Bab. 4. Pelindung terakhir

"Nadia!!! Dasar anak pelayan tidak tahu diuntung!"

Teriakan Nyonya Sarah menggelegar, memutus keheningan pagi di paviliun belakang. Sebelum Nadia sempat mencerna apa yang terjadi, Nyonya Sarah sudah melangkah lebar, mendekat ke arah ranjang dengan mata yang menyalang merah.

Set!

Tanpa ampun, Nyonya Sarah menyentak selimut lusuh yang dipakai Nadia untuk menutupi tubuhnya. Matanya langsung tertuju pada kerah kemeja Nadia yang robek parah di bagian atas, bukti tak terbantahkan yang dicocokkannya dengan potongan kain biru di tangannya.

"Nyonya... maaf..." Nadia beringsut mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang. Ia menyilangkan kedua tangan di dada, mencoba menutupi kulitnya yang terekspos. Air matanya kembali tumpah, tubuhnya berguncang hebat karena trauma semalam ditambah ketakutan yang luar biasa pagi ini.

"Maaf kamu bilang?" Nyonya Sarah melempar potongan kain biru itu tepat ke wajah Nadia. "Berani-beraninya kamu masuk ke kamar anakku semalam! Berani-beraninya kamu merayu Axel!"

"Bukan saya yang merayu, Nyonya... Tuan Axel semalam mabuk..." Nadia mencoba membela diri dengan suara parau yang gemetar, namun kalimatnya justru membuat Nyonya Sarah semakin murka.

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Nadia hingga wajah gadis itu terbuang ke samping. Sudut bibirnya berdarah, memperparah rasa sakit fisik yang sejak semalam ia tahan.

"Jangan berani-berani kamu menyalahkan anakku, dasar pelacur kecil!" bentak Nyonya Sarah, napasnya memburu naik-turun. "Axel itu anak baik-baik, dia punya masa depan cerah, dan dia akan menikahi wanita dari keluarga terhormat! Tapi kamu... kamu sengaja memanfaatkan keadaannya yang mabuk untuk menjebaknya, kan? Kamu mau naik kasta dengan cara menjual tubuhmu?"

"Tidak, Nyonya... Demi Allah, tidak..." Nadia menggeleng histeris. Ia memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut. "Saya tidak pernah bermaksud seperti itu..."

"Alasan!" Nyonya Sarah mencengkeram lengan kurus Nadia dengan kasar, memaksanya untuk berdiri dari ranjang.

"Ahg!" Nadia memekik kesakitan saat kaki kanannya yang keseleo dan membiru terpaksa menumpu berat badannya. Rasa nyeri yang menusuk membuat Nadia lemas dan hampir tersungkur ke lantai. namun Nyonya Sarah tidak peduli. Wanita itu terus menyeret tubuh kurus Nadia keluar dari kamar, menuju koridor tengah paviliun.

"Ayo keluar! Jangan kotori rumah ini dengan kehadiranmu!" teriak Nyonya Sarah sambil terus menyeret Nadia yang berjalan terseok-seok, merintih menahan sakit yang teramat sangat di pergelangan kakinya.

Di koridor, Bi Sumi yang mendengar keributan itu langsung berlari mendekat dengan wajah panik. Di tangannya, ia masih menggenggam kancing kemeja mahal milik Axel yang ditemukannya tadi.

"Gusti... Nyonya! Ada apa ini, Nyonya? Tolong lepaskan Nadia, kasihan jalannya pincang begitu," mohon Bi Sumi, mencoba menahan lengan Nyonya Sarah dengan berani walau tubuhnya gemetaran.

"Minggir kamu, Sumi! Jangan ikut campur atau kamu saya pecat sekalian!" ancam Nyonya Sarah dengan mata melotot tajam. "Anak pungut ini sudah keterlaluan! Ibunya dulu memang menyelamatkan Axel, tapi anak ini justru mau menghancurkan hidup Axel! Dasar ular berkepala dua!"

Nyonya Sarah menghempaskan tubuh Nadia hingga gadis itu jatuh terduduk di atas lantai koridor yang dingin. Nadia menangis tergugu, memeluk lututnya yang gemetar, merasakan harga dirinya yang sudah hancur kini diinjak-injak hingga tak berbekas di depan asisten rumah tangga yang lain.

