Bab. 2. Tuduhan kejam

Nadia membeku saat sepasang mata elang Axel yang memerah mengunci tatapannya. Sebelum gadis itu sempat melangkah mundur untuk mengunci diri di kamar mandi, Axel sudah bergerak cepat dengan langkah sempoyongan namun agresif.

Cshhh!

Tangan kekar Axel mencengkram pergelangan tangan Nadia dengan teramat erat, menariknya keluar dari ambang pintu kamar mandi. Bau alkohol dan amarah bercampur menjadi satu, mengintimidasi seluruh kesadaran Nadia.

"T-Tuan Axel... lepaskan... sakit," bisik Nadia ketakutan, mencoba menarik tangannya yang terasa seperti dijepit besi raksasa. Tubuhnya yang kurus karena kurang istirahat sama sekali bukan tandingan kekuatan Axel yang sedang kehilangan akal sehat.

Axel tidak bersuara. Dengan napas memburu dan rahang yang mengeras, ia justru membalikkan badan dan mulai menyeret tubuh kurus Nadia dengan kasar. Langkah kakinya yang lebar memaksa Nadia setengah terseret di atas lantai dingin, menuju tangga dan koridor arah kamarnya.

"Tuan, saya mohon... Nyonya Sarah bisa bangun... Tolong lepaskan saya, Tuan!" Nadia menangis tanpa suara, berusaha menahan berat badannya agar tidak terseret, namun ia justru terhuyung dan hampir jatuh. Ketakutannya memuncak saat menyadari ke mana Axel akan membawanya.

Pintu kamar mewah itu dibuka kasar dengan satu tendangan, dan tubuh Nadia dihempaskan ke dalam keheningan kamar yang gelap.

Klik.

Suara anak kunci yang berputar di dalam slotnya bagaikan vonis mati bagi kebebasan Nadia. Kamar luas milik Axel itu gelap gulita, hanya diterangi sekelibat cahaya bulan yang menerobos masuk dari sela-sela gorden balkoni yang terbuka sedikit.

Nadia mundur teratur hingga punggungnya membentur pintu kayu yang kokoh. Napasnya tersengal-sengal, air matanya kini luruh membasahi pipi. Di depannya, dalam keremangan, siluet tubuh tinggi Axel berdiri tegak, menghalangi satu-satunya jalan keluar.

"Tuan Axel... saya mohon, sadar, Tuan..." suara Nadia bergetar hebat, nyaris tidak keluar karena rasa takut yang mencekik tenggorokannya. "Ini saya, Nadia..."

Axel tidak menyahut. Pria itu melempar kacamatanya ke sembarang arah hingga terdengar bunyi kelontang di atas lantai marmer. Ia melangkah maju, langkahnya berat namun pasti, mengikis jarak di antara mereka. Aroma alkohol yang pekat kini bercampur dengan aura intimidasi yang pekat. Axel sedang tidak berada di dunia nyata, jiwanya dikuasai oleh rasa frustasi dan kemarahan entah karena apa yang terjadi di luar sana malam ini.

"Nadia...?" gumam Axel rendah, suaranya serak dan berat. Namun, tatapan matanya yang sayu dan merah sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia mengenali gadis di depannya sebagai manusia. Di matanya yang dipenuhi kabut alkohol, Nadia hanyalah pelampiasan dari rasa sesak yang membakar dadanya.

"Jangan, Tuan! Tolong..."

Nadia mencoba merangsek ke samping, hendak menggapai knop pintu, namun gerakan Axel jauh lebih cepat. Kedua tangan kekar pria itu mencengkeram bahu sempit Nadia, mengunci tubuh kurus itu di antara pintu dan dadanya yang bidang.

"Dendam... semua orang menuntutku..." Axel meracau tidak jelas, napasnya yang panas memburu di pucuk kepala Nadia. Rahangnya mengeras.

