Bab 2: Teknik yang Tak Ada di Buku

Lin Mo bergegas pulang dengan langkah tertatih, memeluk batu hitam itu erat di dadanya seolah takut ia akan menghilang. Begitu masuk ke dalam gubuk yang sepi, ia menutup pintu kayu rapat-rapat, lalu duduk bersandar di dinding, napasnya masih terengah karena campuran rasa sakit dan keheranan.

Batu hitam di tangannya kini tidak lagi kusam. Permukaannya memancarkan cahaya gelap samar, berdenyut perlahan seolah memiliki detak jantung sendiri. Setiap kali ia berdenyut, aliran hangat menyebar dari telapak tangan ke seluruh tubuhnya, menyembuhkan luka memar dan rasa nyeri di tulang yang ia rasakan sejak tadi.

"Apa kau... benar-benar berbicara padaku?" bisik Lin Mo pelan.

Batu itu tidak menjawab dengan suara lantang, namun gambaran samar mulai muncul di benaknya—sebuah pola pernapasan yang sama sekali berbeda dari teknik dasar yang diajarkan di desa. Teknik desa menyuruh menarik energi dari langit ke bawah, memusatkannya di dada; sedangkan pola ini menyuruh menurunkan kesadaran hingga ke telapak kaki, merasakan tanah di bawah, lalu menarik kekuatan perlahan dari dalam bumi itu sendiri.

"Jalan Inti adalah jalan meniru cahaya," suara samar itu kembali terdengar. "Tapi cahaya bisa padam, bisa tertutup awan. Jalan Akar adalah jalan menyatu dengan sumber kehidupan. Ia tidak terburu-buru, tidak bersinar terang, tapi tidak akan pernah putus selama bumi masih ada."

Lin Mo menelan ludah. Selama ini ia selalu gagal berlatih karena memaksakan cara orang lain. Mungkin... inilah caranya sendiri.

Ia menutup mata, meniru pola yang muncul di benaknya. Alih-alih memusatkan perhatian ke dada, ia merentangkan kesadarannya turun ke bawah kakinya. Perlahan, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: getaran halus dari tanah, rasa dingin yang lembap dari akar rumput, dan aliran kekuatan yang tenang namun padat di bawah lapisan tanah keras.

Ia tidak "menarik" paksa seperti yang diajarkan guru. Ia hanya membuka dirinya, membiarkan kekuatan itu masuk dengan sendirinya, menyusup perlahan ke dalam pori-pori, ke dalam pembuluh darah, hingga akhirnya berkumpul di perut bagian bawah—bukan membentuk inti bulat, melainkan menyebar seperti jaring halus yang terus memanjang.

Satu jam berlalu. Dua jam.

Biasanya setelah berlatih seperempat jam saja, tubuhnya akan terasa sakit dan mual. Namun kali ini, semakin lama ia berlatih, tubuhnya justru terasa semakin ringan dan segar. Kulitnya yang kasar mulai tampak lebih halus, dan luka di sudut bibirnya sudah kering sempurna.

Saat ia membuka mata, hari sudah mulai gelap. Ia mengepalkan tangannya—ia merasakan kekuatan yang jauh lebih berat dan kokoh dari sebelumnya, seolah setiap gerakannya kini ditopang oleh tanah itu sendiri.

"Ini berhasil!" serunya pelan, matanya berbinar penuh harap.

Namun ia sadar betul hal ini tidak boleh diketahui orang lain. Jika desa tahu ia memegang benda aneh dan berlatih teknik terlarang, mereka pasti akan menganggapnya pembawa sial dan membakarnya bersama gubuk ini. Ia menyembunyikan batu hitam itu di lantai bawah tanah yang ia gali sendiri di sudut ruangan, lalu menutupnya kembali dengan papan kayu.

