Bab 3: Tantangan Lapisan Batu

Setelah kejadian kemarin, Lin Mo tidak lagi membuang waktu. Ia menyadari bahwa berada di tingkat Menanam Akar tingkat awal saja belum cukup untuk melindungi dirinya sendiri, apalagi mencari tahu kebenaran tentang orang tuanya. Malam itu, ia kembali merenung di dalam gubuk, membiarkan kesadarannya menyusup lebih dalam ke tanah di bawah lantai kayu.

Teknik Jalan Akar tidak mengajarkan untuk "menyerap energi dan menyimpannya", melainkan "menyatu dan menumbuhkan". Seperti akar pohon yang harus menembus tanah lunak, lalu tanah keras, hingga lapisan batu yang padat—begitu pula dengan tubuhnya. Setiap lapisan yang ditembus akan membuat tubuhnya menjadi lebih kokoh, lebih berat, dan lebih sulit diguncang.

"Untuk memperkuat akar, aku harus melatih tulang dan kulitku agar sekeras batu bumi," bisik Lin Mo sambil menatap telapak tangannya.

Keesokan paginya, ia tidak langsung bekerja seperti biasa. Ia membawa sekop kecil menuju tebing batu di pinggir desa. Di sana, ada dinding batu cadas yang keras dan tajam—tempat yang dihindari orang desa karena terlalu berbahaya.

Lin Mo meletakkan tangannya perlahan di permukaan batu yang dingin. Ia menyalurkan aliran kekuatan akar yang baru ia miliki, lalu membayangkan dirinya sebagai sebatang akar yang harus menembus dinding batu ini. Ia mulai menekan telapak tangannya ke batu, perlahan menambah tenaga.

Rasa sakit langsung menyergap. Kulitnya terasa seperti digosok kertas pasir, dan tulang di pergelangan tangannya berdenyut nyeri. Darah mulai menetes dari goresan halus, namun Lin Mo tidak berhenti. Ia terus menjalankan pernapasan akar, membiarkan kekuatan hangat menyembuhkan luka sekaligus mengeraskan kulitnya.

Satu jam berlalu. Tangan kanannya sudah bengkak dan berwarna merah gelap. Namun jika dilihat saksama, ada lapisan tipis seperti cahaya keabu-abuan yang menyelimuti kulitnya—tanda bahwa kulitnya mulai berubah menyerupai sifat batu.

"Masih kurang," gumamnya. "Akar tidak hanya menekan, tapi juga memeluk dan menyatu."

Ia mengubah cara latihannya. Alih-alih menekan dengan kasar, ia memeluk batu itu dengan kedua tangan, membiarkan kesadarannya menyebar ke setiap celah kecil di permukaan batu, merasakan serat-serat keras di dalamnya. Ia membiarkan tubuhnya meniru kestabilan batu itu—tidak goyah meski angin kencang menerpa, tidak rapuh meski ditimpa beban berat.

Siang berganti sore. Beberapa orang desa yang lewat hanya menggelengkan kepala melihat Lin Mo yang berdiri diam memeluk batu dengan wajah berkeringat dan tangan berdarah.

"Lihat anak itu, sudah gila karena frustasi!"

"Mengira bisa berlatih dengan batu? Buang-buang waktu saja!"

Lin Mo mendengarnya, tapi hatinya tenang. Ia tidak perlu mereka pahami. Yang penting jalannya sendiri benar.

Saat matahari hampir terbenam, akhirnya ia menarik tangannya. Tangan yang tadi bengkak kini sudah pulih, namun terasa berbeda—lebih padat, lebih berat, dan kulitnya mengeluarkan bunyi sedikit keras saat diketuk pelan.

"Sudah sampai Menanam Akar tingkat pertengahan," ucapnya lega.

Namun tantangan sesungguhnya datang keesokan harinya. Berita bahwa Lin Mo berani menahan pukulan Zhang Hao menyebar cepat, membuat Zhang Hao merasa sangat dipermalukan. Ia tidak membiarkan hal itu berlalu begitu saja.

