Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Bab 1 #NEKAT

​Denting bas yang berdentum rendah dari tata suara kelas atas klab malam Heaven seolah bergetar selaras dengan detak jantung Zevanya Anneliza Sanjaya. Di bawah siraman lampu neon ultra-violet yang berganti warna dari ungu pekat ke biru safir, dunia terasa melambat. Tidak ada tumpukan buku tebal, tidak ada revisi bab tiga yang dicoret-coret tinta merah oleh dosen pembimbing, dan yang paling penting, tidak ada aturan kaku dari kediaman Sanjaya. Malam ini, gadis yang kerap di sapa dengan sebuatan Anya itu, bukan mahasiswi tingkat akhir yang tercekik tenggat waktu. Malam ini, dia adalah dirinya sendiri.

​Anya memejamkan mata sesaat, membiarkan rambut panjang kecokelatannya yang bergelombang indah terayun bebas mengikuti ritme musik house yang menghipnotis. Helai-helai rambutnya yang berkilau tampak kontras dengan kulit putih mulusnya yang tanpa noda, seolah memantulkan cahaya temaram di dalam ruangan eksklusif tersebut. Setiap gerakan tubuhnya adalah definisi dari keanggunan yang berpadu dengan keberanian. Malam ini, dia sengaja memilih mini dress ketat berwarna hitam berbahan sutra satin yang membungkus sempurna lekuk tubuh indahnya yang proporsional. Gaun itu mengekspos bahu tegasnya dan mempertegas pinggangnya yang ramping, menciptakan siluet yang membuat beberapa mata di sekitar lantai dansa tak mampu berpaling.

​Bagi Anya, gaun ini adalah simbol kemerdekaan kecil. Di rumah, papanya tidak akan pernah mengizinkannya memakai pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuh seberani ini. Namun di sini, di bawah perlindungan malam, dia merasa memegang kendali penuh atas dirinya sendiri. Bahkan sepasang heels hitam setinggi 9 sentimeter yang mengikat pergelangan kaki rampingnya sama sekali tidak mengurangi kelincahan gerakan tubuhnya. Anya bergerak dengan penuh percaya diri, seolah lantai dansa ini adalah wilayah kekuasaannya.

​"Anya! Gila, kamu seksi banget malam ini! Mikirin materi skripsi benar-benar bikin otakmu meledak ya?" teriak Alena di telinganya, berusaha mengalahkan dentuman musik yang menggelagar. Alena, gadis cantik dengan rambut pendek potongan bob dan gaun peraknya, bergerak heboh di samping Anya, memegang segelas minuman dengan tawa lepas.

​Di sisi lain, Bella yang juga tidak kalah cantik dari Anya dan Alena ikut mendekat, mengibaskan rambut hitamnya yang dikuncir kuda. "Biarkan saja! Dia sudah satu bulan mengurung diri di kamar bagai perawan tua demi skripsi sialan itu! Malam ini kita harus merayakannya!" Bella berteriak sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, ikut tenggelam dalam euforia malam.

​Anya tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar jernih bahkan di tengah kebisingan. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah kedua sahabat karibnya itu. "Lupakan tugas kampus membosankan itu! Malam ini jangan ada yang berani menyebut kata revisi atau sidang, atau aku akan mencekik kalian dengan tali tas ku!" seru Anya dengan nada bercanda, matanya berbinar jenaka.

​Untuk bisa berdiri di sini, Anya harus memutar otak dua kali lipat. Tadi sore, dengan wajah paling polos dan meyakinkan yang bisa dia pasang, dia berpamitan kepada papanya, Tito Sanjaya. Dia beralasan akan menginap di apartemen Alena untuk diskusi kelompok dan menyelesaikan bab skripsi yang tertunda. Tito Sanjaya, yang sangat menyayangi putri tunggalnya itu, langsung mengizinkan tanpa curiga, bahkan sempat mengecup kening Anya sambil berpesan agar tidak tidur terlalu larut.