Keesokan harinya, Lin Mo tetap bekerja seperti biasa. Ia mengangkut air dari sungai sejauh dua li ke rumah-rumah warga, memotong kayu untuk dapur desa, dan membantu memindahkan batu untuk pembangunan tembok baru. Bedanya kini: setiap kali ia bekerja, ia diam-diam menjalankan teknik pernapasan Akar.

Saat mengangkat ember air yang berat, ia tidak lagi merasa tulangnya terasa remuk. Saat berjalan jauh, napasnya tidak lagi tersengal. Bahkan saat ia tanpa sengaja menabrak batang pohon keras, bahunya hanya terasa sedikit kesemutan, tidak lagi memar berhari-hari.

Siang itu, saat ia sedang beristirahat di bawah pohon besar, Zhang Hao dan dua temannya lewat. Melihat Lin Mo yang duduk tenang tanpa keringat bercucuran padahal keranjang kayunya masih penuh, Zhang Hao langsung cemberut.

"Hei sampah! Kau malah bersantai di sini? Pekerjaanmu belum selesai!" bentaknya sambil menendang keranjang kayu itu lagi.

Kali ini Lin Mo tidak langsung menunduk. Ia menatap Zhang Hao tenang. "Jangan menendang barang orang lain. Itu tidak sopan."

Zhang Hao tertegun sejenak, lalu tertawa marah. "Berani kau menantangku? Sekarang kau cari mati!" Ia mengepalkan tangan, aliran energi api merah samar melilit kepalan tangannya—hasil latihan setahun yang membuatnya bangga. Ia langsung menerjang ke arah Lin Mo.

Biasanya Lin Mo hanya bisa memejamkan mata dan menahan pukulan. Namun kali ini, saat tinju itu hampir menyentuh wajahnya, ia secara naluriah sedikit menggeser tubuh, lalu mengangkat tangan kanannya perlahan.

Duk!

Suara tumpul terdengar. Kepalan tangan Zhang Hao menghantam telapak tangan Lin Mo.

Yang mengejutkan: bukannya Lin Mo terlempar, Zhang Hao justru mundur dua langkah sambil meringis kesakitan. Kepalan tangannya terasa seolah menghantam batu karang yang tertanam di tanah.

"Kau... apa yang kau lakukan?!" seru Zhang Hao kaget. Ia tidak percaya anak berinti kacau bisa menahan pukulannya tanpa bergerak sedikit pun.

"Hanya berdiri tegak," jawab Lin Mo singkat. Ia tidak ingin berkelahi, tapi ia juga tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak lagi tanpa alasan.

Dua teman Zhang Hao hendak ikut menyerang, tapi tiba-tiba terdengar suara panggilan dari kejauhan. Guru latihan desa sedang mencari mereka. Mereka terpaksa melotot dulu pada Lin Mo sebelum akhirnya berlari pergi.

Saat mereka menghilang, Lin Mo baru menghela napas panjang. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Kekuatan ini masih sangat kecil—baru sekadar tahap Menanam Akar tingkat awal, seperti yang dijelaskan suara dalam batu itu. Tapi ia sudah bisa merasakan perbedaannya yang sangat jauh.

Ia tidak akan mengejar kecepatan atau kilau seperti orang lain. Ia akan tumbuh perlahan, menembus lapisan demi lapisan tanah yang keras, menyimpan setiap tetes kekuatan dengan kokoh. Suatu hari nanti, saat akarnya sudah cukup dalam, ia akan menjulang tinggi hingga tidak ada yang berani menatapnya dari bawah.

Sore itu, Lin Mo kembali ke gubuk dengan semangat baru. Ia tahu jalan di depannya masih sangat panjang dan penuh rintangan—sekte besar, aturan dunia, bahkan mungkin rahasia gelap yang menyembunyikan jalan kuno ini. Tapi ia tidak lagi takut.

Karena ia kini memegang kunci yang selama ribuan tahun terlupakan. Dan akar yang baru saja ia tanam, tidak akan pernah mudah dicabut.

