Jodoh Kok Bikin Emosi

Jodoh Kok Bikin Emosi

Episode 1 - Pria Paling Menyebalkan di Hari Senin

Jam di layar ponsel Nadira menunjukkan pukul **07.12**.

Tiga menit lebih lambat dari jadwal yang ia buat sendiri.

Bagi sebagian orang, tiga menit bukan masalah. Namun bagi Nadira Prameswari, tiga menit cukup untuk membuat suasana hatinya berantakan.

Ia menarik napas panjang sambil mematikan mesin motornya di pelataran gedung Orion Creative, perusahaan agensi tempatnya bekerja selama hampir tiga tahun.

"Hari ini jangan sampai ada yang bikin kacau."

Kalimat itu sudah menjadi mantra setiap Senin pagi.

Nadira merapikan blazer krem yang dikenakannya, memastikan name tag terpasang lurus, lalu melangkah cepat menuju lobi.

Lift hampir tertutup.

"Tunggu!"

Seorang satpam buru-buru menekan tombol buka.

"Silakan, Mbak Nadira."

"Terima kasih, Pak."

Begitu pintu lift kembali terbuka, Nadira masuk sambil mengembuskan napas lega.

Namun rasa lega itu hanya bertahan dua detik.

Seseorang menyelinap masuk tepat sebelum pintu menutup.

Pria tinggi dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan seolah baru bangun tidur. Di satu tangan ada gelas kopi, sementara tangan satunya sibuk memainkan ponsel.

"Untung keburu," gumamnya santai.

Nadira melirik sekilas.

Lalu kembali menatap angka lantai.

Pria itu menyeruput kopinya.

"Senin ya... musuh semua orang."

Tak ada jawaban.

"Kalau wajahnya ditekuk terus begitu, nanti cepat keriput."

Nadira menghela napas pelan.

Ia tidak mengenal pria itu.

Dan tidak berniat mengenalnya.

Lift berhenti di lantai tujuh.

Saat pintu terbuka, pria itu melangkah keluar lebih dulu.

Tanpa sengaja bahunya menyenggol lengan Nadira.

Sedikit.

Namun cukup membuat tutup gelas kopi terbuka.

"Ck!"

Setetes.

Dua tetes.

Lalu...

Bruk.

Kopi tumpah membasahi map berisi dokumen presentasi yang sejak semalam ia siapkan.

Nadira membeku.

Matanya perlahan turun melihat bercak cokelat yang menyebar di atas kertas.

Pria itu ikut membeku.

"Eh..."

Sunyi.

Beberapa orang di depan lift menoleh.

"Maaf."

Hanya satu kata.

Pendek.

Ringan.

Seolah persoalan selesai begitu saja.

"Maaf?" ulang Nadira pelan.

"Iya... maaf."

"Itu saja?"

Pria itu menggaruk tengkuk.

"Saya ganti biaya print-nya."

Nadira menatapnya tidak percaya.

"Masalahnya bukan biaya print."

"Lalu?"

"Presentasi saya mulai dua puluh menit lagi."

"Oh..."

"Oh?"

Pria itu tampak benar-benar baru menyadari kesalahannya.

"Oke... salah saya."

"Tentu saja salah Anda."

Pria itu buru-buru mengambil tisu dari tasnya.

"Boleh saya bantu bersihkan?"

"Jangan."

Tangannya langsung ditahan.

"Saya bisa sendiri."

Nada suara Nadira terdengar dingin.

Pria itu mengangguk pelan.

"Oke."

Bukannya menjelaskan lebih jauh atau meminta maaf lagi, ia justru mundur satu langkah.

"Semoga presentasinya tetap lancar."

Lalu...

Pergi.

Begitu saja.

Nadira memejamkan mata.

Kalau saja ini bukan kantor...

Kalau saja mereka tidak sedang berada di depan banyak orang...

Ia mungkin sudah memarahi pria itu habis-habisan.

---

Ruang rapat dipenuhi suasana tegang.

Laptop sudah tersambung ke proyektor.

Klien duduk berjajar di sisi kanan meja.

Bos Nadira, Pak Dimas, memberi isyarat agar ia segera memulai.

Nadira berdiri.

Tangan kirinya menggenggam remote presentasi.

Tangan kanannya masih memegang map yang sudutnya kusut akibat kopi tadi.

"Selamat pagi, Bapak dan Ibu. Terima kasih atas waktunya..."

