Bab 4: Keputusan Pergi

Keesokan paginya, berita tentang Lin Mo yang mengangkat batu seberat lima ratus jin hingga ke puncak bukit menyebar ke seluruh penjuru desa. Tidak ada lagi yang menertawakan atau menghinanya secara terang-terangan. Namun keheningan itu bukan karena hormat—sebagian besar orang justru merasa curiga dan takut.

Di balai desa, Kepala Desa yang berwajah serius memanggilnya. Ruangan itu sunyi, hanya ada suara gesekan jari Kepala Desa di atas meja kayu tua.

"Lin Mo," ucapnya pelan namun tegas. "Aku tahu kau anak yang baik. Tapi apa yang kau lakukan itu... tidak wajar. Tidak ada orang berinti kacau yang bisa mengangkat beban seberat itu dalam waktu singkat. Apakah kau mempelajari teknik terlarang?"

Lin Mo menunduk sejenak, lalu menjawab jujur: "Aku hanya melatih tubuhku sekuat tenaga, Kakek. Tidak ada teknik aneh."

Kepala Desa menghela napas panjang. "Aku ingin percaya. Tapi kau tahu aturan di wilayah ini. Setiap orang yang berlatih di luar ajaran resmi Sekte Akar Batu akan dianggap pembawa bahaya. Jika hal ini sampai terdengar ke telinga pengawas kota, mereka tidak akan segan membawamu pergi untuk diperiksa—dan kau tahu sendiri betapa kejamnya cara mereka."

Ia menatap Lin Mo dengan tatapan sedih namun sungguh-sungguh. "Desa ini terlalu kecil untukmu. Dan sekaligus... desa ini terlalu rapuh untuk menahan masalah yang mungkin datang bersamamu. Lebih baik kau pergi ke Kota Batu Tengah. Di sana ada akademi yang menerima murid dari berbagai latar belakang, dan mungkin kau bisa menemukan jawaban yang kau cari."

Kata-kata itu seperti pukulan lembut namun berat. Lin Mo tahu Kepala Desa berkata benar. Ia tidak ingin masalah yang ia bawa menimpa warga desa yang sudah membesarkannya.

"Baik," jawab Lin Mo mantap akhirnya. "Aku akan pergi."

Sore itu, Lin Mo berkemas. Ia tidak membawa banyak barang: sepasang baju ganti, sedikit beras, uang koin tembaga yang ia tabung selama setahun, dan tentu saja batu hitam peninggalan orang tuanya yang disimpan rapat di dalam kantong kain.

Saat ia berjalan menuju gerbang desa, seseorang berlari mengejarnya. Itu Qing Shan—anak tukang kayu yang selalu bersikap baik padanya. Wajahnya merah padam karena terengah.

"Kau benar-benar mau pergi sendirian?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca. "Jalan ke Kota Batu Tengah berbahaya, ada perampok dan binatang buas!"

Lin Mo tersenyum tipis, menepuk bahu temannya itu. "Aku harus pergi. Aku tidak bisa selamanya bersembunyi di sini. Dan aku berjanji... suatu hari nanti aku akan kembali, dengan mengetahui kebenaran tentang orang tuaku."

Qing Shan mengangguk kuat, lalu menyodorkan sebilah belati kayu yang sudah dihaluskan dengan indah. "Ini buatan ayahku. Tidak sekuat senjata besi, tapi cukup untuk menangkis serangan kecil. Jaga dirimu baik-baik."

Lin Mo menerima belati itu dengan hati terharu. "Terima kasih. Jaga desa ini sampai aku kembali."

Ia melangkah keluar dari gerbang Desa Akar Kering, tidak menoleh ke belakang. Di dadanya tidak ada kesedihan, melainkan tekad yang semakin mengeras seperti batu.

Perjalanan menuju Kota Batu Tengah memakan waktu setidaknya sepuluh hari berjalan kaki. Jalanannya berliku, melewati hutan lebat dan bukit berbatu. Di sepanjang jalan, Lin Mo tidak menyia-nyiakan waktu. Setiap kali berhenti beristirahat, ia melatih teknik pernapasan akar, membiarkan kesadarannya menyusup ke tanah di sekitarnya, merasakan aliran energi yang berbeda di setiap tempat.