Dari kejauhan, di ujung koridor yang menghubungkan rumah utama dan paviliun, siluet tinggi Axel tampak berdiri. Pria itu menyaksikan ibunya yang sedang melabrak Nadia habis-habisan. Namun, alih-alih melangkah maju untuk meluruskan keadaan atau membela gadis yang telah ia nodai, Axel hanya diam mematung dengan rahang yang mengeras dan tangan yang mengepal di dalam saku jubah mandinya. Kepengecutan dan egonya mengunci mulutnya rapat-rapat.

**

"Ada apa ini ribut-ribut pagi-pagi?"

Sebuah suara berat, berwibawa, dan sarat akan ketegasan menggelegar dari arah pintu penghubung rumah utama. Tuan Pramoedya melangkah keluar dari ruang kerjanya yang terletak tidak jauh dari koridor paviliun. Pria paruh baya itu masih mengenakan kacamata bacanya, dengan dahi yang berkerut dalam melihat kekacauan yang tersaji di depan matanya.

Nyonya Sarah seketika menghentikan aksinya, napasnya masih memburu namun raut wajahnya langsung berubah menjadi aduan yang dramatis. Sementara Nadia yang masih terduduk di lantai dingin, perlahan mendongak dengan air mata yang terus mengalir, menatap pria yang selama ini ia hormati sebagai pelindung terakhirnya di rumah ini.

"Pah! Kamu lihat sendiri anak pungut tidak tahu diri ini!" adu Nyonya Sarah, langsung menghampiri suaminya sambil menyodorkan robekan kain biru milik Nadia. "Dia sudah berani menaruh noda di rumah kita! Semalam dia sengaja menjebak Axel, merayu anak kita yang sedang mabuk, dan naik ke ranjang Axel!"

Tuan Pramoedya tertegun. Matanya bergerak, beralih dari kain biru di tangan istrinya, menatap Axel yang masih berdiri mematung di kejauhan dengan wajah pucat, dan akhirnya mendarat pada sosok Nadia.

Jantung Tuan Pramoedya mencelos melihat kondisi Nadia. Gadis itu tampak begitu hancur. Rambutnya kusut, sudut bibirnya berdarah, kemejanya robek, dan pergelangan kakinya membengkak besar hingga berwarna kebiruan. Sebagai pria yang logis, pandangan Tuan Pramoedya tidak langsung dipenuhi amarah kabur seperti istrinya. Ada rasa sesak dan kilat bersalah yang melintas di matanya saat mengingat wajah mendiang Ibu Rahma yang telah mengorbankan nyawa demi menyelamatkan putranya dulu.

Tuan Pramoedya melangkah mendekat, mengabaikan ocehan istrinya. Ia berdiri tepat di hadapan Nadia, lalu perlahan berlutut dengan satu kaki untuk menyamakan tingginya dengan gadis yang sedang ketakutan itu.

"Nadia," panggil Tuan Pramoedya, suaranya melembut namun tetap tegas. "Tatap mata saya, Nak. Katakan yang sebenarnya pada saya. Apa yang terjadi semalam?"

Nadia gemetaran hebat. Pertanyaan lembut dari Tuan Pramoedya justru terasa seperti pisau yang mengorek lukanya. Ia menatap mata Tuan Pramoedya, lalu sekilas melirik ke arah Axel yang berada di belakang ayahnya.

Axel menatap Nadia dengan pandangan yang tajam, seolah memberikan ancaman tersirat agar Nadia tetap bungkam dan menerima semua kesalahan ini sendirian demi menjaga nama baiknya. Mengingat tuduhan kejam Axel tadi subuh bahwa dirinya hanya memanfaatkan keadaan demi harta, hati Nadia terasa mati rasa.

"Saya... saya..." Nadia terbata-bata, suaranya tercekat oleh tangis.

"Pah! Apalagi yang mau ditanyakan? Buktinya sudah jelas! Seprei di kamar Axel ternoda darah, dan kain bajunya tertinggal di sana! Dia pasti sengaja pasrah agar bisa meminta pertanggungjawaban dan memeras kita!" sela Nyonya Sarah dengan ketus, berusaha memotong pembicaraan agar Nadia tidak sempat membela diri.

Tuan Pramoedya mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat mutlak agar istrinya diam. "Sarah, diam! Aku sedang bertanya pada Nadia."

Ia kembali menatap Nadia yang terus menunduk dalam, meremas ujung jaketnya. "Nadia, saya butuh jawabanmu. Benar kamu yang masuk ke kamar Axel untuk merayunya?"

