Bab. 3. Tuduhan Yang Sama Kejamnya

Klek.

Suara kunci cadangan yang diputar oleh Nyonya Sarah dari luar membuat jantung Nadia serasa copot. Dengan sisa-sisa tenaga dan air mata yang terus mengalir, Nadia menyambar pakaian lusuhnya yang robek. Tanpa memperdulikan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya, ia membuka pintu kaca balkon kamar Axel, lalu menyelinap keluar tepat saat pintu utama kamar itu terbuka lebar.

Nadia melompati pembatas balkon lantai dua yang untungnya terhubung dengan tangga besi darurat menuju area cuci belakang. Namun, malang tak dapat ditolak. Saat kakinya yang gemetar menapak anak tangga terakhir, keseimbangannya goyah.

Krak!

"Ahg..." Nadia memekik tertahan, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar suaranya tidak lolos. Pergelangan kaki kanannya tertekuk parah. Rasa nyeri yang luar biasa menjalar seketika. Kakinya keseleo.

Dengan kondisi fisik yang hancur, pakaian berantakan yang ditutupi jaket seadanya, serta kaki yang cedera, Nadia terpaksa berjalan dengan terseok-seok, menyeret langkahnya menuju kamarnya sendiri di dekat area belakang. Langkahnya pincang, menyisakan rasa perih di setiap seretan kakinya. Kondisi psikisnya jauh lebih mengenaskan. Ia merasa kotor, terhina, dan jiwanya seolah direnggut paksa dari tubuhnya.

Namun, di rumah sebesar itu, Nadia tidak sendirian. Keluarga Pramoedya memiliki asisten rumah tangga lain, yaitu Bi Sumi, yang tugasnya berfokus di area dapur dan sumur belakang.

Pagi itu, Bi Sumi sudah terbangun untuk menjerang air. Pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki yang aneh dan berat di koridor belakang.

"Nadia...?" panggil Bi Sumi, muncul dari balik sekat dapur dengan daster batiknya.

Nadia langsung mematung, mencoba menyembunyikan sisi tubuhnya yang kotor dan kakinya yang pincang di balik bayangan pintu. "I-iya, Bi..." jawab Nadia, suaranya parau dan bergetar hebat.

Bi Sumi mengernyitkan dahi, melangkah mendekat karena melihat gelagat Nadia yang sangat mencurigakan. "Kamu kenapa jalannya menyeret begitu? Ya Tuhan... wajahmu pucat sekali, Nad! Kamu sakit? Terus itu... kenapa jaketmu dikancing sampai atas begitu, gerah loh ini."

Nadia semakin panik, ia meremas ujung jaketnya untuk menutupi kerah kemejanya yang robek di dalam. "Eng-enggak apa-apa, Bi. Tadi... Nadia kepleset di tangga waktu mau ambil jemuran yang tertinggal semalam. Kaki Nadia keseleo, agak susah jalan," bohong Nadia, matanya bergerak gelisah, tidak berani menatap mata Bi Sumi.

Bi Sumi menatap Nadia dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menyelidik. Sebagai wanita yang lebih tua, dia merasa ada yang tidak beres dengan tatapan mata Nadia yang kosong dan ketakutan, seolah baru saja melihat hantu.

"Beneran cuma kepleset? Tapi kok sampai gemetaran begitu tubuhmu? Nad, kamu nggak apa-apa, toh?" tanya Bi Sumi lagi, melangkah satu kali lagi ke depan, berniat menyentuh dahi Nadia.

"Nadia beneran nggak apa-apa, Bi! Nadia... Nadia mau ke kamar mandi dulu, mau kompres kaki," potong Nadia setengah histeris karena takut rahasianya terbongkar, lalu dengan cepat ia memaksa kakinya yang pincang dan tersorot nyeri untuk melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Bi Sumi yang berdiri termangu di koridor dengan sejuta rasa curiga.

Bi Sumi menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil berjalan kembali ke dapur, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di atas lantai ubin yang tadi dilewati Nadia. Ada noda setitik darah kering yang terjatuh dari robekan kain, serta kancing kemeja kecil berwarna putih yang tergeletak di dekat tangga darurat.

Bi Sumi memungut kancing itu, dahinya berkerut dalam. ‘Ini... bukan kancing baju Nadia. Ini seperti kancing kemeja mahal…’

**

Sementara itu, di lantai dua, pintu kamar tidur Axel akhirnya terbuka sempurna. Nyonya Sarah melangkah masuk dengan anggun, namun ekspresi wajahnya langsung berubah drastis begitu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.