Ia menyadari satu hal menarik: di tanah yang tandus dan keras, kekuatannya tumbuh lebih lambat namun lebih padat; di tanah yang subur dan lembap, kekuatannya menyebar lebih luas namun lebih lunak. Seperti akar sungguhan, ia harus menyesuaikan diri dengan apa pun yang ada di depannya.

Pada hari kelima, saat ia sedang melewati hutan pinus yang gelap, suara rintihan terdengar dari balik semak-semak. Lin Mo berhati-hati mendekat, dan melihat seorang pedagang tua tergeletak di tanah, kakinya terluka parah, sementara barang-barang dagangannya berserakan di tanah.

"Tuan! Apa yang terjadi?" tanya Lin Mo segera berlari mendekat.

Pedagang tua itu tersenyum pahit. "Perampok... baru saja merampok uang dan barang berhargaku. Mereka mematahkan kakiku agar aku tidak bisa mengejar."

Lin Mo tidak ragu. Ia segera merobek bagian bajunya untuk membalut luka kaki pedagang itu, lalu menyalurkan sedikit kekuatan akar yang lembut untuk mengurangi rasa sakitnya.

"Terima kasih, anak muda," kata pedagang itu berterima kasih. "Namaku Pak He. Aku berniat ke Kota Batu Tengah untuk menjual obat-obatan. Jika kau juga ke sana, bolehkah aku ikut berjalan bersamamu? Aku tahu jalan persembunyian di hutan ini yang bisa mempersingkat waktu."

"Tentu saja," jawab Lin Mo setuju.

Bersama Pak He, perjalanan menjadi lebih ringan. Pak He menceritakan banyak hal tentang Kota Batu Tengah: tentang persaingan ketat di Akademi Batu Langit, tentang kekuasaan Keluarga Meng yang menguasai sebagian besar kota, dan tentang kabar aneh yang belakangan ini terjadi—banyak orang yang mencari benda kuno berwarna hitam di pegunungan sekitar.

Mendengar hal itu, Lin Mo menyembunyikan batu hitam di pelukannya lebih rapat lagi. Tampaknya benda ini bukan sekadar peninggalan biasa, dan ada orang lain yang juga mengincarnya.

Sore harinya, saat mereka berjalan menyusuri jalan tersembunyi di antara tebing, lima orang bertopeng tiba-tiba meloncat menghadang jalan. Mereka memegang senjata tajam, matanya tajam menatap Lin Mo dan Pak He.

"Ternyata ada teman baru," ucap pemimpin perampok dengan suara serak. "Serahkan semua barang dan uang kalian, atau jangan salahkan kami jika berdarah-darah!"

Pak He gemetar ketakutan, menyembunyikan diri di belakang Lin Mo. Lin Mo justru melangkah maju satu langkah, berdiri tegak menghadang mereka.

"Kalian sudah merampok orang tua ini sekali. Jangan serakah," ucapnya tenang.

Perampok itu tertawa keras. "Anak kecil berani mengajari kami? Hajar dia!"

Dua orang berlari maju, parang diayunkan mengarah ke bahu Lin Mo. Lin Mo tidak mencabut belatinya. Ia hanya menggeser tubuh sedikit, menangkis gagang parang dengan lengannya.

Duk!

Perampok itu terkejut—rasanya seperti menghantam dinding batu. Saat mereka hendak menarik senjatanya kembali, Lin Mo sudah menginjak kaki mereka dengan tenaga berat. Tanpa banyak gerakan, ia menjatuhkan keduanya ke tanah dengan lembut namun tak bisa bergerak.

Pemimpin perampok mengerutkan kening, menyadari bahwa anak muda di hadapannya tidak biasa. Ia memberi isyarat, dan ketiga temannya menyerang serentak dari tiga arah berbeda.

Lin Mo memejamkan mata sejenak. Ia merasakan tanah di bawah kakinya seolah menjadi perpanjangan tubuhnya. Setiap gerakan lawan terasa lambat dan jelas. Ia berputar perlahan, menepuk bahu, menendang perut, dan menekan lengan—setiap sentuhan tepat sasaran, menggunakan berat tubuh dan kekuatan bumi, bukan sekadar tenaga kasar.