​Maafkan Anya, Pa. Tapi Anya butuh napas, batinnya malam itu saat melangkah keluar rumah. Nyatanya, begitu sampai di apartemen Alena, mereka bertiga langsung berganti pakaian, memulas riasan wajah yang lebih berani, dan melesat ke Heaven, klab malam paling eksklusif yang hanya bisa dimasuki oleh kalangan tertentu.

​Anya meneguk sisa minuman manis di gelasnya, membiarkan cairan dingin itu membakar tenggorokannya dengan lembut. Dia kembali berputar, menikmati kebebasan yang sudah lama dirindukannya. Lekuk tubuhnya yang indah bergerak sensual namun tetap berkelas, memancarkan pesona magnetis yang alami.

​Namun, kesenangan Anya tidak berlangsung lama.

​Saat Anya memutar tubuhnya ke arah pintu masuk utama lantai dansa, matanya yang tajam menangkap pergerakan dua pria bertubuh tegap di dekat barisan sofa VIP bawah. Mereka mengenakan setelan jas hitam rapi yang terlalu kaku untuk suasana klab malam. Wajah mereka dingin, mata mereka bergerak waspada memindai kerumunan orang.

​Jantung Anya seketika mencelos seolah jatuh ke lantai. Musik yang berdentum keras tiba-tiba terasa senyap di telinganya.

​"Sial," umpat Anya lirih.

​Itu adalah mereka. Dua orang kepercayaan papanya, gorila-gorila kekar yang biasanya berjaga di gerbang rumah Sanjaya. Tito Sanjaya ternyata tidak sepenuhnya melepaskan pengawasannya. Papanya yang terlalu protektif itu diam-diam mengirim mata-mata untuk memastikan apakah putrinya benar-benar belajar atau justru keluyuran.

​"Anya, ada apa?" Bella menyadari perubahan drastis pada ekspresi wajah sahabatnya.

​Anya tidak menoleh, matanya tetap terpaku pada dua pengawal yang mulai berjalan membelah kerumunan, bergerak tepat ke arah lantai dansa di mana dia berada.

​"Gorila Papa," bisik Anya dengan nada panik yang tertahan. "Dua orang itu mencariku. Mereka ke sini."

​Alena dan Bella langsung menegang, ikut melirik ke arah yang ditunjuk oleh tatapan mata Anya. "Hah? Serius? Waduh, kalau kamu tertangkap, kita berdua juga bisa habis diamuk Om Tito!" bisik Alena panik.

​"Aku harus sembunyi, kalian selamatkan diri! Tunggu aku di parkiran, jangan sampai mereka melihat kalian bersamaku!" perintah Anya cepat. Tanpa menunggu jawaban dari kedua sahabatnya, Anya langsung berbalik, memanfaatkan tubuh rampingnya untuk menyelip di antara kerumunan orang yang sedang berdansa.

​Anya berjalan cepat, setengah berlari, mengabaikan rasa sakit yang mulai menggigit ujung jarinya akibat heels 9 sentimeter yang dikenakannya. Dia menoleh ke belakang sekilas dan melihat kedua pengawal itu mempercepat langkah mereka, menyadari bahwa target mereka sedang berusaha melarikan diri.

​"Aduh, lewat mana ini..." gumam Anya panik. Koridor lantai bawah terlalu terbuka. Satu-satunya jalan adalah menaiki tangga menuju area VIP lantai dua yang lebih sepi dan memiliki banyak belokan koridor privat.

​Dengan napas yang mulai memburu, Anya menaiki anak tangga satu per satu, tangannya mencengkeram pembatas besi. Gaun hitam ketatnya sedikit membatasi langkah besarnya, namun ketakutan akan tertangkap oleh pasukan papanya memberi Anya adrenalin tambahan. Begitu sampai di lantai dua, suasananya berubah drastis. Musik di sini terdengar lebih teredam, menyisakan koridor panjang berkarpet beludru merah dengan pintu-pintu kayu berukir emas, ruangan VIP eksklusif untuk para konglomerat.