Nadia memejamkan mata rapat-rapat. Harga dirinya sudah diinjak-injak oleh Nyonya Sarah, dan pria yang menodainya bahkan tidak sudi melangkah maju untuk membelanya. Jika ia menceritakan kebenaran bahwa Axel yang memaksanya, apakah keluarga kaya ini akan mempercayainya? Ataukah mereka justru akan menganggapnya sebagai pembohong besar yang ingin menghancurkan pewaris mereka?

Dengan sisa-sisa kekuatan batinnya yang telah hancur, Nadia menggelengkan kepala pelan. "Tidak, Tuan... Saya tidak pernah merayu Tuan Axel..." lirihnya, membiarkan kebenaran itu menggantung di udara tanpa berani menunjuk Axel sebagai pelakunya.

***

Terpopuler

Comments

Anna Annawaliana

Anna Annawaliana

😭😭😭😭😭 Sarah tak layak di sebut seorang ibu ,dan kau Axel pasti ada karmanya.

2026-06-27

0

Enisensi klara

Enisensi klara

Kasihan Nadia gak berani berkata kebenaran nya ,dan tuan Pramoedya masih baik

2026-06-27

0

S.R ciplux

S.R ciplux

axel km akan menyesal. lihat saja nanti.
ayo nadia semangat💪

2026-06-27

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Sisa Waktu yang Sempit
2 Bab. 2. Tuduhan kejam
3 Bab. 3. Tuduhan Yang Sama Kejamnya
4 Bab. 4. Pelindung terakhir
5 BAB 5 : Keputusan di Ambang Batas.
6 Bab. 6. Tawaran di tepi Jalan
7 Bab. 7. Waspada
8 Bab. 8. Identitas dibalik jaket usang
9 Bab. 9. Sebenarnya....ada rasa bersalah
10 Bab. 10. Tawaran dari Ubay.
11 Bab. 11. Cuma pion.
12 Bab. 12. Perhitungan di Balik Tirai Jendela.
13 B. 13. Aroma Harum di Tengah Malam.
14 Bab. 14. Hukum Jalanan
15 Bab. 15 . Telat
16 Bab. 16. Siasat Ubay
17 Bab. 17. Positif
18 Bab. 18 . Menawarkan diri.
19 Bab. 19. Sah
20 Bab. 20. Batas Suci di Balik satu Atap
21 BAB 21: Bisik-Bisik di Balik Dapur Megah.
22 BAB 22. Keinginan di Tengah Malam.
23 Bab. 23. Suami Siaga
24 Bab. 24. Sampai tetes terakhir
25 Bab. 25
26 Bab. 26. Keceplosan
27 Bab. 27. Makian di balik Mobil Mewah
28 Bab. 28. Tawaran tinggal seatap
29 Bab. 29. Getaran di ujung jari
30 Bab. 30. Sentuhan ujung sendok.
31 Bab. 31. Siksaan termanis.
32 Bab. 32. Hutang dosa
33 Bab. 33. Adegan Bollywod
34 Bab. 34. Arti mencintai
35 BAB 35: Ambisi di Balik Cangkir Porselen
36 Bab. 36. Siaga satu
37 Bab. 37. Antara Hidup, Mati, dan Preman yang Mau Pingsan.
38 Bab. 38. Antara Hidup, Mati, dan Preman yang Mau Pingsan ( 2 )
39 Bab. 39. Azan Subuh dan Sebuah Wajah Asing.
40 Bab. 40. Sebuah Nama dan Kecupan yang Tertunda.