Nadia memukul-mukul dada Axel dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Lepas, Tuan! Ini salah! Tolong lepaskan saya!" Nadia menjerit tertahan, ia tidak berani berteriak terlalu kencang karena ketakutan setengah mati jika Nyonya Sarah atau Tuan Pramoedya terbangun dan melihat posisi mereka seperti ini. Dilema itu justru menyiksa batinnya sendiri.

Pemberontakan Nadia justru membuat amarah Axel yang terpendam semakin tersulut. Menganggap penolakan itu sebagai tantangan, Axel mencengkeram kedua pergelangan tangan Nadia dengan satu tangan kekarnya, mengangkatnya ke atas kepala Nadia, dan menekannya kuat-kuat ke pintu.

"Diam!" bentak Axel rendah, sebuah perintah yang mutlak dan tak terbantahkan.

Kreeek!

Sentakan kasar itu membuat kerah kemeja lusuh yang dipakai Nadia robek di bagian atas. Sentuhan kulit yang dingin beradu dengan hawa panas tubuh Axel seketika meruntuhkan seluruh pertahanan dan akal sehat sang tuan muda. Nadia memejamkan matanya rapat-rapat, menangis sejadi-jadinya saat tubuhnya yang tak berdaya diangkat dan dihempaskan ke atas ranjang king-size yang empuk namun terasa seperti bara api bagi Nadia.

Malam itu, di dalam kamar yang terkunci rapat, jeritan pilu Nadia tenggelam oleh keegoisan dan kekejaman seorang Axel yang mabuk. Noda itu telah tertoreh, merenggut paksa kesucian dan masa depan seorang gadis tak bersalah yang hanya ingin menyambung hidup.

**

Keesokan Harinya... Pukul 06.00 Pagi.

Cahaya matahari pagi mulai mengintip dari balik gorden, menerangi kekacauan di dalam kamar mewah tersebut. Pakaian yang robek berserakan di lantai, selimut yang berantakan, dan sebuah tragedi yang telah usai.

Axel melenguh, memegangi kepalanya yang terasa pening luar biasa akibat efek hangover. Perlahan, ia membuka matanya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ranjang. Begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, jantung Axel seakan berhenti berdetak.

Di sudut ranjang, meringkuk sebuah tubuh kurus yang bergetar. Nadia sedang memeluk lututnya sendiri, menyembunyikan wajahnya yang sembab dan pucat di sana. Pakaiannya koyak, rambutnya berantakan, dan ada jejak air mata yang mengering di pipinya.

Axel terpaku, melihat noda merah yang kontras di atas seprai putih bersih miliknya. Ingatan samar-samar tentang malam tadi mulai berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

"Kau..." suara Axel tercekat di tenggorokan.

Sebelum Axel sempat mengucapkan sepatah kata pun atau menyentuhnya, terdengar suara ketukan keras dari luar pintu kamar, diikuti oleh suara melengking yang sangat familiar.

Tok! Tok! Tok!

"Axel! Kamu sudah bangun? Kenapa jam segini jas dan kemejamu belum dipindahkan ke kamarmu? Nadia! Di mana anak sialan itu, kenapa belum membuatkan kopi?" Suara Nyonya Sarah terdengar melengking dari balik pintu, bersiap memutar knop kamar putranya.

Nadia tersentak hebat mendengar suara itu, matanya membelalak penuh ketakutan yang luar biasa, menatap Axel dengan pandangan memohon sekaligus hancur.

**

Mendengar suara langkah kaki Nyonya Sarah yang semakin mendekat di luar pintu, atmosfer di dalam kamar berubah menjadi mencekam. Axel, yang awalnya sempat terpaku melihat noda merah di seprai dan kondisi Nadia yang hancur, tiba-tiba dikuasai oleh rasa panik dan harga diri yang terusik. Rasa bersalah di dalam dirinya seketika bermutasi menjadi pembelaan diri yang agresif.

