BAB 5 : Keputusan di Ambang Batas.

"Nadia, saya butuh jawabanmu. Benar kamu yang masuk ke kamar Axel untuk merayunya?"

Nadia memejamkan mata rapat-rapat. Harga dirinya sudah diinjak-injak oleh Nyonya Sarah, dan pria yang menodainya bahkan tidak sudi melangkah maju untuk membelanya. Jika ia menceritakan kebenaran bahwa Axel yang memaksanya, apakah keluarga kaya ini akan mempercayainya? Ataukah mereka justru akan menganggapnya sebagai pembohong besar yang ingin menghancurkan pewaris mereka?

Dengan sisa-sisa kekuatan batinnya yang telah hancur, Nadia menggelengkan kepala pelan. "Tidak, Tuan... Saya tidak pernah merayu Tuan Axel..." lirihnya, membiarkan kebenaran itu menggantung di udara tanpa berani menunjuk Axel sebagai pelakunya.

"Tuh, Pah! Dengar sendiri, kan? Dia tidak berani mengaku karena tahu dia bersalah!" potong Nyonya Sarah berapi-api. "Pah, tidak ada pilihan lain. Hari ini juga, detik ini juga, anak pelayan ini harus keluar dari rumah kita! Aku tidak sudi melihat mukanya lagi di sini!"

Tuan Pramoedya berdiri kembali, berbalik menatap istrinya dengan tatapan tajam. "Sarah! Menjaga nama baik itu perlu, tapi mengusir anak dari orang yang menyelamatkan nyawa anak kita tanpa kejelasan itu keterlaluan. Kita harus selidiki ini baik-baik!"

"Menyelidiki apa lagi, Pah?" Nyonya Sarah berteriak, air mata dramatis mulai mengalir di pipinya. "Kamu mau menunggu sampai dia berlagak mual-mual dan mengaku hamil anak Axel, lalu memeras seluruh harta kita? Kamu mau masa depan Axel hancur dan pertunangannya dengan anak rekan bisnismu batal? Pikirkan Axel, Pah! Jangan cuma memikirkan utang budi masa lalu!"

Mendengar kata 'pertunangan' dan 'masa depan bisnis', rahang Tuan Pramoedya tampak mengeras. Ego sebagai seorang pemimpin keluarga dan pengusaha besar seketika bergolak di dalam dadanya. Ia menoleh ke arah Axel yang masih bungkam seribu bahasa di ujung koridor.

"Axel," panggil Tuan Pramoedya, suaranya terdengar dingin dan berjarak. "Katakan pada Papa. Apa kau yang memaksanya?"

Jantung Axel berdegup kencang di balik jubah mandinya. Di depan ayahnya yang sangat tegas, Axel tidak pernah berani membangkang. Namun, membayangkan posisinya sebagai pewaris takhta Pramoedya Group di copot, dicoret dari silsilah keluarga, dan dicemooh oleh lingkaran sosialnya membuat nyali Axel menciut. Kepengecutannya menang telak.

Axel membuang muka, menghindari tatapan mata ayahnya dan tatapan hancur dari Nadia. "Aku... aku tidak ingat apa-apa, Pa. Semalam aku mabuk berat. Begitu bangun pagi, dia... dia sudah ada di atas ranjangku," dusta Axel, mengulangi tuduhan kejamnya yang seolah menyudutkan Nadia sebagai pihak yang menyelinap masuk.

Mendengar kesaksian dari putranya sendiri, runtuh sudah sisa-sisa pembelaan Tuan Pramoedya untuk Nadia. Pria paruh baya itu menghembuskan napas berat, menatap Nadia dengan pandangan kekecewaan yang teramat dalam.

Nadia yang mendengar kebohongan Axel hanya bisa tersenyum getir di tengah tangisnya yang tanpa suara. Jiwanya benar-benar telah mati malam tadi, dan pagi ini, manusia-manusia terhormat ini sedang memutilasi sisa-sisa harga dirinya.

Tuan Pramoedya berbalik membelakangi Nadia, pundaknya tampak merosot. "Sumi," panggilnya pada Bi Sumi yang menangis di sudut koridor. "Bantu Nadia mengemas barang-barangnya. Berikan dia uang pesangon secukupnya... dan antarkan dia keluar dari rumah ini."

"Pah! Tidak usah pakai pesangon segala!" protes Nyonya Sarah.

"Cukup, Sarah! Ini keputusan terakhirku!" bentak Tuan Pramoedya mutlak, sebelum melangkah pergi kembali ke ruang kerjanya dengan langkah berat, menutup pintu dengan dentuman keras.