Sore itu, saat Lin Mo sedang mengangkut batu untuk tembok desa, Zhang Hao datang bersama empat orang teman latihannya—semuanya sudah berada di tingkat Pelunasan Tubuh tingkat akhir.

"Hei Lin Mo! Kau pikir kau hebat hanya karena bisa menahan satu pukulan?" Zhang Hao menunjuk tumpukan batu besar di pinggir lapangan. "Kepala desa menyuruh kita mengangkut batu ini ke atas bukit. Tapi hari ini, kita main sedikit saja. Kalau kau bisa mengangkat batu itu dan membawanya sampai ke puncak bukit sebelum matahari terbenam, aku mengaku kau tidak lemah. Kalau tidak... kau harus berlutut dan meminta maaf padaku di depan semua orang!"

Batu yang ditunjuk itu tingginya setinggi orang dewasa, kasar dan berat—setidaknya ada lima ratus jin. Bahkan dua orang dewasa berotot pun akan kesulitan mengangkatnya.

Warga desa berkumpul menonton, berbisik-bisik.

"Itu mustahil! Bahkan ketua kelompok latihan pun sulit mengangkatnya!"

"Zhang Hao memang sengaja ingin mempermalukannya sampai habis!"

Lin Mo menatap batu itu, lalu menatap Zhang Hao. "Jika aku berhasil, jangan pernah lagi mengganggu pekerjaanku dan menghina orang lain hanya karena bakat mereka."

"Baik! Asal kau bisa mengangkatnya!" Zhang Hao tertawa sinis, yakin Lin Mo pasti gagal.

Lin Mo berjalan mendekati batu besar itu. Ia tidak langsung memaksakan tenaga. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di permukaan batu, memejamkan mata sejenak. Ia menyebarkan kesadarannya ke bawah tanah, merasakan cengkeraman akar yang tak terlihat mengait kuat ke dalam bumi. Lalu perlahan, ia menyalurkan kekuatan dari telapak kaki naik ke seluruh tubuh, mengalirkan tenaga yang berat dan kokoh ke lengannya.

Grrr... duk!

Batu besar itu bergeser sedikit, lalu perlahan terangkat setinggi lutut. Lin Mo mengerutkan kening, keringat menetes deras, tapi kakinya tidak bergeser satu inci pun ke belakang. Ia berdiri tegak seolah tanah di bawah kakinya dan batu di tangannya kini menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Keheningan menyelimuti lapangan. Mulut Zhang Hao ternganga lebar, tak percaya apa yang dilihatnya. Warga desa yang tadi meremehkan kini membelalakkan mata takjub.

Lin Mo tidak berhenti di situ. Ia melangkah perlahan menanjak ke bukit. Setiap langkah membuat tanah di bawah kakinya sedikit amblas, namun ia tetap berjalan mantap, seolah ia bukan sedang membawa batu, melainkan batu itu sendiri yang berjalan bersamanya.

Ia tidak berjalan cepat. Ia berjalan seperti pohon tua yang tumbuh perlahan namun pasti—tak tergoyahkan.

Saat matahari menyentuh garis cakrawala, Lin Mo akhirnya menurunkan batu itu di puncak bukit dengan lembut. Ia berdiri tegak, menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah bawah.

Zhang Hao dan teman-temannya sudah hilang entah ke mana. Mereka tidak berani menunggu lagi.

Lin Mo tersenyum tipis. Ia tahu ini baru permulaan. Batu lima ratus jin hanyalah batu kecil di jalannya yang panjang. Di depan sana masih ada gunung batu yang jauh lebih berat, jauh lebih keras. Tapi selama akarnya terus menembus ke dalam, tidak ada yang terlalu berat untuk ia pikul.

Malam itu, saat ia kembali ke gubuk, batu hitam di bawah lantai berdenyut lebih terang dari sebelumnya, seolah memuji kemajuannya.