​Anya menoleh ke belakang dan melihat bayangan salah satu pengawal papanya baru saja mencapai puncak tangga. Pria itu menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaannya.

​Panik dan terpojok, Anya tidak punya waktu untuk memilih. Dia meraih knop pintu terdekat yang berada di ujung koridor gelap. Beruntung, pintu itu tidak dikunci. Dengan gerakan secepat kilat, Anya menyelinap masuk dan langsung menutup kembali pintu kayu tebal itu.

Klap...

​Anya menyandarkan punggungnya pada daun pintu, mengembuskan napas panjang yang gemetar. Dadanya naik turun tidak beraturan. Dia memejamkan mata, mendengarkan dengan saksama suara dari luar. Terdengar langkah kaki berat yang melintas di depan pintu tempatnya bersembunyi, lalu perlahan menjauh. Anya mendesah lega. Untuk sementara, dia aman.

​Namun, kelegaannya hanya bertahan beberapa detik. Sebuah deham berat dan dingin memecah keheningan ruangan tersebut, membuat bulu kuduk Anya meremang.

​"Siapa yang mengizinkanmu masuk?"

​Anya tersentak dan langsung membuka matanya. Dia baru menyadari bahwa ruangan VIP ini tidak kosong. Ruangan itu cukup luas, didominasi oleh interior mewah berwarna gelap dengan pencahayaan yang sangat minim, hanya menyisakan sorot lampu temaram dari sudut ruangan.

​Di tengah ruangan, di atas sofa kulit hitam yang besar, duduk seorang pria.

​Anya terpaku sesaat. Pria itu memiliki visual yang luar biasa tampan dengan rahang tegas yang bersih tanpa jambang sedikit pun, memberikan kesan rapi, berkelas, sekaligus angkuh. Rambut hitamnya tertata rapi, dan dia mengenakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang dibiarkan terbuka, menampakkan tulang selangkanya yang kokoh. Jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya berkilau samar terkena cahaya minimalis. Aura kemapanan, kekuasaan, dan dominasi yang nyata terpancar dari setiap jengkal tubuh pria itu. Dia sedang memegang sebuah gelas kristal, menatap Anya dengan sepasang mata elang yang dingin dan menusuk.

​Bara Fernandez. Pria itu sedang menikmati ketenangannya yang terusik. Dia menatap wanita asing di depannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan Bara berhenti sejenak pada gaun hitam ketat yang mengekspos kulit putih dan lekuk tubuh indah wanita itu, lalu beralih ke wajah cantik Anya yang tampak terengah-engah.

​Bara mendengus sinis. Dia sudah terlalu sering menghadapi situasi seperti ini. Wanita-wanita cantik yang sengaja menyelinap ke ruang pribadinya, berpura-pura tersesat atau butuh pertolongan, hanya untuk menggoda dan mendekatinya demi uang dan statusnya sebagai seorang Fernandez.

​"Pergi," ucap Bara dengan suara baritonnya yang berat, terdengar mutlak dan tidak menerima bantahan. "Aku menyewa ruangan ini bukan untuk berbagi denganmu."

​Anya mengerjapkan mata, sedikit terkejut dengan sambutan dingin yang diterimanya. Biasanya, pria akan dengan senang hati menyambut kehadirannya. Namun pria di depannya ini menatapnya seolah dia adalah seonggok sampah yang mengotori ruangan indahnya.

​"Maaf, Tuan," kata Anya, berusaha mengatur suaranya agar terdengar sehalus dan sesopan mungkin, berharap pria tampan ini punya sedikit rasa iba. "Saya tidak bermaksud tidak sopan. Saya hanya butuh bersembunyi di sini sebentar saja. Ada orang yang mengejar saya di luar. Tolong, biarkan saya tinggal di sini beberapa menit saja sampai mereka pergi."