Ia mulai berbicara.

Lima menit pertama berjalan lancar.

Sepuluh menit berikutnya juga.

Namun ketika klien meminta melihat rincian anggaran yang ada di dokumen cetak...

Masalah muncul.

Beberapa angka tidak terbaca karena tintanya luntur.

Pak Dimas langsung mengambil alih penjelasan.

Presentasi tetap selesai.

Tetapi Nadira tahu hasilnya tidak semaksimal yang ia harapkan.

Keluar dari ruang rapat, ia hanya ingin satu hal.

Minum air.

Dan melupakan kejadian pagi tadi.

Sayangnya...

Takdir rupanya sedang senang mengerjainya.

Begitu memasuki pantry, orang pertama yang ia lihat adalah pria penyebab kekacauan itu.

Pria itu sedang membuka bungkus roti.

Melihat Nadira masuk, ia tersenyum canggung.

"Wah... ketemu lagi."

Nadira memilih mengambil air minum tanpa menoleh.

"Presentasinya gimana?"

Tidak dijawab.

"Hancur ya?"

Nadira akhirnya menatapnya.

"Menurut Anda lucu?"

"Nggak."

"Tadi saya minta maaf."

"Minta maaf bukan berarti semuanya selesai."

Pria itu mengangguk.

"Iya."

Sunyi lagi.

Ia tampak berpikir beberapa detik.

"Lunch saya hari ini buat Anda."

Nadira mengernyit.

"Apa?"

"Sebagai ganti rugi."

"Saya tidak butuh makan siang gratis."

"Coffee?"

"Saya baru trauma sama kopi."

Pria itu refleks menepuk dahinya sendiri.

"Iya juga."

Untuk pertama kalinya sejak pagi, Nadira melihat ekspresi pria itu benar-benar merasa bersalah.

Bukan dibuat-buat.

Bukan sekadar basa-basi.

Namun rasa kesalnya masih terlalu besar untuk luluh.

"Nggak usah repot."

Nadira berbalik pergi.

Baru dua langkah.

"Nama saya Arga."

Ia berhenti.

"Biar kalau nanti mau ngomelin saya lagi, nggak usah manggil 'Mas'."

Nadira menoleh sekilas.

Tatapan mereka bertemu.

Pria itu tersenyum tipis.

Bukan senyum mengejek.

Lebih seperti senyum seseorang yang tahu dirinya memang bersalah.

Tetapi entah kenapa...

Senyum itu justru semakin membuat Nadira kesal.

"Semoga kita tidak bertemu lagi."

Arga terkekeh pelan.

"Dunia kadang suka iseng."

---

Sore harinya.

Nadira akhirnya pulang dengan tubuh yang terasa lebih lelah dari biasanya.

Ia hanya ingin mandi, makan, lalu tidur.

Motor berhenti di depan rumah kontrakan barunya.

Kompleks itu masih sepi.

Ia baru pindah dua hari yang lalu.

Belum mengenal satu pun tetangga.

Saat sedang mengeluarkan kardus kecil dari bagasi motor, terdengar suara mobil berhenti tepat di samping rumah.

Pintu mobil terbuka.

Seorang pria turun sambil membawa beberapa kantong belanja.

Nadira tak terlalu memperhatikan sampai suara itu terdengar begitu familiar.

"Loh..."

Ia mengangkat kepala.

Pria itu juga menatapnya.

Keduanya sama-sama terdiam.

Arga.

Pria itu menunjuk rumah di sebelah kontrakan Nadira.

"Jangan bilang..."

Nadira mengikuti arah telunjuknya.

Rumah sebelah.

Arga tersenyum kikuk.

"Kayaknya..."

Ia mengusap tengkuknya.

"Kita tetangga."

Nadira memejamkan mata beberapa detik.

Di dalam hati, ia hanya memiliki satu pertanyaan.