41 BAB 41. Penampakan di Balik Pintu.
42 Bab. 42. Mimpi buruk
43 Bab. 43. Seolah menuntut haknya.
44 Bab. 44. Tetangga yang kepo
45 Bab. 45. Negosiasi
46 Bab. 46. Malu-malu
47 Bab. 47 .Tatapan Rahasia dan Sentuhan yang Mulai Berani.
48 Bab. 48. Janji Malam dan Ketulusan di Balik Panggilan "Nduk”.
49 Bab. 49. Ranjang dingin dan berhantu.
50 Bab. 50. Misi Rahasia.
51 Bab. 51. Ketukan Pintu dan Gengsi yang Tertahan.
52 Bab. 52. Jiwa Yang Bersih Di mata sang Pelindung.
53 Bab. 53. Ledekan dari gerombolan bapak-bapak.
54 Bab, 54. Dinding Dingin dan Karma yang Mengikis.
55 Bab. 55. Tatapan dalam Cermin Karma.
56 Bab. 56 . Raungan Keraguan di Balik Album Tua.
57 Bab. 57. Jejak yang Menghilang di Ujung Gang.
58 Bab. 58. Berniat merebut.
59 Bab. 59. Nambah momongan
60 Bab. 60. Menemukan
61 Bab. 61. Cela Hukum.
62 Bab. 62. Firasat yang dikirimkan alam.
63 Bab. 63. Permainan Tikus dan Kucing.
64 Bab. 64. Terbongkarnya Sarang Sang Pelindung.
65 Bab. 65. Celah yang Dicari
66 Bab. 66. Ancaman Ubay
67 Bab. 67.
68 Bab. 68.
69 Bab, 69. Mendatangi kawan lama.
70 Bab. 70. Penampilan Baru Sang Pelindung.
71 BAB 71: Intrik di Balik Kaca Gelap
72 BAB 72: Gertakan yang Mentah.
73 BAB 73. Taktik Kotor Sang Pecundang
74 BAB 74: Kejujuran
75 Bab. 75. Drama Penyelamatan Nama Baik.
76 Bab. 76. Langkah Diam Tuan Pramoedya
77 BAB 77. Peta Kekuatan di Meja Kantor.
78 Bab. 78. Meminta Alamat.
79 Bab. 79. Kecele
80 Bab. 80. Gosip yang mulai menyebar.
81 Bab. 81. Luapan amarah dan solusi
82 Bab 82 : Amukan sang Pecundang.
83 Bab. 83. Luka Lama yang Menolak Sembuh
84 BAB 84: Jawaban dari Masa Lalu.
85 BAB 85: Penyesalan Sang Patriarch
86 BAB 86 : Rindu dan Penyesalan yang Terlambat.
87 Bab. 87. Yakin 1.000 %
88 Bab. 88. Iba, tapi....
89 Bab. 89. Pemandangan terindah ternyata itu....
90 Bab. 90. Rintihan Axel
91 Bab. 91. Sebuah rencana
92 Bab. 92. Penawaran
93 Bab. 93. Luapan isi hati Axel
94 Bab. 94. Sebuah pelukan
95 Bab. 95. Axel yang dingin
96 Bab. 96. Benih baru yang tumbuh rahasia.
97 Bab. 97. Berfoto bersama
98 Bab. 98. Janji yang tidak bernilai
99 Bab. 99. Mulai baper
100 Bab. 100. Tugas....selesai.
101 Bab. 101. Membawa pulang.
102 Bab. 102. Saling mengancam.
103 Bab. 103. Syarat
104 104. Pecah....
105 105. Cuma gertak
106 Bab. 106. Sebuah harapan dibalik keangkuhan.
107 Bab. 107. Saham-hibah
108 Bab. 108. Ingin mempertemukan Abian dengan Adik Alpha
Episodes