​Bara sama sekali tidak tergerak oleh wajah memelas Anya. Dia justru meletakkan gelas kristalnya ke atas meja dengan ketukan yang cukup keras, menimbulkan bunyi yang mengintimidasi di dalam keheningan.

​"Aku tidak peduli apa masalahmu di luar sana," sahut Bara dingin, matanya menatap Anya dengan tatapan merendahkan. "Trik seperti ini sudah basi. Keluar dari sini sekarang sebelum aku memanggil pihak keamanan untuk menyeretmu keluar."

​Anya menggigit bibir bawahnya. Sialan, pria ini benar-benar keras kepala dan tidak punya hati. Anya melirik ke arah pintu di belakangnya melaui celah kaca kecil yang samar. Di luar koridor, dia bisa melihat bayangan salah satu pengawal papanya kembali berjalan memutar, tampaknya curiga bahwa Anya bersembunyi di salah satu ruangan VIP.

​Jika dia keluar sekarang, dia akan langsung tertangkap. Kebebasannya akan berakhir, dia akan diseret pulang, skripsinya akan diawasi 24 jam, dan yang paling parah, dia tidak akan pernah diizinkan keluar rumah lagi oleh Tito Sanjaya.

​Anya kembali menatap Bara. Pria itu sudah meraih ponselnya, bersiap untuk menghubungi resepsionis klab untuk mengusirnya.

​Tidak. Aku tidak boleh tertangkap, batin Anya nekat. Adrenalinnya melonjak drastis, memicu sisi pemberontak di dalam dirinya yang selama ini ditekan.

​Melihat Bara yang mengabaikannya dan mulai menempelkan ponsel ke telinganya, Anya mengambil langkah besar yang berani. Dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terduga, Anya menerjang maju. Langkah kakinya yang jenjang di atas heels 9 sentimeter itu membawanya langsung ke hadapan Bara dalam hitungan detik.

​Sebelum Bara sempat bereaksi atau mengucapkan satu kata pun di ponselnya, Anya sudah menjatuhkan dirinya, naik ke atas pangkuan pria itu.

​Bara tertegun, matanya melebar sesaat karena terkejut ketika tubuh ramping dan hangat Anya tiba-tiba duduk di atas paha kokohnya. Aroma parfum yang manis dan memabukkan dari tubuh Anya langsung menyeruak, memenuhi indra penciuman Bara. Sebelum Bara sempat mendorong tubuh wanita lancang itu menjauh, Anya sudah melingkarkan kedua lengan rampingnya di sekeliling leher Bara, mengunci pergerakannya.

​Anya menatap lurus ke dalam manik mata hitam milik Bara yang sedalam lautan. "Sorry," bisik Anya lirih, tepat di depan bibir pria itu.

​Dan tanpa permisi, Anya mencondongkan wajahnya, membungkam bibir dingin pria asing itu dengan sebuah ciuman panas.

Cup...

