Akar Yang Menembus Langit

Akar Yang Menembus Langit

Bab 1: Inti yang Tak Bisa Menyerap

Angin musim gugur bertiup dingin, membawa debu dan daun kering melintasi halaman depan Balai Desa Akar Kering. Di tengah kerumunan anak-anak berusia sepuluh tahun yang bersorak gembira, berdiri seorang anak laki-laki bertubuh kurus dengan baju yang sudah bertambal di beberapa bagian. Namanya Lin Mo. Tangannya yang kasar mencengkeram ujung bajunya erat, matanya menatap lekat-lekat batu ujian besar yang diletakkan di atas meja kayu.

Hari ini adalah hari penentuan nasib. Setiap anak yang berusia sepuluh tahun wajib diuji bakat inti energinya. Hasilnya akan menentukan apakah mereka bisa masuk ke kelompok latihan desa, atau selamanya hanya menjadi petani dan pengangkut barang di kaki gunung ini.

"Berikutnya: Lin Mo!" seru kepala desa dengan suara berat.

Langkah kaki Lin Mo terasa berat seolah ada batu yang mengikat kakinya. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan telapak tangannya di atas permukaan batu yang dingin. Sesuai instruksi, ia memejamkan mata dan mencoba menarik sedikit energi alam ke dalam tubuhnya.

Rasa sakit yang tajam langsung menyergap. Seolah ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam tulang. Ia menahan napas, menahan rasa sakit itu agar tidak terlihat, namun batu di depannya hanya menampilkan cahaya samar yang berkedip-kedip tak beraturan—terkadang putih, terkadang kelabu, lalu padam sejenak.

Wajah kepala desa berubah datar. "Inti Energi Kacau. Tingkat terendah. Tidak bisa menyerap energi dengan stabil. Tidak memenuhi syarat masuk kelompok latihan."

Kerumunan anak-anak di belakang langsung tertawa.

"Haha! Sudah kuduga! Anak yatim mana mungkin punya bakat bagus!"

"Batu itu hampir tidak menyala sama sekali! Lebih baik dia pulang dan belajar menanam ubi saja!"

"Benar! Dia bahkan tidak sekuat anak berusia delapan tahun!"

Lin Mo menurunkan tangannya perlahan, kuku jari menancap hingga memutih di telapak tangan. Ia tidak membalas ejekan itu. Ia sudah terbiasa. Sejak kecil tubuhnya memang terasa berbeda—setiap kali mencoba teknik pernapasan dasar yang diajarkan orang desa, perutnya terasa mual dan dadanya sesak. Ia pikir ia hanya kurang rajin, ternyata memang dasarnya sudah rusak.

Ia berjalan pergi dari halaman itu sendirian, meninggalkan suara tawa yang masih terdengar di telinganya. Rumahnya ada di ujung paling pinggir desa—sebuah gubuk kecil dari kayu dan jerami yang sudah mulai rapuh. Di dalamnya tidak ada barang berharga, hanya kasur tipis, meja kayu yang goyah, dan sebuah kotak kayu tua di bawah tempat tidur.

Lin Mo mengambil kotak itu, membukanya perlahan. Di dalamnya tergeletak sepotong batu hitam yang bentuknya tidak beraturan, permukaannya kusam seolah tertutup debu abadi. Ini satu-satunya peninggalan orang tuanya sebelum mereka menghilang saat pergi ke pegunungan bertahun lalu. Tidak ada yang tahu apa batu ini, bahkan kepala desa pun pernah bilang itu hanya batu biasa yang tidak berguna.

"Apakah aku benar-benar tidak berguna?" bisiknya pelan pada batu itu. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia segera mengusapnya dengan kasar. Ia tidak mau menangis. Orang tuanya dulu pernah berpesan: "Tumbuhlah seperti akar pohon. Meskipun tidak terlihat, ia tetap menembus tanah yang paling keras untuk mencari air."

Malam itu, Lin Mo tidak tidur. Ia bangun lebih awal dari biasanya, membawa keranjang dan kapak menuju hutan di kaki gunung. Jika ia tidak bisa berlatih energi, setidaknya ia harus menguatkan tubuhnya sendiri. Ia memotong kayu, mengangkut air dari sungai yang jauh, dan berlari naik turun bukit sampai kakinya lemas dan napasnya habis.

Hari-hari berlalu seperti itu selama setahun. Anak-anak yang lulus ujian kini sudah bisa memecah batu dengan kepalan tangan atau berlari sejauh puluh li tanpa lelah. Sementara Lin Mo hanya menjadi pengangkut barang desa, dibayar dengan segenggam beras atau koin tembaga sedikit. Seringkali ia dipaksa bekerja lebih lama, bahkan dipukuli jika tidak selesai tepat waktu.