Axel turun dari ranjang dengan kasar. Ia menyambar sehelai jubah mandi, memakainya dengan tergesa-gesa, lalu berbalik menatap Nadia yang masih meringkuk ketakutan. Tatapan mata Axel yang sempat melembut kini kembali mengeras, dipenuhi kilat amarah dan penghinaan.

"Kenapa kau diam saja?" desis Axel rendah namun tajam, menghampiri sisi ranjang tempat Nadia berada.

Nadia mendongak pelan, menatap Axel dengan mata yang bengkak dan tatapan kosong yang hancur.

"Kau..." Axel menunjuk wajah Nadia dengan jarinya yang gemetar karena amarah. "Kenapa malam tadi kau tidak menolak? Kenapa kau hanya pasrah, hah? Kau punya mulut untuk berteriak, kau punya tangan untuk mencakar! Tapi kau membiarkanku!"

Air mata Nadia kembali menetes mendengar rentetan tuduhan itu. Tenggorokannya tercekat. Ia ingin berteriak bahwa ia sudah memohon, sudah memukul dadanya, dan sudah menangis semalaman. Namun, ketakutannya akan Nyonya Sarah yang bisa terbangun malam tadi justru berbalik menjadi senjata yang menyerang dirinya sendiri pagi ini.

"Tuan... saya... saya sudah memohon..." bisik Nadia dengan suara yang serak dan habis.

"Memohon? Atau kau sengaja membiarkanku karena tahu aku sedang mabuk?" potong Axel kejam. Ia mencengkeram rahang Nadia, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang dipenuhi prasangka buruk.

"Kau memanfaatkan keadaan, hah? Kau sengaja menjebakku!" tuduh Axel, suaranya bergetar menahan luapan emosi. "Kau sengaja mengambil jalan pintas untuk menjadi nona muda di rumah ini dengan cara naik ke atas ranjangku! Kau pikir dengan menyerahkan tubuhmu, kau bisa mengubah nasibmu yang miskin itu?"

Plak!

Nadia tidak menampar Axel, melainkan kata-kata Axel-lah yang rasanya menampar batin Nadia hingga hancur berkeping-keping. Rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan hancurnya harga diri Nadia saat dituduh sebagai wanita murahan yang sengaja menjual diri demi harta.

"Bukan... bukan seperti itu, Tuan Axel..." tangis Nadia pecah, tubuhnya berguncang hebat di balik selimut yang ia dekap erat. "Saya tidak pernah berpikir seperti itu..."

"Cukup!" Axel menghempaskan rahang Nadia dengan kasar hingga wajah gadis itu terbuang ke samping. "Pakai pakaianmu dan keluar lewat pintu belakang balkon sekarang juga sebelum mamaku melihatmu di sini! Jangan harap kau bisa memeras keluargaku setelah malam ini!"

Tok! Tok! Tok!

"Axel! Kenapa pintunya dikunci? Kamu di dalam, kan?" Suara Nyonya Sarah kembali menggedor pintu, kali ini terdengar bunyi kunci cadangan yang mulai dimasukkan ke dalam lubangnya dari luar.

****

Terpopuler

Comments

Anna Annawaliana

Anna Annawaliana

jahat kau Axel ,,Nadia lebih baik pergi dari rumah itu bagaikan neraka bagimu.