Updated 108 Episodes

1
BAB 1: Sisa Waktu yang Sempit
2
Bab. 2. Tuduhan kejam
3
Bab. 3. Tuduhan Yang Sama Kejamnya
4
Bab. 4. Pelindung terakhir
5
BAB 5 : Keputusan di Ambang Batas.
6
Bab. 6. Tawaran di tepi Jalan
7
Bab. 7. Waspada
8
Bab. 8. Identitas dibalik jaket usang
9
Bab. 9. Sebenarnya....ada rasa bersalah
10
Bab. 10. Tawaran dari Ubay.
11
Bab. 11. Cuma pion.
12
Bab. 12. Perhitungan di Balik Tirai Jendela.
13
B. 13. Aroma Harum di Tengah Malam.
14
Bab. 14. Hukum Jalanan
15
Bab. 15 . Telat
16
Bab. 16. Siasat Ubay
17
Bab. 17. Positif
18
Bab. 18 . Menawarkan diri.
19
Bab. 19. Sah
20
Bab. 20. Batas Suci di Balik satu Atap
21
BAB 21: Bisik-Bisik di Balik Dapur Megah.
22
BAB 22. Keinginan di Tengah Malam.
23
Bab. 23. Suami Siaga
24
Bab. 24. Sampai tetes terakhir
25
Bab. 25
26
Bab. 26. Keceplosan
27
Bab. 27. Makian di balik Mobil Mewah
28
Bab. 28. Tawaran tinggal seatap
29
Bab. 29. Getaran di ujung jari
30
Bab. 30. Sentuhan ujung sendok.
31
Bab. 31. Siksaan termanis.
32
Bab. 32. Hutang dosa
33
Bab. 33. Adegan Bollywod
34
Bab. 34. Arti mencintai
35
BAB 35: Ambisi di Balik Cangkir Porselen
36
Bab. 36. Siaga satu
37
Bab. 37. Antara Hidup, Mati, dan Preman yang Mau Pingsan.
38
Bab. 38. Antara Hidup, Mati, dan Preman yang Mau Pingsan ( 2 )
39
Bab. 39. Azan Subuh dan Sebuah Wajah Asing.
40
Bab. 40. Sebuah Nama dan Kecupan yang Tertunda.
41
BAB 41. Penampakan di Balik Pintu.
42
Bab. 42. Mimpi buruk
43
Bab. 43. Seolah menuntut haknya.
44
Bab. 44. Tetangga yang kepo
45
Bab. 45. Negosiasi
46
Bab. 46. Malu-malu
47
Bab. 47 .Tatapan Rahasia dan Sentuhan yang Mulai Berani.
48
Bab. 48. Janji Malam dan Ketulusan di Balik Panggilan "Nduk”.
49
Bab. 49. Ranjang dingin dan berhantu.
50
Bab. 50. Misi Rahasia.
51
Bab. 51. Ketukan Pintu dan Gengsi yang Tertahan.
52
Bab. 52. Jiwa Yang Bersih Di mata sang Pelindung.
53
Bab. 53. Ledekan dari gerombolan bapak-bapak.
54
Bab, 54. Dinding Dingin dan Karma yang Mengikis.
55
Bab. 55. Tatapan dalam Cermin Karma.
56
Bab. 56 . Raungan Keraguan di Balik Album Tua.
57
Bab. 57. Jejak yang Menghilang di Ujung Gang.
58
Bab. 58. Berniat merebut.
59
Bab. 59. Nambah momongan
60
Bab. 60. Menemukan
61
Bab. 61. Cela Hukum.
62
Bab. 62. Firasat yang dikirimkan alam.
63
Bab. 63. Permainan Tikus dan Kucing.
64
Bab. 64. Terbongkarnya Sarang Sang Pelindung.
65
Bab. 65. Celah yang Dicari
66
Bab. 66. Ancaman Ubay
67
Bab. 67.
68
Bab. 68.
69
Bab, 69. Mendatangi kawan lama.
70
Bab. 70. Penampilan Baru Sang Pelindung.
71
BAB 71: Intrik di Balik Kaca Gelap
72
BAB 72: Gertakan yang Mentah.
73
BAB 73. Taktik Kotor Sang Pecundang
74
BAB 74: Kejujuran
75
Bab. 75. Drama Penyelamatan Nama Baik.
76
Bab. 76. Langkah Diam Tuan Pramoedya
77
BAB 77. Peta Kekuatan di Meja Kantor.
78
Bab. 78. Meminta Alamat.
79
Bab. 79. Kecele
80
Bab. 80. Gosip yang mulai menyebar.
81
Bab. 81. Luapan amarah dan solusi
82
Bab 82 : Amukan sang Pecundang.
83
Bab. 83. Luka Lama yang Menolak Sembuh
84
BAB 84: Jawaban dari Masa Lalu.
85
BAB 85: Penyesalan Sang Patriarch
86
BAB 86 : Rindu dan Penyesalan yang Terlambat.
87
Bab. 87. Yakin 1.000 %
88
Bab. 88. Iba, tapi....
89
Bab. 89. Pemandangan terindah ternyata itu....
90
Bab. 90. Rintihan Axel
91
Bab. 91. Sebuah rencana
92
Bab. 92. Penawaran
93
Bab. 93. Luapan isi hati Axel
94
Bab. 94. Sebuah pelukan
95
Bab. 95. Axel yang dingin
96
Bab. 96. Benih baru yang tumbuh rahasia.
97
Bab. 97. Berfoto bersama
98
Bab. 98. Janji yang tidak bernilai
99
Bab. 99. Mulai baper
100
Bab. 100. Tugas....selesai.
101
Bab. 101. Membawa pulang.
102
Bab. 102. Saling mengancam.
103
Bab. 103. Syarat
104
104. Pecah....
105
105. Cuma gertak
106
Bab. 106. Sebuah harapan dibalik keangkuhan.
107
Bab. 107. Saham-hibah
108
Bab. 108. Ingin mempertemukan Abian dengan Adik Alpha

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!