"Akar yang kokoh mulai terbentuk," suara samar itu terdengar lembut. "Selanjutnya... menembus lapisan tanah keras."

 

Episodes
1 Bab 1: Inti yang Tak Bisa Menyerap
2 Bab 2: Teknik yang Tak Ada di Buku
3 Bab 3: Tantangan Lapisan Batu
4 Bab 4: Keputusan Pergi
5 Bab 5: Gerbang Kota yang Menindas
6 Bab 6: Ujian Akademi yang Menipu
7 Bab 7: Teknik yang Diejek
8 Bab 8: Hutan Batu yang Terlarang
9 Bab 9: Altar Warisan Purba
10 Bab 10: Kabar yang Mengejutkan
11 Bab 11: Tantangan di Arena Batu
12 Bab 12: Tekanan Sejuta Jin
13 Bab 13: Persekutuan Baru
14 Bab 14: Jejak di Pegunungan Kabut
15 Bab 15: Lembah yang Terkepung
16 Bab 16: Pintu Menuju Wilayah Tengah
17 Bab 17: Tanah yang Terlupakan
18 Bab 18: Langit Tanpa Fondasi
19 Bab 19: Jejak Orang Tua
20 Bab 20: Di Bawah Istana Mengambang
21 Bab 21: Akar yang Menembus Langit
22 Bab 22: Pintu ke Benua Lain
23 Bab 23: Penjaga Samudra
24 Bab 24: Tanah yang Terbelah Dua
25 Bab 25: Pusat Retakan
26 Bab 26: Menyatukan Segel Dunia
27 Bab 27: Jembatan Dua Benua
28 Bab 28: Panggilan dari Utara Jauh
29 Bab 29: Darah dari Akar Pertama
30 Bab 30: Pintu Asal Mula
31 Bab 31: Jaringan Seluruh Dunia
32 Bab 32: Pertahanan Ujung Dunia
33 Bab 33: Menanam Masa Depan
34 Bab 34: Jejak yang Tak Terhapus
35 Bab 35: Pohon yang Menyentuh Bintang
36 Bab 36: Di Bawah Akar yang Sama
37 Bab 37: Warisan yang Tak Pernah Berakhir
38 Bab 38: Suara dari Dunia Lain
39 Bab 39: Hukum Pohon Semesta
40 Bab 40: Jejak di Kabut Waktu
41 Bab 41: Suara dari Akar Terdalam
42 Bab 42: Benih yang Dikirim Balik
43 Bab 43: Badai dari Kekosongan
44 Bab 44: Peta Ribuan Akar
45 Bab 45: Hutan yang Menjadi Satu
46 Bab 46: Benih yang Terbawa Angin
47 Bab 47: Penjaga Tanpa Batas
48 Bab 48: Pohon yang Tak Pernah Tua
49 Bab 49: Langkah yang Tak Pernah Sama
50 Bab 50: Cahaya yang Tak Pernah Menyilaukan
51 Bab 51: Rumah yang Tak Berpintu
52 Bab 52: Jejak yang Tak Hilang
53 Bab 53: Lagu yang Dinyanyikan Bersama
54 Bab 54: Benih di Telapak Tangan
55 Bab 55: Jejak di Tanah yang Lupa Namanya
56 Bab 56: Jalan yang Bercabang Tiga
57 Bab 57: Dunia yang Menjadi Buku
58 Bab 58: Gunung yang Tak Ingin Tertinggi
59 Bab 59: Bayangan yang Ingin Memeluk
60 Bab 60: Laut yang Tak Punya Tepi
61 Bab 61: Seni Menerima yang Tak Sempurna
62 Bab 62: Jembatan yang Tak Punya Ujung
63 Bab 63: Pohon yang Menyimpan Hujan
64 Bab 64: Cahaya yang Berjalan Beriringan
65 Bab 65: Sungai yang Tak Ingkar Asal
66 Bab 66: Teman yang Tak Harus Sama
67 Bab 67: Batu yang Tak Ingin Bergeser
68 Bab 68: Langit yang Tak Memiliki Atap
69 Bab 69: Jejak yang Tak Perlu Dihapus