2026-06-27

0

Enisensi klara

Enisensi klara

Jahat kau Axel 🙄🙄🙄kau perkaos Nadia kau yg fitnah dia ,tggu karma mu 🙄

2026-06-27

0

Enisensi klara

Enisensi klara

😭😭😭😭😭😭😭kasihan Nadia abis sudah masa depannya 😭😭😭

2026-06-27

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Sisa Waktu yang Sempit
2 Bab. 2. Tuduhan kejam
3 Bab. 3. Tuduhan Yang Sama Kejamnya
4 Bab. 4. Pelindung terakhir
5 BAB 5 : Keputusan di Ambang Batas.
6 Bab. 6. Tawaran di tepi Jalan
7 Bab. 7. Waspada
8 Bab. 8. Identitas dibalik jaket usang
9 Bab. 9. Sebenarnya....ada rasa bersalah
10 Bab. 10. Tawaran dari Ubay.
11 Bab. 11. Cuma pion.
12 Bab. 12. Perhitungan di Balik Tirai Jendela.
13 B. 13. Aroma Harum di Tengah Malam.
14 Bab. 14. Hukum Jalanan
15 Bab. 15 . Telat
16 Bab. 16. Siasat Ubay
17 Bab. 17. Positif
18 Bab. 18 . Menawarkan diri.
19 Bab. 19. Sah
20 Bab. 20. Batas Suci di Balik satu Atap
21 BAB 21: Bisik-Bisik di Balik Dapur Megah.
22 BAB 22. Keinginan di Tengah Malam.
23 Bab. 23. Suami Siaga
24 Bab. 24. Sampai tetes terakhir
25 Bab. 25
26 Bab. 26. Keceplosan
27 Bab. 27. Makian di balik Mobil Mewah
28 Bab. 28. Tawaran tinggal seatap
29 Bab. 29. Getaran di ujung jari
30 Bab. 30. Sentuhan ujung sendok.
31 Bab. 31. Siksaan termanis.
32 Bab. 32. Hutang dosa
33 Bab. 33. Adegan Bollywod
34 Bab. 34. Arti mencintai
35 BAB 35: Ambisi di Balik Cangkir Porselen
36 Bab. 36. Siaga satu
37 Bab. 37. Antara Hidup, Mati, dan Preman yang Mau Pingsan.
38 Bab. 38. Antara Hidup, Mati, dan Preman yang Mau Pingsan ( 2 )
39 Bab. 39. Azan Subuh dan Sebuah Wajah Asing.
40 Bab. 40. Sebuah Nama dan Kecupan yang Tertunda.
41 BAB 41. Penampakan di Balik Pintu.
42 Bab. 42. Mimpi buruk
43 Bab. 43. Seolah menuntut haknya.
44 Bab. 44. Tetangga yang kepo
45 Bab. 45. Negosiasi
46 Bab. 46. Malu-malu
47 Bab. 47 .Tatapan Rahasia dan Sentuhan yang Mulai Berani.
48 Bab. 48. Janji Malam dan Ketulusan di Balik Panggilan "Nduk”.
49 Bab. 49. Ranjang dingin dan berhantu.
50 Bab. 50. Misi Rahasia.