**Apa sebenarnya dosa yang kulakukan sampai harus bertemu pria ini dua kali dalam sehari... dan sekarang menjadi tetangganya?**

**Bersambung...**

Terpopuler

Comments

Dewi Sinta

Dewi Sinta

sudah bertemu 3 kali thoor 😂

2026-07-16

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 - Pria Paling Menyebalkan di Hari Senin
2 Episode 2 - Tetangga yang Tidak Diundang
3 Episode 3 - Partner ? Mimpi Buruk Lebih Tepat
4 Episode 4 - Batas yang Mulai Kabur
5 Episode 5 - Orang Pertama yang Datang
6 Episode 6 - Bukan Kebetulan Lagi
7 Episode 7 - Mantan yang Datang Tanpa Undangan
8 Episode 8 - Cemburu yang Tak Punya Nama
9 Episode 9 - Kalimat yang Salah Waktu
10 Episode 10 - Salah Kirim atau Salah Mengaku?
11 Episode 11 - Panggilan yang Mengusik
12 Episode 12 - Tatapan yang Berbeda
13 Episode 13 - Satu Payung, Dua Perasaan
14 Episode 14 - Masa Lalu yang harus selesai
15 Episode 15 - Satu Langkah Lebih Dekat
16 Episode 16 - Makan Siang yang berubah jadi ajang menjodohkan
17 Episode 17 - Ulang Tahun yang Penuh Kejutan
18 Episode 18 - Pria yang Datang Membawa Masa Depan
19 Episode 19 - Ketika Seseorang Mulai Berjuang
20 Episode 20 - Aku Tidak Akan Mundur
21 Episode 21 - Bunga Tanpa Nama
22 Episode 22 - Jawaban yang Mulai Terlihat
23 Episode 23 - Perjalanan yang Mengubah Segalanya
24 Episode 24 - Cottage Sebelah, Perasaan yang Tak Lagi Sama
25 Episode 25 - Dibalik Hujan, Ada Jawaban
26 Episode 26 - Aku Memilih Menunggu
27 Episode 27 - Jawaban Itu Semakin Dekat
28 Episode 28 - Lamaran yang Datang Terlalu Cepat
29 Episode 29 - Syarat dari Seorang Ayah
30 Episode 30 - Surat yang Mengubah Segalanya
31 Episode 31 - Pilihan yang Tidak Terduga
32 Episode 32 - Masa Lalu yang Belum Selesai
33 Episode 33 - Luka yang Belum Sembuh
34 Episode 34 - Alasan yang Tak Pernah Terucap
35 Episode 35 - Orang yang Tak Diundang
36 Episode 36 - Surat Terakhir dari Ayah
37 Episode 37 - Musuh atau Korban?
38 Episode 38 - Pengkhianat di Dalam Tim
39 Episode 39 - Kepercayaan yang Diuji
40 Episode 40 - Semangkuk Bakso di Tengah Lembur
41 Episode 41 - Benih Kecurigaan
42 Episode 42 - Fitnah yang Disiapkan
43 Episode 43 - Memilih untuk Percaya
44 Episode 44 - Kesempatan Kedua
45 Episode 45 - Saseorang yang Ingin Melindungi
46 Episode 46 - Aku Tidak Akan Pergi
47 Episode 47 - Pria yang Datang Tanpa Diundang
48 Episode 48 - Rahasia yang Tak Pernah Diceritakan
49 Episode 49 - Tempat yang Tak Pernah Terlupakan
50 Episode 50 - Rumah adalah tempat hati pulang
51 Episode 51 - Cemburu itu Capek, Tapi Susah Berenti
52 Episode 52 - Mantan yang Datang Membawa Kekacauan
53 Episode 53 - Jodoh Memang Bikin Emosi
54 Episode 54 - Jangan Pegang Tangannya
55 Episode 55 - Salah paham yang bikin Emosi
56 Episode 56 - Jangan Pergi Dulu
57 Episode 57 - Kalau kamu pergi, aku akan merindukanmu
58 Episode 58 - Aku Bilang Jangan Pergi, bukan Jangan pulang
59 Siapa Ayah kandung ku?
60 Kalau kamu bohong, aku akan pergi
61 Jangan Pergi, Dir
62 Kebenaran yang Harus Disembunyikan
63 Kalau Harus Memilih, Aku Pilih Kamu
64 Ibu Menyimpan Rahasia Besar
65 Aku akan menemukan ayah
66 Dimas Bukan Orang yang Kita Kira
67 Jangan Percaya Siapa pun
68 Ayah yang selama ini kucari
69 Ternyata ibu adalah orang keempat
70 Siapa sebenarnya ibuku
71 Tempat semua kebohonhan dimulai