Siang itu, tiga anak dari keluarga terpandang desa—pemimpinnya adalah Zhang Hao yang memiliki Inti Energi Api tingkat menengah—menghadangnya di jalan setapak.

"Hei, pengangkut sampah! Kami butuh kayu bakar di rumah. Bawakan sekarang!" bentak Zhang Hao sambil menendang keranjang di punggung Lin Mo hingga terbalik.

"Aku sudah ada pesanan dari Kepala Desa," jawab Lin Mo pelan, mencoba mengambil kembali keranjangnya.

"Berani menolak kami?!" Zhang Hao meninju wajah Lin Mo. Pukulan itu keras, membuat Lin Mo jatuh ke tanah, darah menetes dari sudut bibirnya. Dua temannya ikut menendang punggung dan perutnya tanpa ampun, sambil tertawa dan menghina.

"Inti kacau itu memang cuma pantas diinjak-injak!"

"Lihat saja, selamanya kau akan tetap seperti ini!"

Mereka pergi setelah puas memukulinya. Lin Mo terbaring diam di tanah yang berdebu, seluruh tubuhnya terasa nyeri dan luka. Ia mencoba bangkit, namun tangannya tergelincir ke tanah dan menekan batu hitam yang ia bawa di saku—darah dari lukanya menetes tepat di atas permukaan batu kusam itu.

Seketika itu juga, batu hitam itu bergetar hebat. Cahaya gelap namun hangat menyelimuti tubuhnya, rasa sakit di seluruh tubuh perlahan menghilang. Di dalam kepalanya, terdengar suara samar yang seolah datang dari ribuan tahun silam:

"Akar Dunia... akhirnya menemukan wadah yang tepat. Jalan inti energi bukanlah jalanmu... jalanmu ada di bawah kakimu, menyatu dengan bumi..."

Lin Mo terbelalak. Ia menatap batu hitam itu yang kini berdenyut pelan di tangannya. Untuk pertama kalinya sejak ia ingat, hatinya yang selama ini penuh keraguan perlahan terisi oleh harapan baru.

Ia tidak lemah. Ia hanya berjalan di jalan yang salah.

Dan jalan yang sesungguhnya baru saja terbuka di hadapannya.

 