70 Bab 70: Rumput yang Tak Menyerah
71 Bab 71: Satu Kata yang Terlupakan
72 Bab 72: Cahaya yang Tak Membutuhkan Tepuk Tangan
73 Bab 73: Batu yang Menjadi Bantal
74 Bab 74: Jalan yang Tak Pernah Sama Dua Kali
75 Bab 75: Bayangan yang Melindungi Matahari
76 Bab 76: Jalan yang Ditemukan Bersama
77 Bab 77: Daun yang Tak Menyesal Gugur
78 Bab 78: Suara yang Tak Perlu Teriak
79 Bab 79: Pintu yang Tak Dikunci
80 Bab 80: Jejak yang Tak Hilang
81 Bab 81: Akar yang Tak Menyerah
82 Bab 82: Cahaya yang Tak Membakar
83 Bab 83: Sungai yang Tak Memaksa Bentuk
84 Bab 84: Bunga yang Tak Iri pada Pohon
85 bab 85:hujan yang tak memilih tanah
86 Bab 86: Bayangan yang Tak Pernah Sendirian
87 Bab 87: Biji yang Tak Takut Terkubur
88 Bab 88: Jalan yang Tak Meminta Kamu Sempurna
89 Bab 89: Rumah yang Tak Memiliki Pintu Depan
90 Bab 90: Cahaya yang Tak Lupa Asalnya
91 Bab 91: Daun yang Menjadi Rumah
92 Bab 92: Suara yang Didengar Hutan
93 Bab 93: Batu yang Menjadi Pulau
94 Bab 94: Langit yang Tak Pernah Menutup
95 Bab 95: Pasir yang Tak Menghitung Diri
96 Bab 96: Bintang yang Tak Bersaing
97 Bab 97: Akar yang Tak Ingin Dilihat
98 Bab 98: Angin yang Tak Pernah Memiliki
99 Bab 99: Bumi yang Tak Pernah Mengeluh
100 Bab 100: Akar yang Menembus Langit
101 Bab 101: Benih yang Tak Bisa Disimpan
102 Bab 102: Tembok yang Memisahkan Desa
103 Bab 103: Jalan yang Tumbuh dari Langkah
104 Bab 104: Lembah yang Melupakan Cahaya
105 Bab 105: Air yang Tak Menolak Rendah
106 Bab 106: Batu yang Diam Menunggu
107 Bab 107: Cahaya yang Tak Mencari Pujian
108 Bab 108: Jejak yang Tak Tertinggal
109 Bab 109: Jembatan yang Tak Memiliki Tepi
110 Bab 110: Akar yang Menembus Langit
111 Bab 111: Benih yang Kembali ke Tanah
112 Bab 112: Cerita yang Tak Pernah Selesai
113 Bab 113: Satu Langkah Lagi
114 Bab 114: Rumah yang Ada di Dalam Diri
115 Bab 115: Dua Tangan yang Sama Tinggi
116 Bab 116: Benih yang Tumbuh Bersama
117 Bab 117: Jalan yang Sama Lebarnya
118 Bab 118: Bayang yang Tak Lagi Menghantui
119 Bab 119: Biji yang Menjadi Hutan
120 Bab 120: Kabar yang Terbang Seperti Angin
121 Bab 121: Singgasana yang Tak Terbuat dari Batu
122 Bab 122: Jalan yang Dilalui Bersama
123 Bab 123: Bayangan yang Menjadi Cahaya
124 Bab 124: Jejak yang Tak Terhapus Langkah
125 Bab 125: Benang yang Menyambung Jarak
126 Bab 126: Cahaya yang Sama Sumbernya
127 Bab 127: Musim yang Silih Berganti
128 Bab 128: Mata Air yang Tak Pernah Kering
129 Bab 129: Kaki yang Tak Pernah Lelah Melangkah
130 Bab 130: Jejak yang Membentuk Jalan
131 Bab 130: Jejak yang Membentuk Jalan
Episodes