Kamar yang biasanya rapi itu kini bak kapal pecah. Kacamata Axel tergeletak di lantai marmer, dasinya tercampak di dekat sofa, dan aroma alkohol serta parfum maskulin yang pekat masih tertinggal di udara, menyesakkan dada.

"Astaga, Axel! Kenapa kamarmu berantakan sekali seperti gudang?" omel Nyonya Sarah sambil berkacak pinggang. Matanya yang tajam menatap sang putra tunggal yang kini berdiri membelakanginya di dekat balkon, masih mengenakan jubah mandi dengan sisa-sisa wajah pening.

Axel memijat pelipisnya, berusaha bersikap setenang mungkin meski jantungnya berdegup kencang. "Aku mabuk semalam, Ma. Pusing. Jangan mengomel dulu pagi-pagi begini," sahut Axel dingin, mencoba mengalihkan perhatian ibunya agar tidak melangkah lebih jauh ke dalam kamar.

Namun, naluri seorang Nyonya Sarah yang perfeksionis tidak bisa dibendung. Langkah kakinya justru mendekat ke arah ranjang king-size, berniat untuk merapikan selimut yang bergulung tidak beraturan.

"Kamu ini sudah besar, Axel! Sebentar lagi mau pegang perusahaan Papa, jangan keseringan mabuk-mabukan…."

Kalimat Nyonya Sarah terputus di udara. Tangan kanannya yang baru saja hendak menarik selimut tiba-tiba membeku. Matanya membelalak sempurna, menatap sprei putih sutra yang kini tampak kusut masai. Di atas kain putih bersih itu, terdapat sebuah noda merah muda yang sudah mengering.

Noda darah.

Bukan hanya itu, pandangan Nyonya Sarah yang jeli menangkap sepotong robekan kain katun murahan berwarna biru pudar yang terselip di bawah bantal. Jenis kain yang sangat ia kenali karena ia sendiri yang membelikan lusinan pakaian murah itu untuk... Nadia.

Napas Nyonya Sarah tercekat. Wajahnya yang dilapisi riasan tebal seketika menegang, dipenuhi rasa terkejut sekaligus murka yang luar biasa.

"Axel..." Suara Nyonya Sarah mendadak merendah, namun sarat akan intimidasi yang mematikan. Ia berbalik, menatap putranya dengan pandangan menghunus. "Noda apa ini di atas sepreimu? Dan... kain siapa ini?!"

Axel menoleh, dan sedetik kemudian wajahnya memucat melihat potongan kain kemeja Nadia yang tertinggal di atas ranjangnya. Sial, dia melewatkan detail itu karena panik menyuruh Nadia kabur tadi.

"Itu... bukan apa-apa, Ma. Mungkin aku terluka semalam saat mabuk, aku tidak ingat," bohong Axel, suaranya terdengar agak gugup walau ia mencoba mempertahankan rahang tegasnya.

"Jangan bohongi Mama, Axel!" bentak Nyonya Sarah, amarahnya meledak. Ia melempar potongan kain itu ke dada Axel. "Mama tahu ini kain baju siapa! Ini kain baju si anak pungut sialan itu, kan? Nadia semalam masuk ke kamarmu?"

Pikiran Nyonya Sarah langsung berputar cepat. Sebagai wanita yang licik, ia tidak memikirkan bahwa putranyalah yang bersalah. Otaknya langsung menyimpulkan skenario terburuk, Nadia, gadis miskin yang menumpang di rumahnya, telah sengaja merayu Axel yang sedang mabuk demi menaikkan derajat sosialnya.

"Gadis tidak tahu diri..." desis Nyonya Sarah, kedua tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. "Dia sengaja menjebakmu, Axel! Dia ingin menjadi nyonya di rumah ini dengan cara menjijikkan seperti ini!"

"Ma, sudah, jangan dibahas…."

"Tidak bisa!" potong Nyonya Sarah dengan mata menyalang merah karena murka. "Mama tidak akan membiarkan anak pungut itu merusak masa depanmu dan rencana pernikahan besar kita! Berani-beraninya dia menaruh noda di keluarga Pramoedya!"

Tanpa memedulikan Axel lagi, Nyonya Sarah berbalik dengan langkah menghentak kasar. Ia berjalan cepat keluar kamar, menuruni anak tangga dengan urat-urat leher yang menegang. Tujuannya hanya satu, paviliun belakang, tempat kamar Nadia berada. Dia akan memberi pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan oleh anak pembantu yang dituduhnya sebagai wanita penggoda itu.