Kurang dari sepuluh tarikan napas, kelima perampok sudah terbaring di tanah, tidak berdaya namun tidak terluka parah.

"Pergilah," kata Lin Mo singkat. "Jangan lagi merampok orang yang lemah. Jika aku melihat kalian lagi, aku tidak akan sebaik ini."

Perampok itu ketakutan setengah mati, bangkit serempak lalu lari secepat mungkin meninggalkan hutan itu.

Pak He menatap Lin Mo dengan mata terbelalak kagum. "Anak muda... kekuatanmu itu bukan milik orang biasa. Kau pasti akan mencapai hal besar di kota nanti."

Lin Mo hanya tersenyum. Ia tahu ini baru permulaan. Kota Batu Tengah pasti jauh lebih rumit dan berbahaya daripada desa maupun hutan ini. Tapi ia sudah siap. Karena akarnya sudah tertanam kuat, badai sebesar apa pun tidak akan membuatnya tumbang.

Di kejauhan, tembok tinggi Kota Batu Tengah mulai terlihat samar di balik kabut pagi esok hari. Tujuan akhirnya sudah di depan mata.

 

Episodes
1 Bab 1: Inti yang Tak Bisa Menyerap
2 Bab 2: Teknik yang Tak Ada di Buku
3 Bab 3: Tantangan Lapisan Batu
4 Bab 4: Keputusan Pergi
5 Bab 5: Gerbang Kota yang Menindas
6 Bab 6: Ujian Akademi yang Menipu
7 Bab 7: Teknik yang Diejek
8 Bab 8: Hutan Batu yang Terlarang
9 Bab 9: Altar Warisan Purba
10 Bab 10: Kabar yang Mengejutkan
11 Bab 11: Tantangan di Arena Batu
12 Bab 12: Tekanan Sejuta Jin
13 Bab 13: Persekutuan Baru
14 Bab 14: Jejak di Pegunungan Kabut
15 Bab 15: Lembah yang Terkepung
16 Bab 16: Pintu Menuju Wilayah Tengah
17 Bab 17: Tanah yang Terlupakan
18 Bab 18: Langit Tanpa Fondasi
19 Bab 19: Jejak Orang Tua
20 Bab 20: Di Bawah Istana Mengambang
21 Bab 21: Akar yang Menembus Langit
22 Bab 22: Pintu ke Benua Lain
23 Bab 23: Penjaga Samudra
24 Bab 24: Tanah yang Terbelah Dua
25 Bab 25: Pusat Retakan
26 Bab 26: Menyatukan Segel Dunia
27 Bab 27: Jembatan Dua Benua
28 Bab 28: Panggilan dari Utara Jauh
29 Bab 29: Darah dari Akar Pertama
30 Bab 30: Pintu Asal Mula
31 Bab 31: Jaringan Seluruh Dunia
32 Bab 32: Pertahanan Ujung Dunia
33 Bab 33: Menanam Masa Depan
34 Bab 34: Jejak yang Tak Terhapus
35 Bab 35: Pohon yang Menyentuh Bintang
36 Bab 36: Di Bawah Akar yang Sama
37 Bab 37: Warisan yang Tak Pernah Berakhir
38 Bab 38: Suara dari Dunia Lain
39 Bab 39: Hukum Pohon Semesta
40 Bab 40: Jejak di Kabut Waktu
41 Bab 41: Suara dari Akar Terdalam
42 Bab 42: Benih yang Dikirim Balik
43 Bab 43: Badai dari Kekosongan
44 Bab 44: Peta Ribuan Akar
45 Bab 45: Hutan yang Menjadi Satu
46 Bab 46: Benih yang Terbawa Angin
47 Bab 47: Penjaga Tanpa Batas
48 Bab 48: Pohon yang Tak Pernah Tua
49 Bab 49: Langkah yang Tak Pernah Sama
50 Bab 50: Cahaya yang Tak Pernah Menyilaukan
51 Bab 51: Rumah yang Tak Berpintu
52 Bab 52: Jejak yang Tak Hilang
53 Bab 53: Lagu yang Dinyanyikan Bersama
54 Bab 54: Benih di Telapak Tangan
55 Bab 55: Jejak di Tanah yang Lupa Namanya
56 Bab 56: Jalan yang Bercabang Tiga
57 Bab 57: Dunia yang Menjadi Buku
58 Bab 58: Gunung yang Tak Ingin Tertinggi
59 Bab 59: Bayangan yang Ingin Memeluk