Episodes
1 Bab 1: Inti yang Tak Bisa Menyerap
2 Bab 2: Teknik yang Tak Ada di Buku
3 Bab 3: Tantangan Lapisan Batu
4 Bab 4: Keputusan Pergi
5 Bab 5: Gerbang Kota yang Menindas
6 Bab 6: Ujian Akademi yang Menipu
7 Bab 7: Teknik yang Diejek
8 Bab 8: Hutan Batu yang Terlarang
9 Bab 9: Altar Warisan Purba
10 Bab 10: Kabar yang Mengejutkan
11 Bab 11: Tantangan di Arena Batu
12 Bab 12: Tekanan Sejuta Jin
13 Bab 13: Persekutuan Baru
14 Bab 14: Jejak di Pegunungan Kabut
15 Bab 15: Lembah yang Terkepung
16 Bab 16: Pintu Menuju Wilayah Tengah
17 Bab 17: Tanah yang Terlupakan
18 Bab 18: Langit Tanpa Fondasi
19 Bab 19: Jejak Orang Tua
20 Bab 20: Di Bawah Istana Mengambang
21 Bab 21: Akar yang Menembus Langit
22 Bab 22: Pintu ke Benua Lain
23 Bab 23: Penjaga Samudra
24 Bab 24: Tanah yang Terbelah Dua
25 Bab 25: Pusat Retakan
26 Bab 26: Menyatukan Segel Dunia
27 Bab 27: Jembatan Dua Benua
28 Bab 28: Panggilan dari Utara Jauh
29 Bab 29: Darah dari Akar Pertama
30 Bab 30: Pintu Asal Mula
31 Bab 31: Jaringan Seluruh Dunia
32 Bab 32: Pertahanan Ujung Dunia
33 Bab 33: Menanam Masa Depan
34 Bab 34: Jejak yang Tak Terhapus
35 Bab 35: Pohon yang Menyentuh Bintang
36 Bab 36: Di Bawah Akar yang Sama
37 Bab 37: Warisan yang Tak Pernah Berakhir
38 Bab 38: Suara dari Dunia Lain
39 Bab 39: Hukum Pohon Semesta
40 Bab 40: Jejak di Kabut Waktu
41 Bab 41: Suara dari Akar Terdalam
42 Bab 42: Benih yang Dikirim Balik
43 Bab 43: Badai dari Kekosongan
44 Bab 44: Peta Ribuan Akar
45 Bab 45: Hutan yang Menjadi Satu
46 Bab 46: Benih yang Terbawa Angin
47 Bab 47: Penjaga Tanpa Batas
48 Bab 48: Pohon yang Tak Pernah Tua
49 Bab 49: Langkah yang Tak Pernah Sama
50 Bab 50: Cahaya yang Tak Pernah Menyilaukan
51 Bab 51: Rumah yang Tak Berpintu
52 Bab 52: Jejak yang Tak Hilang
53 Bab 53: Lagu yang Dinyanyikan Bersama
54 Bab 54: Benih di Telapak Tangan
55 Bab 55: Jejak di Tanah yang Lupa Namanya
56 Bab 56: Jalan yang Bercabang Tiga
57 Bab 57: Dunia yang Menjadi Buku
58 Bab 58: Gunung yang Tak Ingin Tertinggi
59 Bab 59: Bayangan yang Ingin Memeluk
60 Bab 60: Laut yang Tak Punya Tepi
61 Bab 61: Seni Menerima yang Tak Sempurna
62 Bab 62: Jembatan yang Tak Punya Ujung
63 Bab 63: Pohon yang Menyimpan Hujan
64 Bab 64: Cahaya yang Berjalan Beriringan
65 Bab 65: Sungai yang Tak Ingkar Asal
66 Bab 66: Teman yang Tak Harus Sama
67 Bab 67: Batu yang Tak Ingin Bergeser
68 Bab 68: Langit yang Tak Memiliki Atap
69 Bab 69: Jejak yang Tak Perlu Dihapus
70 Bab 70: Rumput yang Tak Menyerah
71 Bab 71: Satu Kata yang Terlupakan
72 Bab 72: Cahaya yang Tak Membutuhkan Tepuk Tangan
73 Bab 73: Batu yang Menjadi Bantal
74 Bab 74: Jalan yang Tak Pernah Sama Dua Kali
75 Bab 75: Bayangan yang Melindungi Matahari
76 Bab 76: Jalan yang Ditemukan Bersama
77 Bab 77: Daun yang Tak Menyesal Gugur
78 Bab 78: Suara yang Tak Perlu Teriak
79 Bab 79: Pintu yang Tak Dikunci
80 Bab 80: Jejak yang Tak Hilang
81 Bab 81: Akar yang Tak Menyerah
82 Bab 82: Cahaya yang Tak Membakar
83 Bab 83: Sungai yang Tak Memaksa Bentuk
84 Bab 84: Bunga yang Tak Iri pada Pohon
85 bab 85:hujan yang tak memilih tanah
86 Bab 86: Bayangan yang Tak Pernah Sendirian
87 Bab 87: Biji yang Tak Takut Terkubur
88 Bab 88: Jalan yang Tak Meminta Kamu Sempurna
89 Bab 89: Rumah yang Tak Memiliki Pintu Depan
90 Bab 90: Cahaya yang Tak Lupa Asalnya
91 Bab 91: Daun yang Menjadi Rumah
92 Bab 92: Suara yang Didengar Hutan
93 Bab 93: Batu yang Menjadi Pulau
94 Bab 94: Langit yang Tak Pernah Menutup
95 Bab 95: Pasir yang Tak Menghitung Diri
96 Bab 96: Bintang yang Tak Bersaing
97 Bab 97: Akar yang Tak Ingin Dilihat
98 Bab 98: Angin yang Tak Pernah Memiliki
99 Bab 99: Bumi yang Tak Pernah Mengeluh
100 Bab 100: Akar yang Menembus Langit
101 Bab 101: Benih yang Tak Bisa Disimpan
102 Bab 102: Tembok yang Memisahkan Desa
103 Bab 103: Jalan yang Tumbuh dari Langkah
104 Bab 104: Lembah yang Melupakan Cahaya
105 Bab 105: Air yang Tak Menolak Rendah
106 Bab 106: Batu yang Diam Menunggu
107 Bab 107: Cahaya yang Tak Mencari Pujian
108 Bab 108: Jejak yang Tak Tertinggal
109 Bab 109: Jembatan yang Tak Memiliki Tepi
110 Bab 110: Akar yang Menembus Langit
111 Bab 111: Benih yang Kembali ke Tanah
112 Bab 112: Cerita yang Tak Pernah Selesai
113 Bab 113: Satu Langkah Lagi
114 Bab 114: Rumah yang Ada di Dalam Diri
115 Bab 115: Dua Tangan yang Sama Tinggi
116 Bab 116: Benih yang Tumbuh Bersama
117 Bab 117: Jalan yang Sama Lebarnya
118 Bab 118: Bayang yang Tak Lagi Menghantui
119 Bab 119: Biji yang Menjadi Hutan
120 Bab 120: Kabar yang Terbang Seperti Angin
121 Bab 121: Singgasana yang Tak Terbuat dari Batu
122 Bab 122: Jalan yang Dilalui Bersama
123 Bab 123: Bayangan yang Menjadi Cahaya
124 Bab 124: Jejak yang Tak Terhapus Langkah
125 Bab 125: Benang yang Menyambung Jarak
126 Bab 126: Cahaya yang Sama Sumbernya
127 Bab 127: Musim yang Silih Berganti
128 Bab 128: Mata Air yang Tak Pernah Kering
129 Bab 129: Kaki yang Tak Pernah Lelah Melangkah
130 Bab 130: Jejak yang Membentuk Jalan
131 Bab 130: Jejak yang Membentuk Jalan
Episodes