Nyonya Sarah tersenyum puas, menatap Nadia yang masih terduduk lemas di lantai seolah melihat sampah yang siap dibuang ke tempatnya. "Dengar itu? Kemasi barang-barang kotormu dan angkat kaki dari sini! Jangan pernah berani menampakkan kakimu di tanah keluarga Pramoedya lagi, atau aku pastikan kuliahmu hancur dan hidupmu mendekam di penjara!" ancam Sarah keji, lalu berbalik pergi menyusul suaminya.

Di koridor belakang yang kini sunyi, tinggallah Nadia yang hancur berselimut noda, dan Bi Sumi yang langsung berlutut memeluk tubuh kurus gadis itu dengan tangisan pilu. Di kejauhan, Axel berbalik arah menuju kamarnya tanpa sekalipun menoleh ke belakang, menutup rapat pintu hatinya dari dosa besar yang baru saja ia perbuat.

**

Pintu kamar paviliun belakang itu tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang mencekam setelah badai amarah Nyonya Sarah berlalu. Di dalam ruangan kecil yang remang-remang itu, Bi Sumi dengan cekatan memasukkan pakaian-pakaian lusuh Nadia ke dalam sebuah tas ransel tua yang resletingnya sudah hampir rusak.

Tangan Bi Sumi gemetar, air matanya tak berhenti menetes membasahi kain-kain yang ia lipat. Sementara di sudut ranjang, Nadia duduk meringkuk, memeluk lututnya yang bengkak dan membiru dengan tatapan mata yang kosong. Jiwanya seolah telah terbang entah ke mana.

Bi Sumi menghentikan gerakannya. Ia berbalik, lalu berjalan mendekat dan berlutut di hadapan Nadia. Wanita paruh baya itu menggenggam kedua tangan Nadia yang teramat dingin, meremasnya dengan penuh kehangatan seorang ibu.

"Nadia... Tatap Bibi, Nak," bisik Bi Sumi dengan suara serak menahan tangis.

Nadia perlahan menggerakkan kepalanya, menatap wajah tua Bi Sumi yang dipenuhi rasa iba.

"Bibi percaya sama kamu, Nad. Bibi tahu kamu anak baik-baik," ucap Bi Sumi dengan nada yang teramat tulus dan mantap. "Kamu tidak mungkin merayu Tuan Axel. Bibi tahu bagaimana perjuanganmu setiap hari, belajar sampai malam, memeras keringat di rumah ini. Kamu tidak mungkin melakukan perbuatan serendah itu."

Mendengar kata-kata itu, pertahanan Nadia runtuh seketika. Di saat seluruh isi rumah mewah itu menuduh dan menghinanya sebagai wanita murahan, ternyata masih ada satu jiwa yang mempercayainya. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Bahunya naik-turun tergugu.

Sambil menangis sesenggukan, Nadia menganggukkan kepalanya dengan lemah. Rasa sesak di dadanya membuat tenggorokannya luar biasa sakit.

"Saya... saya dipaksa, Bi..." bisik Nadia di sela tangisnya, suaranya nyaris tenggelam oleh rasa perih yang teramat sangat. "Saya dipaksa malam tadi... Tuan Axel mabuk... saya sudah memohon, tapi saya dipaksa..."

Bi Sumi langsung menarik tubuh kurus Nadia ke dalam pelukannya. Ia mendekap gadis yatim piatu itu dengan erat, ikut menangis sejadi-jadinya sambil mengusap punggung Nadia yang bergetar hebat.

"Iya, Nak... Bibi tahu. Bibi tahu," lirih Bi Sumi dengan hati yang ikut hancur bertekuk lutut. Tangan tuanya meremas kancing kemeja mahal milik Axel yang masih tersimpan di saku dasternya, sebuah bukti bisu yang tak akan pernah bisa membalikkan keadaan melawan penguasa rumah ini.

Bi Sumi melonggarkan pelukannya, lalu kedua tangannya beralih mengusap air mata di pipi Nadia yang pucat dan menyeka sudut bibirnya yang masih sedikit berdarah akibat tamparan Nyonya Sarah.

"Maka dari itu... pergilah, Nak. Pergilah dari rumah ini," ucap Bi Sumi, menatap dalam-dalam ke sepasang mata Nadia. "Rumah ini sudah menjadi racun untukmu. Tinggal di sini hanya akan membuat mereka terus menginjak-injak harga dirimu."

Bi Sumi mengambil tas ransel tua yang sudah penuh, lalu menyelipkan sebuah amplop tebal berisi uang pesangon dari Tuan Pramoedya, ditambah dengan beberapa lembar uang tabungan pribadi milik Bi Sumi sendiri ke dalam saku depan tas tersebut.