**

Sebelum badai murka Nyonya Sarah menghantam paviliun belakang, mari kita mundurkan waktu sejenak. Siapa sebenarnya Nadia? Mengapa dia bisa berada di rumah megah keluarga Pramoedya dengan status yang begitu mengambang?

Nadia bukanlah anak yang diadopsi dengan penuh kasih sayang. Statusnya di rumah itu lebih tepat disebut sebagai utang budi yang mengikat leher.

Dua belas tahun yang lalu, ibu kandung Nadia adalah seorang janda miskin yang bekerja sebagai asisten rumah tangga setia di rumah keluarga Pramoedya. Saat itu, Nadia masih kecil, seorang anak perempuan kurus yang sering duduk di sudut dapur sambil memandangi Axel kecil yang hidup bergelimang kemewahan.

Nyonya Sarah sejak dulu memperlakukan ibunya Nadia dengan keras, namun beliau tetap bertahan demi membiayai sekolah Nadia. Hingga sebuah tragedi besar terjadi.

Suatu malam, kebakaran hebat melanda area dapur dan paviliun belakang akibat kebocoran gas. Di tengah kobaran api yang membumbung tinggi, Ibu Rahma, ibunya Nadia melihat Axel kecil yang saat itu berusia sepuluh tahun terjebak di dalam ruang keluarga yang terkepung asap pekat. Tanpa memikirkan nyawanya sendiri, Ibu Rahma menerobos api, memeluk Axel, dan membawanya keluar hingga anak tunggal kaya raya itu selamat tanpa luka berarti.

Namun, harga yang harus dibayar terlalu mahal. Ibu Rahma menderita luka bakar yang teramat parah di sekujur tubuhnya. Di ambang sakaratul maut di rumah sakit, dengan sisa-sisa napas terakhirnya, Ibu Rahma menggenggam tangan Nyonya Sarah dan Tuan Pramoedya. Ia menangis, memohon satu hal, "Nyonya... Tuan... Saya mohon... Tolong jagalah Nadia... Dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini... Tolong jangan telantarkan anak saya..."

Disaksikan oleh para dokter dan demi menjaga nama baik keluarga sebagai orang yang 'tahu balas budi', Tuan Pramoedya akhirnya menyanggupi permintaan itu. Nadia yang yatim piatu pun resmi dibawa ke rumah besar tersebut.

Namun, "dipungut" karena utang nyawa ternyata tidak membuat hidup Nadia seindah dongeng Cinderella.

Begitu Nadia menginjak usia remaja, Nyonya Sarah mulai menunjukkan sifat aslinya. Rasa bersalah dan utang budi itu lama-lama berubah menjadi rasa risih. Nyonya Sarah enggan menganggap Nadia sebagai anak angkat resmi di mata hukum atau memperkenalkannya ke kehidupan sosial sebagai bagian dari keluarga Pramoedya. Bagi Sarah, darah Nadia tetaplah darah seorang pembantu.

"Kami sudah berbaik hati memberikanmu atap untuk berteduh dan membiayai sekolahmu, Nadia. Jadi, sudah kewajibanmu untuk membalasnya dengan bekerja di rumah ini," Begitulah kalimat yang selalu ditanamkan Nyonya Sarah ke kepala Nadia sejak remaja.

Alhasil, Nadia tumbuh menjadi gadis yang serba salah. Di satu sisi, Tuan Pramoedya sesekali membiayai sebagian uang kuliahnya di kampus negeri karena mengingat jasa ibunya. Namun di sisi lain, di dalam rumah itu, Nadia diperlakukan tak lebih dari seorang pelayan tanpa gaji yang sah. Dia harus mencuci, menyapu, dan membersihkan rumah dari subuh hingga larut malam di sela-sela waktu kuliahnya yang padat.

Nadia bertahan hanya demi satu impian, lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan yang layak, mengumpulkan uang, dan keluar dari rumah neraka itu demi membebaskan harga dirinya yang selama bertahun-tahun telah diinjak-injak.

Namun kini, malam jahanam bersama Axel telah menghancurkan seluruh rencana masa depan yang ia bangun dengan susah payah.

**

Kembali ke masa kini...

Langkah kaki Nyonya Sarah yang menghentak kasar di atas lantai keramik koridor belakang seketika membuyarkan lamunan masa lalu. Wajah wanita paruh baya itu merah padam, memegang robekan kain biru milik Nadia dengan tangan yang gemetar karena murka.