 

Episodes
1 Bab 1: Inti yang Tak Bisa Menyerap
2 Bab 2: Teknik yang Tak Ada di Buku
3 Bab 3: Tantangan Lapisan Batu
4 Bab 4: Keputusan Pergi
5 Bab 5: Gerbang Kota yang Menindas
6 Bab 6: Ujian Akademi yang Menipu
7 Bab 7: Teknik yang Diejek
8 Bab 8: Hutan Batu yang Terlarang
9 Bab 9: Altar Warisan Purba
10 Bab 10: Kabar yang Mengejutkan
11 Bab 11: Tantangan di Arena Batu
12 Bab 12: Tekanan Sejuta Jin
13 Bab 13: Persekutuan Baru
14 Bab 14: Jejak di Pegunungan Kabut
15 Bab 15: Lembah yang Terkepung
16 Bab 16: Pintu Menuju Wilayah Tengah
17 Bab 17: Tanah yang Terlupakan
18 Bab 18: Langit Tanpa Fondasi
19 Bab 19: Jejak Orang Tua
20 Bab 20: Di Bawah Istana Mengambang
21 Bab 21: Akar yang Menembus Langit
22 Bab 22: Pintu ke Benua Lain
23 Bab 23: Penjaga Samudra
24 Bab 24: Tanah yang Terbelah Dua
25 Bab 25: Pusat Retakan
26 Bab 26: Menyatukan Segel Dunia
27 Bab 27: Jembatan Dua Benua
28 Bab 28: Panggilan dari Utara Jauh
29 Bab 29: Darah dari Akar Pertama
30 Bab 30: Pintu Asal Mula
31 Bab 31: Jaringan Seluruh Dunia
32 Bab 32: Pertahanan Ujung Dunia
33 Bab 33: Menanam Masa Depan
34 Bab 34: Jejak yang Tak Terhapus
35 Bab 35: Pohon yang Menyentuh Bintang
36 Bab 36: Di Bawah Akar yang Sama
37 Bab 37: Warisan yang Tak Pernah Berakhir
38 Bab 38: Suara dari Dunia Lain
39 Bab 39: Hukum Pohon Semesta
40 Bab 40: Jejak di Kabut Waktu
41 Bab 41: Suara dari Akar Terdalam
42 Bab 42: Benih yang Dikirim Balik
43 Bab 43: Badai dari Kekosongan
44 Bab 44: Peta Ribuan Akar
45 Bab 45: Hutan yang Menjadi Satu
46 Bab 46: Benih yang Terbawa Angin
47 Bab 47: Penjaga Tanpa Batas
48 Bab 48: Pohon yang Tak Pernah Tua
49 Bab 49: Langkah yang Tak Pernah Sama
50 Bab 50: Cahaya yang Tak Pernah Menyilaukan
51 Bab 51: Rumah yang Tak Berpintu
52 Bab 52: Jejak yang Tak Hilang
53 Bab 53: Lagu yang Dinyanyikan Bersama
54 Bab 54: Benih di Telapak Tangan
55 Bab 55: Jejak di Tanah yang Lupa Namanya
56 Bab 56: Jalan yang Bercabang Tiga
57 Bab 57: Dunia yang Menjadi Buku
58 Bab 58: Gunung yang Tak Ingin Tertinggi
59 Bab 59: Bayangan yang Ingin Memeluk
60 Bab 60: Laut yang Tak Punya Tepi
61 Bab 61: Seni Menerima yang Tak Sempurna
62 Bab 62: Jembatan yang Tak Punya Ujung
63 Bab 63: Pohon yang Menyimpan Hujan
64 Bab 64: Cahaya yang Berjalan Beriringan
65 Bab 65: Sungai yang Tak Ingkar Asal
66 Bab 66: Teman yang Tak Harus Sama
67 Bab 67: Batu yang Tak Ingin Bergeser
68 Bab 68: Langit yang Tak Memiliki Atap
69 Bab 69: Jejak yang Tak Perlu Dihapus
70 Bab 70: Rumput yang Tak Menyerah