60 Bab 60: Laut yang Tak Punya Tepi
61 Bab 61: Seni Menerima yang Tak Sempurna
62 Bab 62: Jembatan yang Tak Punya Ujung
63 Bab 63: Pohon yang Menyimpan Hujan
64 Bab 64: Cahaya yang Berjalan Beriringan
65 Bab 65: Sungai yang Tak Ingkar Asal
66 Bab 66: Teman yang Tak Harus Sama
67 Bab 67: Batu yang Tak Ingin Bergeser
68 Bab 68: Langit yang Tak Memiliki Atap
69 Bab 69: Jejak yang Tak Perlu Dihapus
70 Bab 70: Rumput yang Tak Menyerah
71 Bab 71: Satu Kata yang Terlupakan
72 Bab 72: Cahaya yang Tak Membutuhkan Tepuk Tangan
73 Bab 73: Batu yang Menjadi Bantal
74 Bab 74: Jalan yang Tak Pernah Sama Dua Kali
75 Bab 75: Bayangan yang Melindungi Matahari
76 Bab 76: Jalan yang Ditemukan Bersama
77 Bab 77: Daun yang Tak Menyesal Gugur
78 Bab 78: Suara yang Tak Perlu Teriak
79 Bab 79: Pintu yang Tak Dikunci
80 Bab 80: Jejak yang Tak Hilang
81 Bab 81: Akar yang Tak Menyerah
82 Bab 82: Cahaya yang Tak Membakar
83 Bab 83: Sungai yang Tak Memaksa Bentuk
84 Bab 84: Bunga yang Tak Iri pada Pohon
85 bab 85:hujan yang tak memilih tanah
86 Bab 86: Bayangan yang Tak Pernah Sendirian
87 Bab 87: Biji yang Tak Takut Terkubur
88 Bab 88: Jalan yang Tak Meminta Kamu Sempurna
89 Bab 89: Rumah yang Tak Memiliki Pintu Depan
90 Bab 90: Cahaya yang Tak Lupa Asalnya
91 Bab 91: Daun yang Menjadi Rumah
92 Bab 92: Suara yang Didengar Hutan
93 Bab 93: Batu yang Menjadi Pulau
94 Bab 94: Langit yang Tak Pernah Menutup
95 Bab 95: Pasir yang Tak Menghitung Diri
96 Bab 96: Bintang yang Tak Bersaing
97 Bab 97: Akar yang Tak Ingin Dilihat
98 Bab 98: Angin yang Tak Pernah Memiliki
99 Bab 99: Bumi yang Tak Pernah Mengeluh
100 Bab 100: Akar yang Menembus Langit
101 Bab 101: Benih yang Tak Bisa Disimpan
102 Bab 102: Tembok yang Memisahkan Desa
103 Bab 103: Jalan yang Tumbuh dari Langkah
104 Bab 104: Lembah yang Melupakan Cahaya
105 Bab 105: Air yang Tak Menolak Rendah
106 Bab 106: Batu yang Diam Menunggu
107 Bab 107: Cahaya yang Tak Mencari Pujian
108 Bab 108: Jejak yang Tak Tertinggal
109 Bab 109: Jembatan yang Tak Memiliki Tepi
110 Bab 110: Akar yang Menembus Langit
111 Bab 111: Benih yang Kembali ke Tanah
112 Bab 112: Cerita yang Tak Pernah Selesai
113 Bab 113: Satu Langkah Lagi
114 Bab 114: Rumah yang Ada di Dalam Diri
115 Bab 115: Dua Tangan yang Sama Tinggi
116 Bab 116: Benih yang Tumbuh Bersama
117 Bab 117: Jalan yang Sama Lebarnya
118 Bab 118: Bayang yang Tak Lagi Menghantui
119 Bab 119: Biji yang Menjadi Hutan
120 Bab 120: Kabar yang Terbang Seperti Angin
121 Bab 121: Singgasana yang Tak Terbuat dari Batu
122 Bab 122: Jalan yang Dilalui Bersama
123 Bab 123: Bayangan yang Menjadi Cahaya
124 Bab 124: Jejak yang Tak Terhapus Langkah
125 Bab 125: Benang yang Menyambung Jarak
126 Bab 126: Cahaya yang Sama Sumbernya
127 Bab 127: Musim yang Silih Berganti
128 Bab 128: Mata Air yang Tak Pernah Kering
129 Bab 129: Kaki yang Tak Pernah Lelah Melangkah
130 Bab 130: Jejak yang Membentuk Jalan
131 Bab 130: Jejak yang Membentuk Jalan
Episodes