72 Tangan yang menarikku
73 Pewaris sudah datang
74 Saudari yang tak pernah kuketahui
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Episode 1 - Pria Paling Menyebalkan di Hari Senin
2
Episode 2 - Tetangga yang Tidak Diundang
3
Episode 3 - Partner ? Mimpi Buruk Lebih Tepat
4
Episode 4 - Batas yang Mulai Kabur
5
Episode 5 - Orang Pertama yang Datang
6
Episode 6 - Bukan Kebetulan Lagi
7
Episode 7 - Mantan yang Datang Tanpa Undangan
8
Episode 8 - Cemburu yang Tak Punya Nama
9
Episode 9 - Kalimat yang Salah Waktu
10
Episode 10 - Salah Kirim atau Salah Mengaku?
11
Episode 11 - Panggilan yang Mengusik
12
Episode 12 - Tatapan yang Berbeda
13
Episode 13 - Satu Payung, Dua Perasaan
14
Episode 14 - Masa Lalu yang harus selesai
15
Episode 15 - Satu Langkah Lebih Dekat
16
Episode 16 - Makan Siang yang berubah jadi ajang menjodohkan
17
Episode 17 - Ulang Tahun yang Penuh Kejutan
18
Episode 18 - Pria yang Datang Membawa Masa Depan
19
Episode 19 - Ketika Seseorang Mulai Berjuang
20
Episode 20 - Aku Tidak Akan Mundur
21
Episode 21 - Bunga Tanpa Nama
22
Episode 22 - Jawaban yang Mulai Terlihat
23
Episode 23 - Perjalanan yang Mengubah Segalanya
24
Episode 24 - Cottage Sebelah, Perasaan yang Tak Lagi Sama
25
Episode 25 - Dibalik Hujan, Ada Jawaban
26
Episode 26 - Aku Memilih Menunggu
27
Episode 27 - Jawaban Itu Semakin Dekat
28
Episode 28 - Lamaran yang Datang Terlalu Cepat
29
Episode 29 - Syarat dari Seorang Ayah
30
Episode 30 - Surat yang Mengubah Segalanya
31
Episode 31 - Pilihan yang Tidak Terduga
32
Episode 32 - Masa Lalu yang Belum Selesai
33
Episode 33 - Luka yang Belum Sembuh
34
Episode 34 - Alasan yang Tak Pernah Terucap
35
Episode 35 - Orang yang Tak Diundang
36
Episode 36 - Surat Terakhir dari Ayah
37
Episode 37 - Musuh atau Korban?
38
Episode 38 - Pengkhianat di Dalam Tim
39
Episode 39 - Kepercayaan yang Diuji
40
Episode 40 - Semangkuk Bakso di Tengah Lembur
41
Episode 41 - Benih Kecurigaan
42
Episode 42 - Fitnah yang Disiapkan
43
Episode 43 - Memilih untuk Percaya
44
Episode 44 - Kesempatan Kedua
45
Episode 45 - Saseorang yang Ingin Melindungi
46
Episode 46 - Aku Tidak Akan Pergi
47
Episode 47 - Pria yang Datang Tanpa Diundang
48
Episode 48 - Rahasia yang Tak Pernah Diceritakan
49
Episode 49 - Tempat yang Tak Pernah Terlupakan
50
Episode 50 - Rumah adalah tempat hati pulang
51
Episode 51 - Cemburu itu Capek, Tapi Susah Berenti
52
Episode 52 - Mantan yang Datang Membawa Kekacauan
53
Episode 53 - Jodoh Memang Bikin Emosi
54
Episode 54 - Jangan Pegang Tangannya
55
Episode 55 - Salah paham yang bikin Emosi
56
Episode 56 - Jangan Pergi Dulu
57
Episode 57 - Kalau kamu pergi, aku akan merindukanmu
58
Episode 58 - Aku Bilang Jangan Pergi, bukan Jangan pulang
59
Siapa Ayah kandung ku?
60
Kalau kamu bohong, aku akan pergi
61
Jangan Pergi, Dir
62
Kebenaran yang Harus Disembunyikan
63
Kalau Harus Memilih, Aku Pilih Kamu
64
Ibu Menyimpan Rahasia Besar
65
Aku akan menemukan ayah
66
Dimas Bukan Orang yang Kita Kira
67
Jangan Percaya Siapa pun
68
Ayah yang selama ini kucari
69
Ternyata ibu adalah orang keempat
70
Siapa sebenarnya ibuku
71
Tempat semua kebohonhan dimulai
72
Tangan yang menarikku
73
Pewaris sudah datang
74
Saudari yang tak pernah kuketahui

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!