71 Bab 71: Satu Kata yang Terlupakan
72 Bab 72: Cahaya yang Tak Membutuhkan Tepuk Tangan
73 Bab 73: Batu yang Menjadi Bantal
74 Bab 74: Jalan yang Tak Pernah Sama Dua Kali
75 Bab 75: Bayangan yang Melindungi Matahari
76 Bab 76: Jalan yang Ditemukan Bersama
77 Bab 77: Daun yang Tak Menyesal Gugur
78 Bab 78: Suara yang Tak Perlu Teriak
79 Bab 79: Pintu yang Tak Dikunci
80 Bab 80: Jejak yang Tak Hilang
81 Bab 81: Akar yang Tak Menyerah
82 Bab 82: Cahaya yang Tak Membakar
83 Bab 83: Sungai yang Tak Memaksa Bentuk
84 Bab 84: Bunga yang Tak Iri pada Pohon
85 bab 85:hujan yang tak memilih tanah
86 Bab 86: Bayangan yang Tak Pernah Sendirian
87 Bab 87: Biji yang Tak Takut Terkubur
88 Bab 88: Jalan yang Tak Meminta Kamu Sempurna
89 Bab 89: Rumah yang Tak Memiliki Pintu Depan
90 Bab 90: Cahaya yang Tak Lupa Asalnya
91 Bab 91: Daun yang Menjadi Rumah
92 Bab 92: Suara yang Didengar Hutan
93 Bab 93: Batu yang Menjadi Pulau
94 Bab 94: Langit yang Tak Pernah Menutup
95 Bab 95: Pasir yang Tak Menghitung Diri
96 Bab 96: Bintang yang Tak Bersaing
97 Bab 97: Akar yang Tak Ingin Dilihat
98 Bab 98: Angin yang Tak Pernah Memiliki
99 Bab 99: Bumi yang Tak Pernah Mengeluh
100 Bab 100: Akar yang Menembus Langit
101 Bab 101: Benih yang Tak Bisa Disimpan
102 Bab 102: Tembok yang Memisahkan Desa
103 Bab 103: Jalan yang Tumbuh dari Langkah
104 Bab 104: Lembah yang Melupakan Cahaya
105 Bab 105: Air yang Tak Menolak Rendah
106 Bab 106: Batu yang Diam Menunggu
107 Bab 107: Cahaya yang Tak Mencari Pujian
108 Bab 108: Jejak yang Tak Tertinggal
109 Bab 109: Jembatan yang Tak Memiliki Tepi
110 Bab 110: Akar yang Menembus Langit
111 Bab 111: Benih yang Kembali ke Tanah
112 Bab 112: Cerita yang Tak Pernah Selesai
113 Bab 113: Satu Langkah Lagi
114 Bab 114: Rumah yang Ada di Dalam Diri
115 Bab 115: Dua Tangan yang Sama Tinggi
116 Bab 116: Benih yang Tumbuh Bersama
117 Bab 117: Jalan yang Sama Lebarnya
118 Bab 118: Bayang yang Tak Lagi Menghantui
119 Bab 119: Biji yang Menjadi Hutan
120 Bab 120: Kabar yang Terbang Seperti Angin
121 Bab 121: Singgasana yang Tak Terbuat dari Batu
122 Bab 122: Jalan yang Dilalui Bersama
123 Bab 123: Bayangan yang Menjadi Cahaya
124 Bab 124: Jejak yang Tak Terhapus Langkah
125 Bab 125: Benang yang Menyambung Jarak
126 Bab 126: Cahaya yang Sama Sumbernya
127 Bab 127: Musim yang Silih Berganti
128 Bab 128: Mata Air yang Tak Pernah Kering
129 Bab 129: Kaki yang Tak Pernah Lelah Melangkah
130 Bab 130: Jejak yang Membentuk Jalan
131 Bab 130: Jejak yang Membentuk Jalan
Episodes