Updated 131 Episodes

1
Bab 1: Inti yang Tak Bisa Menyerap
2
Bab 2: Teknik yang Tak Ada di Buku
3
Bab 3: Tantangan Lapisan Batu
4
Bab 4: Keputusan Pergi
5
Bab 5: Gerbang Kota yang Menindas
6
Bab 6: Ujian Akademi yang Menipu
7
Bab 7: Teknik yang Diejek
8
Bab 8: Hutan Batu yang Terlarang
9
Bab 9: Altar Warisan Purba
10
Bab 10: Kabar yang Mengejutkan
11
Bab 11: Tantangan di Arena Batu
12
Bab 12: Tekanan Sejuta Jin
13
Bab 13: Persekutuan Baru
14
Bab 14: Jejak di Pegunungan Kabut
15
Bab 15: Lembah yang Terkepung
16
Bab 16: Pintu Menuju Wilayah Tengah
17
Bab 17: Tanah yang Terlupakan
18
Bab 18: Langit Tanpa Fondasi
19
Bab 19: Jejak Orang Tua
20
Bab 20: Di Bawah Istana Mengambang
21
Bab 21: Akar yang Menembus Langit
22
Bab 22: Pintu ke Benua Lain
23
Bab 23: Penjaga Samudra
24
Bab 24: Tanah yang Terbelah Dua
25
Bab 25: Pusat Retakan
26
Bab 26: Menyatukan Segel Dunia
27
Bab 27: Jembatan Dua Benua
28
Bab 28: Panggilan dari Utara Jauh
29
Bab 29: Darah dari Akar Pertama
30
Bab 30: Pintu Asal Mula
31
Bab 31: Jaringan Seluruh Dunia
32
Bab 32: Pertahanan Ujung Dunia
33
Bab 33: Menanam Masa Depan
34
Bab 34: Jejak yang Tak Terhapus
35
Bab 35: Pohon yang Menyentuh Bintang
36
Bab 36: Di Bawah Akar yang Sama
37
Bab 37: Warisan yang Tak Pernah Berakhir
38
Bab 38: Suara dari Dunia Lain
39
Bab 39: Hukum Pohon Semesta
40
Bab 40: Jejak di Kabut Waktu
41
Bab 41: Suara dari Akar Terdalam
42
Bab 42: Benih yang Dikirim Balik
43
Bab 43: Badai dari Kekosongan
44
Bab 44: Peta Ribuan Akar
45
Bab 45: Hutan yang Menjadi Satu
46
Bab 46: Benih yang Terbawa Angin
47
Bab 47: Penjaga Tanpa Batas
48
Bab 48: Pohon yang Tak Pernah Tua
49
Bab 49: Langkah yang Tak Pernah Sama
50
Bab 50: Cahaya yang Tak Pernah Menyilaukan
51
Bab 51: Rumah yang Tak Berpintu
52
Bab 52: Jejak yang Tak Hilang
53
Bab 53: Lagu yang Dinyanyikan Bersama
54
Bab 54: Benih di Telapak Tangan
55
Bab 55: Jejak di Tanah yang Lupa Namanya
56
Bab 56: Jalan yang Bercabang Tiga
57
Bab 57: Dunia yang Menjadi Buku
58
Bab 58: Gunung yang Tak Ingin Tertinggi
59
Bab 59: Bayangan yang Ingin Memeluk
60
Bab 60: Laut yang Tak Punya Tepi
61
Bab 61: Seni Menerima yang Tak Sempurna
62
Bab 62: Jembatan yang Tak Punya Ujung
63
Bab 63: Pohon yang Menyimpan Hujan
64
Bab 64: Cahaya yang Berjalan Beriringan
65
Bab 65: Sungai yang Tak Ingkar Asal
66
Bab 66: Teman yang Tak Harus Sama
67
Bab 67: Batu yang Tak Ingin Bergeser
68
Bab 68: Langit yang Tak Memiliki Atap
69
Bab 69: Jejak yang Tak Perlu Dihapus
70
Bab 70: Rumput yang Tak Menyerah
71
Bab 71: Satu Kata yang Terlupakan