Episodes
1 Bab 1 #NEKAT
2 Bab 2 #Ciuman Gratis
3 Bab 3 #Kabar Perjodohan
4 Bab 4 #Pemberontakan
5 Bab 05 #Takdir bercanda
6 Bab 06 #Buah Ceri yang manis
7 Bab 7 #Cincin pengikat
8 Bab 8 #Kartu As
9 Bab 9 #Terjebak
10 Bab 10 #Ungkapan yang tertahan
11 Bab 11 #Bibit Cemburu
12 Bab 12 #Terbakar
13 Bab 13 #Terkunci
14 Bab 14 #Permintaan konyol
15 Bab 15 #Menjadi pelayan pribadi
16 Bab 16 #Perangkap manis di Meja makan
17 Bab 17 #Tak sengaja menggoda
18 Bab 18 #Merusak Kemeja
19 Bab 19 #Hukuman
20 Bab 20 #Bibit cemburu
21 Bab 21 #Rencana liburan
22 Bab 22 #Siapa Melati
23 Bab 23 #Tagihan per Jam
24 Bab 24 #Ego yang tersentil
25 Bab 25 #B untuk Bara
26 Bab 26 #Penagihan Hutang
27 Bab 27 #Masuk Perangkap Serigala
28 Bab 28 #Membangunkan amarah serigala
29 Bab 29 #Kecemburuan sang serigala
30 Bab 30 #Yang Tertunda
31 Bab 31 #Ancaman Nyata
32 Bab 32 #Rencana licik
33 Bab 33 #Foto indah yang menyiksa
34 Bab 34 #Rahasia yang terungkap
35 Bab 35 #Nyonya kedua
36 Bab 36 #Debu angin laut
37 Bab 37 #Menuruti perintahnya
38 Bab 38 #Masuk ke sarang serigala
39 Bab 39 #Gigitan kecemburuan
40 Bab 40 #Harga yang harus dibayar
41 Bab 41 #Pelayanan khusus
42 Bab 42 #Terjebak
43 Bab 43 #Setelah semalam
44 Bab 44 #30 menit saja
45 Bab 45 #Mempercepat Pernikahan
46 Bab 46 #Aku Mencintai Pamanmu
47 Bab 47 #Laki-laki pengecut
48 Bab 48 #Salah paham
49 Bab 49 #Aku mencintaimu
50 Bab 50 # Tante Anya
51 Bab 51 #Putusnya ikatan Konyol
52 Bab 52 #Pergantian Status
53 Bab 53 #Persoalan status sosial
54 Bab 54 #Langkah yang baru
55 Bab 55 #Permainan si gadis manis
56 Bab 56 #Merubah penampilan si Om
57 Bab 57 #Melanggar peringatan
58 Bab 58 #Bolos Kampus
59 Bab 59 #Taktik yang gagal
60 Bab 60 #Dosen tertampan
61 Bab 61 #Baju tidur cantik
62 Bab 62 #Hadiah istimewa
63 Bab 63 #Menjadi Rajin
64 Bab 64 #Salah Paham
65 Bab 65 #Diblokir
66 Bab 66 #Ngambek
67 Bab 67 #Usaha membujuk
68 Bab 68 #Apapun untukmu
69 Bab 69 #Rencana balas budi
70 Bab 70 #rencana yang membahagiakan
71 Bab 71 #Rencana yang terlaksana
72 Bab 72 #Pertemuan keluarga
73 Bab 73 #Sikap yang tak terduga
74 Bab 74 #Kemanisan sebelum LDR
75 Bab 75 #Bayangan Masa Depan
76 Bab 76 #Nekat menyusul
77 Bab 77 #Sampai di Jerman
78 Bab 78 #Kejutan
79 Bab 79 #Membayar lunas
80 Bab 80 #Bara satu-satunya
81 Bab 81 #Ya aku mau
82 Bab 82 #Permintaan Sang Ratu Kecil
83 Bab 83 #Prewedding dadakan
84 Bab 84 #Menuju Hari Bahagia
85 Bab 85 #Kejutan di hari pengucapan Janji Suci
86 Bab 86 #Pangeran Disney dan sang Ratu
87 Bab 87 #Ngidam
88 Bab 88 #Hadiah untuk Bumil
89 Bab 89 #Tidak berhenti makan
90 Bab 90 #Air mata Bumil
91 Bab 91 #Skakmat
92 Bab 92 #Keinginan princess
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Bab 1 #NEKAT