Updated 131 Episodes

1
Bab 1: Inti yang Tak Bisa Menyerap
2
Bab 2: Teknik yang Tak Ada di Buku
3
Bab 3: Tantangan Lapisan Batu
4
Bab 4: Keputusan Pergi
5
Bab 5: Gerbang Kota yang Menindas
6
Bab 6: Ujian Akademi yang Menipu
7
Bab 7: Teknik yang Diejek
8
Bab 8: Hutan Batu yang Terlarang
9
Bab 9: Altar Warisan Purba
10
Bab 10: Kabar yang Mengejutkan
11
Bab 11: Tantangan di Arena Batu
12
Bab 12: Tekanan Sejuta Jin
13
Bab 13: Persekutuan Baru
14
Bab 14: Jejak di Pegunungan Kabut
15
Bab 15: Lembah yang Terkepung
16
Bab 16: Pintu Menuju Wilayah Tengah
17
Bab 17: Tanah yang Terlupakan
18
Bab 18: Langit Tanpa Fondasi
19
Bab 19: Jejak Orang Tua
20
Bab 20: Di Bawah Istana Mengambang
21
Bab 21: Akar yang Menembus Langit
22
Bab 22: Pintu ke Benua Lain
23
Bab 23: Penjaga Samudra
24
Bab 24: Tanah yang Terbelah Dua
25
Bab 25: Pusat Retakan
26
Bab 26: Menyatukan Segel Dunia
27
Bab 27: Jembatan Dua Benua
28
Bab 28: Panggilan dari Utara Jauh
29
Bab 29: Darah dari Akar Pertama
30
Bab 30: Pintu Asal Mula
31
Bab 31: Jaringan Seluruh Dunia
32
Bab 32: Pertahanan Ujung Dunia
33
Bab 33: Menanam Masa Depan
34
Bab 34: Jejak yang Tak Terhapus
35
Bab 35: Pohon yang Menyentuh Bintang
36
Bab 36: Di Bawah Akar yang Sama
37
Bab 37: Warisan yang Tak Pernah Berakhir
38
Bab 38: Suara dari Dunia Lain
39
Bab 39: Hukum Pohon Semesta
40
Bab 40: Jejak di Kabut Waktu
41
Bab 41: Suara dari Akar Terdalam
42
Bab 42: Benih yang Dikirim Balik
43
Bab 43: Badai dari Kekosongan
44
Bab 44: Peta Ribuan Akar
45
Bab 45: Hutan yang Menjadi Satu
46
Bab 46: Benih yang Terbawa Angin
47
Bab 47: Penjaga Tanpa Batas
48
Bab 48: Pohon yang Tak Pernah Tua
49
Bab 49: Langkah yang Tak Pernah Sama
50
Bab 50: Cahaya yang Tak Pernah Menyilaukan
51
Bab 51: Rumah yang Tak Berpintu
52
Bab 52: Jejak yang Tak Hilang
53
Bab 53: Lagu yang Dinyanyikan Bersama
54
Bab 54: Benih di Telapak Tangan
55
Bab 55: Jejak di Tanah yang Lupa Namanya
56
Bab 56: Jalan yang Bercabang Tiga
57
Bab 57: Dunia yang Menjadi Buku
58
Bab 58: Gunung yang Tak Ingin Tertinggi
59
Bab 59: Bayangan yang Ingin Memeluk
60
Bab 60: Laut yang Tak Punya Tepi
61
Bab 61: Seni Menerima yang Tak Sempurna
62
Bab 62: Jembatan yang Tak Punya Ujung
63
Bab 63: Pohon yang Menyimpan Hujan
64
Bab 64: Cahaya yang Berjalan Beriringan
65
Bab 65: Sungai yang Tak Ingkar Asal
66
Bab 66: Teman yang Tak Harus Sama
67
Bab 67: Batu yang Tak Ingin Bergeser
68
Bab 68: Langit yang Tak Memiliki Atap
69
Bab 69: Jejak yang Tak Perlu Dihapus
70
Bab 70: Rumput yang Tak Menyerah
71
Bab 71: Satu Kata yang Terlupakan