72
Bab 72: Cahaya yang Tak Membutuhkan Tepuk Tangan
73
Bab 73: Batu yang Menjadi Bantal
74
Bab 74: Jalan yang Tak Pernah Sama Dua Kali
75
Bab 75: Bayangan yang Melindungi Matahari
76
Bab 76: Jalan yang Ditemukan Bersama
77
Bab 77: Daun yang Tak Menyesal Gugur
78
Bab 78: Suara yang Tak Perlu Teriak
79
Bab 79: Pintu yang Tak Dikunci
80
Bab 80: Jejak yang Tak Hilang
81
Bab 81: Akar yang Tak Menyerah
82
Bab 82: Cahaya yang Tak Membakar
83
Bab 83: Sungai yang Tak Memaksa Bentuk
84
Bab 84: Bunga yang Tak Iri pada Pohon
85
bab 85:hujan yang tak memilih tanah
86
Bab 86: Bayangan yang Tak Pernah Sendirian
87
Bab 87: Biji yang Tak Takut Terkubur
88
Bab 88: Jalan yang Tak Meminta Kamu Sempurna
89
Bab 89: Rumah yang Tak Memiliki Pintu Depan
90
Bab 90: Cahaya yang Tak Lupa Asalnya
91
Bab 91: Daun yang Menjadi Rumah
92
Bab 92: Suara yang Didengar Hutan
93
Bab 93: Batu yang Menjadi Pulau
94
Bab 94: Langit yang Tak Pernah Menutup
95
Bab 95: Pasir yang Tak Menghitung Diri
96
Bab 96: Bintang yang Tak Bersaing
97
Bab 97: Akar yang Tak Ingin Dilihat
98
Bab 98: Angin yang Tak Pernah Memiliki
99
Bab 99: Bumi yang Tak Pernah Mengeluh
100
Bab 100: Akar yang Menembus Langit
101
Bab 101: Benih yang Tak Bisa Disimpan
102
Bab 102: Tembok yang Memisahkan Desa
103
Bab 103: Jalan yang Tumbuh dari Langkah
104
Bab 104: Lembah yang Melupakan Cahaya
105
Bab 105: Air yang Tak Menolak Rendah
106
Bab 106: Batu yang Diam Menunggu
107
Bab 107: Cahaya yang Tak Mencari Pujian
108
Bab 108: Jejak yang Tak Tertinggal
109
Bab 109: Jembatan yang Tak Memiliki Tepi
110
Bab 110: Akar yang Menembus Langit
111
Bab 111: Benih yang Kembali ke Tanah
112
Bab 112: Cerita yang Tak Pernah Selesai
113
Bab 113: Satu Langkah Lagi
114
Bab 114: Rumah yang Ada di Dalam Diri
115
Bab 115: Dua Tangan yang Sama Tinggi
116
Bab 116: Benih yang Tumbuh Bersama
117
Bab 117: Jalan yang Sama Lebarnya
118
Bab 118: Bayang yang Tak Lagi Menghantui
119
Bab 119: Biji yang Menjadi Hutan
120
Bab 120: Kabar yang Terbang Seperti Angin
121
Bab 121: Singgasana yang Tak Terbuat dari Batu
122
Bab 122: Jalan yang Dilalui Bersama
123
Bab 123: Bayangan yang Menjadi Cahaya
124
Bab 124: Jejak yang Tak Terhapus Langkah
125
Bab 125: Benang yang Menyambung Jarak
126
Bab 126: Cahaya yang Sama Sumbernya
127
Bab 127: Musim yang Silih Berganti
128
Bab 128: Mata Air yang Tak Pernah Kering
129
Bab 129: Kaki yang Tak Pernah Lelah Melangkah
130
Bab 130: Jejak yang Membentuk Jalan
131
Bab 130: Jejak yang Membentuk Jalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!