Updated 131 Episodes

1
Bab 1: Inti yang Tak Bisa Menyerap
2
Bab 2: Teknik yang Tak Ada di Buku
3
Bab 3: Tantangan Lapisan Batu
4
Bab 4: Keputusan Pergi
5
Bab 5: Gerbang Kota yang Menindas
6
Bab 6: Ujian Akademi yang Menipu
7
Bab 7: Teknik yang Diejek
8
Bab 8: Hutan Batu yang Terlarang
9
Bab 9: Altar Warisan Purba
10
Bab 10: Kabar yang Mengejutkan
11
Bab 11: Tantangan di Arena Batu
12
Bab 12: Tekanan Sejuta Jin
13
Bab 13: Persekutuan Baru
14
Bab 14: Jejak di Pegunungan Kabut
15
Bab 15: Lembah yang Terkepung
16
Bab 16: Pintu Menuju Wilayah Tengah
17
Bab 17: Tanah yang Terlupakan
18
Bab 18: Langit Tanpa Fondasi
19
Bab 19: Jejak Orang Tua
20
Bab 20: Di Bawah Istana Mengambang
21
Bab 21: Akar yang Menembus Langit
22
Bab 22: Pintu ke Benua Lain
23
Bab 23: Penjaga Samudra
24
Bab 24: Tanah yang Terbelah Dua
25
Bab 25: Pusat Retakan
26
Bab 26: Menyatukan Segel Dunia
27
Bab 27: Jembatan Dua Benua
28
Bab 28: Panggilan dari Utara Jauh
29
Bab 29: Darah dari Akar Pertama
30
Bab 30: Pintu Asal Mula
31
Bab 31: Jaringan Seluruh Dunia
32
Bab 32: Pertahanan Ujung Dunia
33
Bab 33: Menanam Masa Depan
34
Bab 34: Jejak yang Tak Terhapus
35
Bab 35: Pohon yang Menyentuh Bintang
36
Bab 36: Di Bawah Akar yang Sama
37
Bab 37: Warisan yang Tak Pernah Berakhir
38
Bab 38: Suara dari Dunia Lain
39
Bab 39: Hukum Pohon Semesta
40
Bab 40: Jejak di Kabut Waktu
41
Bab 41: Suara dari Akar Terdalam
42
Bab 42: Benih yang Dikirim Balik
43
Bab 43: Badai dari Kekosongan
44
Bab 44: Peta Ribuan Akar
45
Bab 45: Hutan yang Menjadi Satu
46
Bab 46: Benih yang Terbawa Angin
47
Bab 47: Penjaga Tanpa Batas
48
Bab 48: Pohon yang Tak Pernah Tua
49
Bab 49: Langkah yang Tak Pernah Sama
50
Bab 50: Cahaya yang Tak Pernah Menyilaukan
51
Bab 51: Rumah yang Tak Berpintu
52
Bab 52: Jejak yang Tak Hilang
53
Bab 53: Lagu yang Dinyanyikan Bersama
54
Bab 54: Benih di Telapak Tangan
55
Bab 55: Jejak di Tanah yang Lupa Namanya
56
Bab 56: Jalan yang Bercabang Tiga
57
Bab 57: Dunia yang Menjadi Buku
58
Bab 58: Gunung yang Tak Ingin Tertinggi
59
Bab 59: Bayangan yang Ingin Memeluk
60
Bab 60: Laut yang Tak Punya Tepi
61
Bab 61: Seni Menerima yang Tak Sempurna
62
Bab 62: Jembatan yang Tak Punya Ujung
63
Bab 63: Pohon yang Menyimpan Hujan
64
Bab 64: Cahaya yang Berjalan Beriringan
65
Bab 65: Sungai yang Tak Ingkar Asal
66
Bab 66: Teman yang Tak Harus Sama
67
Bab 67: Batu yang Tak Ingin Bergeser
68
Bab 68: Langit yang Tak Memiliki Atap
69
Bab 69: Jejak yang Tak Perlu Dihapus
70
Bab 70: Rumput yang Tak Menyerah
71
Bab 71: Satu Kata yang Terlupakan