72
Bab 72: Cahaya yang Tak Membutuhkan Tepuk Tangan
73
Bab 73: Batu yang Menjadi Bantal
74
Bab 74: Jalan yang Tak Pernah Sama Dua Kali
75
Bab 75: Bayangan yang Melindungi Matahari
76
Bab 76: Jalan yang Ditemukan Bersama
77
Bab 77: Daun yang Tak Menyesal Gugur
78
Bab 78: Suara yang Tak Perlu Teriak
79
Bab 79: Pintu yang Tak Dikunci
80
Bab 80: Jejak yang Tak Hilang
81
Bab 81: Akar yang Tak Menyerah
82
Bab 82: Cahaya yang Tak Membakar
83
Bab 83: Sungai yang Tak Memaksa Bentuk
84
Bab 84: Bunga yang Tak Iri pada Pohon
85
bab 85:hujan yang tak memilih tanah
86
Bab 86: Bayangan yang Tak Pernah Sendirian
87
Bab 87: Biji yang Tak Takut Terkubur
88
Bab 88: Jalan yang Tak Meminta Kamu Sempurna
89
Bab 89: Rumah yang Tak Memiliki Pintu Depan
90
Bab 90: Cahaya yang Tak Lupa Asalnya
91
Bab 91: Daun yang Menjadi Rumah
92
Bab 92: Suara yang Didengar Hutan
93
Bab 93: Batu yang Menjadi Pulau
94
Bab 94: Langit yang Tak Pernah Menutup
95
Bab 95: Pasir yang Tak Menghitung Diri
96
Bab 96: Bintang yang Tak Bersaing
97
Bab 97: Akar yang Tak Ingin Dilihat
98
Bab 98: Angin yang Tak Pernah Memiliki
99
Bab 99: Bumi yang Tak Pernah Mengeluh
100
Bab 100: Akar yang Menembus Langit
101
Bab 101: Benih yang Tak Bisa Disimpan
102
Bab 102: Tembok yang Memisahkan Desa
103
Bab 103: Jalan yang Tumbuh dari Langkah
104
Bab 104: Lembah yang Melupakan Cahaya
105
Bab 105: Air yang Tak Menolak Rendah
106
Bab 106: Batu yang Diam Menunggu
107
Bab 107: Cahaya yang Tak Mencari Pujian
108
Bab 108: Jejak yang Tak Tertinggal
109
Bab 109: Jembatan yang Tak Memiliki Tepi
110
Bab 110: Akar yang Menembus Langit
111
Bab 111: Benih yang Kembali ke Tanah
112
Bab 112: Cerita yang Tak Pernah Selesai
113
Bab 113: Satu Langkah Lagi
114
Bab 114: Rumah yang Ada di Dalam Diri
115
Bab 115: Dua Tangan yang Sama Tinggi
116
Bab 116: Benih yang Tumbuh Bersama
117
Bab 117: Jalan yang Sama Lebarnya
118
Bab 118: Bayang yang Tak Lagi Menghantui
119
Bab 119: Biji yang Menjadi Hutan
120
Bab 120: Kabar yang Terbang Seperti Angin
121
Bab 121: Singgasana yang Tak Terbuat dari Batu
122
Bab 122: Jalan yang Dilalui Bersama
123
Bab 123: Bayangan yang Menjadi Cahaya
124
Bab 124: Jejak yang Tak Terhapus Langkah
125
Bab 125: Benang yang Menyambung Jarak
126
Bab 126: Cahaya yang Sama Sumbernya
127
Bab 127: Musim yang Silih Berganti
128
Bab 128: Mata Air yang Tak Pernah Kering
129
Bab 129: Kaki yang Tak Pernah Lelah Melangkah
130
Bab 130: Jejak yang Membentuk Jalan
131
Bab 130: Jejak yang Membentuk Jalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!