2
Bab 2 #Ciuman Gratis
3
Bab 3 #Kabar Perjodohan
4
Bab 4 #Pemberontakan
5
Bab 05 #Takdir bercanda
6
Bab 06 #Buah Ceri yang manis
7
Bab 7 #Cincin pengikat
8
Bab 8 #Kartu As
9
Bab 9 #Terjebak
10
Bab 10 #Ungkapan yang tertahan
11
Bab 11 #Bibit Cemburu
12
Bab 12 #Terbakar
13
Bab 13 #Terkunci
14
Bab 14 #Permintaan konyol
15
Bab 15 #Menjadi pelayan pribadi
16
Bab 16 #Perangkap manis di Meja makan
17
Bab 17 #Tak sengaja menggoda
18
Bab 18 #Merusak Kemeja
19
Bab 19 #Hukuman
20
Bab 20 #Bibit cemburu
21
Bab 21 #Rencana liburan
22
Bab 22 #Siapa Melati
23
Bab 23 #Tagihan per Jam
24
Bab 24 #Ego yang tersentil
25
Bab 25 #B untuk Bara
26
Bab 26 #Penagihan Hutang
27
Bab 27 #Masuk Perangkap Serigala
28
Bab 28 #Membangunkan amarah serigala
29
Bab 29 #Kecemburuan sang serigala
30
Bab 30 #Yang Tertunda
31
Bab 31 #Ancaman Nyata
32
Bab 32 #Rencana licik
33
Bab 33 #Foto indah yang menyiksa
34
Bab 34 #Rahasia yang terungkap
35
Bab 35 #Nyonya kedua
36
Bab 36 #Debu angin laut
37
Bab 37 #Menuruti perintahnya
38
Bab 38 #Masuk ke sarang serigala
39
Bab 39 #Gigitan kecemburuan
40
Bab 40 #Harga yang harus dibayar
41
Bab 41 #Pelayanan khusus
42
Bab 42 #Terjebak
43
Bab 43 #Setelah semalam
44
Bab 44 #30 menit saja
45
Bab 45 #Mempercepat Pernikahan
46
Bab 46 #Aku Mencintai Pamanmu
47
Bab 47 #Laki-laki pengecut
48
Bab 48 #Salah paham
49
Bab 49 #Aku mencintaimu
50
Bab 50 # Tante Anya
51
Bab 51 #Putusnya ikatan Konyol
52
Bab 52 #Pergantian Status
53
Bab 53 #Persoalan status sosial
54
Bab 54 #Langkah yang baru
55
Bab 55 #Permainan si gadis manis
56
Bab 56 #Merubah penampilan si Om
57
Bab 57 #Melanggar peringatan
58
Bab 58 #Bolos Kampus
59
Bab 59 #Taktik yang gagal
60
Bab 60 #Dosen tertampan
61
Bab 61 #Baju tidur cantik
62
Bab 62 #Hadiah istimewa
63
Bab 63 #Menjadi Rajin
64
Bab 64 #Salah Paham
65
Bab 65 #Diblokir
66
Bab 66 #Ngambek
67
Bab 67 #Usaha membujuk
68
Bab 68 #Apapun untukmu
69
Bab 69 #Rencana balas budi
70
Bab 70 #rencana yang membahagiakan
71
Bab 71 #Rencana yang terlaksana
72
Bab 72 #Pertemuan keluarga
73
Bab 73 #Sikap yang tak terduga
74
Bab 74 #Kemanisan sebelum LDR
75
Bab 75 #Bayangan Masa Depan
76
Bab 76 #Nekat menyusul
77
Bab 77 #Sampai di Jerman
78
Bab 78 #Kejutan
79
Bab 79 #Membayar lunas
80
Bab 80 #Bara satu-satunya
81
Bab 81 #Ya aku mau
82
Bab 82 #Permintaan Sang Ratu Kecil
83
Bab 83 #Prewedding dadakan
84
Bab 84 #Menuju Hari Bahagia
85
Bab 85 #Kejutan di hari pengucapan Janji Suci
86
Bab 86 #Pangeran Disney dan sang Ratu
87
Bab 87 #Ngidam
88
Bab 88 #Hadiah untuk Bumil
89
Bab 89 #Tidak berhenti makan
90
Bab 90 #Air mata Bumil
91
Bab 91 #Skakmat
92
Bab 92 #Keinginan princess

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!