"Bibi yakin kamu bisa berjuang di luaran sana. Kamu anak yang pintar, kamu anak yang kuat. Gusti Allah tidak tidur, Nadia. Suatu hari nanti, kebenaran pasti akan mencari jalannya sendiri," ucap Bi Sumi menguatkan, mencoba melempar senyum ketabahan di tengah air matanya. "Pergilah dan bangun masa depanmu sendiri yang jauh lebih baik, tanpa bayang-bayang keluarga ini."

Nadia menerima tas itu dengan tangan gemetar. Di tengah kehancuran total hidupnya pagi ini, kata-kata Bi Sumi menjadi satu-satunya lentera kecil yang membakar sisa tekad di dalam dadanya. Ia harus bertahan hidup. Ia harus membuktikan bahwa dirinya bukan sampah yang bisa dibuang begitu saja setelah dinodai.

****

Terpopuler

Comments

Anna Annawaliana

Anna Annawaliana

tunjukkan pada mereka semua Nadia kau bisa sukses tanpa mereka yang telah menghina harga dirimu.

2026-06-28

0

sutiasih kasih

sutiasih kasih

jgn kelak kalian mnyesal.... klo alam mnghukum kalian... dgn tak adanya kturunan dri mantu kbnggaan kalian...
hnya nadia yh memiliki krutunan dri kalian....
camkan itu para manusia lucnut...

2026-07-06

0

Sayekti 0519

Sayekti 0519

Sumpahin aja impoten mandul biar tau rasa biar hartanya d bw mati dasar ibliss..