Updated 131 Episodes

1
Bab 1: Inti yang Tak Bisa Menyerap
2
Bab 2: Teknik yang Tak Ada di Buku
3
Bab 3: Tantangan Lapisan Batu
4
Bab 4: Keputusan Pergi
5
Bab 5: Gerbang Kota yang Menindas
6
Bab 6: Ujian Akademi yang Menipu
7
Bab 7: Teknik yang Diejek
8
Bab 8: Hutan Batu yang Terlarang
9
Bab 9: Altar Warisan Purba
10
Bab 10: Kabar yang Mengejutkan
11
Bab 11: Tantangan di Arena Batu
12
Bab 12: Tekanan Sejuta Jin
13
Bab 13: Persekutuan Baru
14
Bab 14: Jejak di Pegunungan Kabut
15
Bab 15: Lembah yang Terkepung
16
Bab 16: Pintu Menuju Wilayah Tengah
17
Bab 17: Tanah yang Terlupakan
18
Bab 18: Langit Tanpa Fondasi
19
Bab 19: Jejak Orang Tua
20
Bab 20: Di Bawah Istana Mengambang
21
Bab 21: Akar yang Menembus Langit
22
Bab 22: Pintu ke Benua Lain
23
Bab 23: Penjaga Samudra
24
Bab 24: Tanah yang Terbelah Dua
25
Bab 25: Pusat Retakan
26
Bab 26: Menyatukan Segel Dunia
27
Bab 27: Jembatan Dua Benua
28
Bab 28: Panggilan dari Utara Jauh
29
Bab 29: Darah dari Akar Pertama
30
Bab 30: Pintu Asal Mula
31
Bab 31: Jaringan Seluruh Dunia
32
Bab 32: Pertahanan Ujung Dunia
33
Bab 33: Menanam Masa Depan
34
Bab 34: Jejak yang Tak Terhapus
35
Bab 35: Pohon yang Menyentuh Bintang
36
Bab 36: Di Bawah Akar yang Sama
37
Bab 37: Warisan yang Tak Pernah Berakhir
38
Bab 38: Suara dari Dunia Lain
39
Bab 39: Hukum Pohon Semesta
40
Bab 40: Jejak di Kabut Waktu
41
Bab 41: Suara dari Akar Terdalam
42
Bab 42: Benih yang Dikirim Balik
43
Bab 43: Badai dari Kekosongan
44
Bab 44: Peta Ribuan Akar
45
Bab 45: Hutan yang Menjadi Satu
46
Bab 46: Benih yang Terbawa Angin
47
Bab 47: Penjaga Tanpa Batas
48
Bab 48: Pohon yang Tak Pernah Tua
49
Bab 49: Langkah yang Tak Pernah Sama
50
Bab 50: Cahaya yang Tak Pernah Menyilaukan
51
Bab 51: Rumah yang Tak Berpintu
52
Bab 52: Jejak yang Tak Hilang
53
Bab 53: Lagu yang Dinyanyikan Bersama
54
Bab 54: Benih di Telapak Tangan
55
Bab 55: Jejak di Tanah yang Lupa Namanya
56
Bab 56: Jalan yang Bercabang Tiga
57
Bab 57: Dunia yang Menjadi Buku
58
Bab 58: Gunung yang Tak Ingin Tertinggi
59
Bab 59: Bayangan yang Ingin Memeluk
60
Bab 60: Laut yang Tak Punya Tepi
61
Bab 61: Seni Menerima yang Tak Sempurna
62
Bab 62: Jembatan yang Tak Punya Ujung
63
Bab 63: Pohon yang Menyimpan Hujan
64
Bab 64: Cahaya yang Berjalan Beriringan
65
Bab 65: Sungai yang Tak Ingkar Asal
66
Bab 66: Teman yang Tak Harus Sama
67
Bab 67: Batu yang Tak Ingin Bergeser
68
Bab 68: Langit yang Tak Memiliki Atap
69
Bab 69: Jejak yang Tak Perlu Dihapus
70
Bab 70: Rumput yang Tak Menyerah
71
Bab 71: Satu Kata yang Terlupakan