72
Bab 72: Cahaya yang Tak Membutuhkan Tepuk Tangan
73
Bab 73: Batu yang Menjadi Bantal
74
Bab 74: Jalan yang Tak Pernah Sama Dua Kali
75
Bab 75: Bayangan yang Melindungi Matahari
76
Bab 76: Jalan yang Ditemukan Bersama
77
Bab 77: Daun yang Tak Menyesal Gugur
78
Bab 78: Suara yang Tak Perlu Teriak
79
Bab 79: Pintu yang Tak Dikunci
80
Bab 80: Jejak yang Tak Hilang
81
Bab 81: Akar yang Tak Menyerah
82
Bab 82: Cahaya yang Tak Membakar
83
Bab 83: Sungai yang Tak Memaksa Bentuk
84
Bab 84: Bunga yang Tak Iri pada Pohon
85
bab 85:hujan yang tak memilih tanah
86
Bab 86: Bayangan yang Tak Pernah Sendirian
87
Bab 87: Biji yang Tak Takut Terkubur
88
Bab 88: Jalan yang Tak Meminta Kamu Sempurna
89
Bab 89: Rumah yang Tak Memiliki Pintu Depan
90
Bab 90: Cahaya yang Tak Lupa Asalnya
91
Bab 91: Daun yang Menjadi Rumah
92
Bab 92: Suara yang Didengar Hutan
93
Bab 93: Batu yang Menjadi Pulau
94
Bab 94: Langit yang Tak Pernah Menutup
95
Bab 95: Pasir yang Tak Menghitung Diri
96
Bab 96: Bintang yang Tak Bersaing
97
Bab 97: Akar yang Tak Ingin Dilihat
98
Bab 98: Angin yang Tak Pernah Memiliki
99
Bab 99: Bumi yang Tak Pernah Mengeluh
100
Bab 100: Akar yang Menembus Langit
101
Bab 101: Benih yang Tak Bisa Disimpan
102
Bab 102: Tembok yang Memisahkan Desa
103
Bab 103: Jalan yang Tumbuh dari Langkah
104
Bab 104: Lembah yang Melupakan Cahaya
105
Bab 105: Air yang Tak Menolak Rendah
106
Bab 106: Batu yang Diam Menunggu
107
Bab 107: Cahaya yang Tak Mencari Pujian
108
Bab 108: Jejak yang Tak Tertinggal
109
Bab 109: Jembatan yang Tak Memiliki Tepi
110
Bab 110: Akar yang Menembus Langit
111
Bab 111: Benih yang Kembali ke Tanah
112
Bab 112: Cerita yang Tak Pernah Selesai
113
Bab 113: Satu Langkah Lagi
114
Bab 114: Rumah yang Ada di Dalam Diri
115
Bab 115: Dua Tangan yang Sama Tinggi
116
Bab 116: Benih yang Tumbuh Bersama
117
Bab 117: Jalan yang Sama Lebarnya
118
Bab 118: Bayang yang Tak Lagi Menghantui
119
Bab 119: Biji yang Menjadi Hutan
120
Bab 120: Kabar yang Terbang Seperti Angin
121
Bab 121: Singgasana yang Tak Terbuat dari Batu
122
Bab 122: Jalan yang Dilalui Bersama
123
Bab 123: Bayangan yang Menjadi Cahaya
124
Bab 124: Jejak yang Tak Terhapus Langkah
125
Bab 125: Benang yang Menyambung Jarak
126
Bab 126: Cahaya yang Sama Sumbernya
127
Bab 127: Musim yang Silih Berganti
128
Bab 128: Mata Air yang Tak Pernah Kering
129
Bab 129: Kaki yang Tak Pernah Lelah Melangkah
130
Bab 130: Jejak yang Membentuk Jalan
131
Bab 130: Jejak yang Membentuk Jalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!