Brak!

Pintu kamar Nadia didobrak kasar hingga membentur dinding.

Nadia, yang saat itu sedang duduk di tepi ranjangnya sambil mengompres pergelangan kakinya yang bengkak dan membiru, tersentak hebat. Ia membelalak ketakutan, refleks menarik selimut lusuhnya untuk menutupi tubuhnya yang gemetaran.

"Nadia!!! Dasar anak pelayan tidak tahu diuntung!" teriak Nyonya Sarah melengking, suaranya memenuhi seluruh sudut paviliun belakang.

***

Terpopuler

Comments

Enisensi klara

Enisensi klara

Dasar orang gak Tau terima kasih udah di tolong anaknya malahan Nadia dijadikan babu 😓😓dan skr Nadia di tuduh menggoda Axel padahal Axel yg bejat 🙄

2026-06-27

1

Anna Annawaliana

Anna Annawaliana

sabar ya Nadia tuhan pasti yang akan membalas mereka semua ,,, cepat pergi dari rumahnya dan cari kerjaan lain .

2026-06-27

0

ˢ⍣⃟ₛÐïñÐå💜⃞⃟𝓛ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©ѕ⍣⃝✰

ˢ⍣⃟ₛÐïñÐå💜⃞⃟𝓛ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©ѕ⍣⃝✰

ini mah nyonya TK tau balas Budi, kenapa juga dulu Axel GK dibiarin mati terbakar

2026-08-25

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Sisa Waktu yang Sempit
2 Bab. 2. Tuduhan kejam
3 Bab. 3. Tuduhan Yang Sama Kejamnya
4 Bab. 4. Pelindung terakhir
5 BAB 5 : Keputusan di Ambang Batas.
6 Bab. 6. Tawaran di tepi Jalan
7 Bab. 7. Waspada
8 Bab. 8. Identitas dibalik jaket usang
9 Bab. 9. Sebenarnya....ada rasa bersalah
10 Bab. 10. Tawaran dari Ubay.
11 Bab. 11. Cuma pion.
12 Bab. 12. Perhitungan di Balik Tirai Jendela.
13 B. 13. Aroma Harum di Tengah Malam.
14 Bab. 14. Hukum Jalanan
15 Bab. 15 . Telat
16 Bab. 16. Siasat Ubay
17 Bab. 17. Positif
18 Bab. 18 . Menawarkan diri.
19 Bab. 19. Sah
20 Bab. 20. Batas Suci di Balik satu Atap
21 BAB 21: Bisik-Bisik di Balik Dapur Megah.
22 BAB 22. Keinginan di Tengah Malam.
23 Bab. 23. Suami Siaga
24 Bab. 24. Sampai tetes terakhir
25 Bab. 25
26 Bab. 26. Keceplosan
27 Bab. 27. Makian di balik Mobil Mewah
28 Bab. 28. Tawaran tinggal seatap
29 Bab. 29. Getaran di ujung jari
30 Bab. 30. Sentuhan ujung sendok.
31 Bab. 31. Siksaan termanis.
32 Bab. 32. Hutang dosa
33 Bab. 33. Adegan Bollywod
34 Bab. 34. Arti mencintai
35 BAB 35: Ambisi di Balik Cangkir Porselen
36 Bab. 36. Siaga satu
37 Bab. 37. Antara Hidup, Mati, dan Preman yang Mau Pingsan.
38 Bab. 38. Antara Hidup, Mati, dan Preman yang Mau Pingsan ( 2 )
39 Bab. 39. Azan Subuh dan Sebuah Wajah Asing.