51 Bab. 51. Ketukan Pintu dan Gengsi yang Tertahan.
52 Bab. 52. Jiwa Yang Bersih Di mata sang Pelindung.
53 Bab. 53. Ledekan dari gerombolan bapak-bapak.
54 Bab, 54. Dinding Dingin dan Karma yang Mengikis.
55 Bab. 55. Tatapan dalam Cermin Karma.
56 Bab. 56 . Raungan Keraguan di Balik Album Tua.
57 Bab. 57. Jejak yang Menghilang di Ujung Gang.
58 Bab. 58. Berniat merebut.
59 Bab. 59. Nambah momongan
60 Bab. 60. Menemukan
61 Bab. 61. Cela Hukum.
62 Bab. 62. Firasat yang dikirimkan alam.
63 Bab. 63. Permainan Tikus dan Kucing.
64 Bab. 64. Terbongkarnya Sarang Sang Pelindung.
65 Bab. 65. Celah yang Dicari
66 Bab. 66. Ancaman Ubay
67 Bab. 67.
68 Bab. 68.
69 Bab, 69. Mendatangi kawan lama.
70 Bab. 70. Penampilan Baru Sang Pelindung.
71 BAB 71: Intrik di Balik Kaca Gelap
72 BAB 72: Gertakan yang Mentah.
73 BAB 73. Taktik Kotor Sang Pecundang
74 BAB 74: Kejujuran
75 Bab. 75. Drama Penyelamatan Nama Baik.
76 Bab. 76. Langkah Diam Tuan Pramoedya
77 BAB 77. Peta Kekuatan di Meja Kantor.
78 Bab. 78. Meminta Alamat.
79 Bab. 79. Kecele
80 Bab. 80. Gosip yang mulai menyebar.
81 Bab. 81. Luapan amarah dan solusi
82 Bab 82 : Amukan sang Pecundang.
83 Bab. 83. Luka Lama yang Menolak Sembuh
84 BAB 84: Jawaban dari Masa Lalu.
85 BAB 85: Penyesalan Sang Patriarch
86 BAB 86 : Rindu dan Penyesalan yang Terlambat.
87 Bab. 87. Yakin 1.000 %
88 Bab. 88. Iba, tapi....
89 Bab. 89. Pemandangan terindah ternyata itu....
90 Bab. 90. Rintihan Axel
91 Bab. 91. Sebuah rencana
92 Bab. 92. Penawaran
93 Bab. 93. Luapan isi hati Axel
94 Bab. 94. Sebuah pelukan
95 Bab. 95. Axel yang dingin
96 Bab. 96. Benih baru yang tumbuh rahasia.
97 Bab. 97. Berfoto bersama
98 Bab. 98. Janji yang tidak bernilai
99 Bab. 99. Mulai baper
100 Bab. 100. Tugas....selesai.
101 Bab. 101. Membawa pulang.
102 Bab. 102. Saling mengancam.
103 Bab. 103. Syarat
104 104. Pecah....
105 105. Cuma gertak
106 Bab. 106. Sebuah harapan dibalik keangkuhan.
107 Bab. 107. Saham-hibah
108 Bab. 108. Ingin mempertemukan Abian dengan Adik Alpha
Episodes