72
Bab 72: Cahaya yang Tak Membutuhkan Tepuk Tangan
73
Bab 73: Batu yang Menjadi Bantal
74
Bab 74: Jalan yang Tak Pernah Sama Dua Kali
75
Bab 75: Bayangan yang Melindungi Matahari
76
Bab 76: Jalan yang Ditemukan Bersama
77
Bab 77: Daun yang Tak Menyesal Gugur
78
Bab 78: Suara yang Tak Perlu Teriak
79
Bab 79: Pintu yang Tak Dikunci
80
Bab 80: Jejak yang Tak Hilang
81
Bab 81: Akar yang Tak Menyerah
82
Bab 82: Cahaya yang Tak Membakar
83
Bab 83: Sungai yang Tak Memaksa Bentuk
84
Bab 84: Bunga yang Tak Iri pada Pohon
85
bab 85:hujan yang tak memilih tanah
86
Bab 86: Bayangan yang Tak Pernah Sendirian
87
Bab 87: Biji yang Tak Takut Terkubur
88
Bab 88: Jalan yang Tak Meminta Kamu Sempurna
89
Bab 89: Rumah yang Tak Memiliki Pintu Depan
90
Bab 90: Cahaya yang Tak Lupa Asalnya
91
Bab 91: Daun yang Menjadi Rumah
92
Bab 92: Suara yang Didengar Hutan
93
Bab 93: Batu yang Menjadi Pulau
94
Bab 94: Langit yang Tak Pernah Menutup
95
Bab 95: Pasir yang Tak Menghitung Diri
96
Bab 96: Bintang yang Tak Bersaing
97
Bab 97: Akar yang Tak Ingin Dilihat
98
Bab 98: Angin yang Tak Pernah Memiliki
99
Bab 99: Bumi yang Tak Pernah Mengeluh
100
Bab 100: Akar yang Menembus Langit
101
Bab 101: Benih yang Tak Bisa Disimpan
102
Bab 102: Tembok yang Memisahkan Desa
103
Bab 103: Jalan yang Tumbuh dari Langkah
104
Bab 104: Lembah yang Melupakan Cahaya
105
Bab 105: Air yang Tak Menolak Rendah
106
Bab 106: Batu yang Diam Menunggu
107
Bab 107: Cahaya yang Tak Mencari Pujian
108
Bab 108: Jejak yang Tak Tertinggal
109
Bab 109: Jembatan yang Tak Memiliki Tepi
110
Bab 110: Akar yang Menembus Langit
111
Bab 111: Benih yang Kembali ke Tanah
112
Bab 112: Cerita yang Tak Pernah Selesai
113
Bab 113: Satu Langkah Lagi
114
Bab 114: Rumah yang Ada di Dalam Diri
115
Bab 115: Dua Tangan yang Sama Tinggi
116
Bab 116: Benih yang Tumbuh Bersama
117
Bab 117: Jalan yang Sama Lebarnya
118
Bab 118: Bayang yang Tak Lagi Menghantui
119
Bab 119: Biji yang Menjadi Hutan
120
Bab 120: Kabar yang Terbang Seperti Angin
121
Bab 121: Singgasana yang Tak Terbuat dari Batu
122
Bab 122: Jalan yang Dilalui Bersama
123
Bab 123: Bayangan yang Menjadi Cahaya
124
Bab 124: Jejak yang Tak Terhapus Langkah
125
Bab 125: Benang yang Menyambung Jarak
126
Bab 126: Cahaya yang Sama Sumbernya
127
Bab 127: Musim yang Silih Berganti
128
Bab 128: Mata Air yang Tak Pernah Kering
129
Bab 129: Kaki yang Tak Pernah Lelah Melangkah
130
Bab 130: Jejak yang Membentuk Jalan
131
Bab 130: Jejak yang Membentuk Jalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!