40 Bab. 40. Sebuah Nama dan Kecupan yang Tertunda.
41 BAB 41. Penampakan di Balik Pintu.
42 Bab. 42. Mimpi buruk
43 Bab. 43. Seolah menuntut haknya.
44 Bab. 44. Tetangga yang kepo
45 Bab. 45. Negosiasi
46 Bab. 46. Malu-malu
47 Bab. 47 .Tatapan Rahasia dan Sentuhan yang Mulai Berani.
48 Bab. 48. Janji Malam dan Ketulusan di Balik Panggilan "Nduk”.
49 Bab. 49. Ranjang dingin dan berhantu.
50 Bab. 50. Misi Rahasia.
51 Bab. 51. Ketukan Pintu dan Gengsi yang Tertahan.
52 Bab. 52. Jiwa Yang Bersih Di mata sang Pelindung.
53 Bab. 53. Ledekan dari gerombolan bapak-bapak.
54 Bab, 54. Dinding Dingin dan Karma yang Mengikis.
55 Bab. 55. Tatapan dalam Cermin Karma.
56 Bab. 56 . Raungan Keraguan di Balik Album Tua.
57 Bab. 57. Jejak yang Menghilang di Ujung Gang.
58 Bab. 58. Berniat merebut.
59 Bab. 59. Nambah momongan
60 Bab. 60. Menemukan
61 Bab. 61. Cela Hukum.
62 Bab. 62. Firasat yang dikirimkan alam.
63 Bab. 63. Permainan Tikus dan Kucing.
64 Bab. 64. Terbongkarnya Sarang Sang Pelindung.
65 Bab. 65. Celah yang Dicari
66 Bab. 66. Ancaman Ubay
67 Bab. 67.
68 Bab. 68.
69 Bab, 69. Mendatangi kawan lama.
70 Bab. 70. Penampilan Baru Sang Pelindung.
71 BAB 71: Intrik di Balik Kaca Gelap
72 BAB 72: Gertakan yang Mentah.
73 BAB 73. Taktik Kotor Sang Pecundang
74 BAB 74: Kejujuran
75 Bab. 75. Drama Penyelamatan Nama Baik.
76 Bab. 76. Langkah Diam Tuan Pramoedya
77 BAB 77. Peta Kekuatan di Meja Kantor.
78 Bab. 78. Meminta Alamat.
79 Bab. 79. Kecele
80 Bab. 80. Gosip yang mulai menyebar.
81 Bab. 81. Luapan amarah dan solusi
82 Bab 82 : Amukan sang Pecundang.
83 Bab. 83. Luka Lama yang Menolak Sembuh
84 BAB 84: Jawaban dari Masa Lalu.
85 BAB 85: Penyesalan Sang Patriarch
86 BAB 86 : Rindu dan Penyesalan yang Terlambat.
87 Bab. 87. Yakin 1.000 %
88 Bab. 88. Iba, tapi....
89 Bab. 89. Pemandangan terindah ternyata itu....
90 Bab. 90. Rintihan Axel
91 Bab. 91. Sebuah rencana
92 Bab. 92. Penawaran
93 Bab. 93. Luapan isi hati Axel
94 Bab. 94. Sebuah pelukan
95 Bab. 95. Axel yang dingin
96 Bab. 96. Benih baru yang tumbuh rahasia.
97 Bab. 97. Berfoto bersama
98 Bab. 98. Janji yang tidak bernilai
99 Bab. 99. Mulai baper
100 Bab. 100. Tugas....selesai.
101 Bab. 101. Membawa pulang.
102 Bab. 102. Saling mengancam.
103 Bab. 103. Syarat
104 104. Pecah....
105 105. Cuma gertak
106 Bab. 106. Sebuah harapan dibalik keangkuhan.
107 Bab. 107. Saham-hibah
108 Bab. 108. Ingin mempertemukan Abian dengan Adik Alpha
Episodes

