dokter Gunawan dan Kinan (Masa Lalu)
65
Bab 65 - Dugaan Satya
66
Bab 66 - Empat Bulanan
67
Bab 67 - Alea Bertemu Kinan
68
Bab 68 - Ancaman Kinan
69
Bab 69 - Misi Papa Bayu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!