2026-08-16

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Sisa Waktu yang Sempit
2 Bab. 2. Tuduhan kejam
3 Bab. 3. Tuduhan Yang Sama Kejamnya
4 Bab. 4. Pelindung terakhir
5 BAB 5 : Keputusan di Ambang Batas.
6 Bab. 6. Tawaran di tepi Jalan
7 Bab. 7. Waspada
8 Bab. 8. Identitas dibalik jaket usang
9 Bab. 9. Sebenarnya....ada rasa bersalah
10 Bab. 10. Tawaran dari Ubay.
11 Bab. 11. Cuma pion.
12 Bab. 12. Perhitungan di Balik Tirai Jendela.
13 B. 13. Aroma Harum di Tengah Malam.
14 Bab. 14. Hukum Jalanan
15 Bab. 15 . Telat
16 Bab. 16. Siasat Ubay
17 Bab. 17. Positif
18 Bab. 18 . Menawarkan diri.
19 Bab. 19. Sah
20 Bab. 20. Batas Suci di Balik satu Atap
21 BAB 21: Bisik-Bisik di Balik Dapur Megah.
22 BAB 22. Keinginan di Tengah Malam.
23 Bab. 23. Suami Siaga
24 Bab. 24. Sampai tetes terakhir
25 Bab. 25
26 Bab. 26. Keceplosan
27 Bab. 27. Makian di balik Mobil Mewah
28 Bab. 28. Tawaran tinggal seatap
29 Bab. 29. Getaran di ujung jari
30 Bab. 30. Sentuhan ujung sendok.
31 Bab. 31. Siksaan termanis.
32 Bab. 32. Hutang dosa
33 Bab. 33. Adegan Bollywod
34 Bab. 34. Arti mencintai
35 BAB 35: Ambisi di Balik Cangkir Porselen
36 Bab. 36. Siaga satu
37 Bab. 37. Antara Hidup, Mati, dan Preman yang Mau Pingsan.
38 Bab. 38. Antara Hidup, Mati, dan Preman yang Mau Pingsan ( 2 )
39 Bab. 39. Azan Subuh dan Sebuah Wajah Asing.
40 Bab. 40. Sebuah Nama dan Kecupan yang Tertunda.
41 BAB 41. Penampakan di Balik Pintu.
42 Bab. 42. Mimpi buruk
43 Bab. 43. Seolah menuntut haknya.
44 Bab. 44. Tetangga yang kepo
45 Bab. 45. Negosiasi
46 Bab. 46. Malu-malu
47 Bab. 47 .Tatapan Rahasia dan Sentuhan yang Mulai Berani.
48 Bab. 48. Janji Malam dan Ketulusan di Balik Panggilan "Nduk”.
49 Bab. 49. Ranjang dingin dan berhantu.
50 Bab. 50. Misi Rahasia.
51 Bab. 51. Ketukan Pintu dan Gengsi yang Tertahan.
52 Bab. 52. Jiwa Yang Bersih Di mata sang Pelindung.
53 Bab. 53. Ledekan dari gerombolan bapak-bapak.
54 Bab, 54. Dinding Dingin dan Karma yang Mengikis.
55 Bab. 55. Tatapan dalam Cermin Karma.
56 Bab. 56 . Raungan Keraguan di Balik Album Tua.
57 Bab. 57. Jejak yang Menghilang di Ujung Gang.
58 Bab. 58. Berniat merebut.
59 Bab. 59. Nambah momongan
60 Bab. 60. Menemukan
61 Bab. 61. Cela Hukum.
62 Bab. 62. Firasat yang dikirimkan alam.
63 Bab. 63. Permainan Tikus dan Kucing.
64 Bab. 64. Terbongkarnya Sarang Sang Pelindung.
65 Bab. 65. Celah yang Dicari
66 Bab. 66. Ancaman Ubay
67 Bab. 67.
68 Bab. 68.
69 Bab, 69. Mendatangi kawan lama.
70 Bab. 70. Penampilan Baru Sang Pelindung.
71 BAB 71: Intrik di Balik Kaca Gelap
72 BAB 72: Gertakan yang Mentah.
73 BAB 73. Taktik Kotor Sang Pecundang
74 BAB 74: Kejujuran
75 Bab. 75. Drama Penyelamatan Nama Baik.
76 Bab. 76. Langkah Diam Tuan Pramoedya
77 BAB 77. Peta Kekuatan di Meja Kantor.
78 Bab. 78. Meminta Alamat.
79 Bab. 79. Kecele
80 Bab. 80. Gosip yang mulai menyebar.
81 Bab. 81. Luapan amarah dan solusi
82 Bab 82 : Amukan sang Pecundang.
83 Bab. 83. Luka Lama yang Menolak Sembuh
84 BAB 84: Jawaban dari Masa Lalu.
85 BAB 85: Penyesalan Sang Patriarch
86 BAB 86 : Rindu dan Penyesalan yang Terlambat.
87 Bab. 87. Yakin 1.000 %
88 Bab. 88. Iba, tapi....
89 Bab. 89. Pemandangan terindah ternyata itu....
90 Bab. 90. Rintihan Axel
91 Bab. 91. Sebuah rencana
92 Bab. 92. Penawaran
93 Bab. 93. Luapan isi hati Axel
94 Bab. 94. Sebuah pelukan
95 Bab. 95. Axel yang dingin
96 Bab. 96. Benih baru yang tumbuh rahasia.
97 Bab. 97. Berfoto bersama
98 Bab. 98. Janji yang tidak bernilai
99 Bab. 99. Mulai baper
100 Bab. 100. Tugas....selesai.
101 Bab. 101. Membawa pulang.
102 Bab. 102. Saling mengancam.
103 Bab. 103. Syarat
104 104. Pecah....
105 105. Cuma gertak
106 Bab. 106. Sebuah harapan dibalik keangkuhan.
107 Bab. 107. Saham-hibah
108 Bab. 108. Ingin mempertemukan Abian dengan Adik Alpha
Episodes