Updated 108 Episodes

1
BAB 1: Sisa Waktu yang Sempit
2
Bab. 2. Tuduhan kejam
3
Bab. 3. Tuduhan Yang Sama Kejamnya
4
Bab. 4. Pelindung terakhir
5
BAB 5 : Keputusan di Ambang Batas.
6
Bab. 6. Tawaran di tepi Jalan
7
Bab. 7. Waspada
8
Bab. 8. Identitas dibalik jaket usang
9
Bab. 9. Sebenarnya....ada rasa bersalah
10
Bab. 10. Tawaran dari Ubay.
11
Bab. 11. Cuma pion.
12
Bab. 12. Perhitungan di Balik Tirai Jendela.
13
B. 13. Aroma Harum di Tengah Malam.
14
Bab. 14. Hukum Jalanan
15
Bab. 15 . Telat
16
Bab. 16. Siasat Ubay
17
Bab. 17. Positif
18
Bab. 18 . Menawarkan diri.
19
Bab. 19. Sah
20
Bab. 20. Batas Suci di Balik satu Atap
21
BAB 21: Bisik-Bisik di Balik Dapur Megah.
22
BAB 22. Keinginan di Tengah Malam.
23
Bab. 23. Suami Siaga
24
Bab. 24. Sampai tetes terakhir
25
Bab. 25
26
Bab. 26. Keceplosan
27
Bab. 27. Makian di balik Mobil Mewah
28
Bab. 28. Tawaran tinggal seatap
29
Bab. 29. Getaran di ujung jari
30
Bab. 30. Sentuhan ujung sendok.
31
Bab. 31. Siksaan termanis.
32
Bab. 32. Hutang dosa
33
Bab. 33. Adegan Bollywod
34
Bab. 34. Arti mencintai
35
BAB 35: Ambisi di Balik Cangkir Porselen
36
Bab. 36. Siaga satu
37
Bab. 37. Antara Hidup, Mati, dan Preman yang Mau Pingsan.
38
Bab. 38. Antara Hidup, Mati, dan Preman yang Mau Pingsan ( 2 )
39
Bab. 39. Azan Subuh dan Sebuah Wajah Asing.
40
Bab. 40. Sebuah Nama dan Kecupan yang Tertunda.
41
BAB 41. Penampakan di Balik Pintu.
42
Bab. 42. Mimpi buruk
43
Bab. 43. Seolah menuntut haknya.
44
Bab. 44. Tetangga yang kepo
45
Bab. 45. Negosiasi
46
Bab. 46. Malu-malu
47
Bab. 47 .Tatapan Rahasia dan Sentuhan yang Mulai Berani.
48
Bab. 48. Janji Malam dan Ketulusan di Balik Panggilan "Nduk”.
49
Bab. 49. Ranjang dingin dan berhantu.
50
Bab. 50. Misi Rahasia.
51
Bab. 51. Ketukan Pintu dan Gengsi yang Tertahan.
52
Bab. 52. Jiwa Yang Bersih Di mata sang Pelindung.
53
Bab. 53. Ledekan dari gerombolan bapak-bapak.
54
Bab, 54. Dinding Dingin dan Karma yang Mengikis.
55
Bab. 55. Tatapan dalam Cermin Karma.
56
Bab. 56 . Raungan Keraguan di Balik Album Tua.
57
Bab. 57. Jejak yang Menghilang di Ujung Gang.
58
Bab. 58. Berniat merebut.
59
Bab. 59. Nambah momongan
60
Bab. 60. Menemukan
61
Bab. 61. Cela Hukum.
62
Bab. 62. Firasat yang dikirimkan alam.
63
Bab. 63. Permainan Tikus dan Kucing.
64
Bab. 64. Terbongkarnya Sarang Sang Pelindung.
65
Bab. 65. Celah yang Dicari
66
Bab. 66. Ancaman Ubay
67
Bab. 67.
68
Bab. 68.
69
Bab, 69. Mendatangi kawan lama.
70
Bab. 70. Penampilan Baru Sang Pelindung.
71
BAB 71: Intrik di Balik Kaca Gelap
72
BAB 72: Gertakan yang Mentah.
73
BAB 73. Taktik Kotor Sang Pecundang
74
BAB 74: Kejujuran
75
Bab. 75. Drama Penyelamatan Nama Baik.
76
Bab. 76. Langkah Diam Tuan Pramoedya
77
BAB 77. Peta Kekuatan di Meja Kantor.
78
Bab. 78. Meminta Alamat.
79
Bab. 79. Kecele
80
Bab. 80. Gosip yang mulai menyebar.
81
Bab. 81. Luapan amarah dan solusi
82
Bab 82 : Amukan sang Pecundang.
83
Bab. 83. Luka Lama yang Menolak Sembuh
84
BAB 84: Jawaban dari Masa Lalu.
85
BAB 85: Penyesalan Sang Patriarch
86
BAB 86 : Rindu dan Penyesalan yang Terlambat.
87
Bab. 87. Yakin 1.000 %
88
Bab. 88. Iba, tapi....
89
Bab. 89. Pemandangan terindah ternyata itu....
90
Bab. 90. Rintihan Axel
91
Bab. 91. Sebuah rencana
92
Bab. 92. Penawaran
93
Bab. 93. Luapan isi hati Axel
94
Bab. 94. Sebuah pelukan
95
Bab. 95. Axel yang dingin
96
Bab. 96. Benih baru yang tumbuh rahasia.
97
Bab. 97. Berfoto bersama
98
Bab. 98. Janji yang tidak bernilai
99
Bab. 99. Mulai baper
100
Bab. 100. Tugas....selesai.
101
Bab. 101. Membawa pulang.
102
Bab. 102. Saling mengancam.
103
Bab. 103. Syarat
104
104. Pecah....
105
105. Cuma gertak
106
Bab. 106. Sebuah harapan dibalik keangkuhan.
107
Bab. 107. Saham-hibah
108
Bab. 108. Ingin mempertemukan Abian dengan Adik Alpha

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!