Updated 108 Episodes

1
BAB 1: Sisa Waktu yang Sempit
2
Bab. 2. Tuduhan kejam
3
Bab. 3. Tuduhan Yang Sama Kejamnya
4
Bab. 4. Pelindung terakhir
5
BAB 5 : Keputusan di Ambang Batas.
6
Bab. 6. Tawaran di tepi Jalan
7
Bab. 7. Waspada
8
Bab. 8. Identitas dibalik jaket usang
9
Bab. 9. Sebenarnya....ada rasa bersalah
10
Bab. 10. Tawaran dari Ubay.
11
Bab. 11. Cuma pion.
12
Bab. 12. Perhitungan di Balik Tirai Jendela.
13
B. 13. Aroma Harum di Tengah Malam.
14
Bab. 14. Hukum Jalanan
15
Bab. 15 . Telat
16
Bab. 16. Siasat Ubay
17
Bab. 17. Positif
18
Bab. 18 . Menawarkan diri.
19
Bab. 19. Sah
20
Bab. 20. Batas Suci di Balik satu Atap
21
BAB 21: Bisik-Bisik di Balik Dapur Megah.
22
BAB 22. Keinginan di Tengah Malam.
23
Bab. 23. Suami Siaga
24
Bab. 24. Sampai tetes terakhir
25
Bab. 25
26
Bab. 26. Keceplosan
27
Bab. 27. Makian di balik Mobil Mewah
28
Bab. 28. Tawaran tinggal seatap
29
Bab. 29. Getaran di ujung jari
30
Bab. 30. Sentuhan ujung sendok.
31
Bab. 31. Siksaan termanis.
32
Bab. 32. Hutang dosa
33
Bab. 33. Adegan Bollywod
34
Bab. 34. Arti mencintai
35
BAB 35: Ambisi di Balik Cangkir Porselen
36
Bab. 36. Siaga satu
37
Bab. 37. Antara Hidup, Mati, dan Preman yang Mau Pingsan.
38
Bab. 38. Antara Hidup, Mati, dan Preman yang Mau Pingsan ( 2 )
39
Bab. 39. Azan Subuh dan Sebuah Wajah Asing.
40
Bab. 40. Sebuah Nama dan Kecupan yang Tertunda.
41
BAB 41. Penampakan di Balik Pintu.
42
Bab. 42. Mimpi buruk
43
Bab. 43. Seolah menuntut haknya.
44
Bab. 44. Tetangga yang kepo
45
Bab. 45. Negosiasi
46
Bab. 46. Malu-malu
47
Bab. 47 .Tatapan Rahasia dan Sentuhan yang Mulai Berani.
48
Bab. 48. Janji Malam dan Ketulusan di Balik Panggilan "Nduk”.
49
Bab. 49. Ranjang dingin dan berhantu.
50
Bab. 50. Misi Rahasia.
51
Bab. 51. Ketukan Pintu dan Gengsi yang Tertahan.
52
Bab. 52. Jiwa Yang Bersih Di mata sang Pelindung.
53
Bab. 53. Ledekan dari gerombolan bapak-bapak.
54
Bab, 54. Dinding Dingin dan Karma yang Mengikis.
55
Bab. 55. Tatapan dalam Cermin Karma.
56
Bab. 56 . Raungan Keraguan di Balik Album Tua.
57
Bab. 57. Jejak yang Menghilang di Ujung Gang.
58
Bab. 58. Berniat merebut.
59
Bab. 59. Nambah momongan
60
Bab. 60. Menemukan
61
Bab. 61. Cela Hukum.
62
Bab. 62. Firasat yang dikirimkan alam.
63
Bab. 63. Permainan Tikus dan Kucing.
64
Bab. 64. Terbongkarnya Sarang Sang Pelindung.
65
Bab. 65. Celah yang Dicari
66
Bab. 66. Ancaman Ubay
67
Bab. 67.
68
Bab. 68.
69
Bab, 69. Mendatangi kawan lama.
70
Bab. 70. Penampilan Baru Sang Pelindung.
71
BAB 71: Intrik di Balik Kaca Gelap
72
BAB 72: Gertakan yang Mentah.
73
BAB 73. Taktik Kotor Sang Pecundang
74
BAB 74: Kejujuran
75
Bab. 75. Drama Penyelamatan Nama Baik.
76
Bab. 76. Langkah Diam Tuan Pramoedya
77
BAB 77. Peta Kekuatan di Meja Kantor.
78
Bab. 78. Meminta Alamat.
79
Bab. 79. Kecele
80
Bab. 80. Gosip yang mulai menyebar.
81
Bab. 81. Luapan amarah dan solusi
82
Bab 82 : Amukan sang Pecundang.
83
Bab. 83. Luka Lama yang Menolak Sembuh
84
BAB 84: Jawaban dari Masa Lalu.
85
BAB 85: Penyesalan Sang Patriarch
86
BAB 86 : Rindu dan Penyesalan yang Terlambat.
87
Bab. 87. Yakin 1.000 %
88
Bab. 88. Iba, tapi....
89
Bab. 89. Pemandangan terindah ternyata itu....
90
Bab. 90. Rintihan Axel
91
Bab. 91. Sebuah rencana
92
Bab. 92. Penawaran
93
Bab. 93. Luapan isi hati Axel
94
Bab. 94. Sebuah pelukan
95
Bab. 95. Axel yang dingin
96
Bab. 96. Benih baru yang tumbuh rahasia.
97
Bab. 97. Berfoto bersama
98
Bab. 98. Janji yang tidak bernilai
99
Bab. 99. Mulai baper
100
Bab. 100. Tugas....selesai.
101
Bab. 101. Membawa pulang.
102
Bab. 102. Saling mengancam.
103
Bab. 103. Syarat
104
104. Pecah....
105
105. Cuma gertak
106
Bab. 106. Sebuah harapan dibalik keangkuhan.
107
Bab. 107. Saham-hibah
108
Bab. 108. Ingin mempertemukan Abian dengan Adik Alpha

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!