Updated 108 Episodes

1
BAB 1: Sisa Waktu yang Sempit
2
Bab. 2. Tuduhan kejam
3
Bab. 3. Tuduhan Yang Sama Kejamnya
4
Bab. 4. Pelindung terakhir
5
BAB 5 : Keputusan di Ambang Batas.
6
Bab. 6. Tawaran di tepi Jalan
7
Bab. 7. Waspada
8
Bab. 8. Identitas dibalik jaket usang
9
Bab. 9. Sebenarnya....ada rasa bersalah
10
Bab. 10. Tawaran dari Ubay.
11
Bab. 11. Cuma pion.
12
Bab. 12. Perhitungan di Balik Tirai Jendela.
13
B. 13. Aroma Harum di Tengah Malam.
14
Bab. 14. Hukum Jalanan
15
Bab. 15 . Telat
16
Bab. 16. Siasat Ubay
17
Bab. 17. Positif
18
Bab. 18 . Menawarkan diri.
19
Bab. 19. Sah
20
Bab. 20. Batas Suci di Balik satu Atap
21
BAB 21: Bisik-Bisik di Balik Dapur Megah.
22
BAB 22. Keinginan di Tengah Malam.
23
Bab. 23. Suami Siaga
24
Bab. 24. Sampai tetes terakhir
25
Bab. 25
26
Bab. 26. Keceplosan
27
Bab. 27. Makian di balik Mobil Mewah
28
Bab. 28. Tawaran tinggal seatap
29
Bab. 29. Getaran di ujung jari
30
Bab. 30. Sentuhan ujung sendok.
31
Bab. 31. Siksaan termanis.
32
Bab. 32. Hutang dosa
33
Bab. 33. Adegan Bollywod
34
Bab. 34. Arti mencintai
35
BAB 35: Ambisi di Balik Cangkir Porselen
36
Bab. 36. Siaga satu
37
Bab. 37. Antara Hidup, Mati, dan Preman yang Mau Pingsan.
38
Bab. 38. Antara Hidup, Mati, dan Preman yang Mau Pingsan ( 2 )
39
Bab. 39. Azan Subuh dan Sebuah Wajah Asing.
40
Bab. 40. Sebuah Nama dan Kecupan yang Tertunda.
41
BAB 41. Penampakan di Balik Pintu.
42
Bab. 42. Mimpi buruk
43
Bab. 43. Seolah menuntut haknya.
44
Bab. 44. Tetangga yang kepo
45
Bab. 45. Negosiasi
46
Bab. 46. Malu-malu
47
Bab. 47 .Tatapan Rahasia dan Sentuhan yang Mulai Berani.
48
Bab. 48. Janji Malam dan Ketulusan di Balik Panggilan "Nduk”.
49
Bab. 49. Ranjang dingin dan berhantu.
50
Bab. 50. Misi Rahasia.
51
Bab. 51. Ketukan Pintu dan Gengsi yang Tertahan.
52
Bab. 52. Jiwa Yang Bersih Di mata sang Pelindung.
53
Bab. 53. Ledekan dari gerombolan bapak-bapak.
54
Bab, 54. Dinding Dingin dan Karma yang Mengikis.
55
Bab. 55. Tatapan dalam Cermin Karma.
56
Bab. 56 . Raungan Keraguan di Balik Album Tua.
57
Bab. 57. Jejak yang Menghilang di Ujung Gang.
58
Bab. 58. Berniat merebut.
59
Bab. 59. Nambah momongan
60
Bab. 60. Menemukan
61
Bab. 61. Cela Hukum.
62
Bab. 62. Firasat yang dikirimkan alam.
63
Bab. 63. Permainan Tikus dan Kucing.
64
Bab. 64. Terbongkarnya Sarang Sang Pelindung.
65
Bab. 65. Celah yang Dicari
66
Bab. 66. Ancaman Ubay
67
Bab. 67.
68
Bab. 68.
69
Bab, 69. Mendatangi kawan lama.
70
Bab. 70. Penampilan Baru Sang Pelindung.
71
BAB 71: Intrik di Balik Kaca Gelap
72
BAB 72: Gertakan yang Mentah.
73
BAB 73. Taktik Kotor Sang Pecundang
74
BAB 74: Kejujuran
75
Bab. 75. Drama Penyelamatan Nama Baik.
76
Bab. 76. Langkah Diam Tuan Pramoedya
77
BAB 77. Peta Kekuatan di Meja Kantor.
78
Bab. 78. Meminta Alamat.
79
Bab. 79. Kecele
80
Bab. 80. Gosip yang mulai menyebar.
81
Bab. 81. Luapan amarah dan solusi
82
Bab 82 : Amukan sang Pecundang.
83
Bab. 83. Luka Lama yang Menolak Sembuh
84
BAB 84: Jawaban dari Masa Lalu.
85
BAB 85: Penyesalan Sang Patriarch
86
BAB 86 : Rindu dan Penyesalan yang Terlambat.
87
Bab. 87. Yakin 1.000 %
88
Bab. 88. Iba, tapi....
89
Bab. 89. Pemandangan terindah ternyata itu....
90
Bab. 90. Rintihan Axel
91
Bab. 91. Sebuah rencana
92
Bab. 92. Penawaran
93
Bab. 93. Luapan isi hati Axel
94
Bab. 94. Sebuah pelukan
95
Bab. 95. Axel yang dingin
96
Bab. 96. Benih baru yang tumbuh rahasia.
97
Bab. 97. Berfoto bersama
98
Bab. 98. Janji yang tidak bernilai
99
Bab. 99. Mulai baper
100
Bab. 100. Tugas....selesai.
101
Bab. 101. Membawa pulang.
102
Bab. 102. Saling mengancam.
103
Bab. 103. Syarat
104
104. Pecah....
105
105. Cuma gertak
106
Bab. 106. Sebuah harapan dibalik keangkuhan.
107
Bab. 107. Saham-hibah
108
Bab. 108. Ingin mempertemukan Abian dengan Adik Alpha

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!